Menyala! 2 Wisudawan Leadership Terbaik 2026 Diraih Santri Beasiswa

Haflah Akhir As-Sanah & DAFI Award 2026 yang diselenggarakan pada Selasa, 16 Juni 2026 bukan sekadar menjadi momentum pelepasan santri kelas akhir SMP dan MA DAFI Pesantren Al Qur’an Science. Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi ajang apresiasi atas berbagai prestasi, dedikasi, dan karakter unggul yang ditunjukkan para wisudawan selama menempuh pendidikan di pesantren. Di antara berbagai penghargaan yang diberikan, terdapat kabar membahagiakan dari para santri beasiswa penghafal Al-Qur’an. Dua wisudawan beasiswa berhasil meraih penghargaan Wisudawan dengan Leadership Terbaik pada jenjang masing-masing. Mereka adalah Quinn Jabbar Maulana dari jenjang SMP dan Chikafitria Azzahra Nurfirdaus dari jenjang MA. Penghargaan Leadership Terbaik diberikan kepada santri yang menunjukkan kemampuan kepemimpinan yang menonjol selama masa pendidikan. Penilaian dilakukan berdasarkan keaktifan dalam organisasi, keterlibatan dalam berbagai kepanitiaan kegiatan pesantren, kemampuan mengemban amanah, serta karakter pribadi yang mencerminkan nilai-nilai kepemimpinan yang baik. Bagi Quinn Jabbar Maulana, penghargaan ini menjadi pelengkap dari berbagai capaian yang berhasil diraih selama menjadi santri DAFI Pesantren Al Qur’an Science. Selain berhasil menghafalkan 11,2 juz Al-Qur’an, Jabbar pernah dipercaya menjadi Ketua OSIS pada Tahun Ajaran 2024/2025. Ia juga tercatat tiga kali terpilih sebagai peserta Online International Exchange bersama sekolah di Jepang dalam program World Classroom. Prestasi akademiknya pun tidak kalah membanggakan. Jabbar berhasil meraih Medali Emas Nasional Olimpiade Bahasa Inggris KAPN 2025 serta Medali Emas Olimpiade Bahasa Inggris OMNISAINS OSI 2025. Sementara itu, pada jenjang MA, penghargaan Leadership Terbaik diraih oleh Chikafitria Azzahra Nurfirdaus, santri beasiswa yang dikenal memiliki ketekunan luar biasa dalam bidang tahfidz dan akademik. Chika berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an dan lulus Program Mutqin dengan menuntaskan tasmi’ 30 juz tanpa melihat mushaf. Sebuah capaian yang membutuhkan kedisiplinan, kesungguhan, dan konsistensi yang tidak mudah. Tidak hanya itu, Chika juga berhasil diterima di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), dengan dukungan Golden Ticket Leadership yang menjadi pengakuan atas kiprah dan kontribusinya selama menempuh pendidikan. Saat menerima penghargaan tersebut, Chika mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaannya. “Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dan tidak pernah membayangkan bisa berada di titik ini. Semua yang saya capai hari ini adalah karena pertolongan Allah, doa orang tua, guru-guru, dan banyak pihak yang telah mendukung saya selama ini,” ungkapnya. Capaian Jabbar dan Chika menjadi bukti bahwa pendidikan yang memadukan pembinaan Al-Qur’an, karakter, kepemimpinan, dan akademik mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dalam prestasi, tetapi juga siap memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Di balik setiap penghargaan yang diterima para santri beasiswa, terdapat begitu banyak tangan-tangan kebaikan yang turut membersamai perjalanan mereka. Ada para orang tua asuh dan donatur yang dengan penuh keikhlasan mendukung keberlangsungan pendidikan para santri, memberikan kesempatan bagi mereka untuk belajar, menghafal Al-Qur’an, mengembangkan potensi diri, serta meraih cita-cita terbaiknya. Karena itu, penghargaan yang diraih oleh Jabbar dan Chika hari ini sesungguhnya bukan hanya milik mereka pribadi. Penghargaan ini juga menjadi kebahagiaan dan kebanggaan bagi seluruh orang tua asuh dan donatur yang telah menjadi bagian dari perjalanan panjang tersebut. Semoga Allah SWT membalas setiap kebaikan para orang tua asuh dan donatur dengan pahala yang berlipat ganda, keberkahan rezeki, kesehatan, kemudahan dalam setiap urusan, serta menjadikannya sebagai amal jariyah yang terus mengalir. Semoga setiap ayat Al-Qur’an yang dihafalkan, setiap ilmu yang dipelajari, dan setiap prestasi yang diraih para santri menjadi saksi kebaikan yang kelak memberatkan timbangan amal di hadapan Allah SWT. Jazakumullahu khairan katsiran kepada seluruh orang tua asuh, donatur, dan sahabat kebaikan yang telah membersamai perjuangan para santri penghafal Al-Qur’an. Semoga Allah terus mempertemukan kita dalam jalan-jalan kebaikan dan menjadikan semakin banyak generasi Qur’ani yang lahir dari dukungan dan kepedulian yang diberikan hari ini.

