Kolaborasi Kebaikan untuk Penghafal Al Qur’an

Kepedulian terhadap pendidikan anak yatim kembali diwujudkan melalui kolaborasi kebaikan antara Lembaga Amil Zakat Yatim Mandiri, Dompet Al Qur’an Indonesia, dan Baziskaf DAFI dalam membantu pendidikan santri yatim penghafal Al-Qur’an di DAFI Pesantren Al Qur’an Science. Kegiatan penyaluran bantuan pendidikan tersebut dilaksanakan pada Selasa, 19 Mei 2026, yang berlangsung secara terpisah di pesantren putri kawasan Sarirogo serta pesantren putra di Anggaswangi, Kabupaten Sidoarjo. Sebanyak 43 santri yatim turut hadir dalam proses simbolis penyerahan bantuan pendidikan tersebut dengan penuh rasa syukur. Kolaborasi ini merupakan bagian dari Program BESTARI (Beasiswa Yatim Berprestasi Yatim Mandiri), sebuah program yang diinisiasi oleh Yatim Mandiri untuk membantu pendidikan anak-anak yatim dhuafa agar tetap memiliki kesempatan meraih masa depan yang lebih baik melalui pendidikan. Dalam pelaksanaannya, program ini bersinergi bersama Dompet Al Qur’an Indonesia serta Baziskaf DAFI untuk membantu memenuhi kebutuhan pendidikan santri yatim di DAFI Pesantren Al Qur’an Science yang seluruh fasilitas pendidikannya diberikan secara gratis 100 persen sejak awal masuk pesantren. Ustadz Andy selaku Koordinator Baziskaf DAFI menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas terealisasinya bantuan pendidikan tersebut. “Alhamdulillah, terima kasih telah ikut berpartisipasi dan membantu dalam pendidikan santri-santri yatim kami yang memang sepenuhnya kita berikan fasilitas gratis 100 persen dari awal masuk. Semoga Allah cukupkan dan mampukan untuk memenuhi kebutuhan santri-santri kita ini ke depannya,” ujarnya. Sementara itu, Ibu Grace selaku perwakilan Yatim Mandiri yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa bantuan yang diberikan merupakan amanah dari para donatur yang peduli terhadap masa depan pendidikan anak-anak yatim. “Apa yang kami sampaikan hari ini merupakan amanah dari para donatur. Semoga bantuan ini dapat membantu pendidikan para santri yatim dan menjadi bekal yang bermanfaat untuk masa depan mereka,” tuturnya. Alif Fathin Nufail, santri kelas 7 yang hadir dalam prosesi simbolis tersebut, menyampaikan ucapan terima kasih secara sederhana. “Alhamdulillah, terima kasih. Jazakumullahu khairan katsiran,” ucapnya malu-malu di hadapan para tamu yang hadir. Di balik senyum dan ucapan syukur para santri, terdapat perjuangan besar yang terus mereka jalani setiap hari. Dengan setiap doa dan ikhtiar, para santri yatim di DAFI Pesantren Al Qur’an Science tetap bersemangat menuntut ilmu, menghafalkan Al-Qur’an, serta membangun cita-cita demi masa depan yang lebih baik. Kesempatan untuk ikut membersamai perjuangan para santri yatim penghafal Al-Qur’an ini pun masih terbuka lebar. Setiap bantuan yang diberikan bukan hanya menjadi dukungan pendidikan, tetapi juga bagian dari ikhtiar melahirkan generasi Qur’ani yang kelak membawa manfaat luas bagi umat. Semoga Allah SWT membalas setiap kebaikan para donatur, orang tua asuh, Yatim Mandiri, Dompet Al Qur’an Indonesia, Baziskaf DAFI, serta seluruh pihak yang telah turut mengambil bagian dalam memajukan pendidikan santri beasiswa di DAFI Pesantren Al Qur’an Science. Semoga dilimpahkan keberkahan rezeki, kemudahan dalam setiap urusan, kesehatan, serta pahala jariyah yang terus mengalir dari setiap ayat Al-Qur’an yang dihafalkan dan diamalkan oleh para santri. Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.

