Merdeka Karena Bahagia

30 Shafar 1448 H – QS. At Taubah: 33 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudara sekalian, Banyak yang membayangkan bahwa kekayaan, kemewahan, popularitas, jabatan atau kekuasaan adalah kebahagiaan yang ditujunya. Seakan dengan itu semua, orang lain akan memuliakannya bahkan tunduk, sehingga dengan itu ia bahagia. Anggapan tersebut hanyalah ilusi belaka. Sebab kenyataannya, hidup manusia banyak yang bermula, dijalani dan diakhiri dalam rimba masalah, dimulai dari masalah pribadi, keluarga, pekerjaan dan sosial. Dalam pandangan agama, bahagia itu di dapatkan melalui kemampuan seorang hamba untuk mengenal, mengabdi (beriman) dan dekat dengan Allah SWT, sehingga dzikir terlantun secara otomatis dan menjadi habit (kebiasaan). Orang beriman tidak mesti selalu tertawa lepas karena bebas dari masalah dunia. Mereka memiliki ketenangan batin yang stabil karena kebahagiaannya berakar dari : Indikasi Kebahagiaan orang Beriman; Cukup Allah saja buatku. Allah ada, ada Allah. Aku bahagia dan merdeka! اللهم إني أسألك نفساً بك مطمئنة، تؤمن بلقائك، و ترضى بقضائك، و تقنع بعطائك Ya Allah, aku memohon kepada-MU jiwa yang merasa tenang kepada-MU, yang yakin akan berjumpa dengan-MU, yang ridlo dengan ketetapan-MU, dan yang merasa cukup dengan pemberian-MU.. (@msdrehem)

Salah Baca, Ketika Musibah & Anugerah Datang

Sabar

9 Shafar 1448 H – QS. Al Fajr: 15 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudara sekalian, Beriman pada takdir Allah adalah rukun iman keenam. Ini berarti meyakini sepenuh hati dan sepenuh fikiran bahwa segala sesuatu yang terjadi baik atau buruk, nikmat atau ujian, telah ditetapkan oleh Allah sejak zaman azali. Meski telah tertulis di Lauh Mahfuz, manusia tetap wajib berikhtiar, bertawakkal dan bersangka baik. Mengimani takdir secara benar bukanlah sikap pasrah yang membuat manusia malas (fatalistik). Sebaliknya, hal tersebut akan melahirkan sikap optimis, karena seorang Muslim sadar Allah tidak menyiakan setiap usaha dan selalu menyerahkan hasil usahanya pada Allah. Saat mendapatkan nikmat, jalani dengan rasa syukur, lalu sempurnakanlah hak hak dari kesyukuran. Hindari sifat sombong karena setiap kesuksesan datangnya dari Allah. Saat menghadapi musibah, jalani dan motivasi mental dengan kesabaran serta keikhlasan, karena di setiap musibah yang kita dapat, ada musibah lebih berat yang sedang menimpa orang lain. Seringkali kita salah saat membaca takdir, padahal setiap takdir adalah tanda pertolongan Allah. Sewajibnya kita harus membaca takdir dengan Bashiroh Rabbaniyah, agar tak terjebak nafsu lalu menjadi Salah Baca, hingga memaknainya dengan cara sebagai berikut : Mintalah pada Allah untuk mengangkat musibah, dan mintalah pula agar kuat menanggung anugrah, maka Allah akan meresponnya. Jangan merasa mampu menyelesaikan masalah kita sendiri hingga kita kehilangan nikmatnya merasakan pertolongan Allah SWT dan hendaknya selalu yakin bahwa setiap ketetapan Allah pasti mengandung hikmah terbaik. اللَّهُمَّ رَضِّنِي بِقَضَائِكَ وَصَبِّرْنِي عَلَى بَلَائِكَ وَأَوْزِعْنِي شُكْرَ نِعَمَائِ “Ya Allah, jadikanlah aku ridha dalam menerima qadha (ketentuan)-Mu, dan berikanlah kesabaran kepadaku atas bala (ujian)-Mu, serta berilah aku kemampuan untuk mensyukuri nikmat-nikmat-Mu.” (@msdrehem)

Dahsyatnya Ramadan!

22 SYA’BAN 1446 H QS. AL BAQARAH : 183-187 Bismillah, Alhamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa aalihi wa shohbihi wa man waalaahu. Saudaraku sekalian, Ramadan adalah kado istimewa dari Allah SWT untuk umat Islam. Tentu orang yang sangat berbahagia dengan kehadirannya adalah yang paling siap membuka atau memanfaatkan kado itu dengan memaksimalkan ibadah & taat. Yang beribadah dengan sempurna sejalan dengan tuntutan Ramadan adalah mereka yang berpeluang sukses mencapai tujuan Ramadan. Tujuan ibadah Ramadan adalah mencapai taqwa/ketaqwaan sebagai jalan menuju taqwa, maka di bulan Ramadan Allah Swt,  menyertakan sarana pencapaiannya berupa : Kewajiban berpuasa, yang disandingkan dengan sunnah shalat Tarawih. penghapusan dosa pelipat gandaan pahala pembelengguan setan peluang menjumpai Lailatul Qadar. Merujuk QS. Al Baqarah 183 – 187, minimal ada dapat 4 proyek yang harus kita realisasikan dengan serius di bulan Ramadan : Puasa Bulan Ramadan dikenal dengan sebutan “Bulan Puasa” atau Syahrus Shiyaam, karena puasa adalah inti dari ibadah Ramadan. Puasa menjadikan kita sehat secara jiwa, raga serta fikiran, sehingga ketaqwaan lebih mudah teraih. Tilawah  Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Karena itu, tilawah semaksimal mungkin adalah ibadah yang sangat singkron dalam rangka memperindah puasa kita. Dengan banyak tilawah, insyaAllah peluang untuk dijumpai oleh Lailatul Qadar akan terealisasi. Banyak Berdoa Allah berjanji akan mengabulkan semua permohonan kita di bulan Ramadan. Karena itu manfaatkan untuk beristighfar minta ampun atas seluruh dosa, minta untuk tidak dimampukan lagi melakukan dosa, dan menyetor semua keinginan kita dari yang paling “sulit” hingga yang paling “ringan”. Lalu, biarkan Allah memilih mana diantara semua keinginan yang cocok untuk terwujud pada diri kita. Mesra Terhadap Pasangan. Saat setan dibelenggu, neraka ditutup dan surga sebagai bakal rumah kelak sedang mengakrabi kita dengan menghiasi dirinya di bulan Ramadan, maka manfaatkan peluang itu  untuk menjalin komunikasi yang baik dengan pasangan. Jadikan rumah kita adalah surga yang sedang  dihias. Sebab sesempurna apapun keadaan atau kedudukan kita, tetapi bermasalah dengan pasangan, maka kita hanyalah manusia yang tak utuh lagi. Allah mengatakan akan menyampaikan pahala puasa secara langsung pada yang berpuasa. Karena itu, berpuasalah dengan sempurna sesuai rukun dan syaratnya, agar kita malu padaNya, saat pahala dibagikan. Ya Rahman…, Jadikan kami orang yang Engkau pilih untuk serius menjalani ibadah Ramadan agar kelak kami bahagia dengan gelar “TAQWA” . KH. Muhammad Shaleh Drehem, LcPengasuh DAFI Pesantren Al-Qur’an Science