Mengapa Ucapan Baik Bisa Berakhir Menjadi Pertengkaran? Waspadai Jebakan Setan Ini!

19 Jumadil Awwal 1448 H – QS. Qaf : 18, Al Hujurat : 12 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudara sekalian,Lisan (tulisan) diibaratkan seperti pisau bermata dua. Disatu sisi, dapat digunakan untuk menyebarkan kebaikan, seperti : menyampaikan ilmu, nasehat, dan menghibur orang lain. Disisi lain, juga bisa melukai hati orang lain melalui lisan atau tulisan buruk, seperti : fitnah, gosip, dan ujaran kebencian. Ingatlah bahwa salah satu tipu daya setan yang sangat halus adalah memanfaatkan celah komunikasi untuk merusak hubungan, baik antar pasangan, keluarga, maupun teman, dengan membisikkan kesalahpahaman, prasangka buruk (su’udzon), hingga adu domba (namimah) di antara manusia. Terkadang, ada yang sudah menyampaikan paparan benar dengan cara yang baik, tetapi diterima sebagai sesuatu yang salah oleh pendengar (yang sedang emosional, sensitif hingga tak mampu logis), kemudian direspon dengan cara negatif bahkan defensif. Jika itu terjadi, tak ada pilihan kecuali bersabar. Nabi Muhammad SAW, yang secara aklamasi telah digelari Al Amin oleh kaumnya, justru kemudian dianggap tidak waras bahkan terancam secara fisik setelah menyampaikan kebenaran (kerasulan dan Alqur’an), yang disampaikan dengan cara yang baik. Nabi Nuh AS, juga diejek bahkan dimaki oleh kaumnya karena pernyataan kebenaran. Beliau juga ditertawakan saat membuat bahtera yang sangat besar dengan maksud penyelamatan umat dari banjir besar dan pelestarian makhluk hidup. Yang harus kita ikhtiarkan agar selamat dari godaan setan berwujud Prasangka dan Salah Faham : رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.” (@msdrehem)

Lisan dan Tulisan: Senjata Tak Terlihat yang Bisa Membinasakan

12 Jumadil Awwal 1448 H – QS. Qaf : 18 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) المسلم من سلم المسلمون من لسانه و يده“Seorang Muslim sejati adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR.Bukhari dan Muslim) Saudara sekalian,Menjaga lisan (tulisan) adalah bagian penting dari akhlak mulia dalam Islam. Lisan (tulisan) bisa memasukkan manusia ke surga atau menjerumuskan selama puluhan tahun ke neraka, karena setiap ucapan manusia tidak pernah luput dari pengawasan Allah SWT dan akan dipertanggungjawabkan kelak. Perintah menjaga lisan agar selamat, selaras dengan keharusan menjaga tangan (tulisan) agar tidak mengundang celaka bagi diri dan orang lain, di dunia dan di akhirat. Bahaya Lisan dan tulisan yang Harus Dihindari: Cara menjaga lisan (tulisan): Marilah kita jadikan lisan dan tulisan sebagai wasilah penyebaran kebaikan, menghindari keburukan, dan selalu berusaha benar sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan hadits. رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.” (@msdrehem)

