Fadhilah & Doa Hari Arafah

8 Dzulhijjah 1447 H | K.H. Ahmad Mudzaffar Jufri, Lc., MA (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Baginda Sayyiduna Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Tiada hari dimana amal shaleh padanya lebih Allah cintai daripada hari-hari ini, yakni 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: Ya Rasulallah, apakah jihad fi sabillah pun tidak bisa (menandingi fadhilahnya)? Beliau menjawab: Ya, termasuk jihad fi sabilillah sekalipun tidak bisa (menandinginya). Kecuali seseorang yang pergi berjihad dengan jiwa dan hartanya sendiri, lalu tidak ada yang kembali (sampai syahid)” (HR. Al-Bukhari). Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda (yang artinya): Tiada hari yang paling besar peluangnya untuk Allah membebaskan seorang hamba dari api Neraka, selain hari Arafah (HR. Muslim). Saat ditanya tentang fadhilah puasa Arafah, Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): Ia bisa menghapus dosa satu tahun yang telah lalu dan satu tahun yang akan datang (HR. Muslim). Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda lagi (yang artinya): Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik dzikir yang aku baca dan juga dibaca oleh para Nabi sebelumku adalah: La ilaha illallahu wahdahu la syarika lahu, lahul mulku wa lahulhamdu, wa Huwa ‘ala kulli syai-in qadir” (HR. At-Tirmidzi, dihasankan oleh Al-Albani). Para ulama berbeda pendapat tentang fadhilah spesial doa di hari Arafah ini, apakah hanya khusus bagi para jamaah haji yang sedang melaksanakan wuquf di Arafah, ataukah berlaku umum bagi seluruh kaum muslimin dimanapun berada. Dengan kata lain, apakah keutamaan khusus diatas hanya karena faktor fadhilah tempat wuquf di Arafah, ataukah tertuju kepada keutamaan dan keistimewaan faktor hari Arafah-nya? Dan yang lebih rajih dan kuat insyaallah bahwa, fadhilah dan keutamaan spesial tersebut terkait dengan faktor fadhilah dan keutamaan hari Arafah, dan bukan hanya tertuju kepada faktor tempat ibadah wuquf semata. Meskipun untuk kondisi para jamaah haji yang akan/tengah berwuquf di Arafah, tentu saja lebih istimewa dan lebih spesial lagi. Karena terhimpun untuk mereka minimal tiga faktor keutamaan sekaligus, yakni: faktor kemuliaan wuquf sebagai puncak manasik ibadah haji, faktor keistimewaan tempat wuquf, dan faktor fadhilah hari Arafah. Bahkan diriwayatkan bahwa, tidak sedikit diantara para ulama salafus saleh dan khalafus saleh dahulu yang biasa berkumpul di masjid pada sore hari Arafah, untuk berdoa, berdzikir dan bermunajat. Disebutkan bahwa, yang termasuk melakukannya bahkan mengawalinya adalah sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Diantara ulama yang membolehkannya adalah Imam Ahmad bin Hambal. Dimana saat ditanya tentang praktik tersebut, beliau menjawab: Aku harap hal itu tidak mengapa. Toh hanya doa dan dzikrullah. Dan tidak sedikit ulama yang melakukannya… yang pertama kali mempraktikkan amalan itu adalah Ibnu Abbas dan Amru bin Huraits (radhiyallahu ‘anhum). (Al-Mughni: 2/129). Semoga kita semua wabilkhusus para jamaah haji yang tengah/akan berwuquf di Arafah, tidak melewatkan begitu saja momentum teristimewa dan luar biasa ini. Maka harap jangan lupa berdoa dan bermunajat kepada Allah, seikhlas-ikhlasnya dan setotal-totalnya, baik untuk kebaikan diri pribadi, kesakinahan keluarga, kejayaan dakwah Islam dimana-mana, keselamatan para pegiatnya dimanapun berada, maupun kemaslahatan Islam dan kaum muslimin secara umum!

