Ayo Ke Masjid (Bagian 2)

29 Rabi’ul Awwal 1448 H – QS. At-Taubah: 18 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudaraku sekalian,Masjid adalah rumah Allah SWT dan rumah bagi yang bertaqwa serta menjadi tempat terbaik di bumi yang paling dicintai-NYA. Oleh sebab itu, masjid memiliki kedudukan mulia yang dinisbahkan langsung kepada Allah SWT (QS. An-Nur : 36). Hati yang mencintai Allah akan selalu terpaut pada masjid. Disana mereka akan merasa dekat dengan Allah dan senang berada di dalamnya untuk berzikir serta beribadah kepada-Nya. Ada yang berkata bahwa perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan menuju masjid. Jangankan sehari lima waktu, seminggu sekali pun suka terlupa bahkan lebih dari itu. Padahal Allah SWT, berfirman:…اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, …” (QS. At Taubah: 18). Padahal dalam sebuah riwayat, Nabi SAW, bersabda:“Apabila kalian melihat seseorang terbiasa datang ke masjid, maka saksikanlah bahwa dia beriman”. (HR. Tirmidzi) Padahal banyak keutamaan yang didapat jika rajin ke masjid yang di antaranya adalah: Untuk menghormati rumah Allah SWT, dan untuk meraih semua keutamaan di atas, maka janganlah abai pada adab adab saat ke masjid atau sedang di masjid, yang di antaranya adalah : اللَّهُمَّ افْتَحْ لنا أبْوَابَ رَحْمَتِكَ“Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu untuk kami…” (@msdrehem)

Ayo ke Masjid!

22 Rabi’ul Awwal 1448 H – QS. At-Taubah: 18, QS. Al-Jinn: 18 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Rasulullah SAW bersabda:“Tidaklah satu kaum duduk di salah satu rumah Allah (masjid), mereka membaca Kitabullah (Al-Qur’an) dan mengkajinya bersama, melainkan ketenangan turun pada mereka, rahmat meliputi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut mereka di makhluk yang ada di samping-Nya.” Saudaraku sekalian, Allah SWT, menciptakan bumi dengan jutaan macam isinya, namun bagian bumi yang paling dicintai Allah adalah “masjid-masjidnya”. Yang dilakukan oleh Rasulillah SAW, pada awal kedatangannya (hijrah) di Madinah, adalah membangun masjid Quba atas dasar taqwa (QS. At Taubah : 108). Didirikannya masjid tersebut, sebagai sarana beribadah (komunikasi spiritual dengan Allah), pusat keilmuan atau edukasi Islam, simbol fondasi peradaban Islam, dan pusat persatuan umat Islam yang baru terbentuk, setelah mengalami penindasan berat di Mekkah. Begitu pentingnya masjid, hingga setiap muslim dimotivasi berkumpul (terjadi interaksi spiritual sosial) untuk mengerjakan ibadah shalat berjamaah, lima waktu sehari (Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya) di masjid. MasyaaAllah, tidak semua orang mampu melakukan shalat separuh malam, apalagi shalat sepenuh malam.Rasulullah SAW, bersabda:مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ“Barangsiapa shalat Isya secara berjamaah, maka seolah-olah dia akan melakukan shalat separuh malam. Barangsiapa shalat Subuh berjamaah, maka seolah-olah dia akan shalat sepanjang malam.” (HR. Imam Muslim). Ingatlah, selama masih bisa mendengar suara adzan dari kejauhan, maka Nabi SAW, melarang Abdullah bin Ummi Maktum untuk sholat di rumah kendati beliau tua renta dan buta, hingga jatuh berkali kali saat menuju masjid. (Diriwayatkan dalam hadist, bahwa justru syetanlah yang menuntun Abdullah bin Ummi Maktum ke masjid agar tak jatuh di perjalanan. Syetan tak rela jika dengan jatuhnya, lalu bersama luka dan darahnya, beliau bangkit dan tetap melangkah walau harus merangkak menuju masjid akan membuat semua dosanya dihapus). Maka, paksa dan bahagiakan diri untuk melakukan shalat secara berjamaah di masjid dan berlama lama di masjid, mendapat hidangan surga, doa para malaikat, selamat saat melintasi jembatan shirathal mustaqim, dan mendapat naungan di hari kiamat. اللَّهُمَّ افْتَحْ لنا أبْوَابَ رَحْمَتِكَ “Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu untuk kami…” (@msdrehem)

