Kita Hanya Butuh Perlindungan-Nya (Bagian 1)

16 Shafar 1448 H – QS. Al Hajj: 78, QS. Al Falaq & An Nas | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudara sekalian, Kegagalan, ancaman, penolakan, kehilangan dan semacamnya, memunculkan rasa takut, sedih, terpuruk hingga kehancuran. Tapi itu semua merupakan keniscayaan dalam hidup. Kebahagiaan yang tiada berhenti hanyalah di surga. Tanpa pertolongan dan perlindungan dari Allah, kita tidak bisa berbuat apa-apa, sebab hanya Allah yang bisa membuat kita mudah dalam menjalani kehidupan, terutama untuk menjadi taqwa dan selalu ringan dalam menjalankan perintah dan menjauhi setiap larangan-Nya. Bermodal timbunan ilmu dan memahami konsekwensi dari perbuatan dosa, juga bukan jaminan seorang hamba akan selamat dari kehancuran dunia dan akhirat. Sebab tidak sedikit dari orang berilmu bahkan mengerti syariat , tetapi terjebak dan tak bisa keluar dari kubangan maksiyat dan penyesalan. Ternyata yang menyelamatkan manusia dari kegagalan, kehancuran, kesedihan, dan keterpurukan hanyalah cover berwujud PERLINDUNGAN dari Allah SWT saja. وكفى بالله وليا وكفى بالله نصيرا “Cukuplah Allah menjadi Penolong bagimu, dan Dia sebaik-baik Pelindung.” (Q.S. An-Nisa: 45). Nabi Yusuf AS, selamat dari syahwat atau makar wanita, bukan karena banyak ilmunya, faham syariat atau faham konsekwensi dari maksiyat. Beliau selamat dari perzinahan karena selalu memulai setiap langkahnya dengan mengandalkan perlindungan hanya dari Allah SWT melalui doa perlindungan (QS.Yusuf : 23). Begitu pentingnya perlindungan Allah, maka saat akan membaca Kitabullah, kita juga diingatkan untuk beristi’adzah (berdoa meminta perlindungan Allah) terlebih dahulu agar benar-benar terkoneksi secara hati dan fikiran dengan Al Qur’an, lalu selamat dari salah baca, salah memaknai, dan salah adab saat tilawah, hingga tak termotivasi untuk mengamalkan isi dari Al Qur’an bahkan nekat menyalahkan Al Qur’an. (QS. An-Nahl : 98). Minimal ada lima kebaikan yang didapat saat perlindungan Allah SWT menyertai kita : بِسْمِ اللهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ “Dengan menyebut nama Allah yang dengan nama-Nya segala sesuatu di bumi dan di langit tidak akan membahayakan. Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (@msdrehem)

Salah Baca, Ketika Musibah & Anugerah Datang

Sabar

9 Shafar 1448 H – QS. Al Fajr: 15 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudara sekalian, Beriman pada takdir Allah adalah rukun iman keenam. Ini berarti meyakini sepenuh hati dan sepenuh fikiran bahwa segala sesuatu yang terjadi baik atau buruk, nikmat atau ujian, telah ditetapkan oleh Allah sejak zaman azali. Meski telah tertulis di Lauh Mahfuz, manusia tetap wajib berikhtiar, bertawakkal dan bersangka baik. Mengimani takdir secara benar bukanlah sikap pasrah yang membuat manusia malas (fatalistik). Sebaliknya, hal tersebut akan melahirkan sikap optimis, karena seorang Muslim sadar Allah tidak menyiakan setiap usaha dan selalu menyerahkan hasil usahanya pada Allah. Saat mendapatkan nikmat, jalani dengan rasa syukur, lalu sempurnakanlah hak hak dari kesyukuran. Hindari sifat sombong karena setiap kesuksesan datangnya dari Allah. Saat menghadapi musibah, jalani dan motivasi mental dengan kesabaran serta keikhlasan, karena di setiap musibah yang kita dapat, ada musibah lebih berat yang sedang menimpa orang lain. Seringkali kita salah saat membaca takdir, padahal setiap takdir adalah tanda pertolongan Allah. Sewajibnya kita harus membaca takdir dengan Bashiroh Rabbaniyah, agar tak terjebak nafsu lalu menjadi Salah Baca, hingga memaknainya dengan cara sebagai berikut : Mintalah pada Allah untuk mengangkat musibah, dan mintalah pula agar kuat menanggung anugrah, maka Allah akan meresponnya. Jangan merasa mampu menyelesaikan masalah kita sendiri hingga kita kehilangan nikmatnya merasakan pertolongan Allah SWT dan hendaknya selalu yakin bahwa setiap ketetapan Allah pasti mengandung hikmah terbaik. اللَّهُمَّ رَضِّنِي بِقَضَائِكَ وَصَبِّرْنِي عَلَى بَلَائِكَ وَأَوْزِعْنِي شُكْرَ نِعَمَائِ “Ya Allah, jadikanlah aku ridha dalam menerima qadha (ketentuan)-Mu, dan berikanlah kesabaran kepadaku atas bala (ujian)-Mu, serta berilah aku kemampuan untuk mensyukuri nikmat-nikmat-Mu.” (@msdrehem)