Memurnikan Tauhid Dengan Berhaji (bag. 1)

28 DZULQAIDAH 1447 H | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudara sekalian, Rasulullah SAW bersabda: أيُّهَا النَّاسُ، قَدْ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُم الحَجَّ فَحُجُّوا Artinya, “Wahai manusia! Sungguh Allah telah mewajibkan haji atas kamu sekalian, maka kerjakanlah haji” (HR Muslim). Haji berasal dari kata bahasa arab, “Al Hajj”. Secara bahasa artinya ; menyengaja melakukan sesuatu dan bepergian atau menujuSecara terminologi artinya ; menuju Baitullah Al-Haram (Ka’bah) di bulan Haji (Dzulhijjah) untuk melakukan amalan-amalan haji seperti : ihram, thawaf, sa’i, dan wukuf di Padang Arafah, dengan niat melakukan ibadah tertentu (Haji) Syariat haji adalah syariat yang sudah ada sebelum Islam (syar’u man qoblana), mengikuti ibadah dari millah Nabi Ibrahim AS. Umat Islam diwajibkan berhaji ke Baitullah, manakala berkemampuan secara fisik, finansial dan keamanan, sebagai wujud ketaatan total pada perintah Allah SWT dan untuk menyempurnakan rukun Islam. Secara terperinci, hukum haji adalah sebagai berikut : Menolak haji sama seperti menolak sholat, zakat, puasa bahkan syahadat dan mengapa Allah SWT menetapkan ibadah haji harus di Mekkah? Ya Rahman..,Limpahkan rahmat yang bisa menyampaikan kami untuk berkunjung ke rumah-MU yang mulia dan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Aamiin (@msdrehem)

Menjaga Kehormatan Diri

21 DZULQAIDAH 1447 H | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudara sekalian, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa berusaha menjaga kehormatannya maka Allah akan menjaga kehormatannya, dan barangsiapa yang merasa cukup maka Allah akan memberinya kecukupan.” (HR. Bukhari) Mengapa harus menjaga kehormatan diri : 1. Membantu untuk meningkatkan kedekatan dirinya dengan Allah SWT dan mendapat rahmat serta ridloNYA. 2. Nilai seseorang ditentukan oleh kehormatan dirinya, bukan ditentukan oleh kekayaan atau jabatannya, apalagi oleh bentuk rupanya. 3. Membangun integritas hingga mendapat kepercayaan dan penghormatan orang lain. 4. Mencegah atau membentengi diri dari perbuatan maksiat. 5. Memberikan contoh baik hingga menjadi teladan bagi orang lain, terutama generasi muda. Ada 3 istilah yang secara makna saling melengkapi dan saling berkait dalam mewujudkan kehormatan seseorang, 3 tersebut adalah : 1. Izzah (kemuliaan atau keagungan yang tak bisa dikalahkan kejahatan). 2. Muru’ah (menjaga kehormatan diri, sehingga terhindar dari pandangan negativ dari orang lain). 3. Iffah (kemampuan mengendalikan diri agar selalu berpijak pada akhlak mulia). Dalam konteks ini, seseorang harus mampu mengendalikan nafsunya, yang tidak saja dari yang haram, tetapi kadang harus juga dari yang halal, manakala bertentangan dengan kehormatan dirinya. Ada 3 perilaku yang merusak kehormatan diri : 1. Tidak menjaga kehormatan diri dalam masalah seksual (QS. An-Nur : 30-33) 2. Tidak menjaga kehormatan diri dalam masalah harta (QS. Al-Baqarah : 273) 3. Tidak menjaga kehormatan diri dalam dalam masalah kepercayaan orang lain atau tidak amanah. (QS.An-Nisaa’ : 6) Cara Menjaga Kehormatan Diri : 1. Meningkatkan Keimanan dan Ketakwaan dengan rajin beribadah, tilawah, dan mendalami ilmu agama agar selalu berada di jalan yang benar. 2. Memperbaiki akhlak dengan selalu berusaha untuk selalu bersikap jujur, sabar, tidak iri hati dan tidak sombong agar tak rusak hubungan dengan orang lain. 3. Menghindari lingkungan yang buruk yang berpotensi merusak perilaku. Pilihlah teman dan komunitas yang mendukung nilai-nilai Islami. 4. Memohon pertolongan kepada Allah SWT, agar diberi kekuatan untuk menjaga kehormatan diri. Menjaga kehormatan diri sebagai Muslim adalah bagian dari ibadah yang harus terus diperjuangkan, karena kehormatan diri bukan hanya tentang citra di mata manusia, tetapi juga bagaimana kita menjaga amanah sebagai hamba Allah SWT. اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى “Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat penuh ‘iffah dan ghina” (HR. Muslim)