Terima Kasih! Dulu Datang Membawa Mimpi, Hari Ini Kami Meraih Prestasi

Suasana haru dan penuh rasa syukur menyelimuti pelaksanaan Haflah Akhir As-Sanah & DAFI Award 2026 / 1447 Hijriyah yang diselenggarakan oleh DAFI Pesantren Al Qur’an Science pada Selasa, 16 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi momentum pelepasan sekaligus apresiasi bagi para santri yang telah menyelesaikan jenjang pendidikan SMP dan MA. Sebanyak 169 wisudawan dari jenjang SMP dan MA resmi dilepas sebagai alumni DAFI Pesantren Al Qur’an Science. Di antara para wisudawan tersebut, terdapat 18 santri beasiswa penghafal Al-Qur’an yang selama ini menempuh pendidikan melalui dukungan para orang tua asuh dan donatur. Dari 18 wisudawan beasiswa tersebut, sebanyak 8 santri berasal dari jenjang SMP dan 10 santri berasal dari jenjang MA. Berbagai capaian membanggakan berhasil mereka torehkan sebagai buah dari kesungguhan belajar, kedisiplinan dalam menghafal Al-Qur’an, serta dukungan dari banyak pihak yang membersamai perjalanan pendidikan mereka. Alhamdulillah, dari 10 wisudawan beasiswa jenjang MA, sebanyak 6 santri berhasil lolos seleksi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tahun 2026. Tidak hanya itu, satu santri berhasil menembus seleksi dan diterima melanjutkan pendidikan di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir, salah satu pusat keilmuan Islam terkemuka di dunia. Prestasi membanggakan lainnya juga datang dari bidang tahfidz Al-Qur’an. Sebanyak 3 santri wisudawan beasiswa berhasil menyelesaikan hafalan 30 Juz Al-Qur’an, sebuah capaian yang menjadi kebanggaan tersendiri bagi pesantren, keluarga, dan seluruh pihak yang telah mendukung perjuangan mereka. Dalam sambutannya, Ketua Dewan Pembina DAFI Pesantren Al Qur’an Science, KH. Muhammad Sirot, S.Ag., MM, berpesan kepada seluruh wisudawan agar senantiasa menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan. “Jadikan Al-Qur’an sebagai radar kehidupan kalian. Jaga terus murajaah Al-Qur’an sampai akhir hayat dan jangan sampai terlepas dari Al-Qur’an. Prestasi bukan hanya urusan dunia, tetapi juga akhirat. Dua hal inilah yang menjadi landasan pendidikan kami,” tegasnya. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan yang diraih para santri hari ini tidak hanya diukur dari capaian akademik dan prestasi pendidikan, tetapi juga dari kedekatan mereka dengan Al-Qur’an yang menjadi fondasi utama dalam kehidupan. Koordinator Baziskaf DAFI, Ustadz Andy, turut menyampaikan rasa syukur atas capaian para santri beasiswa yang diwisuda pada tahun ini. “Alhamdulillah, semua ini atas ridha Allah SWT yang telah memudahkan langkah para santri beasiswa hingga sampai pada titik ini. Allah pula yang mempertemukan kami dengan para donatur dan orang tua asuh yang selama ini membersamai perjuangan para santri penghafal Al-Qur’an. Jazakumullahu khairan katsiran atas kepercayaan, doa, dan dukungan yang telah diberikan,” ujarnya. Keberhasilan para wisudawan beasiswa hari ini tidak lahir dalam semalam. Di balik tawa dan senyum bahagia yang terlihat, ada perjalanan panjang yang penuh perjuangan, doa, dan pengorbanan. Ada para santri yang tekun menghafalkan Al-Qur’an sejak dini, berjuang menyelesaikan pendidikan dengan penuh semangat, serta terus menjaga mimpi-mimpi mereka untuk masa depan yang lebih baik. Di sisi lain, ada pula para orang tua asuh dan donatur yang dengan penuh keikhlasan membersamai langkah mereka melalui dukungan pendidikan yang berkelanjutan. Karena itu, capaian para wisudawan beasiswa hari ini sesungguhnya bukan hanya menjadi kebahagiaan para santri dan pesantren, tetapi juga menjadi hadiah terbaik bagi seluruh orang tua asuh dan donatur yang telah menanamkan kebaikan dalam perjalanan pendidikan mereka. Semoga setiap huruf Al-Qur’an yang telah dihafalkan, setiap ilmu yang dipelajari, serta setiap prestasi yang diraih oleh para santri menjadi amal jariyah yang terus mengalir untuk seluruh pihak yang telah membantu mereka. Semoga Allah SWT membalas kebaikan para orang tua asuh dan donatur dengan keberkahan rezeki, kesehatan, kemudahan urusan, keluarga yang sakinah, serta pahala yang terus bertambah hingga hari akhir. Terima kasih kepada seluruh orang tua asuh, donatur, dan sahabat kebaikan yang telah menjadi bagian dari perjalanan para santri penghafal Al-Qur’an. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga dan melimpahkan keberkahan kepada kita semua. Jazakumullahu khairan katsiran.