Fadhilah & Doa Hari Arafah

8 Dzulhijjah 1447 H | K.H. Ahmad Mudzaffar Jufri, Lc., MA (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Baginda Sayyiduna Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): “Tiada hari dimana amal shaleh padanya lebih Allah cintai daripada hari-hari ini, yakni 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: Ya Rasulallah, apakah jihad fi sabillah pun tidak bisa (menandingi fadhilahnya)? Beliau menjawab: Ya, termasuk jihad fi sabilillah sekalipun tidak bisa (menandinginya). Kecuali seseorang yang pergi berjihad dengan jiwa dan hartanya sendiri, lalu tidak ada yang kembali (sampai syahid)” (HR. Al-Bukhari). Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda (yang artinya): Tiada hari yang paling besar peluangnya untuk Allah membebaskan seorang hamba dari api Neraka, selain hari Arafah (HR. Muslim). Saat ditanya tentang fadhilah puasa Arafah, Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): Ia bisa menghapus dosa satu tahun yang telah lalu dan satu tahun yang akan datang (HR. Muslim). Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda lagi (yang artinya): Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah. Dan sebaik-baik dzikir yang aku baca dan juga dibaca oleh para Nabi sebelumku adalah: La ilaha illallahu wahdahu la syarika lahu, lahul mulku wa lahulhamdu, wa Huwa ‘ala kulli syai-in qadir” (HR. At-Tirmidzi, dihasankan oleh Al-Albani). Para ulama berbeda pendapat tentang fadhilah spesial doa di hari Arafah ini, apakah hanya khusus bagi para jamaah haji yang sedang melaksanakan wuquf di Arafah, ataukah berlaku umum bagi seluruh kaum muslimin dimanapun berada. Dengan kata lain, apakah keutamaan khusus diatas hanya karena faktor fadhilah tempat wuquf di Arafah, ataukah tertuju kepada keutamaan dan keistimewaan faktor hari Arafah-nya? Dan yang lebih rajih dan kuat insyaallah bahwa, fadhilah dan keutamaan spesial tersebut terkait dengan faktor fadhilah dan keutamaan hari Arafah, dan bukan hanya tertuju kepada faktor tempat ibadah wuquf semata. Meskipun untuk kondisi para jamaah haji yang akan/tengah berwuquf di Arafah, tentu saja lebih istimewa dan lebih spesial lagi. Karena terhimpun untuk mereka minimal tiga faktor keutamaan sekaligus, yakni: faktor kemuliaan wuquf sebagai puncak manasik ibadah haji, faktor keistimewaan tempat wuquf, dan faktor fadhilah hari Arafah. Bahkan diriwayatkan bahwa, tidak sedikit diantara para ulama salafus saleh dan khalafus saleh dahulu yang biasa berkumpul di masjid pada sore hari Arafah, untuk berdoa, berdzikir dan bermunajat. Disebutkan bahwa, yang termasuk melakukannya bahkan mengawalinya adalah sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Diantara ulama yang membolehkannya adalah Imam Ahmad bin Hambal. Dimana saat ditanya tentang praktik tersebut, beliau menjawab: Aku harap hal itu tidak mengapa. Toh hanya doa dan dzikrullah. Dan tidak sedikit ulama yang melakukannya… yang pertama kali mempraktikkan amalan itu adalah Ibnu Abbas dan Amru bin Huraits (radhiyallahu ‘anhum). (Al-Mughni: 2/129). Semoga kita semua wabilkhusus para jamaah haji yang tengah/akan berwuquf di Arafah, tidak melewatkan begitu saja momentum teristimewa dan luar biasa ini. Maka harap jangan lupa berdoa dan bermunajat kepada Allah, seikhlas-ikhlasnya dan setotal-totalnya, baik untuk kebaikan diri pribadi, kesakinahan keluarga, kejayaan dakwah Islam dimana-mana, keselamatan para pegiatnya dimanapun berada, maupun kemaslahatan Islam dan kaum muslimin secara umum!