Peduli Tapi Sopan

15 Rabi’ul Awwal 1448 H – QS. Fushshilat : 34-35 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudara sekalian, Dari Abu Hurairah, Nabi SAW, bersabda :إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاق “Aku diutus hanya untuk mengutamakan kemuliaan akhlaq (kesopanan) manusia” (HR. Ahmad) Agama Islam adalah Agama Akhlak karena sangat menjunjung tinggi budaya kesopanan dalam kebijakan, dalam berkata dan bertindak, bahkan dalam berfikir dan merasakan. Kesopanan wajib ditujukan pada Allah SWT, Rasulullah SAW, diri sendiri, orang tua, guru (ulama), penguasa, suami-istri (keluarga), masyarakat, hingga pada hewan, dan lingkungan. Di kekinian, perilaku sopan santun semakin tergerus dan tidak memiliki tempat dalam kepribadian banyak orang muslim, hingga hanya seringkali terlihat sebagai basa basi belaka. Sopan santun sebagai idealisme yang semestinya dipegang teguh oleh manusia beriman, justru digunakan dengan sempurna oleh para munafik sebagai pembungkus atau kamuflase untuk menyukseskan niat atau ikhtiar buruknya. Sebaliknya, yang membuat sedih adalah sikap dan gambaran ketidak sopanan acapkali dilakukan oleh penyeru kebaikan bahkan agamawan dan pemilik otoritas kesopanan lainnya, dengan alasan : Akibat yang timbul dari hal tersebut adalah: Rasul selalu dengan sopan menyerukan kebaikan dan sukses menyerukan kebaikannya karena kesopanannya. Menjadikan umat berakhlak mulia adalah tujuan dari semua bentuk ibadah pada Allah. Artinya, pasti ada yang salah dari ibadah seorang hamba, jika hamba tersebut bertindak tak sopan. Sopan santun dalam ucapan dan tindakan saat menyuarakan kebenaran tetap diwajibkan sekalipun dengan alasan menolak kezhaliman yang paling besar, sebagaimana diteladankan oleh Rasulullah SAW. اللَّهُمَّ اهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ، لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّى سَيِّئَهَا، لاَ يَصْرِفُ عَنِّى سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ Ya Allah, bimbinglah aku menuju akhlak yang paling baik, tidak ada yang dapat membimbing kepadanya kecuali Engkau. Dan palingkanlah dariku akhlak yang buruk, tidak ada yang dapat memalingkan keburukannya dariku kecuali Engkau. (@msdrehem)

Mewaspadai Prasangka Buruk

8 Rabi’ul Awwal 1448 H – QS. Al Hujurat: 12 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudara sekalian, Menilai seseorang secara subyektif hingga berprasangka buruk adalah ciri dari mental dan fikiran yang tidak sehat. Seseorang yang berprasangka buruk biasanya selalu mencari-cari kesalahan dari saudara nya dan kemudian dilanjut dengan cara menggunjing kemana mana, menjatuhkan namanya, berkedok curhat dan seolah mengingatkan orang lain, agar selamat dari keburukan yang digunjingi. Imam al-Qurthubi mengatakan bahwa, tak semua prasangka buruk dilarang dengan dalil : إن بعض الظن إثم“Karena sebagian (bukan semua) dari prasangka itu dosa.” (QS al-Hujurat: 12). Namun demikian, kebanyakan prasangka buruk bersifat negatif dan membawa petaka bagi ‘pengidapnya’. Berprasangka buruk pada yang secara lahiriah baik, adalah aib dan dikecam Allah. “Dan kebanyakan mereka hanya mengikuti dugaan. Sesungguhnya dugaan itu tidak sedikit pun berguna untuk melawan kebenaran … “ (QS Yunus: 36). Imam Sufyan Ats-Tsauri membagi prasangka buruk menjadi dua jenis: Prasangka buruk dalam hati yang tak diucap, harus segera diistighfari agar tak berpotensi mendatangkan dosa karena bisa membuka jalan terjadinya penuduhan buruk, penggunjingan dan penjatuhan nama pada tersangka. Tingkat keharaman prasangka buruk berbeda-beda dan yang terberat adalah: 1. Berprasangka buruk kepada Allah SWT. (QS al-Fath : 6)Dalam hadits qudsi, Allah menyatakan bahwa diriNYA bergantung pada prasangka hambaNYA. Kalau prasangka hamba pada diriNYA baik, maka yang terjadi adalah kebaikan. Tetapi jika seorang hamba berprasangka buruk pada Allah, maka yang terjadi adalah keburukan.2. Berprasangka buruk kepada Rasulullah SAW.Apapun yang disampaikan dan dilakukan oleh rasulullah SAW, adalah atas kemauan Allah.3. Berprasangka buruk pada para sahabat Rasulullah SAW.Para sahabat adalah orang yang sangat setia membersamai Rasulullah SAW, dalam menegakkan agama pada saat lapang dan sempit.4. Berprasangka buruk pada orang yang baik pada kita atau seharusnya dihormati, seperti orang tua, guru dan lainnya, sehingga membuat seseorang terjauhkan dari akhlaqul karimah, barokah dan rahmat Allah. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisiMU, karena sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Pemberi (karunia),” (@msdrehem)