15 Juz dalam 3 Tahun, Farevo Santri Beasiswa Khatamkan Hafalan 30 Juz Al Qur’an

Kebahagiaan dan rasa haru menyelimuti prosesi setoran hafalan 30 juz Al-Qur’an yang dilaksanakan pada Jum’at, 8 Mei 2026 di Masjid Nabawi Pesantren DAFI Putra. Momen istimewa tersebut menjadi penanda tuntasnya perjalanan hafalan seorang santri beasiswa yatim, Farevo Ahmaddinejad bin Alm. Ahmad Mighfari, dalam menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz. Farevo merupakan santri kelahiran Lamongan, 17 Februari 2008. Ia adalah putra kedua dari dua bersaudara. Sang kakak saat ini menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri Bandung, sementara Farevo menempuh pendidikan dan perjuangan menghafal Al Qur’an di Pesantren DAFI. Di balik capaian tersebut, tersimpan kisah perjuangan yang tidak mudah. Ayahanda Farevo wafat pada tahun 2010 akibat sakit tumor otak yang menyebabkan penglihatannya tidak lagi dapat difungsikan. Sejak saat itu, sang bunda berjuang membesarkan dan mendidik anak-anaknya seorang diri. Ibunda Farevo sendiri diketahui merupakan seorang guru di MI Muhammadiyah 6 Brondong, Lamongan. Momen setoran hafalan 30 juz Farevo semakin mengharukan karena dihadiri langsung oleh ibunda tercinta yang selama ini menjadi sosok utama penguat perjuangannya dalam menuntut ilmu dan menjaga hafalan Al-Qur’an. Farevo mulai menghafal Al-Qur’an sejak kelas 4 SD. Ketika masuk MA DAFI pada kelas 10, ia telah memiliki hafalan 15 juz. Dengan istiqamah dan lingkungan pesantren yang mendukung, hafalan tersebut akhirnya berhasil disempurnakan menjadi 30 juz. Dalam kesehariannya di pesantren, Farevo dikenal sebagai pribadi yang memiliki semangat tinggi. Ia memanfaatkan waktu sore dan selepas Isya untuk menambah hafalan, sementara waktu bada Subuh digunakan untuk murojaah. Di tengah kesibukan sebagai santri penghafal Al-Qur’an, Farevo juga memiliki hobi workout yang biasa dilakukan saat waktu senggang di pesantren. Farevo mengungkapkan bahwa motivasi terbesarnya dalam menghafal Al-Qur’an adalah mencari ridha Allah SWT serta berharap dapat memuliakan kedua orang tuanya di dunia maupun akhirat kelak. “Senang bisa mengkhatamkan hafalan 30 juz Al-Qur’an, namun di sisi lain saya merasa ada tanggung jawab besar terhadap setiap ayat yang dihafalkan. InsyaAllah ke depan saya berkomitmen untuk bisa tasmi’ setiap bulannya,” ungkap Farevo. Ia juga menyampaikan harapannya agar selepas dari pesantren dapat terus menjaga amal ibadah, mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, dan mencari lingkungan pergaulan yang mendukung dalam kebaikan ketika melanjutkan pendidikan di jenjang perguruan tinggi. Dalam proses menghafal, Farevo mengaku pernah merasakan lelah, putus asa, bahkan sempat tertarik dengan dunia luar. Namun, mengingat perjuangan sang bunda di rumah yang terus mendukung pendidikannya menjadi penguat untuk kembali meluruskan niat dan melanjutkan perjuangan menghafal Al-Qur’an. “Saya berikhtiar dan berdoa agar bisa menjadi sukses ke depannya sebagai bentuk terima kasih kepada kedua orang tua yang sudah memfasilitasi dan membantu saya sampai di titik sekarang,” tambahnya. Saat ini, Farevo tengah berikhtiar melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi Negeri dengan jurusan Ilmu Komunikasi. Ketertarikannya terhadap dunia komunikasi membuatnya bercita-cita menjadi seorang motivator di masa depan. Sebagai penerima beasiswa yatim, Farevo juga merasakan dukungan penuh dari lingkungan pesantren. Ia menyampaikan bahwa teman-temannya justru saling mendukung dalam keseharian, pelajaran, maupun hafalan Al-Qur’an tanpa adanya perundungan. Menurutnya, hal paling berkesan selama menempuh pendidikan di Pesantren DAFI adalah kualitas pembelajaran dan guru-guru yang sangat kompeten, serta pelayanan pesantren yang memperlakukan seluruh santri secara setara tanpa perbedaan. Bahkan, Farevo memberikan penilaian 4,8 dari 5 untuk pengalaman pendidikannya di pesantren. Di akhir wawancara, Farevo menyampaikan pesan kepada para penerima beasiswa lainnya agar terus semangat dan berikhtiar memberikan yang terbaik untuk Allah SWT, orang tua, dan para donatur yang telah membantu perjuangan pendidikan mereka. Ia juga memanjatkan doa khusus untuk seluruh donatur dan orang tua asuh yang telah membersamai perjuangannya: “Semoga selalu diberikan kesehatan, diberikan kelancaran rezeki, dilancarkan segala urusan, dan menjadi jalan kebaikan fiddunya wal akhirah.” Perjalanan Farevo menjadi penghafal 30 juz bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab besar untuk menjaga dan mengamalkan Al-Qur’an sepanjang hayat. Di DAFI, masih banyak santri yatim dan dhuafa yang sedang berjuang menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an sebagaimana perjuangan yang telah dilalui oleh Farevo. Melalui program beasiswa pendidikan santri penghafal Al-Qur’an, Baziskaf DAFI mengajak seluruh elemen masyarakat, instansi, maupun perseorangan untuk turut memfasilitasi perjuangan para santri agar kelak tumbuh menjadi generasi Qur’ani yang membawa manfaat bagi umat, agama, bangsa, dan masa depan Islam.

