Santri Beasiswa Lanjutkan Pendidikan di ITS: Chikafitria Raih Golden Tiket!

Kabar membahagiakan datang dari salah satu santri yatim penerima beasiswa penghafal Al-Qur’an. Chikafitria Azzahra Nur Firdaus, yang akrab disapa Chika, berhasil meraih Golden Ticket Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pada Program Studi Teknik Pangan. Prestasi ini menjadi bukti bahwa ketekunan menjaga Al-Qur’an, doa orang tua, serta dukungan pendidikan yang tepat mampu mengantarkan seorang santri meraih cita-cita terbaiknya.

Chika merupakan gadis asal Sidoarjo, anak kedua dari tiga bersaudara. Ia telah menempuh pendidikan formal dan pesantren di DAFI sejak SMP, dan menjadi salah satu santri penerima beasiswa sejak kelas 9 setelah ayahanda wafat. Di tengah keterbatasan sebagai anak yatim, ia tumbuh dengan semangat belajar dan komitmen kuat terhadap Al-Qur’an. Kecintaannya pada kitab suci sudah dimulai sejak usia dini. Ia mulai menghafal Al-Qur’an sejak taman kanak-kanak dan Alhamdulillah berhasil menyelesaikan 30 juz saat duduk di kelas 9 SMP.

Perjalanan menghafal tentu bukan tanpa tantangan. Chika mengakui bahwa tantangan terberatnya adalah ketika bertemu ayat-ayat yang sulit dihafalkan dan melawan rasa malas yang terkadang muncul. Namun ia selalu kembali pada niat awal dan memperbanyak doa agar Allah memberi kemudahan. Baginya, menghafal bukan sekadar menuntaskan 30 juz, tetapi juga menjaga amanah hafalan tersebut. Ia menanamkan komitmen dalam diri untuk rutin murojaah minimal satu juz setiap hari, baik setelah sholat maupun sebelum tidur. Momen paling menyenangkan dalam prosesnya adalah ketika bisa menghafal bersama teman-teman, saling menyemangati dalam kebaikan.

Dalam membagi waktu antara akademik dan tahfidz, Chika menerapkan prinsip fokus pada apa yang sedang dijalani. Ketika waktu belajar, ia benar-benar belajar. Saat waktu tahfidz, ia fokus menghafal. Jika ada waktu kosong, ia mengisinya dengan agenda yang paling mendesak. Sebuah nasihat dari sang Mama selalu ia pegang erat: “Kejar akhiratnya, nanti duniamu mengikuti.” Dari kalimat itu, Chika meyakini bahwa jika ia menghafal Al-Qur’an dengan ikhlas dan sungguh-sungguh, maka Allah akan memudahkan urusan dunianya, termasuk dalam prestasi akademik.

Ilustrasi: Chikafitria berfoto di depan kampus impiannya Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Kesempatan Golden Ticket ITS ia raih melalui jalur Ketua OSIS. Salah satu persyaratannya adalah membuat esai. Awalnya ia merasa pesimis, namun ia menguatkan diri dengan tekad “Bismillah” dan mencoba sebaik mungkin. Ketika melihat hasil pengumuman, ia merasa sangat bahagia dan bersyukur. Ia meyakini bahwa salah satu faktor terbesarnya adalah doa sang Mama, karena ridho orang tua menjadi kunci utama keberhasilannya. Saat kabar tersebut disampaikan, sang Mama kembali mengingatkan, “Kalau sudah didapat dunia yang kamu mau, kejar lagi akhiratnya.”

Chika juga menyampaikan bahwa keberhasilannya tidak lepas dari dukungan beasiswa yang membantunya melanjutkan pendidikan hingga akhir masa SMA di DAFI. Para guru, khususnya wali kelas, banyak membantu dalam proses persiapan dan kelengkapan dokumen yang diperlukan. Ia menyadari bahwa perjalanan ini adalah hasil dari doa, dukungan, dan kerja keras bersama.

Bagi Chika, Al-Qur’an adalah penenang dan pembuka jalan. Ia meyakini banyak hal dalam hidupnya yang terasa tidak mungkin, namun Allah mudahkan berkat keberkahan Al-Qur’an. Saat memasuki dunia perkuliahan nanti, ia bertekad tetap menjaga hafalannya dengan bergabung dalam komunitas Qur’an agar dapat terus menyetorkan dan memurojaah hafalan secara rutin.

Pesan Chika sederhana namun mendalam, “Tetap semangat menghafal Al-Qur’an. Niatkan semua karena Allah, jangan mengharapkan apa pun selain ridho Allah. Terima kasih untuk para donatur yang telah membantu saya bisa melanjutkan pendidikan di DAFI.”

Kisah Chika adalah gambaran nyata bahwa ketika setiap anak diberi kesempatan, pendampingan, dan fasilitas pendidikan yang layak, mereka mampu menorehkan prestasi gemilang, baik dalam menjaga Kalamullah maupun menembus perguruan tinggi terbaik negeri ini. Masih banyak santri yatim dan dhuafa penghafal Al-Qur’an yang menyimpan mimpi besar, namun membutuhkan uluran tangan agar dapat terus melangkah. Dukungan pendidikan dan beasiswa bukan sekadar bantuan materi, melainkan investasi kebaikan jangka panjang yang melahirkan generasi Qur’ani yang unggul dalam iman, ilmu, dan kontribusi bagi bangsa. Semoga dari setiap hafalan yang mereka jaga, dari setiap doa yang mereka lantunkan, mengalir pula pahala dan keberkahan bagi siapa pun yang turut membersamai perjuangan mereka.

Leave a Comment