8 Sapi dan 31 Kambing Tersalurkan, Qurban Bersama Penghafal Al Qur’an Jangkau 7 Daerah Dakwah

Alhamdulillah, rangkaian Program Qurban Bersama Penghafal Al-Qur’an dan Mitra Dakwah Pesantren pada Idul Adha 1447 Hijriyah telah terlaksana dengan baik dan tuntas secara keseluruhan. Amanah qurban yang dititipkan oleh para mudhohhi berhasil disembelih dan didistribusikan kepada para penerima manfaat di berbagai wilayah Jawa Timur. Pada tahun ini, panitia menerima amanah dari 71 mudhohhi yang mempercayakan pelaksanaan ibadah qurbannya melalui program ini. Total hewan qurban yang ditunaikan terdiri dari 8 ekor sapi dan 31 ekor kambing yang disembelih pada momentum Idul Adha 1447 Hijriyah. Di lingkungan DAFI Pesantren Al-Qur’an Science, proses penyembelihan hewan qurban dilaksanakan pada hari Tasyrik pertama, Kamis, 28 Mei 2026. Kegiatan tersebut melibatkan para santri penghafal Al-Qur’an, asatidz, panitia, serta relawan yang turut bergotong royong dalam pelaksanaan penyembelihan hingga pendistribusian daging qurban. Sementara itu, beberapa titik mitra dakwah pesantren melaksanakan penyembelihan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan wilayah masing-masing. Tahun ini, manfaat qurban tidak hanya dirasakan oleh keluarga besar pesantren, tetapi juga menjangkau berbagai daerah mitra dakwah di Jawa Timur. Distribusi qurban tersebar di wilayah Sidoarjo, Probolinggo, Mojokerto, Malang, Lamongan, Magetan, dan Pamekasan. Daging qurban didistribusikan kepada para santri penghafal Al-Qur’an, ustadz dan ustadzah, masyarakat sekitar pesantren, serta masyarakat di berbagai titik mitra dakwah yang selama ini menjadi bagian dari pembinaan dan pelayanan dakwah pesantren. Koordinator Baziskaf DAFI, Ustadz Andy, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam menyukseskan program qurban tahun ini. “Alhamdulillah, jazakumullah khairan katsiran atas setiap dukungan dan kepercayaan dalam Idul Adha kali ini. Terima kasih kepada para mudhohhi serta para pendukung yang luar biasa, yaitu GM Farm Lamongan, Dompet Al-Qur’an Indonesia, Bank Jatim, SSC Buduran, Baitul Maal Muamalat, Pertamina Gas Negara, dan DAFI Catering. Semoga Allah memberikan kemudahan dan kelancaran setiap urusan serta menjadikan semakin majunya lembaga-lembaga yang bapak dan ibu pimpin,” tuturnya. Sementara itu, Ketua Pelaksana Qurban, Ustadz Didik Suhartono, melaporkan bahwa seluruh amanah qurban telah ditunaikan dengan baik. “Alhamdulillah, semua amanah hewan qurban sudah tertunaikan dalam penyembelihan dan pendistribusian. Semoga Allah SWT menerima dan meridhai ibadah para pengqurban. Aamiin Allahumma Aamiin,” ujarnya. Momentum Idul Adha selalu mengajarkan nilai keikhlasan, kepedulian, dan pengorbanan. Melalui qurban, kebahagiaan tidak hanya hadir bagi mereka yang beribadah, tetapi juga dirasakan oleh saudara-saudara yang menerima manfaatnya. Setiap titipan qurban menjadi jembatan kebaikan yang menghubungkan para mudhohhi dengan para penerima manfaat di berbagai daerah. Kehadiran para mudhohhi serta dukungan berbagai lembaga dan mitra strategis menjadi bagian penting dalam menghadirkan kebermanfaatan yang lebih luas. Amanah yang diberikan bukan sekadar menghadirkan daging qurban, tetapi juga memperkuat semangat ukhuwah, kepedulian sosial, dan dakwah Islam di tengah masyarakat. Semoga Allah SWT menerima seluruh ibadah qurban para mudhohhi, melipatgandakan pahala, melimpahkan keberkahan rezeki, kesehatan, kemudahan dalam setiap urusan, serta mengabulkan doa dan hajat terbaik yang dipanjatkan. Semoga seluruh lembaga pendukung dan mitra yang telah berkontribusi diberikan keberkahan, kemajuan, dan kebermanfaatan yang semakin luas bagi umat. Kami juga mengajak seluruh sahabat kebaikan untuk kembali membersamai Program Qurban Bersama Penghafal Al-Qur’an dan Mitra Dakwah Pesantren pada tahun-tahun mendatang. Semoga semakin banyak manfaat yang dapat dirasakan, semakin luas jangkauan penerima kebaikan, dan semakin banyak keberkahan yang Allah limpahkan melalui ibadah qurban yang ditunaikan bersama. Jazakumullahu khairan katsiran. Semoga Allah menerima setiap amal kebaikan dan mempertemukan kita kembali dengan Idul Adha berikutnya dalam keadaan penuh keberkahan dan keimanan.

