Mengokohkan Perbendaharaan Surga

20 Rabi’ul Akhir 1448 H – QS. As Sajdah: 18-19 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudara sekalian,Nilai atau kemuliaan diri yang dimiliki seseorang adalah ketika ia mampu mempertahankan prinsip moral serta ketaatan kepada Allah (Ketaqwaan). Sikap mental dan tindakan menahan diri dari segala perbuatan buruk, maksiat, atau hal yang merendahkan martabat demi menjaga kesucian diri sangat terpuji di sisi Allah dan manusia. Ada amalan hati yang sangat tinggi derajatnya dalam Islam menurut ungkapan ulama terdahulu adalah menyembunyikan empat (4) hal yang disebut sebagai Kanzun min kunuuzil jannah (Perbendaharaan Surga). Empat (4) hal tersebut adalah langkah untuk menjaga martabat sehingga bisa memunculkan kemandirian.Semoga kita dimampukan Allah untuk melakukannya. Berikut adalah empat (4) hal yang harus disembunyikan dari hamba: Siapa saja yang berusaha menjaga kehormatan dan harga dirinya, maka Allah akan menjaga kehormatan tersebut.Yaa Rahman..,aku memohon kepada-Mu petunjuk, takwa, iffah (pengendalian dan penjagaan diri dari hal tercela), serta kecukupan.. (@msdrehem)

Mempertahankan Dan Meningkatkan Rasa Syukur

6 Rabi’ul Akhir 1448 H – QS. Ibrahim: 7 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang”. (QS.An-Nahl : 18) Saudara sekalian,Allah SWT selalu melimpahkan nikmat-Nya setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, setiap tahun dan setiap saat selama kita masih diberikan hidup di dunia ini. Mulai dari bangun tidur di pagi hari hingga kita memejamkan mata untuk tidur kembali di malam hari, nikmat Allah, selalu membersamai hamba-NYA. Selain melakukan sujud syukur saat doanya untuk bisa memberi syafaat pada umat Islam terkabul, Nabi SAW juga mengekspresikan rasa syukurnya dengan melakukan shalat malam hingga kakinya bengkak karena dosanya dihapus Allah SWT. Nikmat Allah tidak hanya dalam bentuk materi saja. Kesehatan fikiran, fisik dan mental, waktu luang, keluarga, teman dan lingkungan yang baik, juga termasuk dalam nikmat Allah SWT yang harus disyukuri. Bahkan terkadang, sesuatu yang diawal nampak sebagai penderitaan, sebenarnya merupakan kenikmatan berupa penjagaan dan penguatan dari Allah. Karena itu bersabarlah lalu bersyukurlah. “Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu baik. Namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang mu’min sejati. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesulitan, ia bersabar, dan itu baik baginya. ” [HR.Muslim]. Manfaat Bersyukur Pada Allah SWT: Penyebab Hilangnya Rasa Syukur: Agar Hidup Penuh Rasa Syukur: Ekspresi rasa syukur tak cukup hanya dibenarkan di hati dan ucapan lisan saja. Selain melakukan sunnah sujud syukur, relakan diri untuk berbagi nikmat kepada sesama. Ya Rahman.., karuniakan kami nikmat hati yang selalu bersyukur dan mampu meningkatkan rasa syukur. (@msdrehem)

Ayo Ke Masjid (Bagian 2)

29 Rabi’ul Awwal 1448 H – QS. At-Taubah: 18 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudaraku sekalian,Masjid adalah rumah Allah SWT dan rumah bagi yang bertaqwa serta menjadi tempat terbaik di bumi yang paling dicintai-NYA. Oleh sebab itu, masjid memiliki kedudukan mulia yang dinisbahkan langsung kepada Allah SWT (QS. An-Nur : 36). Hati yang mencintai Allah akan selalu terpaut pada masjid. Disana mereka akan merasa dekat dengan Allah dan senang berada di dalamnya untuk berzikir serta beribadah kepada-Nya. Ada yang berkata bahwa perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan menuju masjid. Jangankan sehari lima waktu, seminggu sekali pun suka terlupa bahkan lebih dari itu. Padahal Allah SWT, berfirman:…اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, …” (QS. At Taubah: 18). Padahal dalam sebuah riwayat, Nabi SAW, bersabda:“Apabila kalian melihat seseorang terbiasa datang ke masjid, maka saksikanlah bahwa dia beriman”. (HR. Tirmidzi) Padahal banyak keutamaan yang didapat jika rajin ke masjid yang di antaranya adalah: Untuk menghormati rumah Allah SWT, dan untuk meraih semua keutamaan di atas, maka janganlah abai pada adab adab saat ke masjid atau sedang di masjid, yang di antaranya adalah : اللَّهُمَّ افْتَحْ لنا أبْوَابَ رَحْمَتِكَ“Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu untuk kami…” (@msdrehem)