Berkesempatan Umroh, Santri Beasiswa DAFI Diuji Hafalan di Makkah!

Perjalanan menuju Tanah Suci mungkin menjadi impian banyak orang. Namun bagi Adinda Farida Zahiyyah Al Maghfiroh binti Alm. Desta Priyonggo Kurniawan, kesempatan itu hadir sebagai hadiah tak terduga setelah bertahun-tahun menjaga hafalan Al-Qur’an dengan penuh kesungguhan. Santri binaan beasiswa Pesantren DAFI ini baru saja kembali dari ibadah umroh yang dijalaninya pada Maret 2026 lalu. Perjalanan spiritual tersebut menjadi momen yang begitu membekas dalam hidupnya, terlebih karena sebelumnya ia tidak pernah membayangkan bisa menginjakkan kaki di Tanah Suci di usia yang masih muda. Adinda telah menempuh pendidikan di Pesantren DAFI sejak tingkat SMP dan kini duduk di bangku kelas 11. Selama kurang lebih enam tahun belajar di pesantren, ia berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an dan mentasmi’kannya tanpa melihat mushaf selama tiga hari. Saat ini, Adinda juga telah memasuki tahap pengambilan sanad. Di balik pencapaian tersebut, tersimpan perjuangan panjang yang tidak mudah. Tinggal bersama bunda dan dua saudaranya, Adinda mengaku tantangan terbesar selama di pesantren adalah membagi waktu antara kegiatan sekolah, aktivitas asrama, dan murojaah hafalan. “Manajemen waktu dengan belajar dan kegiatan di asrama maupun sekolah menjadi tantangan terbesar,” ungkapnya. Namun proses itulah yang perlahan membentuk dirinya menjadi pribadi yang terus bertumbuh. Bagi Adinda, kebahagiaan sederhana justru hadir saat dirinya mampu memahami pelajaran dengan baik dan membantu teman-temannya yang belum mengerti. “Ketika bisa memahami materi dengan baik, mendapat nilai maksimal, dan membantu mengajarkan teman yang belum paham, itu rasanya bahagia sekali,” tuturnya. Di tengah kesibukannya sebagai santri penghafal Al-Qur’an, Adinda tetap menikmati hal-hal sederhana. Ia gemar membeli jajanan ringan dan saling berbagi, mencuci baju sendiri, dan memiliki hobi bersih-bersih di waktu yang luang. Kesempatan umroh yang datang kepadanya pun bermula dari sebuah kabar tak terduga. Saat itu, bunda Adinda mendapat telepon dari salah satu lembaga sosial yang sedang mencari hafidzah yatim untuk diberangkatkan umroh. Kabar tersebut pertama kali disampaikan sang bunda melalui telepon kepada wali kamar pesantren. Reaksi Adinda saat mendengarnya masih begitu membekas dalam ingatannya. “Kaget, tidak menyangka, dan langsung menangis,” kenangnya. Perjalanan umroh yang telah dijalaninya kini menjadi pengalaman spiritual yang sangat berharga. Bagi Adinda, umroh bukan sekadar perjalanan ibadah, tetapi juga menjadi jalan untuk membersihkan jiwa, menambah keimanan, dan meningkatkan kenikmatan dalam beribadah kepada Allah SWT. Salah satu momen yang paling berkesan baginya selama di Tanah Suci adalah keinginannya untuk menyetorkan hafalan 30 juz kepada syaikhah. Meski saat itu ia baru sempat menjalani tes hafalan secara acak, pengalaman tersebut tetap menjadi kenangan yang sangat berarti. Selain memperbanyak ibadah, Adinda juga merasakan kebahagiaan bisa menyaksikan langsung kota Makkah dan Madinah yang selama ini hanya ia dengar dari cerita dan pelajaran. Dalam doa-doanya di depan Ka’bah, Adinda memohon agar Allah memutqinkan hafalan 30 juznya, memberikan kesuksesan dunia akhirat, serta mengumpulkan kedua orang tua dan keluarganya di surga Firdaus. Tak lupa, ia juga menitipkan doa untuk para donatur yang telah membersamainya selama proses belajar di Pesantren DAFI. “Saya ingin mendoakan keluarga, teman-teman, dan para donatur yang sudah membantu proses belajar saya di DAFI,” ujarnya. Kisah Adinda menjadi bukti bahwa setiap dukungan yang dititipkan para donatur tidak pernah sia-sia. Dari bantuan yang diberikan, lahirlah generasi penjaga Al-Qur’an yang terus tumbuh membawa harapan dan keberkahan. Sepulang dari umroh, Adinda berharap bisa menjadi pribadi yang lebih baik, lebih sabar, dan lebih berbaik sangka kepada Allah SWT. Ia juga bercita-cita melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri jurusan Kesehatan Masyarakat. Di akhir ceritanya, Adinda menyampaikan pesan sederhana untuk siapa pun yang sedang berjuang dalam keterbatasan. “Selalu berharap hanya kepada Allah, mensyukuri nikmat-nikmat-Nya, dan selalu berprasangka baik kepada Allah SWT.” Satu kalimat yang paling menggambarkan perjalanan hidupnya hingga hari ini pun terasa begitu menenangkan: “Semua yang sudah terjadi adalah atas kehendak Allah dan itu yang terbaik.”