Qurban: Bukti Cinta, Ketaatan, dan Kepedulian dalam Satu Ibadah

Ibadah qurban merupakan salah satu syiar penting dalam Islam yang dilaksanakan setiap tanggal 10 Dzulhijjah hingga hari tasyrik (11–13 Dzulhijjah). Ibadah ini bukan sekadar penyembelihan hewan, tetapi juga bentuk ketaatan, keikhlasan, dan pengorbanan seorang hamba kepada Allah SWT, meneladani kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Sunnah Ibadah Qurban Hukum qurban adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan) bagi umat Islam yang mampu. Rasulullah SAW sendiri tidak pernah meninggalkan ibadah qurban selama hidupnya. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada suatu amalan yang paling dicintai Allah pada hari raya Idul Adha selain menyembelih hewan qurban. Sesungguhnya hewan qurban itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Dan sesungguhnya darahnya akan sampai kepada Allah sebelum jatuh ke tanah. Maka ikhlaskanlah dalam menyembelihnya.”(HR. Tirmidzi) Selain itu, Rasulullah SAW juga bersabda: “Barangsiapa yang memiliki kelapangan (rezeki) namun tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.”(HR. Ibnu Majah) Hadits ini menunjukkan betapa besar anjuran untuk berqurban bagi mereka yang mampu. Syarat Sah Hewan Qurban Agar ibadah qurban diterima, hewan yang disembelih harus memenuhi beberapa syarat, di antaranya: Rasulullah SAW bersabda: “Empat (hewan) yang tidak boleh dijadikan qurban: yang jelas buta sebelah, yang jelas sakit, yang jelas pincang, dan yang sangat kurus hingga tidak bersumsum.”(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi) Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa menyembelih sebelum shalat (Idul Adha), maka itu hanyalah daging (biasa) yang ia berikan kepada keluarganya, bukan termasuk ibadah qurban.”(HR. Bukhari dan Muslim) Memenuhi syarat ini menjadi bagian penting agar ibadah qurban sah dan bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Penerima Daging Qurban Daging qurban didistribusikan kepada berbagai pihak sebagai bentuk kepedulian sosial. Secara umum, pembagiannya meliputi: Hal ini sejalan dengan anjuran Rasulullah SAW: “Makanlah sebagian darinya, simpanlah, dan sedekahkanlah.”(HR. Bukhari dan Muslim) Hadits ini menunjukkan bahwa qurban mengandung nilai ibadah sekaligus sosial. Mari Tunaikan Qurban, Bersama Para Penghafal Al-Qur’an Tebar Manfaat Lebih Luas Ibadah qurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi tentang menghadirkan kepedulian, memperkuat ukhuwah, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Lebih dari itu, qurban juga bisa menjadi jalan untuk membersamai perjuangan para penghafal Al-Qur’an yang tengah meniti jalan mulia. Para santri penghafal Al-Qur’an terus berjuang menjaga kalam-Nya dalam dada. Melalui qurban yang kita tunaikan, insyaAllah kebahagiaan itu akan sampai kepada mereka, menguatkan semangat, menambah keberkahan, dan menjadi bagian dari perjalanan kebaikan mereka. Mari tunaikan ibadah qurban tahun ini dengan penuh keikhlasan. Jadikan setiap tetes darah hewan qurban sebagai saksi ketaatan kita, dan setiap daging yang dibagikan sebagai sumber kebahagiaan bagi para penghafal Al-Qur’an dan sesama yang membutuhkan. Yuk, berqurban sekarang temani perjuangan para penjaga Al-Qur’an, dan tebar manfaat yang lebih luas! Artikel ini telah ditashihkan oleh Ustadz Khoirul Anam, Lc | Pengajar DAFI Pesantren Al Qur’an Science