Merdeka Karena Bahagia

30 Shafar 1448 H – QS. At Taubah: 33 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudara sekalian, Banyak yang membayangkan bahwa kekayaan, kemewahan, popularitas, jabatan atau kekuasaan adalah kebahagiaan yang ditujunya. Seakan dengan itu semua, orang lain akan memuliakannya bahkan tunduk, sehingga dengan itu ia bahagia. Anggapan tersebut hanyalah ilusi belaka. Sebab kenyataannya, hidup manusia banyak yang bermula, dijalani dan diakhiri dalam rimba masalah, dimulai dari masalah pribadi, keluarga, pekerjaan dan sosial. Dalam pandangan agama, bahagia itu di dapatkan melalui kemampuan seorang hamba untuk mengenal, mengabdi (beriman) dan dekat dengan Allah SWT, sehingga dzikir terlantun secara otomatis dan menjadi habit (kebiasaan). Orang beriman tidak mesti selalu tertawa lepas karena bebas dari masalah dunia. Mereka memiliki ketenangan batin yang stabil karena kebahagiaannya berakar dari : Indikasi Kebahagiaan orang Beriman; Cukup Allah saja buatku. Allah ada, ada Allah. Aku bahagia dan merdeka! اللهم إني أسألك نفساً بك مطمئنة، تؤمن بلقائك، و ترضى بقضائك، و تقنع بعطائك Ya Allah, aku memohon kepada-MU jiwa yang merasa tenang kepada-MU, yang yakin akan berjumpa dengan-MU, yang ridlo dengan ketetapan-MU, dan yang merasa cukup dengan pemberian-MU.. (@msdrehem)

Kita Hanya Butuh Perlindungan-Nya (Bagian 1)