Kedermawanan Yang Menjaga Asa Penghafal Al Qur’an

Oleh: Andy Setiawan | Koordinator Baziskaf DAFI Perjuangan tidak selalu dalam gemuruh dan hingar bingar. Namun dalam langkah-langkah kecil seorang santri yang bangun sebelum subuh, membuka mushaf, mengulang hafalan, lalu kembali belajar ketika sebagian orang seusianya mungkin masih menikmati waktu bersama keluarga. Di balik rutinitas itu, ada cita-cita besar yang sedang dirawat: menjadi generasi yang tumbuh bersama Al-Qur’an, berilmu, dan kelak membawa manfaat bagi orang tua serta sesama. Di lingkungan DAFI Pesantren Al Qur’an Science, saya menyaksikan perjuangan itu tumbuh dalam diri para santri dari beragam latar belakang kehidupan. Sebagian dari mereka adalah anak-anak yatim yang telah kehilangan ayahnya atau bahkan keduanya. Sebagian lainnya berasal dari keluarga dhuafa yang harus menjalani kehidupan dengan keterbatasan ekonomi. Mereka datang dari daerah yang berbeda-beda, membawa cerita keluarga, kebiasaan, dan pengalaman hidup masing-masing. Namun, di pesantren, mereka dipertemukan oleh cita-cita yang sama: menuntut ilmu dan menjaga Kalamullah dalam hati mereka. Bagi sebagian santri, perjalanan menuju pesantren bukan sekadar berpindah tempat untuk belajar. Ada keluarga yang harus menata kehidupan dengan segala keterbatasannya, ada orang tua yang menyimpan harapan besar terhadap masa depan anaknya, dan ada anak-anak yang belajar mandiri jauh dari rumah. Mereka menjalani hari-hari dengan jadwal yang padat, membagi waktu antara menghafal Al-Qur’an, murajaah, belajar pelajaran sekolah, dan mengikuti kegiatan kepesantrenan. Tidak setiap hari berjalan mudah. Ada hafalan yang harus diulang berkali-kali, ada rasa lelah yang perlu dikelola, dan ada kerinduan kepada keluarga yang sesekali hadir di sela-sela kesibukan. Namun, justru dalam proses itulah kita dapat melihat betapa berharganya sebuah kesempatan. Bagi mereka, pendidikan bukan hanya jalan untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang untuk menata masa depan. Keterbatasan yang mereka alami hari ini tidak seharusnya menjadi batas bagi cita-cita yang ingin mereka raih. Di balik kesempatan yang mereka miliki, ada kepedulian banyak orang yang mungkin tidak pernah mereka kenal secara dekat. Ada para Orang Tua Asuh yang bersedia berbagi rezeki dan mengambil bagian dalam perjalanan pendidikan mereka. Ada donatur yang memilih menyisihkan sebagian penghasilannya, ada keluarga yang membiasakan diri berbagi, dan ada orang-orang baik yang meyakini bahwa membantu pendidikan seorang anak terlebih yang yatim dan dhuafa merupakan investasi kebaikan bagi masa depan. Sebagai bagian dari Baziskaf DAFI yang melayani para santri yatim-dhuafa, kami memandang kedermawanan para Orang Tua Asuh sebagai sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar bantuan biaya pendidikan. Di dalamnya terdapat kepercayaan, kepedulian, dan keyakinan bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk tumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat. Mereka mungkin tidak menyaksikan secara langsung ketika seorang santri berhasil menambah hafalannya, menuntaskan target murajaah, atau meraih prestasi di sekolah. Namun, dukungan yang beliau-beliau berikan ikut menjaga agar perjalanan itu dapat terus berlangsung. Ada keindahan dalam kebaikan semacam ini. Seseorang memilih membantu anak yang bahkan mungkin belum pernah ditemuinya. Tidak selalu ada hubungan keluarga, kedekatan tempat tinggal, atau kepentingan pribadi yang menghubungkan keduanya. Yang ada adalah kepedulian dan harapan agar kesempatan belajar tetap terbuka bagi mereka yang memiliki kesungguhan, tetapi menghadapi keterbatasan. Pada saat yang sama, para santri pun memiliki tanggung jawab untuk menjaga kesempatan yang telah diberikan. Beasiswa bukan alasan untuk mengurangi kesungguhan, melainkan