Rabiul Awal: Momentum Muhasabah Iman dan Amal

Bulan Rabiul Awal kembali hadir, bulan yang begitu istimewa bagi umat Islam karena menjadi saksi lahirnya manusia paling mulia, Nabi Muhammad SAW. Bukan sekadar peringatan seremonial, bulan ini seharusnya menjadi pengingat mendalam akan misi kerasulan beliau: menyempurnakan akhlak manusia dan membawa rahmat bagi semesta alam. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: “Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.”(QS. Al-Anbiya: 107) Ayat ini mengingatkan kita bahwa kehadiran Rasulullah bukan hanya peristiwa sejarah, melainkan amanah besar bagi kita sebagai umatnya untuk terus menjaga, mengamalkan, dan menyebarkan nilai-nilai rahmat tersebut. Rabiul Awal sebagai Cermin Diri Sering kali kita merayakan kelahiran Nabi dengan peringatan maulid, tetapi apakah kita sudah menjadikan momen ini sebagai cermin untuk melihat sejauh mana iman kita bertumbuh dan amal kita berbuah? Muhasabah bukan sekadar menghitung berapa banyak amal kebaikan, melainkan juga mengukur seberapa dekat kita dengan sifat-sifat Nabi: kejujuran, amanah, kasih sayang, kesabaran, dan keberpihakan kepada yang lemah. Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati; sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah.”(HR. Tirmidzi, hasan) Hadis ini mengajarkan bahwa kecerdasan spiritual sejati adalah kemampuan untuk berhenti sejenak, mengevaluasi diri, dan mengarahkan langkah ke depan dengan lebih baik. Langkah Kecil, Dampak Besar Rabiul Awal bisa menjadi titik tolak untuk memulai kebiasaan baik yang sederhana tetapi konsisten: memperbanyak shalawat, memperbaiki shalat, mempererat silaturahmi, atau meningkatkan kepedulian sosial. Rasulullah sendiri mengajarkan bahwa amal yang dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit. Bayangkan jika setiap peringatan Rabiul Awal diiringi dengan satu langkah perbaikan diri yang nyata: meninggalkan satu kebiasaan buruk, memperbaiki satu sifat, atau menambah satu amal rutin. Dalam hitungan tahun, perubahan itu akan menjadi bekal besar di hadapan Allah. Dari Muhasabah ke Perbaikan Rabiul Awal bukan hanya bulan sejarah, tetapi juga bulan refleksi. Saat kita mengenang kelahiran manusia mulia yang membawa cahaya petunjuk, mari kita jadikan momen ini untuk berhenti sejenak, menghisab diri, dan bertanya: apakah kita sudah meneladani beliau, meski dengan langkah-langkah kecil? Semoga Allah memberi kita taufik untuk menjadikan bulan ini sebagai awal yang baru—awal yang lebih dekat dengan sunnah Rasul, lebih peduli kepada sesama, dan lebih mantap menuju amalan yang diridhai-Nya.