Dari Telkom untuk Generasi Qur’ani: Bantuan Pendidikan untuk Santri Yatim Penghafal Al Qur’an Telah Tersalurkan

Senin, 27 April 2026, PT Telkom Indonesia Cabang Sidoarjo hadir di DAFI Pesantren Al Qur’an Science dalam rangka menyalurkan bantuan pendidikan bagi santri yatim penghafal Al-Qur’an. Kehadiran rombongan Telkom disambut hangat oleh keluarga besar pesantren, termasuk para santri yatim penerima beasiswa yang penuh antusias dan haru. Rangkaian kegiatan serah terima berlangsung khidmat dan penuh makna. Acara diawali dengan tasmi’ oleh Robi’atul Adawiyah Ramadhani santri yatim kelas 7 yang melantunkan beberapa potongan ayat dari Surat Al-Hasyr, menghadirkan suasana yang syahdu dan menyentuh hati. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari pihak pesantren dan PT Telkom Indonesia, sebelum ditutup dengan prosesi simbolis penyerahan bantuan. Dalam sambutannya, Ibu Annif Kustiyaningsih menyampaikan, “PT Telkom tahun ini hadir kembali untuk memberikan bantuan pendidikan untuk para anak-anak yatim. Meski tidak banyak, semoga bermanfaat.” Tidak sendirian, beliau hadir bersama rekan-rekannya, Bapak Bambang Pujo Laksono dan Bapak Fadli Afandi Putra, sebagai bentuk komitmen bersama dalam mendukung pendidikan generasi Qur’ani penerus Bangsa. Perwakilan pesantren, Ustadz Agus Supriyanto, turut menyampaikan apresiasi atas kepedulian yang diberikan. “Alhamdulillah, semoga ini menjadi wasilah PT Telkom semakin maju dan berkembang ke depannya,” ungkap beliau. Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis oleh pihak PT Telkom Indonesia dan diterima oleh Baziskaf DAFI sebagai Mitra Pengelola Zakat (MPZ) pesantren yang berikhtiar dalam mendukung pemenuhan beasiswa santri yatim dan dhuafa, serta berbagai program pendidikan di lingkungan pesantren. Di akhir kegiatan, Ustadz Andy selaku Koordinator Baziskaf DAFI menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas kontribusi yang diberikan. Bantuan ini dinilai sangat berarti dalam membantu memenuhi kebutuhan beasiswa pendidikan bagi para santri yatim. Sebagai penutup, doa terbaik dipanjatkan untuk PT Telkom Indonesia agar senantiasa diberikan keberkahan dalam setiap langkahnya, dilapangkan usahanya, dimudahkan dalam memberikan manfaat yang lebih luas, serta terus tumbuh menjadi perusahaan yang maju, kuat, dan membawa dampak kebaikan bagi masyarakat Indonesia. Melalui Baziskaf DAFI, pesantren juga membuka kesempatan seluas-luasnya bagi instansi maupun perseorangan yang ingin turut berkontribusi dalam mendukung pendidikan santri yatim dan dhuafa penghafal Al-Qur’an. Saat ini, terdapat 58 santri penerima beasiswa yang tengah berjuang menghafalkan Al-Qur’an dan meraih masa depan yang lebih baik. Dukungan yang diberikan tidak hanya menjadi bantuan materi, namun juga menjadi penyemangat bagi mereka untuk terus istiqamah dalam menjaga dan mengamalkan Al-Qur’an.

Santri Beasiswa Lanjutkan Pendidikan di ITS: Chikafitria Raih Golden Tiket!