amanah yang seharusnya menumbuhkan semangat untuk belajar lebih baik, menjaga hafalan dengan lebih tekun, dan membentuk akhlak yang semakin matang. Mereka tidak hanya sedang mempersiapkan diri untuk menyelesaikan pendidikan, tetapi juga sedang belajar menjadi manusia yang kelak mampu mengambil peran di tengah masyarakat. Kami sering membayangkan betapa luasnya manfaat yang mungkin lahir dari pertemuan antara kesungguhan seorang santri dan kedermawanan seorang Orang Tua Asuh. Hari ini, seorang anak memperoleh kesempatan untuk belajar dan menghafal Al-Qur’an. Beberapa tahun mendatang, ia mungkin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, menjadi guru, membina generasi berikutnya, atau mengabdikan ilmunya di daerah asal. Kita tidak pernah benar-benar mengetahui ke mana perjalanan itu akan membawanya. Akan tetapi, kesempatan yang dijaga hari ini dapat menjadi salah satu bagian penting dari masa depannya. Di sinilah kami melihat makna yang lebih luas dari Hari Santri Nasional. Hari Santri bukan hanya tentang mengenang perjuangan para santri dan ulama dalam sejarah bangsa, tetapi juga tentang meneruskan semangat pengabdian melalui cara-cara yang relevan dengan kehidupan hari ini. Perjuangan itu dapat hadir dalam ketekunan santri menuntut ilmu, kesediaan guru mendampingi proses belajar, komitmen pesantren menjaga kualitas pendidikan, dan kedermawanan masyarakat yang ikut merawat kesempatan bagi generasi penerus. Para santri datang dari daerah dan keadaan keluarga yang berbeda. Mereka tidak selalu memiliki titik awal kehidupan yang sama. Namun, di hadapan kesempatan untuk belajar, mereka memiliki hak untuk tumbuh dan mengembangkan potensi. Ketika masyarakat ikut mengambil bagian dalam membuka kesempatan tersebut, kita sedang membangun jembatan yang menghubungkan beragam latar belakang menuju cita-cita bersama. Tentu, perjalanan ini bukan tanpa tantangan. Pendidikan membutuhkan keberlanjutan, sementara pembentukan karakter dan penjagaan hafalan memerlukan proses panjang. Karena itu, kepedulian tidak cukup berhenti pada satu momentum atau satu kali pemberian. Ia perlu dirawat melalui komitmen, pengelolaan amanah yang baik, dan kesadaran bahwa menyiapkan generasi Qur’ani merupakan ikhtiar bersama yang hasilnya mungkin baru benar-benar terlihat bertahun-tahun kemudian. Kepada para Orang Tua Asuh dan seluruh donatur, kami menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan. Semoga kebaikan yang ditunaikan menjadi amal yang diterima Allah dan menghadirkan manfaat yang luas. Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan anak-anak yang sedang berusaha membangun masa depannya melalui pendidikan dan Al-Qur’an. Semoga kita tidak hanya melihat mereka sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai generasi yang sedang dipersiapkan untuk kelak berdiri tegak, mandiri, dan memberikan manfaat bagi orang lain. Kepada para santri, teruslah melangkah dengan sungguh-sungguh. Jangan merasa bahwa keadaan keluarga atau keterbatasan masa lalu membuat kalian memiliki masa depan yang lebih sempit. Hargai setiap kesempatan, jaga kepercayaan yang diberikan, dan jadikan Al-Qur’an bukan hanya sebagai hafalan yang tersimpan dalam ingatan, tetapi juga sebagai pedoman yang membentuk sikap dan perilaku. Suatu hari nanti, semoga kalian dapat menjadi bagian dari orang-orang yang membuka kesempatan bagi generasi setelah kalian. Pada akhirnya, kita mungkin tidak selalu menyaksikan langsung seluruh hasil dari kebaikan yang kita lakukan. Seorang Orang Tua Asuh mungkin tidak mengetahui setiap perkembangan hafalan anak yang didukungnya. Seorang santri mungkin baru memahami besarnya arti sebuah bantuan setelah bertahun-tahun berlalu. Namun, kebaikan tidak selalu harus disaksikan untuk menjadi berarti. Ia cukup ditunaikan dengan ikhlas, dijaga … Read more