Pendidikan Mereka, Merdeka Kita: Tanggung Jawab Kita yang Hidup Lebih Nyaman

Memperingati HUT Ke-80 Republik Indonesia, mari wujudkan kemerdekaan yang sesungguhnya — bukan hanya dari penjajahan, tetapi dari keterbatasan dalam pendidikan. 80 Tahun Merdeka, Tapi Belum Semua Anak Merasakan Pendidikan yang Merdeka Delapan dekade sudah Indonesia merdeka. Tapi apakah semua anak-anak negeri ini benar-benar telah merdeka dalam mengenyam pendidikan? Faktanya, berdasarkan data BPS dan UNICEF: Di saat sebagian dari kita merayakan kemerdekaan dengan meriah — ada anak-anak Indonesia yang sedang berjuang menghafal Al-Qur’an dalam keterbatasan. Kemerdekaan Bukan Sekadar Upacara, Tapi Soal Akses yang Setara Kemerdekaan yang hakiki adalah ketika setiap anak negeri punya hak dan peluang yang sama untuk belajar, tumbuh, dan bermimpi. Jika kita merdeka: Maka apakah kita tidak punya tanggung jawab untuk membantu mereka yang masih belum merdeka dalam pendidikannya? Kenapa Kita Harus Turut Ambil Peran? Jangan Biarkan Kemerdekaan Ini Jadi Milik Kita Saja Anak-anak ini tidak meminta belas kasihan.Mereka hanya ingin kesempatan yang sama, dan mungkin, uluran tangan dari Anda yang sudah lebih dulu merdeka. Mari rayakan Kemerdekaan ke-80 RI dengan berbagi makna dan kebermanfaatan.Karena ketika satu anak terbantu, satu masa depan telah diselamatkan. Bayangkan, di usia ke-80 Republik ini, Anda ikut mewarnai kemerdekaan dengan cara yang mulia:Membantu pendidikan anak-anak yatim dan dhuafa yang sedang menghafal Al-Qur’an. Bank Syariah Indonesia: 6677776062Konfirmasi: 081252479470

Safari Dakwah Bersama Syaikh Palestina: Menguatkan Iman, Menumbuhkan Kepedulian

Dalam semangat Ramadan yang penuh berkah, DAFI Pesantren Al-Qur’an Science berkolaborasi dengan Baziskaf DAFI dan Dompet Al Qur’an Indonesia menggelar kegiatan Safari Dakwah Spesial Palestina, menghadirkan langsung tamu mulia dari tanah para syuhada: Syeikh Dr. Muhammad Thahir Al-Qiram, Al-Hafiz, seorang ulama dan penghafal Al-Qur’an dari Gaza, Palestina. Kegiatan ini dilaksanakan secara terpisah di dua lokasi pesantren: kampus putra di Anggaswangi dan putri di Sarirogo, dengan tetap menghadirkan semangat yang sama: memperkuat keimanan santri serta menanamkan rasa empati dan solidaritas terhadap saudara-saudara muslim yang tengah berjuang mempertahankan tanah air dan kehormatan di Palestina. Acara dibuka dengan penuh khidmat oleh KH. Syaiful Arifin, SS., M.Pd selaku Pengasuh Pesantren DAFI di pesantren putra, dan Ustadz Agus Hariadi, S.Pd.I, Al-Hafiz, Mudir DAFI Pesantren Al Qur’an Science di pesantren putri. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya mendidik generasi Qur’ani yang tidak hanya kuat dalam hafalan, namun juga peka terhadap penderitaan umat Islam di berbagai penjuru dunia. Syeikh Muhammad Thahir kemudian menyampaikan ceramah dan pemaparan kondisi terkini di Gaza, yang membuat para santri dan asatidz tertegun mendengar cerita para pejuang yang saat ini di Gaza, Palestina. Dalam penyampaiannya, Syeikh menegaskan bahwa “setiap ayat Al-Qur’an yang dihafalkan oleh anak-anak muslim di manapun, termasuk di Indonesia, adalah bagian dari kemenangan umat Islam.” Santri Bertanya, Gaza Menjawab Salah satu momen yang paling berkesan dalam kegiatan ini adalah ketika beberapa santri berkesempatan bertanya langsung kepada Syeikh menggunakan bahasa Arab, tentang bagaimana para pengungsi dan pejuang bertahan hidup di tengah blokade dan kehancuran. Syeikh menjawab dengan penuh keteguhan, menceritakan kisah para mujahid dan keluarga mereka yang bertahan hidup hanya dengan sepotong roti dan segelas air, namun tetap menjaga shalat, hafalan, dan semangat jihad. Penyerahan Simbolis Donasi untuk Palestina Acara ditutup dengan prosesi penyerahan simbolis bantuan kemanusiaan yang telah dikumpulkan melalui program donasi dari para santri, orang tua wali, serta asatidzah. Bantuan ini ditujukan untuk pejuang dan pengungsi Palestina yang saat ini tengah menghadapi situasi darurat kemanusiaan akibat agresi yang berkepanjangan.