27 Ton Bantuan Dikirim, Amanah Donatur Baziskaf DAFI Turut Mengalir

Kepedulian terhadap saudara-saudara yang terdampak gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus mengalir dari berbagai elemen masyarakat Jawa Timur. Forum Zakat (FOZ) Jawa Timur bersama Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Jawa Timur dan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Jawa Timur menggelar aksi kemanusiaan dengan mengirimkan bantuan bagi para penyintas bencana di NTT. Pelepasan bantuan secara seremonial dilaksanakan pada Jumat (04/09/2026) dan dipusatkan di Kanwil Kemenag Jawa Timur, Jalan Raya Bandara Juanda No. 26. Dalam misi kemanusiaan tersebut, sebanyak 62 armada dikerahkan untuk membawa sekitar 27 ton bantuan yang dihimpun dari berbagai lembaga zakat dan masyarakat di Jawa Timur. Baziskaf DAFI turut mengambil bagian dalam aksi tersebut, yang menyalurkan amanah para donatur untuk membantu masyarakat terdampak gempa di NTT. Amanah tersebut dihimpun dari berbagai pihak, mulai dari walisantri, para santri, hingga para donatur lainnya yang menitipkan kepeduliannya melalui Baziskaf DAFI. Bantuan yang dititipkan diwujudkan dalam bentuk barang yang sangat dibutuhkan dari informasi di lapangan, diantaranya bahan pokok, sabun, tenda, alas tidur serta beberapa perlengkapan yang lainnya. Koordinator Baziskaf DAFI, Ustadz Andy Setiawan, menyampaikan rasa syukur atas kesempatan untuk turut mengambil bagian dalam aksi kemanusiaan tersebut. “Alhamdulillah, sebagai mitra LAZNAS Dompet Al-Qur’an Indonesia, Baziskaf DAFI diberikan kesempatan untuk ikut menyalurkan amanah para donatur yang diniatkan untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak gempa di NTT. Amanah ini datang dari berbagai pihak, mulai dari walisantri, para santri, dan donatur lainnya. Semoga setiap kebaikan yang dititipkan menjadi amal yang diterima Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Dukungan terhadap aksi kemanusiaan ini juga diberikan oleh Kanwil Kemenag Jawa Timur. Kepala Kanwil Kemenag Jawa Timur, Dr. H. Akhmad Sruji Bahtiar, M.Pd.I, mengapresiasi kolaborasi antara FOZ, Kemenag, BAZNAS, dan berbagai lembaga zakat dalam membantu masyarakat yang tengah menghadapi musibah. Sementara itu, Ketua BAZNAS Jawa Timur, H. Mohammad Ghofirin, M.Pd, menilai aksi tersebut menjadi contoh sinergi yang baik antarlembaga. Dalam misi kemanusiaan ini, BAZNAS Jawa Timur turut berkontribusi dengan menyalurkan 10 ton bantuan. Bagi Baziskaf DAFI, keterlibatan dalam aksi ini bukan sekadar tentang menyalurkan bantuan, tetapi juga menjaga dan menunaikan amanah dari para donatur yang telah mempercayakan sebagian hartanya untuk membantu sesama. Setiap bantuan yang terkumpul diharapkan dapat menjadi penguat bagi saudara-saudara yang sedang menghadapi masa sulit akibat bencana. Baziskaf DAFI juga masih terus bergerak membuka dan menerima donasi kemanusiaan, untuk kemudian disalurkan kepada masyarakat terdampak gempa bumi di NTT maupun bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di Kalimantan. Kepedulian masyarakat dapat terus menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk meringankan beban para penyintas di berbagai wilayah yang membutuhkan. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kekuatan dan ketabahan kepada seluruh saudara kita yang terdampak bencana, memberikan keselamatan kepada para relawan dan seluruh pihak yang terlibat dalam proses penanganan, serta memudahkan setiap ikhtiar kebaikan yang dilakukan. Dan khusus bagi seluruh donatur yang telah menitipkan amanahnya melalui Baziskaf DAFI, semoga Allah membalas setiap kebaikan dengan keberkahan yang berlipat, melapangkan rezeki, mengampuni dosa-dosa, menjaga keluarga, serta menjadikan setiap rupiah yang disedekahkan sebagai amal jariyah dan pemberat timbangan kebaikan di akhirat. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Ayo ke Masjid!