Kabar membahagiakan datang dari salah satu santri yatim penerima beasiswa penghafal Al-Qur’an. Chikafitria Azzahra Nur Firdaus, yang akrab disapa Chika, berhasil meraih Golden Ticket Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pada Program Studi Teknik Pangan. Prestasi ini menjadi bukti bahwa ketekunan menjaga Al-Qur’an, doa orang tua, serta dukungan pendidikan yang tepat mampu mengantarkan seorang santri meraih cita-cita terbaiknya. Chika merupakan gadis asal Sidoarjo, anak kedua dari tiga bersaudara. Ia telah menempuh pendidikan formal dan pesantren di DAFI sejak SMP, dan menjadi salah satu santri penerima beasiswa sejak kelas 9 setelah ayahanda wafat. Di tengah keterbatasan sebagai anak yatim, ia tumbuh dengan semangat belajar dan komitmen kuat terhadap Al-Qur’an. Kecintaannya pada kitab suci sudah dimulai sejak usia dini. Ia mulai menghafal Al-Qur’an sejak taman kanak-kanak dan Alhamdulillah berhasil menyelesaikan 30 juz saat duduk di kelas 9 SMP. Perjalanan menghafal tentu bukan tanpa tantangan. Chika mengakui bahwa tantangan terberatnya adalah ketika bertemu ayat-ayat yang sulit dihafalkan dan melawan rasa malas yang terkadang muncul. Namun ia selalu kembali pada niat awal dan memperbanyak doa agar Allah memberi kemudahan. Baginya, menghafal bukan sekadar menuntaskan 30 juz, tetapi juga menjaga amanah hafalan tersebut. Ia menanamkan komitmen dalam diri untuk rutin murojaah minimal satu juz setiap hari, baik setelah sholat maupun sebelum tidur. Momen paling menyenangkan dalam prosesnya adalah ketika bisa menghafal bersama teman-teman, saling menyemangati dalam kebaikan. Dalam membagi waktu antara akademik dan tahfidz, Chika menerapkan prinsip fokus pada apa yang sedang dijalani. Ketika waktu belajar, ia benar-benar belajar. Saat waktu tahfidz, ia fokus menghafal. Jika ada waktu kosong, ia mengisinya dengan agenda yang paling mendesak. Sebuah nasihat dari sang Mama selalu ia pegang erat: “Kejar akhiratnya, nanti duniamu mengikuti.” Dari kalimat itu, Chika meyakini bahwa jika ia menghafal Al-Qur’an dengan ikhlas dan sungguh-sungguh, maka Allah akan memudahkan urusan dunianya, termasuk dalam prestasi akademik. Kesempatan Golden Ticket ITS ia raih melalui jalur Ketua OSIS. Salah satu persyaratannya adalah membuat esai. Awalnya ia merasa pesimis, namun ia menguatkan diri dengan tekad “Bismillah” dan mencoba sebaik mungkin. Ketika melihat hasil pengumuman, ia merasa sangat bahagia dan bersyukur. Ia meyakini bahwa salah satu faktor terbesarnya adalah doa sang Mama, karena ridho orang tua menjadi kunci utama keberhasilannya. Saat kabar tersebut disampaikan, sang Mama kembali mengingatkan, “Kalau sudah didapat dunia yang kamu mau, kejar lagi akhiratnya.” Chika juga menyampaikan bahwa keberhasilannya tidak lepas dari dukungan beasiswa yang membantunya melanjutkan pendidikan hingga akhir masa SMA di DAFI. Para guru, khususnya wali kelas, banyak membantu dalam proses persiapan dan kelengkapan dokumen yang diperlukan. Ia menyadari bahwa perjalanan ini adalah hasil dari doa, dukungan, dan kerja keras bersama. Bagi Chika, Al-Qur’an adalah penenang dan pembuka jalan. Ia meyakini banyak hal dalam hidupnya yang terasa tidak mungkin, namun Allah mudahkan berkat keberkahan Al-Qur’an. Saat memasuki dunia perkuliahan nanti, ia bertekad tetap menjaga hafalannya dengan bergabung dalam komunitas Qur’an agar dapat terus menyetorkan dan memurojaah hafalan secara rutin. Pesan Chika sederhana namun mendalam, “Tetap semangat menghafal Al-Qur’an. Niatkan semua karena Allah, jangan mengharapkan apa pun selain ridho Allah. Terima kasih untuk para donatur yang telah membantu saya bisa melanjutkan pendidikan di DAFI.” Kisah Chika adalah gambaran nyata bahwa ketika setiap anak diberi kesempatan, pendampingan, dan fasilitas pendidikan yang layak, mereka mampu menorehkan prestasi gemilang, baik dalam menjaga Kalamullah maupun menembus perguruan tinggi terbaik negeri ini. Masih banyak santri yatim dan dhuafa penghafal Al-Qur’an yang menyimpan mimpi besar, namun membutuhkan uluran tangan agar dapat terus melangkah. Dukungan pendidikan dan beasiswa bukan sekadar bantuan materi, melainkan investasi kebaikan jangka panjang yang melahirkan generasi Qur’ani yang unggul dalam iman, ilmu, dan kontribusi bagi bangsa. Semoga dari setiap hafalan yang mereka jaga, dari setiap doa yang mereka lantunkan, mengalir pula pahala dan keberkahan bagi siapa pun yang turut membersamai perjuangan mereka.

Santri OPOP Camp 2025 Menjadi Inspirasi Santri Beasiswa DAFI!