DOA: Senjata Orang Beriman di Tengah Zaman yang Gelisah

Hari-hari ini, kita hidup dalam dunia yang serba cepat, penuh tekanan, dan sering kali terasa sempit. Masalah ekonomi, kesehatan mental, konflik sosial, hingga keresahan batin kini menjadi pemandangan sehari-hari. Banyak orang merasa seperti kehilangan pegangan hidup. Di saat seperti inilah Islam menawarkan satu kekuatan yang sering dilupakan: doa. Ya, doa bukan sekadar permintaan, tapi adalah senjata ruhani yang mampu menenangkan hati, menguatkan jiwa, bahkan mengubah takdir. Bukan Hanya Permintaan, Tapi Ibadah Dalam Islam, doa bukan hanya bentuk pengharapan. Ia adalah ibadah. Bahkan, Nabi Muhammad ﷺ bersabda: الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ “Doa adalah ibadah.”(HR. At-Tirmidzi, no. 2969, shahih) Melalui doa, kita meletakkan seluruh harapan dan beban kepada Allah SWT. Kita mengakui bahwa sebesar apa pun kekuatan dan ilmu manusia, semuanya tak berarti tanpa izin-Nya. Ketika Dunia Membingungkan, Allah Menawarkan Kedekatan Saat manusia dilanda gelisah, stres, atau kesepian karena dunia yang tak berpihak, Allah SWT memberi janji yang sangat menyentuh: وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”(QS. Al-Baqarah: 186) Allah tidak jauh. Ia tidak perlu antre atau koneksi sinyal. Ia lebih dekat dari siapapun yang pernah dekat dengan kita. Maka jangan ragu untuk bersujud dan membuka hati di hadapan-Nya. Doa yang Ditinggalkan, Kesombongan yang Tak Disadari Di era teknologi dan media sosial, banyak orang lebih percaya pada angka, tren, dan algoritma daripada pertolongan Allah. Bahkan, sebagian orang hanya berdoa saat terdesak saja. Padahal, Allah memperingatkan: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَࣖ “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina”(QS. Ghafir: 60) Tidak mau berdoa bisa menjadi tanda kesombongan. Seakan-akan kita merasa tak butuh kepada-Nya. Padahal, semakin seseorang dekat dengan Allah, semakin sering ia berdoa. Doa Bisa Mengubah Takdir Sering kita merasa semua jalan sudah tertutup. Tapi ketahuilah, doa bisa menjadi kunci perubahan yang tidak disangka-sangka. Nabi ﷺ bersabda: “Tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa.”(HR. At-Tirmidzi no. 2139, hasan) Jadi jangan pernah anggap doa sebagai upaya terakhir. Justru, doa adalah langkah awal yang paling utama. Doa, Harapan di Tengah Fitnah Akhir Zaman Fitnah akhir zaman makin tampak: kerusakan moral, kabar bohong, kebencian, dan kejahatan menjadi hal biasa. Dalam kondisi ini, doa bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk keselamatan keluarga, umat, bahkan bangsa. وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْࣖ “Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”(QS. Al-Insyirah: 8) Berdoalah bukan hanya untuk meminta, tapi juga untuk menjaga—agar kita dan keluarga tetap dalam hidayah, selamat dari fitnah dunia. Istiqomahkan Berdoa! Kita bisa memiliki uang, relasi, atau kecerdasan. Tapi tanpa pertolongan Allah, semua itu tak menjamin ketenangan. Maka mari biasakan berdoa dalam setiap kegiatan dan aktivitas kita: Doa bukan solusi sementara. Ia adalah kekuatan permanen yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Maka jangan remehkan doa, karena mungkin saja seluruh perubahan besar yang kita butuhkan dimulai dari satu doa yang tulus di waktu sepi. Jika kamu merasa hidupmu terlalu berat, barangkali bukan karena masalahmu terlalu besar—tapi karena kamu lupa membawa masalahmu kepada Allah melalui doa.