16 Shafar 1448 H – QS. Al Hajj: 78, QS. Al Falaq & An Nas | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudara sekalian, Kegagalan, ancaman, penolakan, kehilangan dan semacamnya, memunculkan rasa takut, sedih, terpuruk hingga kehancuran. Tapi itu semua merupakan keniscayaan dalam hidup. Kebahagiaan yang tiada berhenti hanyalah di surga. Tanpa pertolongan dan perlindungan dari Allah, kita tidak bisa berbuat apa-apa, sebab hanya Allah yang bisa membuat kita mudah dalam menjalani kehidupan, terutama untuk menjadi taqwa dan selalu ringan dalam menjalankan perintah dan menjauhi setiap larangan-Nya. Bermodal timbunan ilmu dan memahami konsekwensi dari perbuatan dosa, juga bukan jaminan seorang hamba akan selamat dari kehancuran dunia dan akhirat. Sebab tidak sedikit dari orang berilmu bahkan mengerti syariat , tetapi terjebak dan tak bisa keluar dari kubangan maksiyat dan penyesalan. Ternyata yang menyelamatkan manusia dari kegagalan, kehancuran, kesedihan, dan keterpurukan hanyalah cover berwujud PERLINDUNGAN dari Allah SWT saja. وكفى بالله وليا وكفى بالله نصيرا “Cukuplah Allah menjadi Penolong bagimu, dan Dia sebaik-baik Pelindung.” (Q.S. An-Nisa: 45). Nabi Yusuf AS, selamat dari syahwat atau makar wanita, bukan karena banyak ilmunya, faham syariat atau faham konsekwensi dari maksiyat. Beliau selamat dari perzinahan karena selalu memulai setiap langkahnya dengan mengandalkan perlindungan hanya dari Allah SWT melalui doa perlindungan (QS.Yusuf : 23). Begitu pentingnya perlindungan Allah, maka saat akan membaca Kitabullah, kita juga diingatkan untuk beristi’adzah (berdoa meminta perlindungan Allah) terlebih dahulu agar benar-benar terkoneksi secara hati dan fikiran dengan Al Qur’an, lalu selamat dari salah baca, salah memaknai, dan salah adab saat tilawah, hingga tak termotivasi untuk mengamalkan isi dari Al Qur’an bahkan nekat menyalahkan Al Qur’an. (QS. An-Nahl : 98). Minimal ada lima kebaikan yang didapat saat perlindungan Allah SWT menyertai kita : بِسْمِ اللهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ “Dengan menyebut nama Allah yang dengan nama-Nya segala sesuatu di bumi dan di langit tidak akan membahayakan. Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (@msdrehem)

Salah Baca, Ketika Musibah & Anugerah Datang

Sabar

9 Shafar 1448 H – QS. Al Fajr: 15 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudara sekalian, Beriman pada takdir Allah adalah rukun iman keenam. Ini berarti meyakini sepenuh hati dan sepenuh fikiran bahwa segala sesuatu yang terjadi baik atau buruk, nikmat atau ujian, telah ditetapkan oleh Allah sejak zaman azali. Meski telah tertulis di Lauh Mahfuz, manusia tetap wajib berikhtiar, bertawakkal dan bersangka baik. Mengimani takdir secara benar bukanlah sikap pasrah yang membuat manusia malas (fatalistik). Sebaliknya, hal tersebut akan melahirkan sikap optimis, karena seorang Muslim sadar Allah tidak menyiakan setiap usaha dan selalu menyerahkan hasil usahanya pada Allah. Saat mendapatkan nikmat, jalani dengan rasa syukur, lalu sempurnakanlah hak hak dari kesyukuran. Hindari sifat sombong karena setiap kesuksesan datangnya dari Allah. Saat menghadapi musibah, jalani dan motivasi mental dengan kesabaran serta keikhlasan, karena di setiap musibah yang kita dapat, ada musibah lebih berat yang sedang menimpa orang lain. Seringkali kita salah saat membaca takdir, padahal setiap takdir adalah tanda pertolongan Allah. Sewajibnya kita harus membaca takdir dengan Bashiroh Rabbaniyah, agar tak terjebak nafsu lalu menjadi Salah Baca, hingga memaknainya dengan cara sebagai berikut : Mintalah pada Allah untuk mengangkat musibah, dan mintalah pula agar kuat menanggung anugrah, maka Allah akan meresponnya. Jangan merasa mampu menyelesaikan masalah kita sendiri hingga kita kehilangan nikmatnya merasakan pertolongan Allah SWT dan hendaknya selalu yakin bahwa setiap ketetapan Allah pasti mengandung hikmah terbaik. اللَّهُمَّ رَضِّنِي بِقَضَائِكَ وَصَبِّرْنِي عَلَى بَلَائِكَ وَأَوْزِعْنِي شُكْرَ نِعَمَائِ “Ya Allah, jadikanlah aku ridha dalam menerima qadha (ketentuan)-Mu, dan berikanlah kesabaran kepadaku atas bala (ujian)-Mu, serta berilah aku kemampuan untuk mensyukuri nikmat-nikmat-Mu.” (@msdrehem)