DAFI Pesantren Al Qur’an Science mendapatkan kesempatan berharga dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, melalui partisipasi dua santrinya, Muhammad Raffka Alfarizi yang sekaligus merupakan santri beasiswa dan Mirza Luthfi Anwari, yang resmi diutus untuk mengikuti Santri OPOP Camp 2025. Kegiatan ini merupakan program pelatihan kewirausahaan berbasis Digital Technology dan Artificial Intelligence (AI), yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada Rabu–Kamis, 26–27 November 2025 di Taman Candra Wilwa Tikta Pandaan, Pasuruan. Santri OPOP Camp merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat kapasitas santri pesantren agar mampu menghadirkan ide bisnis kreatif, kompetitif, dan relevan dengan perkembangan zaman. Selama pelatihan, para peserta dibimbing untuk memahami kemajuan teknologi, digital marketing, pemanfaatan AI untuk bisnis, hingga praktik membangun toko digital serta merancang iklan produk melalui teknologi kecerdasan buatan. Sebagai santri beasiswa, Muhammad Raffka Alfarizi mengungkapkan rasa syukur dan bangganya diberi amanah untuk mewakili pesantren.“Kegiatan OPOP sangat membantu saya memahami banyak hal, mulai dari bagaimana memanfaatkan Artificial Intelligent untuk membantu bisnis kita dan hal apa yang perlu disiapkan,” ungkap Raffka. Raffka juga membagikan mimpinya untuk mengembangkan bisnis digital dengan mengangkat produk kripik khas daerah asalnya di Ciamis.“Ada, kripik jablog namanya. Enak, dan semua harus bisa mencicipi sih!” tutur Raffka penuh antusias. Pesantren DAFI menyampaikan apresiasi atas semangat dan kesiapan para santri binaannya. Terlebih lagi, Raffka sebagai santri beasiswa yang dipilih mengikuti kegiatan ini menunjukkan bahwa kepercayaan pesantren bukan diberikan berdasarkan status, tetapi murni karena kualitas, kompetensi, dan kesungguhan para santri. Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur serta seluruh pihak yang telah memberikan ruang pengembangan bagi santri. Semoga kegiatan ini menjadi wasilah lahirnya para pemimpin masa depan yang berjiwa mandiri, kreatif, dan berakhlak mulia. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk terus memberikan dukungan terbaik bagi santri Yatim Penghafal Al-Qur’an, agar mereka dapat terus berkarya, menghafal, dan menjadi generasi penerus yang membawa keberkahan bagi bangsa.

100% Lulus! Santri Beasiswa Sukses Ujian Standarisasi Hafalan Al Qur’an

DAFI Pesantren Al Qur’an Science kembali menggelar Standarisasi Hafalan Al Qur’an sebagai bagian dari komitmen menjaga kualitas hafalan para santrinya. Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis, 20 November 2025 ini berlangsung secara terpisah, dimulai di Pesantren Putri Sarirogo bada dhuhur dan dilanjutkan di Pesantren Putra Anggaswangi pada sesi berikutnya. Ujian standarisasi ini diperuntukkan bagi seluruh santri yang telah mencapai hafalan 5 juz dan kelipatannya, baik dari jenjang SMP hingga MA. Sebanyak 54 santri mengikuti ujian pada tahun ini, termasuk 8 di antaranya yang merupakan penerima manfaat Beasiswa Penghafal Al Qur’an. Sebelum memasuki hari pelaksanaan, para peserta melalui proses panjang mentasmi’kan hafalan kepada sesama santri. Hanya mereka yang mampu mempertahankan hafalan dengan maksimal 20 kesalahan yang diizinkan melanjutkan ke tahap ujian standardisasi. Proses ini menjadi bagian dari budaya belajar di DAFI, yang menekankan kesungguhan, ketekunan, dan kedisiplinan dalam murajaah. Pelaksanaan ujian dipimpin langsung oleh Penjamin Mutu Tahfidz DAFI, Dr. K.H. Mudawi Maarif, Lc., MA—ulama penghafal Al Qur’an yang memiliki sanad Qiro’ah ‘Asyrah, bagian dari Majelis Qurrā’ perwakilan Asia Tenggara, serta peraih prestasi MHQ nasional dan internasional sekaligus juri MHQ tingkat nasional. Dalam prosesnya, setiap santri mendapatkan dua pertanyaan sambung ayat sebagai tolok ukur kualitas hafalan yang mereka miliki. Ustadz Ibrahim, salah satu pengajar tahfidz DAFI, turut menyampaikan kebahagiaannya terhadap capaian para santri, termasuk mereka yang mendapatkan kesempatan belajar melalui program beasiswa. “Alhamdulillah, Mas Jabbar dan yang lainnya (santri beasiswa) berhasil menuntaskan setiap soal, meskipun di awal ada beberapa yang kesulitan.” Menurutnya, keberhasilan ini tidak hanya lahir dari kerja keras para santri, ridho Allah SWT juga dukungan para donatur yang terus memberikan kesempatan bagi anak-anak penghafal Qur’an untuk mengembangkan potensinya hingga berada pada titik seperti saat ini. Hasil akhir ujian tahun ini menggembirakan. Seluruh peserta dinyatakan lulus 100 persen. Capaian ini menjadi bukti istiqomah para santri dalam menjaga hafalan mereka sekaligus menunjukkan bahwa program pembinaan tahfidz di DAFI berjalan secara terukur dan efektif. Standardisasi ini tidak sekadar menjadi ujian, tetapi juga sarana pemantapan kualitas hafalan yang telah mereka bangun sejak awal belajar. Dukungan para donatur menjadi bagian penting dari cerita perjuangan santri—menguatkan langkah mereka dalam menjaga dan menambah hafalan, serta menjadi jariyah yang insyaAllah terus mengalir bersama lantunan ayat-ayat suci yang mereka baca setiap hari. Alhamdulillah dan selamat kepada para santri beasiswa yang telah berhasil melalui ujian Standarisasi Tahfizh Al Qur’an 5 – 30 Juz!