22 Rabi’ul Awwal 1448 H – QS. At-Taubah: 18, QS. Al-Jinn: 18 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Rasulullah SAW bersabda:“Tidaklah satu kaum duduk di salah satu rumah Allah (masjid), mereka membaca Kitabullah (Al-Qur’an) dan mengkajinya bersama, melainkan ketenangan turun pada mereka, rahmat meliputi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut mereka di makhluk yang ada di samping-Nya.” Saudaraku sekalian, Allah SWT, menciptakan bumi dengan jutaan macam isinya, namun bagian bumi yang paling dicintai Allah adalah “masjid-masjidnya”. Yang dilakukan oleh Rasulillah SAW, pada awal kedatangannya (hijrah) di Madinah, adalah membangun masjid Quba atas dasar taqwa (QS. At Taubah : 108). Didirikannya masjid tersebut, sebagai sarana beribadah (komunikasi spiritual dengan Allah), pusat keilmuan atau edukasi Islam, simbol fondasi peradaban Islam, dan pusat persatuan umat Islam yang baru terbentuk, setelah mengalami penindasan berat di Mekkah. Begitu pentingnya masjid, hingga setiap muslim dimotivasi berkumpul (terjadi interaksi spiritual sosial) untuk mengerjakan ibadah shalat berjamaah, lima waktu sehari (Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya) di masjid. MasyaaAllah, tidak semua orang mampu melakukan shalat separuh malam, apalagi shalat sepenuh malam.Rasulullah SAW, bersabda:مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ“Barangsiapa shalat Isya secara berjamaah, maka seolah-olah dia akan melakukan shalat separuh malam. Barangsiapa shalat Subuh berjamaah, maka seolah-olah dia akan shalat sepanjang malam.” (HR. Imam Muslim). Ingatlah, selama masih bisa mendengar suara adzan dari kejauhan, maka Nabi SAW, melarang Abdullah bin Ummi Maktum untuk sholat di rumah kendati beliau tua renta dan buta, hingga jatuh berkali kali saat menuju masjid. (Diriwayatkan dalam hadist, bahwa justru syetanlah yang menuntun Abdullah bin Ummi Maktum ke masjid agar tak jatuh di perjalanan. Syetan tak rela jika dengan jatuhnya, lalu bersama luka dan darahnya, beliau bangkit dan tetap melangkah walau harus merangkak menuju masjid akan membuat semua dosanya dihapus). Maka, paksa dan bahagiakan diri untuk melakukan shalat secara berjamaah di masjid dan berlama lama di masjid, mendapat hidangan surga, doa para malaikat, selamat saat melintasi jembatan shirathal mustaqim, dan mendapat naungan di hari kiamat. اللَّهُمَّ افْتَحْ لنا أبْوَابَ رَحْمَتِكَ “Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu untuk kami…” (@msdrehem)

Baziskaf DAFI Perpanjang Legalitas, Sedekah Tidak Lagi Cemas!