Fadhilah & Doa Hari Arafah

8 Dzulhijjah 1447 H | K.H. Ahmad Mudzaffar Jufri, Lc., MA (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Baginda Sayyiduna Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Tiada hari dimana amal shaleh padanya lebih Allah cintai daripada hari-hari ini, yakni 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: Ya Rasulallah, apakah jihad fi sabillah pun tidak bisa (menandingi fadhilahnya)? Beliau menjawab: Ya, termasuk jihad fi sabilillah sekalipun tidak bisa (menandinginya). Kecuali seseorang yang pergi berjihad dengan jiwa dan hartanya sendiri, lalu tidak ada yang kembali (sampai syahid)” (HR. Al-Bukhari). Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda (yang artinya): Tiada hari yang paling besar peluangnya untuk Allah membebaskan seorang hamba dari api Neraka, selain hari Arafah (HR. Muslim). Saat ditanya tentang fadhilah puasa Arafah, Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): Ia bisa menghapus dosa satu tahun yang telah lalu dan satu tahun yang akan datang (HR. Muslim). Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda lagi (yang artinya): Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik dzikir yang aku baca dan juga dibaca oleh para Nabi sebelumku adalah: La ilaha illallahu wahdahu la syarika lahu, lahul mulku wa lahulhamdu, wa Huwa ‘ala kulli syai-in qadir” (HR. At-Tirmidzi, dihasankan oleh Al-Albani). Para ulama berbeda pendapat tentang fadhilah spesial doa di hari Arafah ini, apakah hanya khusus bagi para jamaah haji yang sedang melaksanakan wuquf di Arafah, ataukah berlaku umum bagi seluruh kaum muslimin dimanapun berada. Dengan kata lain, apakah keutamaan khusus diatas hanya karena faktor fadhilah tempat wuquf di Arafah, ataukah tertuju kepada keutamaan dan keistimewaan faktor hari Arafah-nya? Dan yang lebih rajih dan kuat insyaallah bahwa, fadhilah dan keutamaan spesial tersebut terkait dengan faktor fadhilah dan keutamaan hari Arafah, dan bukan hanya tertuju kepada faktor tempat ibadah wuquf semata. Meskipun untuk kondisi para jamaah haji yang akan/tengah berwuquf di Arafah, tentu saja lebih istimewa dan lebih spesial lagi. Karena terhimpun untuk mereka minimal tiga faktor keutamaan sekaligus, yakni: faktor kemuliaan wuquf sebagai puncak manasik ibadah haji, faktor keistimewaan tempat wuquf, dan faktor fadhilah hari Arafah. Bahkan diriwayatkan bahwa, tidak sedikit diantara para ulama salafus saleh dan khalafus saleh dahulu yang biasa berkumpul di masjid pada sore hari Arafah, untuk berdoa, berdzikir dan bermunajat. Disebutkan bahwa, yang termasuk melakukannya bahkan mengawalinya adalah sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Diantara ulama yang membolehkannya adalah Imam Ahmad bin Hambal. Dimana saat ditanya tentang praktik tersebut, beliau menjawab: Aku harap hal itu tidak mengapa. Toh hanya doa dan dzikrullah. Dan tidak sedikit ulama yang melakukannya… yang pertama kali mempraktikkan amalan itu adalah Ibnu Abbas dan Amru bin Huraits (radhiyallahu ‘anhum). (Al-Mughni: 2/129). Semoga kita semua wabilkhusus para jamaah haji yang tengah/akan berwuquf di Arafah, tidak melewatkan begitu saja momentum teristimewa dan luar biasa ini. Maka harap jangan lupa berdoa dan bermunajat kepada Allah, seikhlas-ikhlasnya dan setotal-totalnya, baik untuk kebaikan diri pribadi, kesakinahan keluarga, kejayaan dakwah Islam dimana-mana, keselamatan para pegiatnya dimanapun berada, maupun kemaslahatan Islam dan kaum muslimin secara umum!