Sudah Siap Berkurban?

Ibadah qurban adalah salah satu amalan mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam, terutama pada hari raya Iduladha dan hari-hari tasyriq. Qurban bukan hanya sekadar menyembelih hewan, tetapi juga bentuk nyata ketundukan seorang hamba kepada Allah SWT, wujud rasa syukur, dan kepedulian terhadap sesama. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ “Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”(QS. Al-Kautsar: 2) Ayat ini menunjukkan perintah langsung dari Allah kepada umat Islam untuk beribadah dan berkurban. Sehingga, berkurban bukan hanya tradisi tahunan, melainkan ibadah yang memiliki nilai keimanan dan ketaqwaan yang tinggi. Meneladani Nabi Ibrahim dan Ismail Ibadah qurban berakar dari kisah agung Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Ketaatan keduanya — Nabi Ibrahim sebagai ayah yang mencintai anaknya, dan Nabi Ismail sebagai anak yang patuh — menjadi teladan luar biasa tentang keikhlasan dan pengorbanan dalam beribadah kepada Allah. Allah menggambarkan peristiwa ini dalam Al-Qur’an: فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُۙ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَاۚ اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ “Maka ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), Kami panggillah dia: ‘Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.’ Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”(QS. Ash-Shaffat: 103-105) Allah kemudian mengganti Ismail dengan seekor hewan sembelihan besar, yang menjadi simbol bahwa ketaatan dan keikhlasan lebih utama dibanding bentuk fisik pengorbanan itu sendiri. Qurban sebagai Bukti Ketakwaan Berkurban bukan tentang darah atau daging hewan yang sampai kepada Allah, melainkan tentang ketakwaan hati kita. Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an: لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang dapat mencapainya.”(QS. Al-Hajj: 37) Ibadah qurban mendidik hati untuk lebih bertakwa, mengingatkan bahwa segala amal harus dilakukan ikhlas hanya untuk Allah, bukan untuk pujian manusia. Rasulullah SAW sangat menekankan pentingnya berkurban. Dalam sebuah hadits shahih, beliau bersabda: “Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah daripada menyembelih hewan kurban. Sesungguhnya hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, bulu, dan kuku-kukunya. Dan sesungguhnya darah hewan itu akan jatuh di sisi Allah di suatu tempat sebelum jatuh ke tanah. Maka, perbaguslah jiwa kalian (saat berkurban).”(HR. Tirmidzi, no. 1493, hasan shahih) Hadits ini menunjukkan bahwa berkurban memiliki keutamaan besar di sisi Allah. Hewan qurban akan menjadi saksi bagi orang yang menyembelihnya kelak di hari kiamat. Membagikan Kebahagiaan Ibadah qurban juga berfungsi sosial: mendistribusikan kebahagiaan kepada mereka yang membutuhkan. Daging qurban dibagikan kepada fakir miskin, tetangga, dan kerabat, mempererat silaturahmi, serta menumbuhkan rasa empati dan solidaritas antarumat Islam. Allah berfirman: “… Maka makanlah sebagiannya (daging qurban) dan berikanlah makan kepada orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya dan kepada orang yang meminta.”(QS. Al-Hajj: 36) Qurban mengajarkan bahwa rezeki yang kita miliki bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga ada hak orang lain di dalamnya. Berkurban adalah amalan mulia yang memadukan nilai ibadah, ketakwaan, keikhlasan, dan kepedulian sosial. Melalui qurban, kita menghidupkan kembali nilai-nilai keteladanan Nabi Ibrahim dan Ismail AS, meningkatkan keimanan, dan mempererat hubungan antar sesama manusia. Mari kita jadikan momen Iduladha ke depan ini sebagai kesempatan untuk memperkuat keimanan kita dengan berkurban, semata-mata untuk mencari keridaan Allah SWT. Wallāhu a’lam bish-shawāb