Sabtu, 29 Agustus 2026 menjadi salah satu langkah penting dalam perjalanan Baziskaf DAFI dalam memperkuat pengelolaan dana umat. Hal ini ditandai dengan penandatanganan kerja sama Baziskaf DAFI sebagai Mitra Pengelola Zakat LAZNAS Dompet Al-Qur’an Indonesia (DQ), sebagai bagian dari upaya membangun sinergi dalam pengelolaan zakat, infak, dan sedekah secara lebih profesional, amanah, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh para pengurus Yayasan Pondok Pesantren Darul Fikri Sidoarjo, pimpinan pesantren, serta Komite Wali Santri. Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kolaborasi dan dukungan bersama terhadap penguatan gerakan filantropi Islam di lingkungan pesantren. Kemitraan dengan LAZNAS Dompet Al-Qur’an Indonesia tidak sekadar menjadi kerja sama kelembagaan, tetapi juga menjadi bagian dari penguatan tata kelola Baziskaf DAFI sebagai mitra pengelola zakat yang memiliki landasan hukum dan legalitas yang jelas. Dengan adanya penguatan tersebut, diharapkan kepercayaan masyarakat, wali santri, donatur, dan para muzakki terhadap Baziskaf DAFI semakin tumbuh. Ketua Komite MA, Bapak Toni, menyampaikan apresiasinya terhadap langkah tersebut, khususnya dalam mendukung gerakan bersedekah melalui Baziskaf untuk kemajuan pesantren DAFI dan para penghafal Al-Qur’an. “Bismillah, insyaallah dengan ini kita untuk share program bisa lebih semangat, mengingat legalitas dan landasan hukumnya sudah diperpanjang kembali.” Sementara itu, Koordinator Baziskaf DAFI, Ustadz Andy Setiawan, menyampaikan rasa syukur atas perjalanan dan perkembangan Baziskaf DAFI hingga saat ini. “Alhamdulillah, atas ridho Allah dan berkat bimbingan para pembina, pengasuh, pengurus pesantren, dan banyak pihak lainnya, Baziskaf DAFI bisa sampai pada titik seperti sekarang ini. Sebuah pencapaian yang tentunya wajib kita syukuri.” Selain memperkuat tata kelola kelembagaan, penyaluran zakat melalui badan atau lembaga pengelola zakat yang dibentuk atau disahkan sesuai ketentuan pemerintah juga memiliki manfaat dari sisi perpajakan. Dalam ketentuan yang berlaku, zakat yang dibayarkan melalui lembaga atau badan amil zakat yang sah dapat diperhitungkan sebagai pengurang penghasilan bruto, sehingga dapat memberikan manfaat perpajakan bagi wajib pajak yang memenuhi persyaratan. Langkah ini menjadi momentum bagi Baziskaf DAFI untuk terus meningkatkan profesionalitas, transparansi, dan amanah dalam mengelola dana umat. Lebih dari sekadar penguatan kelembagaan, sinergi ini diharapkan mampu membuka ruang kolaborasi yang lebih luas untuk menghadirkan kebermanfaatan bagi santri, pesantren, para penghafal Al-Qur’an, dan masyarakat. Mari terus tumbuhkan kepedulian dan kebermanfaatan melalui zakat, infak, dan sedekah bersama Baziskaf DAFI. Setiap kebaikan yang dititipkan insyaallah menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam mendukung pendidikan santri, membantu para penghafal Al-Qur’an, serta menguatkan keberlangsungan pesantren sebagai tempat lahirnya generasi Qur’ani. Bersama Berbagi, Ciptakan Generasi Qur’ani.

Peduli Tapi Sopan

15 Rabi’ul Awwal 1448 H – QS. Fushshilat : 34-35 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudara sekalian, Dari Abu Hurairah, Nabi SAW, bersabda :إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاق “Aku diutus hanya untuk mengutamakan kemuliaan akhlaq (kesopanan) manusia” (HR. Ahmad) Agama Islam adalah Agama Akhlak karena sangat menjunjung tinggi budaya kesopanan dalam kebijakan, dalam berkata dan bertindak, bahkan dalam berfikir dan merasakan. Kesopanan wajib ditujukan pada Allah SWT, Rasulullah SAW, diri sendiri, orang tua, guru (ulama), penguasa, suami-istri (keluarga), masyarakat, hingga pada hewan, dan lingkungan. Di kekinian, perilaku sopan santun semakin tergerus dan tidak memiliki tempat dalam kepribadian banyak orang muslim, hingga hanya seringkali terlihat sebagai basa basi belaka. Sopan santun sebagai idealisme yang semestinya dipegang teguh oleh manusia beriman, justru digunakan dengan sempurna oleh para munafik sebagai pembungkus atau kamuflase untuk menyukseskan niat atau ikhtiar buruknya. Sebaliknya, yang membuat sedih adalah sikap dan gambaran ketidak sopanan acapkali dilakukan oleh penyeru kebaikan bahkan agamawan dan pemilik otoritas kesopanan lainnya, dengan alasan : Akibat yang timbul dari hal tersebut adalah: Rasul selalu dengan sopan menyerukan kebaikan dan sukses menyerukan kebaikannya karena kesopanannya. Menjadikan umat berakhlak mulia adalah tujuan dari semua bentuk ibadah pada Allah. Artinya, pasti ada yang salah dari ibadah seorang hamba, jika hamba tersebut bertindak tak sopan. Sopan santun dalam ucapan dan tindakan saat menyuarakan kebenaran tetap diwajibkan sekalipun dengan alasan menolak kezhaliman yang paling besar, sebagaimana diteladankan oleh Rasulullah SAW. اللَّهُمَّ اهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ، لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّى سَيِّئَهَا، لاَ يَصْرِفُ عَنِّى سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ Ya Allah, bimbinglah aku menuju akhlak yang paling baik, tidak ada yang dapat membimbing kepadanya kecuali Engkau. Dan palingkanlah dariku akhlak yang buruk, tidak ada yang dapat memalingkan keburukannya dariku kecuali Engkau. (@msdrehem)