Memaafkan Itu Berat, Tapi Melapangkan Hati dan Mengangkat Derajat

5 Jumadil Awwal 1448 H – QS. Ali Imron : 134 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Rasulullah SAW bersabda:“Tidaklah seseorang memaafkan kecuali Allah menambah kemuliaan baginya.” (HR.Muslim) Saudara sekalian,Kata me ‘maaf’ kan berasal dari bahasa arab “al-‘afwu”, yang asal artinya “menghapus” (selayaknya angin yang menghapus jejak di atas pasir). Secara istilah, memaafkan (al-‘afwu) adalah melepaskan kesalahan orang lain dari hati, menghilangkan benci juga dendam, dan tidak sedikitpun menyimpan niat untuk membalas, walaupun sangat mampu membalasnya. Masih ingat kisah Rasul SAW, saat ke Thaif dalam rangka mencari dukungan dakwah, dan penduduk Thaif menolak dan melempari beliau dengan batu hingga berdarah. Rasulullah sedih tetapi memaafkan penduduk tersebut bahkan ketika malaikat menawarkan pembalasan, beliau menolak dan justru mendoakan keturunan mereka agar menjadi hamba Allah yang beriman dan sholih. Maka, itulah puncak keteladan dan kelapangan jiwa. Abu Bakar ash-Shidiq RA, berjanji tidak akan memberi apa-apa lagi kepada Misthah bin Atsatsah (sepupunya yang tak punya) setelah beliau tahu bahwa Misthah terlibat dalam penyiaran berita bohong tentang Aisyah putrinya. Tetapi Allah menegurnya dengan ayat: أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ“Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS.24 : 22). Setelah mendengar ayat tersebut, Abu Bakar langsung berkata, “Tentu, demi Allah aku menyukai Engkau mengampuniku Duhai Rabbi”. Kemudian Abu Bakar kembali menyantuni dan memenuhi kebutuhan Misthah, sambil berkata, “Demi Allah, aku tidak akan mencabut sedekah untuknya selama-lamanya. Demi Allah, aku tidak akan menuntut pamrih darinya selama-lamanya”. Walau sedikit ada perbedaan pendapat, tetapi empat mazhab sepakat bahwa memaafkan sangat dianjurkan:– Hanafi & Hanbali: memaafkan merupakan sunnah dengan pahala besar.– Syafi’i: memaafkan lebih utama selama tidak menimbulkan kerusakan lebih besar.– Maliki: memaafkan disyariatkan dalam perkara pribadi. Yang harus diingat adalah, bahwa yang meminta maaf seharusnya dimaafkan. Ibn Qayyim menegaskan bahwa sulitnya meminta maaf sering muncul dari ego, sehingga orang yang berani meminta maaf adalah orang kuat karena telah menang menundukkan hawa nafsunya. Agar kelak Allah menghisab dengan hisab yang mudah dan memasukkan ke dalam surga dengan rahmat-Nya, maka yang harus diikhtiarkan adalah:1. Memberi kepada orang yang tidak memberi,2. Memaafkan orang yang menzalimi,3. Menyambung hubungan dengan orang yang memutuskan hubungan. Memaafkan bukanlah kelemahan dan menghalalkan bully-an, melainkan kemuliaan dan kekuatan jiwa, seperti yang dijelaskan Rasulullah bahwa orang kuat adalah yang mampu menahan amarah (HR.Bukhari & Muslim). Keutamaan Memaafkan :1. Mendapat ampunan Allah: Setiap manusia tak lepas dari salah dan dosa, maka ketika seseorang memberi maaf kesalahan sesama, Allah juga akan membuka peluang yang lebih besar untuk memaafkan dosa-dosanya,2. Hati yang tenang: Melepaskan dendam menghilangkan penyakit hati, kebencian, dan beban psikologis yang merugikan diri sendiri,3. Diangkat derajatnya: Allah menjanjikan kemuliaan dan pahala yang besar bagi orang-orang yang berlapang dada. Mari membiasakan diri untuk saling meminta maaf dan memberi maaf, agar hidup menjadi lebih tenang, hubungan semakin harmonis, dan hati semakin dekat dengan rahmat Allah SWT.Ya Rahman,Ampuni kami dan ampuni seluruh kaum muslimin (@msdrehem)