Dahsyatnya Ramadan!

22 SYA’BAN 1446 H QS. AL BAQARAH : 183-187 Bismillah, Alhamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa aalihi wa shohbihi wa man waalaahu. Saudaraku sekalian, Ramadan adalah kado istimewa dari Allah SWT untuk umat Islam. Tentu orang yang sangat berbahagia dengan kehadirannya adalah yang paling siap membuka atau memanfaatkan kado itu dengan memaksimalkan ibadah & taat. Yang beribadah dengan sempurna sejalan dengan tuntutan Ramadan adalah mereka yang berpeluang sukses mencapai tujuan Ramadan. Tujuan ibadah Ramadan adalah mencapai taqwa/ketaqwaan sebagai jalan menuju taqwa, maka di bulan Ramadan Allah Swt,  menyertakan sarana pencapaiannya berupa : Kewajiban berpuasa, yang disandingkan dengan sunnah shalat Tarawih. penghapusan dosa pelipat gandaan pahala pembelengguan setan peluang menjumpai Lailatul Qadar. Merujuk QS. Al Baqarah 183 – 187, minimal ada dapat 4 proyek yang harus kita realisasikan dengan serius di bulan Ramadan : Puasa Bulan Ramadan dikenal dengan sebutan “Bulan Puasa” atau Syahrus Shiyaam, karena puasa adalah inti dari ibadah Ramadan. Puasa menjadikan kita sehat secara jiwa, raga serta fikiran, sehingga ketaqwaan lebih mudah teraih. Tilawah  Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Karena itu, tilawah semaksimal mungkin adalah ibadah yang sangat singkron dalam rangka memperindah puasa kita. Dengan banyak tilawah, insyaAllah peluang untuk dijumpai oleh Lailatul Qadar akan terealisasi. Banyak Berdoa Allah berjanji akan mengabulkan semua permohonan kita di bulan Ramadan. Karena itu manfaatkan untuk beristighfar minta ampun atas seluruh dosa, minta untuk tidak dimampukan lagi melakukan dosa, dan menyetor semua keinginan kita dari yang paling “sulit” hingga yang paling “ringan”. Lalu, biarkan Allah memilih mana diantara semua keinginan yang cocok untuk terwujud pada diri kita. Mesra Terhadap Pasangan. Saat setan dibelenggu, neraka ditutup dan surga sebagai bakal rumah kelak sedang mengakrabi kita dengan menghiasi dirinya di bulan Ramadan, maka manfaatkan peluang itu  untuk menjalin komunikasi yang baik dengan pasangan. Jadikan rumah kita adalah surga yang sedang  dihias. Sebab sesempurna apapun keadaan atau kedudukan kita, tetapi bermasalah dengan pasangan, maka kita hanyalah manusia yang tak utuh lagi. Allah mengatakan akan menyampaikan pahala puasa secara langsung pada yang berpuasa. Karena itu, berpuasalah dengan sempurna sesuai rukun dan syaratnya, agar kita malu padaNya, saat pahala dibagikan. Ya Rahman…, Jadikan kami orang yang Engkau pilih untuk serius menjalani ibadah Ramadan agar kelak kami bahagia dengan gelar “TAQWA” . KH. Muhammad Shaleh Drehem, LcPengasuh DAFI Pesantren Al-Qur’an Science