Tasmi’ 30 Juz Al Qur’an, Allah SWT Lancarkan Perjuangan Adinda Farida

Selama tiga hari penuh, dari tanggal 6 hingga 8 November 2025, suasana haru menyelimuti Pesantren DAFI Al Qur’an Science. Lantunan ayat suci bergema dari suara lembut Adinda Farida Zahiyyah Al Maghfiroh binti Alm. Desta Priyonggo Kurniawan, seorang santri beasiswa yatim yang berhasil menuntaskan tasmi’ 30 juz Al-Qur’an tanpa jeda berarti — sebuah pencapaian luar biasa yang tidak hanya menunjukkan kemampuan, tapi juga keteguhan hati dan cinta yang dalam kepada Al-Qur’an. Adinda adalah putri kedua dari tiga bersaudara, dibesarkan oleh ibunda yang berprofesi sebagai guru TK. Sejak kepergian ayahanda, kehidupan keluarganya dijalani dengan kesederhanaan dan penuh perjuangan. Namun di tengah keterbatasan itu, tumbuh tekad kuat dalam dirinya untuk menjadi hafizah. Ia mulai menekuni hafalan Al-Qur’an sejak pertama kali bergabung di DAFI pada jenjang SMP, dengan semangat untuk membahagiakan ibunda dan menjadi cahaya bagi keluarganya. Tasmi’ 30 juz dalam waktu tiga hari tentu bukan perjalanan mudah. Beberapa bagian hafalan, terutama di juz pertengahan (juz 16–25), menjadi tantangan tersendiri bagi Adinda. Ia sering membutuhkan waktu lebih lama untuk murojaah dan mengingat kembali ayat-ayat yang sempat terasa sulit. Namun setiap kali semangatnya mulai turun, ia selalu mengingat niat awalnya — untuk menuntaskan target tahfizh sebagai bentuk cinta kepada Al-Qur’an. Salah satu momen yang paling berkesan baginya adalah ketika banyak teman-teman dari kelas 10 dan 11 ikut hadir menyimak bacaan tasmi’-nya. Dukungan mereka menambah kekuatan dan menghadirkan suasana syahdu di tengah proses yang melelahkan. “Alhamdulillah, Allah mudahkan bisa menuntaskan tasmi’ 30 juz dalam waktu tiga hari. Rasanya senang sekali dan sangat bersyukur,” tutur Adinda lirih. Setelah menyelesaikan tasmi’, wajahnya tampak bersinar. Bagi Adinda, menjadi hafizah bukanlah tentang seberapa cepat menghafal, tetapi seberapa dalam bisa hidup bersama Al-Qur’an dalam keseharian. “Hafizah itu bukan hanya yang hafal, tapi yang tidak pernah lelah bersama Al-Qur’an. Yang penting bukan cuma hafal, tapi juga memahami dan mengamalkan,” ujarnya dengan mantap. Keberhasilan Adinda tidak lepas dari dukungan program beasiswa DAFI, yang menanggung penuh kebutuhan pendidikan dan pembinaannya. Melalui bantuan seorang Hamba Allah yang tergabung dalam program orang tua asuh, Adinda dapat fokus belajar, menghafal, dan menuntaskan hafalannya tanpa terbebani masalah biaya. Kini, setelah menyelesaikan tasmi’ 30 juz, Adinda bertekad untuk terus menjaga hafalan dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga menyampaikan pesan kepada para santri lain agar tidak menyerah dalam perjalanan mereka bersama Al-Qur’an — karena istiqamah selalu membutuhkan perjuangan, dan setiap huruf yang dijaga adalah jalan menuju keberkahan. Kisah Adinda menjadi cermin bahwa dari kesederhanaan, lahir keteguhan. Dari doa seorang ibu, tumbuh cahaya yang menerangi. Dan dari tangan-tangan para dermawan, lahir generasi Qur’ani yang akan terus menyalakan cahaya kebaikan di masa depan.

SPMB Beasiswa Penghafal Al Qur’an Jalur Yatim-Dhuafa Dibuka November ini! Simak Langkah-langkahnya!