Bahagia Dengan Bertaubat

27 Rabi’ul Akhir 1448 H – QS. Az Zumar : 53 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudara sekalian,Setiap manusia di muka bumi tidak ada yang pernah luput dari salah, khilaf atau perbuatan lain yang mengantarkannya pada sebuah dosa kecil atau besar yang kemudian akan menjadi penyesalan dan pembelajaran. Allah SWT Maha Pengasih dan Maha Pengampun akan mengampuni dosa sebesar apapun yang telah dilakukan oleh hamba-Nya, asal bersungguh-sungguh memohon ampun selama nyawa belum sampai ke tenggorokan (sakaratul maut). Menurut Imam Nawawi (Riyadhus Shalihin I), ada empat (4) syarat agar taubat seorang hamba diterima oleh Allah SWT yaitu : Beberapa kerugian yang diakibatkan oleh perbuatan dosa, antara lain : Manfaat Taubat : رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan.” Ya Rahman.., Ampuni kami (@msdrehem)

Mengokohkan Perbendaharaan Surga

20 Rabi’ul Akhir 1448 H – QS. As Sajdah: 18-19 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudara sekalian,Nilai atau kemuliaan diri yang dimiliki seseorang adalah ketika ia mampu mempertahankan prinsip moral serta ketaatan kepada Allah (Ketaqwaan). Sikap mental dan tindakan menahan diri dari segala perbuatan buruk, maksiat, atau hal yang merendahkan martabat demi menjaga kesucian diri sangat terpuji di sisi Allah dan manusia. Ada amalan hati yang sangat tinggi derajatnya dalam Islam menurut ungkapan ulama terdahulu adalah menyembunyikan empat (4) hal yang disebut sebagai Kanzun min kunuuzil jannah (Perbendaharaan Surga). Empat (4) hal tersebut adalah langkah untuk menjaga martabat sehingga bisa memunculkan kemandirian.Semoga kita dimampukan Allah untuk melakukannya. Berikut adalah empat (4) hal yang harus disembunyikan dari hamba: Siapa saja yang berusaha menjaga kehormatan dan harga dirinya, maka Allah akan menjaga kehormatan tersebut.Yaa Rahman..,aku memohon kepada-Mu petunjuk, takwa, iffah (pengendalian dan penjagaan diri dari hal tercela), serta kecukupan.. (@msdrehem)

Mempertahankan Dan Meningkatkan Rasa Syukur

6 Rabi’ul Akhir 1448 H – QS. Ibrahim: 7 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang”. (QS.An-Nahl : 18) Saudara sekalian,Allah SWT selalu melimpahkan nikmat-Nya setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, setiap tahun dan setiap saat selama kita masih diberikan hidup di dunia ini. Mulai dari bangun tidur di pagi hari hingga kita memejamkan mata untuk tidur kembali di malam hari, nikmat Allah, selalu membersamai hamba-NYA. Selain melakukan sujud syukur saat doanya untuk bisa memberi syafaat pada umat Islam terkabul, Nabi SAW juga mengekspresikan rasa syukurnya dengan melakukan shalat malam hingga kakinya bengkak karena dosanya dihapus Allah SWT. Nikmat Allah tidak hanya dalam bentuk materi saja. Kesehatan fikiran, fisik dan mental, waktu luang, keluarga, teman dan lingkungan yang baik, juga termasuk dalam nikmat Allah SWT yang harus disyukuri. Bahkan terkadang, sesuatu yang diawal nampak sebagai penderitaan, sebenarnya merupakan kenikmatan berupa penjagaan dan penguatan dari Allah. Karena itu bersabarlah lalu bersyukurlah. “Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu baik. Namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang mu’min sejati. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesulitan, ia bersabar, dan itu baik baginya. ” [HR.Muslim]. Manfaat Bersyukur Pada Allah SWT: Penyebab Hilangnya Rasa Syukur: Agar Hidup Penuh Rasa Syukur: Ekspresi rasa syukur tak cukup hanya dibenarkan di hati dan ucapan lisan saja. Selain melakukan sunnah sujud syukur, relakan diri untuk berbagi nikmat kepada sesama. Ya Rahman.., karuniakan kami nikmat hati yang selalu bersyukur dan mampu meningkatkan rasa syukur. (@msdrehem)