Fadhilah & Doa Hari Arafah

8 Dzulhijjah 1447 H | K.H. Ahmad Mudzaffar Jufri, Lc., MA (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Baginda Sayyiduna Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Tiada hari dimana amal shaleh padanya lebih Allah cintai daripada hari-hari ini, yakni 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: Ya Rasulallah, apakah jihad fi sabillah pun tidak bisa (menandingi fadhilahnya)? Beliau menjawab: Ya, termasuk jihad fi sabilillah sekalipun tidak bisa (menandinginya). Kecuali seseorang yang pergi berjihad dengan jiwa dan hartanya sendiri, lalu tidak ada yang kembali (sampai syahid)” (HR. Al-Bukhari). Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda (yang artinya): Tiada hari yang paling besar peluangnya untuk Allah membebaskan seorang hamba dari api Neraka, selain hari Arafah (HR. Muslim). Saat ditanya tentang fadhilah puasa Arafah, Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): Ia bisa menghapus dosa satu tahun yang telah lalu dan satu tahun yang akan datang (HR. Muslim). Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda lagi (yang artinya): Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik dzikir yang aku baca dan juga dibaca oleh para Nabi sebelumku adalah: La ilaha illallahu wahdahu la syarika lahu, lahul mulku wa lahulhamdu, wa Huwa ‘ala kulli syai-in qadir” (HR. At-Tirmidzi, dihasankan oleh Al-Albani). Para ulama berbeda pendapat tentang fadhilah spesial doa di hari Arafah ini, apakah hanya khusus bagi para jamaah haji yang sedang melaksanakan wuquf di Arafah, ataukah berlaku umum bagi seluruh kaum muslimin dimanapun berada. Dengan kata lain, apakah keutamaan khusus diatas hanya karena faktor fadhilah tempat wuquf di Arafah, ataukah tertuju kepada keutamaan dan keistimewaan faktor hari Arafah-nya? Dan yang lebih rajih dan kuat insyaallah bahwa, fadhilah dan keutamaan spesial tersebut terkait dengan faktor fadhilah dan keutamaan hari Arafah, dan bukan hanya tertuju kepada faktor tempat ibadah wuquf semata. Meskipun untuk kondisi para jamaah haji yang akan/tengah berwuquf di Arafah, tentu saja lebih istimewa dan lebih spesial lagi. Karena terhimpun untuk mereka minimal tiga faktor keutamaan sekaligus, yakni: faktor kemuliaan wuquf sebagai puncak manasik ibadah haji, faktor keistimewaan tempat wuquf, dan faktor fadhilah hari Arafah. Bahkan diriwayatkan bahwa, tidak sedikit diantara para ulama salafus saleh dan khalafus saleh dahulu yang biasa berkumpul di masjid pada sore hari Arafah, untuk berdoa, berdzikir dan bermunajat. Disebutkan bahwa, yang termasuk melakukannya bahkan mengawalinya adalah sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Diantara ulama yang membolehkannya adalah Imam Ahmad bin Hambal. Dimana saat ditanya tentang praktik tersebut, beliau menjawab: Aku harap hal itu tidak mengapa. Toh hanya doa dan dzikrullah. Dan tidak sedikit ulama yang melakukannya… yang pertama kali mempraktikkan amalan itu adalah Ibnu Abbas dan Amru bin Huraits (radhiyallahu ‘anhum). (Al-Mughni: 2/129). Semoga kita semua wabilkhusus para jamaah haji yang tengah/akan berwuquf di Arafah, tidak melewatkan begitu saja momentum teristimewa dan luar biasa ini. Maka harap jangan lupa berdoa dan bermunajat kepada Allah, seikhlas-ikhlasnya dan setotal-totalnya, baik untuk kebaikan diri pribadi, kesakinahan keluarga, kejayaan dakwah Islam dimana-mana, keselamatan para pegiatnya dimanapun berada, maupun kemaslahatan Islam dan kaum muslimin secara umum!

Jaga Kualitas, 7 Santri Beasiswa DAFI Lulus Standarisasi Hafalan Al Qur’an

DAFI Pesantren Al Qur’an Science kembali melaksanakan kegiatan Standarisasi Tahfidz Hafalan Al-Qur’an sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas hafalan para santri. Kegiatan ini menjadi momen penting dalam menilai kemampuan hafalan sekaligus kualitas bacaan Al-Qur’an para santri yang telah menyelesaikan target hafalan tertentu. Standarisasi tahfidz periode kali ini dilaksanakan pada Selasa, 19 Mei 2026 secara terpisah di pesantren putri kawasan Sarirogo dan pesantren putra di Anggaswangi, Kabupaten Sidoarjo. Sebanyak 39 santri mengikuti proses standarisasi hafalan Al-Qur’an ini, termasuk 7 santri beasiswa DAFI Pesantren Al Qur’an Science yang turut ambil bagian dalam ujian tersebut. Para peserta merupakan santri yang telah mentashihkan hafalan mulai dari 5 hingga 30 juz Al-Qur’an. Dalam pelaksanaannya, para santri diuji langsung oleh Penjamin Mutu Hafalan Al-Qur’an DAFI Pesantren Al Qur’an Science, Dr. KH. Mudawi Ma’arif, Lc., M.H.I., yang juga dikenal sebagai Pemegang Sanad Qiro’ah Asyarah, Juara Nasional dan Internasional MHQ 30 Juz & Tafsirnya, Ketua Majelis Quro Internasional Asia Tenggara, serta Juri MHQ Nasional. Sebelum ujian dimulai, Ustadz Mudawi menyampaikan nasihat kepada seluruh peserta tentang pentingnya kesungguhan dalam menuntut ilmu dan menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an. “Ketika menuntut ilmu itu tidak boleh setengah-setengah, seperti menghafalkan Al-Qur’an tidak hanya 5 atau 10 juz, tapi diusahakan sempurna 30 juz Al-Qur’an,” pesannya di hadapan para santri. Beliau juga menambahkan bahwa kecintaan kepada Al-Qur’an hendaknya diwujudkan dengan meninggalkan hal-hal yang sia-sia, terlebih sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT. Alhamdulillah, seluruh santri beasiswa yang mengikuti standarisasi berhasil dinyatakan lulus dengan kategori hafalan yang berbeda-beda. Mereka adalah: Ustadz Ansori selaku pengajar Al-Qur’an turut menyampaikan rasa syukur atas capaian para santri dalam standarisasi tersebut. “Alhamdulillah, 39 santri diuji lulus 100 persen dan sebagian besar sudah bagus dalam hal kelancaran hafalan. Namun ada beberapa yang perlu diperbaiki berkaitan tentang makharijul huruf serta kaidah-kaidah tajwidnya,” ungkapnya. Kebahagiaan yang sama juga dirasakan oleh Ustadz Andy Setiawan selaku Koordinator Baziskaf DAFI. Menurutnya, keberhasilan para santri beasiswa menjadi kabar baik yang patut disyukuri bersama. “Alhamdulillah, ini progress pembelajaran yang baik dan berita baik ini secepatnya harus diinformasikan kepada Wali, Orang Tua Asuh dan donatur,” ujarnya. Keberhasilan para santri hari ini tentu tidak lepas dari ridho Allah SWT, dukungan besar para wali, Orang Tua Asuh, donatur, dan seluruh pihak yang telah membersamai perjuangan pendidikan mereka. Setiap bantuan yang diberikan telah menjadi jalan hadirnya harapan baru bagi para penghafal Al-Qur’an untuk terus belajar, bertumbuh, dan menggapai cita-cita terbaiknya. Semoga Allah SWT membalas setiap kebaikan para Orang Tua Asuh dan donatur dengan keberkahan rezeki, kesehatan, kemudahan urusan, serta pahala jariyah yang terus mengalir dari setiap ayat yang dihafalkan dan diamalkan oleh para santri. Semoga Allah menjaga keluarga, melapangkan setiap hajat baik, dan menjadikan seluruh kontribusi ini sebagai amal yang dicintai Allah SWT. Mari terus membersamai perjuangan para santri yatim penghafal Al-Qur’an. Karena dari dukungan kecil yang diberikan hari ini, bisa lahir generasi Qur’ani yang kelak membawa manfaat besar bagi umat dan peradaban.