Memurnikan Tauhid Dengan Berhaji (bag. 1)

28 DZULQAIDAH 1447 H | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudara sekalian, Rasulullah SAW bersabda: أيُّهَا النَّاسُ، قَدْ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُم الحَجَّ فَحُجُّوا Artinya, “Wahai manusia! Sungguh Allah telah mewajibkan haji atas kamu sekalian, maka kerjakanlah haji” (HR Muslim). Haji berasal dari kata bahasa arab, “Al Hajj”. Secara bahasa artinya ; menyengaja melakukan sesuatu dan bepergian atau menujuSecara terminologi artinya ; menuju Baitullah Al-Haram (Ka’bah) di bulan Haji (Dzulhijjah) untuk melakukan amalan-amalan haji seperti : ihram, thawaf, sa’i, dan wukuf di Padang Arafah, dengan niat melakukan ibadah tertentu (Haji) Syariat haji adalah syariat yang sudah ada sebelum Islam (syar’u man qoblana), mengikuti ibadah dari millah Nabi Ibrahim AS. Umat Islam diwajibkan berhaji ke Baitullah, manakala berkemampuan secara fisik, finansial dan keamanan, sebagai wujud ketaatan total pada perintah Allah SWT dan untuk menyempurnakan rukun Islam. Secara terperinci, hukum haji adalah sebagai berikut : Menolak haji sama seperti menolak sholat, zakat, puasa bahkan syahadat dan mengapa Allah SWT menetapkan ibadah haji harus di Mekkah? Ya Rahman..,Limpahkan rahmat yang bisa menyampaikan kami untuk berkunjung ke rumah-MU yang mulia dan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Aamiin (@msdrehem)

Jadikan Ananda sebagai Manusia Surga

Bismillah,Alhamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa aalihi wa shohbihi wa man waalaahu. Saudara sekalian, Orang tua yang beriman tak pernah bosan dan lelah memohon kepada Allah agar dikaruniai anak yang shalih – shalihah dan kelak masuk surga bersama keluarganya. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا “Ya Rabb kami, jadikanlah istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Furqan : 74) Orang tua, tak boleh tersesat dan kehilangan kendali pendidikan, sehingga tak bisa menjadi penunjuk jalan bagi putra putrinya menuju surga. Dengan cara apa orang tua menjadikan putra putrinya sebagai Manusia Surga? Dengan Ilmu Agama Islam Tidak cukup hanya dengan bercita-cita dan berdoa agar putra putri menjadi Manusia Surga, tapi harus disertai ikhtiar yang maksimal dengan mengajari ilmu agama Islam. وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ بِهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ “Barangsiapa merintis jalan mencari ilmu (agama) maka Allah akan memudahkannya jalan menuju surga.” (HR. Bukhari) Dengan Amal Shalih Surga harus ditempuh dengan amal shalih. وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ “Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang terlebih dahulu kamu kerjakan”. (QS. Az-Zukhruf : 72) Amal shalih yang paling penting untuk dijalankannya adalah pembiasaan melakukan shalat lima waktu. “Perintahkan anak agar menjalankan shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka bila enggan menjalankan shalat pada usia sepuluh tahun, dan pisahkan dia dari tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud) Mendidik dengan penuh kesabaran Bersabar mendidik anak, merupakan ikhtiar yang sangat menentukan dalam mencetak Manusia Surga. Saat ini putra putri kita dihadapkan dengan berbagai fitnah, seperti pergaulan bebas, ponsel dan perangkat lainnya yang melalaikan. Berharap putra putri menjadi Manusia Surga, tentu orang tua harus memperhatikan gerak-gerik anaknya, dan selalu menasihati dengan sabar agar meninggalkan perbuatan yang menyebabkan dirinya masuk neraka. “(Jalan menuju) surga itu dipenuhi dengan hal-hal yang tidak disukai, sedangkan (jalan menuju) neraka dipenuhi dengan berbagai kenikmatan yang disenangi oleh syahwat.” (HR. Muslim) Mengingatkan pada kehidupan sesudah kematian Beriman kepada hari akhir adalah bagian dari rukun iman yang harus di-imani oleh setiap kaum muslimin termasuk putra putri kita. Sangat penting menjelaskan tentang surga dan neraka, agar putra putri kita bersemangat dan termotivasi untuk mendekat pada kenikmatan abadi di surga dan berlari jauh dari siksa neraka. Orang tua yang sukses sebagai pendidik adalah mereka yang tak jemu memikirkan kesuksesan putra putrinya di dunia untuk meraih kesuksesan di akhirat (surga). Ya Rahman,Jadikan putra putri kami sebagai qurrota a’in bagi kedua orang tuanya. Yuk dukung bersama pendidikan santri yatim/dhuafa penghafal Al Qur’an!