Ayo Ke Masjid (Bagian 2)

29 Rabi’ul Awwal 1448 H – QS. At-Taubah: 18 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudaraku sekalian,Masjid adalah rumah Allah SWT dan rumah bagi yang bertaqwa serta menjadi tempat terbaik di bumi yang paling dicintai-NYA. Oleh sebab itu, masjid memiliki kedudukan mulia yang dinisbahkan langsung kepada Allah SWT (QS. An-Nur : 36). Hati yang mencintai Allah akan selalu terpaut pada masjid. Disana mereka akan merasa dekat dengan Allah dan senang berada di dalamnya untuk berzikir serta beribadah kepada-Nya. Ada yang berkata bahwa perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan menuju masjid. Jangankan sehari lima waktu, seminggu sekali pun suka terlupa bahkan lebih dari itu. Padahal Allah SWT, berfirman:…اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, …” (QS. At Taubah: 18). Padahal dalam sebuah riwayat, Nabi SAW, bersabda:“Apabila kalian melihat seseorang terbiasa datang ke masjid, maka saksikanlah bahwa dia beriman”. (HR. Tirmidzi) Padahal banyak keutamaan yang didapat jika rajin ke masjid yang di antaranya adalah: Untuk menghormati rumah Allah SWT, dan untuk meraih semua keutamaan di atas, maka janganlah abai pada adab adab saat ke masjid atau sedang di masjid, yang di antaranya adalah : اللَّهُمَّ افْتَحْ لنا أبْوَابَ رَحْمَتِكَ“Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu untuk kami…” (@msdrehem)

Ayo ke Masjid!

22 Rabi’ul Awwal 1448 H – QS. At-Taubah: 18, QS. Al-Jinn: 18 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Rasulullah SAW bersabda:“Tidaklah satu kaum duduk di salah satu rumah Allah (masjid), mereka membaca Kitabullah (Al-Qur’an) dan mengkajinya bersama, melainkan ketenangan turun pada mereka, rahmat meliputi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut mereka di makhluk yang ada di samping-Nya.” Saudaraku sekalian, Allah SWT, menciptakan bumi dengan jutaan macam isinya, namun bagian bumi yang paling dicintai Allah adalah “masjid-masjidnya”. Yang dilakukan oleh Rasulillah SAW, pada awal kedatangannya (hijrah) di Madinah, adalah membangun masjid Quba atas dasar taqwa (QS. At Taubah : 108). Didirikannya masjid tersebut, sebagai sarana beribadah (komunikasi spiritual dengan Allah), pusat keilmuan atau edukasi Islam, simbol fondasi peradaban Islam, dan pusat persatuan umat Islam yang baru terbentuk, setelah mengalami penindasan berat di Mekkah. Begitu pentingnya masjid, hingga setiap muslim dimotivasi berkumpul (terjadi interaksi spiritual sosial) untuk mengerjakan ibadah shalat berjamaah, lima waktu sehari (Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya) di masjid. MasyaaAllah, tidak semua orang mampu melakukan shalat separuh malam, apalagi shalat sepenuh malam.Rasulullah SAW, bersabda:مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ“Barangsiapa shalat Isya secara berjamaah, maka seolah-olah dia akan melakukan shalat separuh malam. Barangsiapa shalat Subuh berjamaah, maka seolah-olah dia akan shalat sepanjang malam.” (HR. Imam Muslim). Ingatlah, selama masih bisa mendengar suara adzan dari kejauhan, maka Nabi SAW, melarang Abdullah bin Ummi Maktum untuk sholat di rumah kendati beliau tua renta dan buta, hingga jatuh berkali kali saat menuju masjid. (Diriwayatkan dalam hadist, bahwa justru syetanlah yang menuntun Abdullah bin Ummi Maktum ke masjid agar tak jatuh di perjalanan. Syetan tak rela jika dengan jatuhnya, lalu bersama luka dan darahnya, beliau bangkit dan tetap melangkah walau harus merangkak menuju masjid akan membuat semua dosanya dihapus). Maka, paksa dan bahagiakan diri untuk melakukan shalat secara berjamaah di masjid dan berlama lama di masjid, mendapat hidangan surga, doa para malaikat, selamat saat melintasi jembatan shirathal mustaqim, dan mendapat naungan di hari kiamat. اللَّهُمَّ افْتَحْ لنا أبْوَابَ رَحْمَتِكَ “Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu untuk kami…” (@msdrehem)