Kolaborasi Kebaikan untuk Penghafal Al Qur’an

Kepedulian terhadap pendidikan anak yatim kembali diwujudkan melalui kolaborasi kebaikan antara Lembaga Amil Zakat Yatim Mandiri, Dompet Al Qur’an Indonesia, dan Baziskaf DAFI dalam membantu pendidikan santri yatim penghafal Al-Qur’an di DAFI Pesantren Al Qur’an Science. Kegiatan penyaluran bantuan pendidikan tersebut dilaksanakan pada Selasa, 19 Mei 2026, yang berlangsung secara terpisah di pesantren putri kawasan Sarirogo serta pesantren putra di Anggaswangi, Kabupaten Sidoarjo. Sebanyak 43 santri yatim turut hadir dalam proses simbolis penyerahan bantuan pendidikan tersebut dengan penuh rasa syukur. Kolaborasi ini merupakan bagian dari Program BESTARI (Beasiswa Yatim Berprestasi Yatim Mandiri), sebuah program yang diinisiasi oleh Yatim Mandiri untuk membantu pendidikan anak-anak yatim dhuafa agar tetap memiliki kesempatan meraih masa depan yang lebih baik melalui pendidikan. Dalam pelaksanaannya, program ini bersinergi bersama Dompet Al Qur’an Indonesia serta Baziskaf DAFI untuk membantu memenuhi kebutuhan pendidikan santri yatim di DAFI Pesantren Al Qur’an Science yang seluruh fasilitas pendidikannya diberikan secara gratis 100 persen sejak awal masuk pesantren. Ustadz Andy selaku Koordinator Baziskaf DAFI menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas terealisasinya bantuan pendidikan tersebut. “Alhamdulillah, terima kasih telah ikut berpartisipasi dan membantu dalam pendidikan santri-santri yatim kami yang memang sepenuhnya kita berikan fasilitas gratis 100 persen dari awal masuk. Semoga Allah cukupkan dan mampukan untuk memenuhi kebutuhan santri-santri kita ini ke depannya,” ujarnya. Sementara itu, Ibu Grace selaku perwakilan Yatim Mandiri yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa bantuan yang diberikan merupakan amanah dari para donatur yang peduli terhadap masa depan pendidikan anak-anak yatim. “Apa yang kami sampaikan hari ini merupakan amanah dari para donatur. Semoga bantuan ini dapat membantu pendidikan para santri yatim dan menjadi bekal yang bermanfaat untuk masa depan mereka,” tuturnya. Alif Fathin Nufail, santri kelas 7 yang hadir dalam prosesi simbolis tersebut, menyampaikan ucapan terima kasih secara sederhana. “Alhamdulillah, terima kasih. Jazakumullahu khairan katsiran,” ucapnya malu-malu di hadapan para tamu yang hadir. Di balik senyum dan ucapan syukur para santri, terdapat perjuangan besar yang terus mereka jalani setiap hari. Dengan setiap doa dan ikhtiar, para santri yatim di DAFI Pesantren Al Qur’an Science tetap bersemangat menuntut ilmu, menghafalkan Al-Qur’an, serta membangun cita-cita demi masa depan yang lebih baik. Kesempatan untuk ikut membersamai perjuangan para santri yatim penghafal Al-Qur’an ini pun masih terbuka lebar. Setiap bantuan yang diberikan bukan hanya menjadi dukungan pendidikan, tetapi juga bagian dari ikhtiar melahirkan generasi Qur’ani yang kelak membawa manfaat luas bagi umat. Semoga Allah SWT membalas setiap kebaikan para donatur, orang tua asuh, Yatim Mandiri, Dompet Al Qur’an Indonesia, Baziskaf DAFI, serta seluruh pihak yang telah turut mengambil bagian dalam memajukan pendidikan santri beasiswa di DAFI Pesantren Al Qur’an Science. Semoga dilimpahkan keberkahan rezeki, kemudahan dalam setiap urusan, kesehatan, serta pahala jariyah yang terus mengalir dari setiap ayat Al-Qur’an yang dihafalkan dan diamalkan oleh para santri. Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.