Mewaspadai Prasangka Buruk

8 Rabi’ul Awwal 1448 H – QS. Al Hujurat: 12 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudara sekalian, Menilai seseorang secara subyektif hingga berprasangka buruk adalah ciri dari mental dan fikiran yang tidak sehat. Seseorang yang berprasangka buruk biasanya selalu mencari-cari kesalahan dari saudara nya dan kemudian dilanjut dengan cara menggunjing kemana mana, menjatuhkan namanya, berkedok curhat dan seolah mengingatkan orang lain, agar selamat dari keburukan yang digunjingi. Imam al-Qurthubi mengatakan bahwa, tak semua prasangka buruk dilarang dengan dalil : إن بعض الظن إثم“Karena sebagian (bukan semua) dari prasangka itu dosa.” (QS al-Hujurat: 12). Namun demikian, kebanyakan prasangka buruk bersifat negatif dan membawa petaka bagi ‘pengidapnya’. Berprasangka buruk pada yang secara lahiriah baik, adalah aib dan dikecam Allah. “Dan kebanyakan mereka hanya mengikuti dugaan. Sesungguhnya dugaan itu tidak sedikit pun berguna untuk melawan kebenaran … “ (QS Yunus: 36). Imam Sufyan Ats-Tsauri membagi prasangka buruk menjadi dua jenis: Prasangka buruk dalam hati yang tak diucap, harus segera diistighfari agar tak berpotensi mendatangkan dosa karena bisa membuka jalan terjadinya penuduhan buruk, penggunjingan dan penjatuhan nama pada tersangka. Tingkat keharaman prasangka buruk berbeda-beda dan yang terberat adalah: 1. Berprasangka buruk kepada Allah SWT. (QS al-Fath : 6)Dalam hadits qudsi, Allah menyatakan bahwa diriNYA bergantung pada prasangka hambaNYA. Kalau prasangka hamba pada diriNYA baik, maka yang terjadi adalah kebaikan. Tetapi jika seorang hamba berprasangka buruk pada Allah, maka yang terjadi adalah keburukan.2. Berprasangka buruk kepada Rasulullah SAW.Apapun yang disampaikan dan dilakukan oleh rasulullah SAW, adalah atas kemauan Allah.3. Berprasangka buruk pada para sahabat Rasulullah SAW.Para sahabat adalah orang yang sangat setia membersamai Rasulullah SAW, dalam menegakkan agama pada saat lapang dan sempit.4. Berprasangka buruk pada orang yang baik pada kita atau seharusnya dihormati, seperti orang tua, guru dan lainnya, sehingga membuat seseorang terjauhkan dari akhlaqul karimah, barokah dan rahmat Allah. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisiMU, karena sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Pemberi (karunia),” (@msdrehem)

Upacara Kemerdekaan, Santri Beasiswa Mendapat Amanah Istimewa!

Peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momen istimewa bagi keluarga besar DAFI Pesantren Al-Qur’an Science. Bukan hanya sebagai momentum mengenang perjuangan para pahlawan, tetapi juga menjadi ruang bagi para santri untuk menunjukkan karakter, kedisiplinan, dan kemampuan dalam menjalankan sebuah amanah. Ada yang menarik pada pelaksanaan upacara tahun ini. Sebanyak 9 santri penerima Beasiswa Baziskaf DAFI dipercaya mengambil peran dalam pelaksanaan Upacara Kemerdekaan yang digelar tepat pada Senin, 17 Agustus 2026. Upacara dilaksanakan secara terpisah di lingkungan Pesantren Putra dan Pesantren Putri, dengan melibatkan para santri dalam berbagai tugas dan peran penting selama prosesi berlangsung. Dua di antaranya adalah Ahmad Zaky Murtadho dan Ahmad Hukma Shobiyya, yang saat ini dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua OSIS SMP dan MA DAFI. Keduanya mendapatkan kepercayaan untuk membawa baki Bendera Merah Putih dan Naskah Proklamasi dalam rangkaian upacara. Sementara itu, Quinn Jabbar Maulana dipercaya menjadi bagian dari Pasukan Pengibar Bendera, sedangkan Aisyah Dewi Rahayu ditunjuk sebagai Pemimpin Barisan Peserta Upacara Putri. Tidak hanya dalam prosesi inti upacara, lima santri penerima beasiswa lainnya turut mengambil bagian dalam Tim Paduan Suara Upacara Kemerdekaan. Mereka adalah Adinda Farida, Ince Alifah, Chadijah Kayla, Al Reina Azzahra, dan Zidny Aqilah. Kepercayaan yang diberikan kepada para santri beasiswa ini menjadi salah satu gambaran bahwa program beasiswa tidak hanya tentang membantu keberlangsungan pendidikan, tetapi juga membuka ruang bagi santri untuk bertumbuh, berprestasi, belajar memimpin, dan mengemban tanggung jawab. Bagi Baziskaf DAFI, setiap kesempatan yang diberikan kepada santri untuk mengambil peran merupakan bagian dari proses pembentukan generasi yang tidak hanya kuat dalam ilmu dan hafalan Al-Qur’an, tetapi juga memiliki karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, serta kepedulian terhadap bangsa dan lingkungan sekitarnya. Keterlibatan sembilan santri ini juga menjadi pengingat bahwa di balik sebuah program beasiswa, terdapat perjalanan panjang seorang anak untuk berkembang dan menemukan potensi terbaik dalam dirinya. Dukungan pendidikan yang diberikan hari ini dapat menjadi jalan bagi lahirnya prestasi dan kontribusi mereka di masa depan. Baziskaf DAFI mengucapkan terima kasih kepada seluruh donatur, Orang Tua Asuh, dan para pihak yang telah membersamai Program Beasiswa Penghafal Al-Qur’an. Dukungan yang diberikan bukan hanya membantu mereka untuk terus belajar dan menghafal Al-Qur’an, tetapi juga memberikan kesempatan bagi para santri untuk tumbuh, berprestasi, dan mengambil peran di tengah masyarakat. Mari terus membersamai perjalanan pendidikan mereka. Karena setiap dukungan yang kita berikan hari ini adalah bagian dari ikhtiar menyiapkan generasi penghafal Al-Qur’an yang kelak mampu menjaga nilai-nilai kebaikan, memimpin dengan amanah, dan memberikan manfaat untuk umat serta negeri.

Merdeka Karena Bahagia

30 Shafar 1448 H – QS. At Taubah: 33 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudara sekalian, Banyak yang membayangkan bahwa kekayaan, kemewahan, popularitas, jabatan atau kekuasaan adalah kebahagiaan yang ditujunya. Seakan dengan itu semua, orang lain akan memuliakannya bahkan tunduk, sehingga dengan itu ia bahagia. Anggapan tersebut hanyalah ilusi belaka. Sebab kenyataannya, hidup manusia banyak yang bermula, dijalani dan diakhiri dalam rimba masalah, dimulai dari masalah pribadi, keluarga, pekerjaan dan sosial. Dalam pandangan agama, bahagia itu di dapatkan melalui kemampuan seorang hamba untuk mengenal, mengabdi (beriman) dan dekat dengan Allah SWT, sehingga dzikir terlantun secara otomatis dan menjadi habit (kebiasaan). Orang beriman tidak mesti selalu tertawa lepas karena bebas dari masalah dunia. Mereka memiliki ketenangan batin yang stabil karena kebahagiaannya berakar dari : Indikasi Kebahagiaan orang Beriman; Cukup Allah saja buatku. Allah ada, ada Allah. Aku bahagia dan merdeka! اللهم إني أسألك نفساً بك مطمئنة، تؤمن بلقائك، و ترضى بقضائك، و تقنع بعطائك Ya Allah, aku memohon kepada-MU jiwa yang merasa tenang kepada-MU, yang yakin akan berjumpa dengan-MU, yang ridlo dengan ketetapan-MU, dan yang merasa cukup dengan pemberian-MU.. (@msdrehem)