Memurnikan Tauhid Dengan Berhaji (bag. 1)

28 DZULQAIDAH 1447 H | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudara sekalian, Rasulullah SAW bersabda: أيُّهَا النَّاسُ، قَدْ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُم الحَجَّ فَحُجُّوا Artinya, “Wahai manusia! Sungguh Allah telah mewajibkan haji atas kamu sekalian, maka kerjakanlah haji” (HR Muslim). Haji berasal dari kata bahasa arab, “Al Hajj”. Secara bahasa artinya ; menyengaja melakukan sesuatu dan bepergian atau menujuSecara terminologi artinya ; menuju Baitullah Al-Haram (Ka’bah) di bulan Haji (Dzulhijjah) untuk melakukan amalan-amalan haji seperti : ihram, thawaf, sa’i, dan wukuf di Padang Arafah, dengan niat melakukan ibadah tertentu (Haji) Syariat haji adalah syariat yang sudah ada sebelum Islam (syar’u man qoblana), mengikuti ibadah dari millah Nabi Ibrahim AS. Umat Islam diwajibkan berhaji ke Baitullah, manakala berkemampuan secara fisik, finansial dan keamanan, sebagai wujud ketaatan total pada perintah Allah SWT dan untuk menyempurnakan rukun Islam. Secara terperinci, hukum haji adalah sebagai berikut : Menolak haji sama seperti menolak sholat, zakat, puasa bahkan syahadat dan mengapa Allah SWT menetapkan ibadah haji harus di Mekkah? Ya Rahman..,Limpahkan rahmat yang bisa menyampaikan kami untuk berkunjung ke rumah-MU yang mulia dan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Aamiin (@msdrehem)

Menjaga Kehormatan Diri

21 DZULQAIDAH 1447 H | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudara sekalian, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa berusaha menjaga kehormatannya maka Allah akan menjaga kehormatannya, dan barangsiapa yang merasa cukup maka Allah akan memberinya kecukupan.” (HR. Bukhari) Mengapa harus menjaga kehormatan diri : 1. Membantu untuk meningkatkan kedekatan dirinya dengan Allah SWT dan mendapat rahmat serta ridloNYA. 2. Nilai seseorang ditentukan oleh kehormatan dirinya, bukan ditentukan oleh kekayaan atau jabatannya, apalagi oleh bentuk rupanya. 3. Membangun integritas hingga mendapat kepercayaan dan penghormatan orang lain. 4. Mencegah atau membentengi diri dari perbuatan maksiat. 5. Memberikan contoh baik hingga menjadi teladan bagi orang lain, terutama generasi muda. Ada 3 istilah yang secara makna saling melengkapi dan saling berkait dalam mewujudkan kehormatan seseorang, 3 tersebut adalah : 1. Izzah (kemuliaan atau keagungan yang tak bisa dikalahkan kejahatan). 2. Muru’ah (menjaga kehormatan diri, sehingga terhindar dari pandangan negativ dari orang lain). 3. Iffah (kemampuan mengendalikan diri agar selalu berpijak pada akhlak mulia). Dalam konteks ini, seseorang harus mampu mengendalikan nafsunya, yang tidak saja dari yang haram, tetapi kadang harus juga dari yang halal, manakala bertentangan dengan kehormatan dirinya. Ada 3 perilaku yang merusak kehormatan diri : 1. Tidak menjaga kehormatan diri dalam masalah seksual (QS. An-Nur : 30-33) 2. Tidak menjaga kehormatan diri dalam masalah harta (QS. Al-Baqarah : 273) 3. Tidak menjaga kehormatan diri dalam dalam masalah kepercayaan orang lain atau tidak amanah. (QS.An-Nisaa’ : 6) Cara Menjaga Kehormatan Diri : 1. Meningkatkan Keimanan dan Ketakwaan dengan rajin beribadah, tilawah, dan mendalami ilmu agama agar selalu berada di jalan yang benar. 2. Memperbaiki akhlak dengan selalu berusaha untuk selalu bersikap jujur, sabar, tidak iri hati dan tidak sombong agar tak rusak hubungan dengan orang lain. 3. Menghindari lingkungan yang buruk yang berpotensi merusak perilaku. Pilihlah teman dan komunitas yang mendukung nilai-nilai Islami. 4. Memohon pertolongan kepada Allah SWT, agar diberi kekuatan untuk menjaga kehormatan diri. Menjaga kehormatan diri sebagai Muslim adalah bagian dari ibadah yang harus terus diperjuangkan, karena kehormatan diri bukan hanya tentang citra di mata manusia, tetapi juga bagaimana kita menjaga amanah sebagai hamba Allah SWT. اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى “Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat penuh ‘iffah dan ghina” (HR. Muslim)