Memurnikan Tauhid Dengan Berhaji (bag. 1)

28 DZULQAIDAH 1447 H | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudara sekalian, Rasulullah SAW bersabda: أيُّهَا النَّاسُ، قَدْ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُم الحَجَّ فَحُجُّوا Artinya, “Wahai manusia! Sungguh Allah telah mewajibkan haji atas kamu sekalian, maka kerjakanlah haji” (HR Muslim). Haji berasal dari kata bahasa arab, “Al Hajj”. Secara bahasa artinya ; menyengaja melakukan sesuatu dan bepergian atau menujuSecara terminologi artinya ; menuju Baitullah Al-Haram (Ka’bah) di bulan Haji (Dzulhijjah) untuk melakukan amalan-amalan haji seperti : ihram, thawaf, sa’i, dan wukuf di Padang Arafah, dengan niat melakukan ibadah tertentu (Haji) Syariat haji adalah syariat yang sudah ada sebelum Islam (syar’u man qoblana), mengikuti ibadah dari millah Nabi Ibrahim AS. Umat Islam diwajibkan berhaji ke Baitullah, manakala berkemampuan secara fisik, finansial dan keamanan, sebagai wujud ketaatan total pada perintah Allah SWT dan untuk menyempurnakan rukun Islam. Secara terperinci, hukum haji adalah sebagai berikut : Menolak haji sama seperti menolak sholat, zakat, puasa bahkan syahadat dan mengapa Allah SWT menetapkan ibadah haji harus di Mekkah? Ya Rahman..,Limpahkan rahmat yang bisa menyampaikan kami untuk berkunjung ke rumah-MU yang mulia dan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Aamiin (@msdrehem)

15 Juz dalam 3 Tahun, Farevo Santri Beasiswa Khatamkan Hafalan 30 Juz Al Qur’an

Kebahagiaan dan rasa haru menyelimuti prosesi setoran hafalan 30 juz Al-Qur’an yang dilaksanakan pada Jum’at, 8 Mei 2026 di Masjid Nabawi Pesantren DAFI Putra. Momen istimewa tersebut menjadi penanda tuntasnya perjalanan hafalan seorang santri beasiswa yatim, Farevo Ahmaddinejad bin Alm. Ahmad Mighfari, dalam menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz. Farevo merupakan santri kelahiran Lamongan, 17 Februari 2008. Ia adalah putra kedua dari dua bersaudara. Sang kakak saat ini menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri Bandung, sementara Farevo menempuh pendidikan dan perjuangan menghafal Al Qur’an di Pesantren DAFI. Di balik capaian tersebut, tersimpan kisah perjuangan yang tidak mudah. Ayahanda Farevo wafat pada tahun 2010 akibat sakit tumor otak yang menyebabkan penglihatannya tidak lagi dapat difungsikan. Sejak saat itu, sang bunda berjuang membesarkan dan mendidik anak-anaknya seorang diri. Ibunda Farevo sendiri diketahui merupakan seorang guru di MI Muhammadiyah 6 Brondong, Lamongan. Momen setoran hafalan 30 juz Farevo semakin mengharukan karena dihadiri langsung oleh ibunda tercinta yang selama ini menjadi sosok utama penguat perjuangannya dalam menuntut ilmu dan menjaga hafalan Al-Qur’an. Farevo mulai menghafal Al-Qur’an sejak kelas 4 SD. Ketika masuk MA DAFI pada kelas 10, ia telah memiliki hafalan 15 juz. Dengan istiqamah dan lingkungan pesantren yang mendukung, hafalan tersebut akhirnya berhasil disempurnakan menjadi 30 juz. Dalam kesehariannya di pesantren, Farevo dikenal sebagai pribadi yang memiliki semangat tinggi. Ia memanfaatkan waktu sore dan selepas Isya untuk menambah hafalan, sementara waktu bada Subuh digunakan untuk murojaah. Di tengah kesibukan sebagai santri penghafal Al-Qur’an, Farevo juga memiliki hobi workout yang biasa dilakukan saat waktu senggang di pesantren. Farevo mengungkapkan bahwa motivasi terbesarnya dalam menghafal Al-Qur’an adalah mencari ridha Allah SWT serta berharap dapat memuliakan kedua orang tuanya di dunia maupun akhirat kelak. “Senang bisa mengkhatamkan hafalan 30 juz Al-Qur’an, namun di sisi lain saya merasa ada tanggung jawab besar terhadap setiap ayat yang dihafalkan. InsyaAllah ke depan saya berkomitmen untuk bisa tasmi’ setiap bulannya,” ungkap Farevo. Ia juga menyampaikan harapannya agar selepas dari pesantren dapat terus menjaga amal ibadah, mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, dan mencari lingkungan pergaulan yang mendukung dalam kebaikan ketika melanjutkan pendidikan di jenjang perguruan tinggi. Dalam proses menghafal, Farevo mengaku pernah merasakan lelah, putus asa, bahkan sempat tertarik dengan dunia luar. Namun, mengingat perjuangan sang bunda di rumah yang terus mendukung pendidikannya menjadi penguat untuk kembali meluruskan niat dan melanjutkan perjuangan menghafal Al-Qur’an. “Saya berikhtiar dan berdoa agar bisa menjadi sukses ke depannya sebagai bentuk terima kasih kepada kedua orang tua yang sudah memfasilitasi dan membantu saya sampai di titik sekarang,” tambahnya. Saat ini, Farevo tengah berikhtiar melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi Negeri dengan jurusan Ilmu Komunikasi. Ketertarikannya terhadap dunia komunikasi membuatnya bercita-cita menjadi seorang motivator di masa depan. Sebagai penerima beasiswa yatim, Farevo juga merasakan dukungan penuh dari lingkungan pesantren. Ia menyampaikan bahwa teman-temannya justru saling mendukung dalam keseharian, pelajaran, maupun hafalan Al-Qur’an tanpa adanya perundungan. Menurutnya, hal paling berkesan selama menempuh pendidikan di Pesantren DAFI adalah kualitas pembelajaran dan guru-guru yang sangat kompeten, serta pelayanan pesantren yang memperlakukan seluruh santri secara setara tanpa perbedaan. Bahkan, Farevo memberikan penilaian 4,8 dari 5 untuk pengalaman pendidikannya di pesantren. Di akhir wawancara, Farevo menyampaikan pesan kepada para penerima beasiswa lainnya agar terus semangat dan berikhtiar memberikan yang terbaik untuk Allah SWT, orang tua, dan para donatur yang telah membantu perjuangan pendidikan mereka. Ia juga memanjatkan doa khusus untuk seluruh donatur dan orang tua asuh yang telah membersamai perjuangannya: “Semoga selalu diberikan kesehatan, diberikan kelancaran rezeki, dilancarkan segala urusan, dan menjadi jalan kebaikan fiddunya wal akhirah.” Perjalanan Farevo menjadi penghafal 30 juz bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab besar untuk menjaga dan mengamalkan Al-Qur’an sepanjang hayat. Di DAFI, masih banyak santri yatim dan dhuafa yang sedang berjuang menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an sebagaimana perjuangan yang telah dilalui oleh Farevo. Melalui program beasiswa pendidikan santri penghafal Al-Qur’an, Baziskaf DAFI mengajak seluruh elemen masyarakat, instansi, maupun perseorangan untuk turut memfasilitasi perjuangan para santri agar kelak tumbuh menjadi generasi Qur’ani yang membawa manfaat bagi umat, agama, bangsa, dan masa depan Islam.