Peduli Tapi Sopan

15 Rabi’ul Awwal 1448 H – QS. Fushshilat : 34-35 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudara sekalian, Dari Abu Hurairah, Nabi SAW, bersabda :إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاق “Aku diutus hanya untuk mengutamakan kemuliaan akhlaq (kesopanan) manusia” (HR. Ahmad) Agama Islam adalah Agama Akhlak karena sangat menjunjung tinggi budaya kesopanan dalam kebijakan, dalam berkata dan bertindak, bahkan dalam berfikir dan merasakan. Kesopanan wajib ditujukan pada Allah SWT, Rasulullah SAW, diri sendiri, orang tua, guru (ulama), penguasa, suami-istri (keluarga), masyarakat, hingga pada hewan, dan lingkungan. Di kekinian, perilaku sopan santun semakin tergerus dan tidak memiliki tempat dalam kepribadian banyak orang muslim, hingga hanya seringkali terlihat sebagai basa basi belaka. Sopan santun sebagai idealisme yang semestinya dipegang teguh oleh manusia beriman, justru digunakan dengan sempurna oleh para munafik sebagai pembungkus atau kamuflase untuk menyukseskan niat atau ikhtiar buruknya. Sebaliknya, yang membuat sedih adalah sikap dan gambaran ketidak sopanan acapkali dilakukan oleh penyeru kebaikan bahkan agamawan dan pemilik otoritas kesopanan lainnya, dengan alasan : Akibat yang timbul dari hal tersebut adalah: Rasul selalu dengan sopan menyerukan kebaikan dan sukses menyerukan kebaikannya karena kesopanannya. Menjadikan umat berakhlak mulia adalah tujuan dari semua bentuk ibadah pada Allah. Artinya, pasti ada yang salah dari ibadah seorang hamba, jika hamba tersebut bertindak tak sopan. Sopan santun dalam ucapan dan tindakan saat menyuarakan kebenaran tetap diwajibkan sekalipun dengan alasan menolak kezhaliman yang paling besar, sebagaimana diteladankan oleh Rasulullah SAW. اللَّهُمَّ اهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ، لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّى سَيِّئَهَا، لاَ يَصْرِفُ عَنِّى سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ Ya Allah, bimbinglah aku menuju akhlak yang paling baik, tidak ada yang dapat membimbing kepadanya kecuali Engkau. Dan palingkanlah dariku akhlak yang buruk, tidak ada yang dapat memalingkan keburukannya dariku kecuali Engkau. (@msdrehem)