Menjaga Kehormatan Diri

21 DZULQAIDAH 1447 H | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudara sekalian, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa berusaha menjaga kehormatannya maka Allah akan menjaga kehormatannya, dan barangsiapa yang merasa cukup maka Allah akan memberinya kecukupan.” (HR. Bukhari) Mengapa harus menjaga kehormatan diri : 1. Membantu untuk meningkatkan kedekatan dirinya dengan Allah SWT dan mendapat rahmat serta ridloNYA. 2. Nilai seseorang ditentukan oleh kehormatan dirinya, bukan ditentukan oleh kekayaan atau jabatannya, apalagi oleh bentuk rupanya. 3. Membangun integritas hingga mendapat kepercayaan dan penghormatan orang lain. 4. Mencegah atau membentengi diri dari perbuatan maksiat. 5. Memberikan contoh baik hingga menjadi teladan bagi orang lain, terutama generasi muda. Ada 3 istilah yang secara makna saling melengkapi dan saling berkait dalam mewujudkan kehormatan seseorang, 3 tersebut adalah : 1. Izzah (kemuliaan atau keagungan yang tak bisa dikalahkan kejahatan). 2. Muru’ah (menjaga kehormatan diri, sehingga terhindar dari pandangan negativ dari orang lain). 3. Iffah (kemampuan mengendalikan diri agar selalu berpijak pada akhlak mulia). Dalam konteks ini, seseorang harus mampu mengendalikan nafsunya, yang tidak saja dari yang haram, tetapi kadang harus juga dari yang halal, manakala bertentangan dengan kehormatan dirinya. Ada 3 perilaku yang merusak kehormatan diri : 1. Tidak menjaga kehormatan diri dalam masalah seksual (QS. An-Nur : 30-33) 2. Tidak menjaga kehormatan diri dalam masalah harta (QS. Al-Baqarah : 273) 3. Tidak menjaga kehormatan diri dalam dalam masalah kepercayaan orang lain atau tidak amanah. (QS.An-Nisaa’ : 6) Cara Menjaga Kehormatan Diri : 1. Meningkatkan Keimanan dan Ketakwaan dengan rajin beribadah, tilawah, dan mendalami ilmu agama agar selalu berada di jalan yang benar. 2. Memperbaiki akhlak dengan selalu berusaha untuk selalu bersikap jujur, sabar, tidak iri hati dan tidak sombong agar tak rusak hubungan dengan orang lain. 3. Menghindari lingkungan yang buruk yang berpotensi merusak perilaku. Pilihlah teman dan komunitas yang mendukung nilai-nilai Islami. 4. Memohon pertolongan kepada Allah SWT, agar diberi kekuatan untuk menjaga kehormatan diri. Menjaga kehormatan diri sebagai Muslim adalah bagian dari ibadah yang harus terus diperjuangkan, karena kehormatan diri bukan hanya tentang citra di mata manusia, tetapi juga bagaimana kita menjaga amanah sebagai hamba Allah SWT. اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى “Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat penuh ‘iffah dan ghina” (HR. Muslim)

Berkesempatan Umroh, Santri Beasiswa DAFI Diuji Hafalan di Makkah!

Perjalanan menuju Tanah Suci mungkin menjadi impian banyak orang. Namun bagi Adinda Farida Zahiyyah Al Maghfiroh binti Alm. Desta Priyonggo Kurniawan, kesempatan itu hadir sebagai hadiah tak terduga setelah bertahun-tahun menjaga hafalan Al-Qur’an dengan penuh kesungguhan. Santri binaan beasiswa Pesantren DAFI ini baru saja kembali dari ibadah umroh yang dijalaninya pada Maret 2026 lalu. Perjalanan spiritual tersebut menjadi momen yang begitu membekas dalam hidupnya, terlebih karena sebelumnya ia tidak pernah membayangkan bisa menginjakkan kaki di Tanah Suci di usia yang masih muda. Adinda telah menempuh pendidikan di Pesantren DAFI sejak tingkat SMP dan kini duduk di bangku kelas 11. Selama kurang lebih enam tahun belajar di pesantren, ia berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an dan mentasmi’kannya tanpa melihat mushaf selama tiga hari. Saat ini, Adinda juga telah memasuki tahap pengambilan sanad. Di balik pencapaian tersebut, tersimpan perjuangan panjang yang tidak mudah. Tinggal bersama bunda dan dua saudaranya, Adinda mengaku tantangan terbesar selama di pesantren adalah membagi waktu antara kegiatan sekolah, aktivitas asrama, dan murojaah hafalan. “Manajemen waktu dengan belajar dan kegiatan di asrama maupun sekolah menjadi tantangan terbesar,” ungkapnya. Namun proses itulah yang perlahan membentuk dirinya menjadi pribadi yang terus bertumbuh. Bagi Adinda, kebahagiaan sederhana justru hadir saat dirinya mampu memahami pelajaran dengan baik dan membantu teman-temannya yang belum mengerti. “Ketika bisa memahami materi dengan baik, mendapat nilai maksimal, dan membantu mengajarkan teman yang belum paham, itu rasanya bahagia sekali,” tuturnya. Di tengah kesibukannya sebagai santri penghafal Al-Qur’an, Adinda tetap menikmati hal-hal sederhana. Ia gemar membeli jajanan ringan dan saling berbagi, mencuci baju sendiri, dan memiliki hobi bersih-bersih di waktu yang luang. Kesempatan umroh yang datang kepadanya pun bermula dari sebuah kabar tak terduga. Saat itu, bunda Adinda mendapat telepon dari salah satu lembaga sosial yang sedang mencari hafidzah yatim untuk diberangkatkan umroh. Kabar tersebut pertama kali disampaikan sang bunda melalui telepon kepada wali kamar pesantren. Reaksi Adinda saat mendengarnya masih begitu membekas dalam ingatannya. “Kaget, tidak menyangka, dan langsung menangis,” kenangnya. Perjalanan umroh yang telah dijalaninya kini menjadi pengalaman spiritual yang sangat berharga. Bagi Adinda, umroh bukan sekadar perjalanan ibadah, tetapi juga menjadi jalan untuk membersihkan jiwa, menambah keimanan, dan meningkatkan kenikmatan dalam beribadah kepada Allah SWT. Salah satu momen yang paling berkesan baginya selama di Tanah Suci adalah keinginannya untuk menyetorkan hafalan 30 juz kepada syaikhah. Meski saat itu ia baru sempat menjalani tes hafalan secara acak, pengalaman tersebut tetap menjadi kenangan yang sangat berarti. Selain memperbanyak ibadah, Adinda juga merasakan kebahagiaan bisa menyaksikan langsung kota Makkah dan Madinah yang selama ini hanya ia dengar dari cerita dan pelajaran. Dalam doa-doanya di depan Ka’bah, Adinda memohon agar Allah memutqinkan hafalan 30 juznya, memberikan kesuksesan dunia akhirat, serta mengumpulkan kedua orang tua dan keluarganya di surga Firdaus. Tak lupa, ia juga menitipkan doa untuk para donatur yang telah membersamainya selama proses belajar di Pesantren DAFI. “Saya ingin mendoakan keluarga, teman-teman, dan para donatur yang sudah membantu proses belajar saya di DAFI,” ujarnya. Kisah Adinda menjadi bukti bahwa setiap dukungan yang dititipkan para donatur tidak pernah sia-sia. Dari bantuan yang diberikan, lahirlah generasi penjaga Al-Qur’an yang terus tumbuh membawa harapan dan keberkahan. Sepulang dari umroh, Adinda berharap bisa menjadi pribadi yang lebih baik, lebih sabar, dan lebih berbaik sangka kepada Allah SWT. Ia juga bercita-cita melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri jurusan Kesehatan Masyarakat. Di akhir ceritanya, Adinda menyampaikan pesan sederhana untuk siapa pun yang sedang berjuang dalam keterbatasan. “Selalu berharap hanya kepada Allah, mensyukuri nikmat-nikmat-Nya, dan selalu berprasangka baik kepada Allah SWT.” Satu kalimat yang paling menggambarkan perjalanan hidupnya hingga hari ini pun terasa begitu menenangkan: “Semua yang sudah terjadi adalah atas kehendak Allah dan itu yang terbaik.”