Alhamdulillah, sebagai bentuk syukur dan komitmen dari para pengasuh serta pengurus Yayasan Pondok Pesantren Darul Fikri Sidoarjo, kembali membuka Pendaftaran Beasiswa Santri Baru Penghafal Al Qur’an khusus Yatim-Dhuafa untuk Tahun Ajaran 2026/2027 pada jenjang SMP dan MA. Proses seleksi ini dibuka pada periode bulan November 2025, berikut tata cara mendaftar untuk Beasiswa Santri SMP dan MA DAFI; Kesempatan mendaftar dibuka pada: 1 – 21 November 2025 Seleksi administrasi (pemberkasan): 22 – 25 November 2025 Tes & wawancara: 29 November 2025 Pengumuman hasil seleksi: 6 Desember 2025 Secara rinci, pelaksanaan tes dan wawancara akan dibagi menjadi beberapa sesi, antara lain: Untuk calon Santri; Psikotes, Tes Akademik (Numerasi & Literasi), Tes Bacaan dan Hafalan Al Qur’an, Wawancara Kesiapan Santri, Wawancara Komitmen Beasiswa. Untuk calon Walisantri; Wawancara Kesiapan Walisantri, Wawancara Komitmen Beasiswa. Jika ada hal lain yang perlu ditanyakan lebih jelas, bisa menghubungi kontak Whatsapp di 087820222025. Semoga Allah SWT memudahkan dan melancarkan segala prosesnya, dan kelak menjadi Generasi Pemimpin Indonesia yang Hafal Al Qur’an, dan Berkompetensi Global. Barakallahufiikum.

Alumni Penerima Beasiswa DAFI Raih Juara 2 MHQ 30 Juz Putra pada MTQ XXXI Jawa Timur

Ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Tingkat Provinsi Jawa Timur yang berlangsung di Kabupaten Jember pada 11–20 September 2025 menjadi momen berharga bagi keluarga besar DAFI Pesantren Al Qur’an Science. Salah satu alumni terbaiknya, M. Faqih Al Zuhdi bin Siswanto, berhasil meraih Juara 2 kategori Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ) 30 Juz Putra, mewakili Kabupaten Sidoarjo. Dalam cabang MHQ 30 Juz Putra, Faqih bersaing dengan 50 peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur. Kompetisi digelar dalam dua babak, yakni penyisihan (14–18 September) dan final (19 September 2025), yang mempertemukan tiga peserta terbaik untuk memperebutkan juara. Alhamdulillah, Faqih berhasil menunjukkan kemampuan terbaiknya hingga masuk final dan meraih peringkat kedua. Faqih mengungkapkan rasa syukur dan harunya atas capaian ini. “Alhamdulillah senang, apalagi ini pertama kali saya mengikuti MHQ mewakili Kabupaten Sidoarjo dan saingannya sangat luar biasa. Ada beberapa yang bahkan pernah menjuarai MHQ tingkat Internasional di Arab Saudi dan Yordania. Pengalaman ini sangat berharga bagi saya bisa bertemu dan bersaing dengan para hafidz terbaik se-Jawa Timur,” ungkapnya. Faqih termasuk tiga terbaik yang insya Allah akan mendapatkan pembinaan dan berkesempatan mengikuti MTQ Tingkat Nasional di Semarang tahun depan, bersamaan dengan dimulainya masa studi jenjang lanjutannya di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Ustadz Agus Hariadi, Mudir DAFI Pesantren Al Qur’an Science, turut menyampaikan rasa bangga atas capaian alumninya. “Alhamdulillah, selamat untuk Mas Faqih, baarakallahu fiik Semoga Allah mengistiqomahkanmu dalam mempelajari, menghafalkan dan mengamalkan Al Qur’an. Niat semua ini untuk akhirat in syaa Allah dunia mengikuti. Semoga santri-santri yang lain semakin bersemangat dalam menghafal dan mempelajari Al-Qur’an” ujarnya. Sebagai penutup, Faqih menyampaikan pesan penuh motivasi kepada adik-adik santri di DAFI: “Semangat dalam menghafal dan menjaga Al Qur’an, niatkan lillahi ta’ala. Insya Allah Allah akan memberikan kemudahan di setiap urusan dan cita-cita kalian.” Perjalanan Faqih adalah inspirasi nyata tentang bagaimana kesungguhan, doa, dan dukungan dapat melahirkan prestasi yang gemilang. Berawal dari kesempatan mendapatkan beasiswa pendidikan di DAFI, ia tumbuh dalam lingkungan yang menanamkan kedisiplinan, akhlak, dan kecintaan mendalam kepada Al Qur’an. Capaian Juara 2 MHQ 30 Juz Tingkat Provinsi Jawa Timur menjadi bukti nyata keberkahan perjuangannya, sekaligus langkah awal menuju mimpi besarnya. Tidak hanya itu, Faqih yang telah menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an dan mendapatkan sanad riwayat Hafs dari Imam Ashim dari gurunya tercinta, Ustadz Muhammad Taufiq, S.Pd.I., Al-Hafizh, serta beberapa kali menjuarai kompetisi MHQ berkeinginan kuat untuk istiqomah bersama Al Qur’an. Kini, dengan izin Allah, Faqih melanjutkan perjalanannya ke Universitas Al Azhar Kairo, Mesir, untuk memperdalam ilmu agama dan Al Qur’an. Capaian ini diharapkan menjadi penyemangat bagi seluruh santri, alumni, dan umat Islam, bahwa menjaga Al Qur’an adalah jalan mulia yang akan menghantarkan pada kemuliaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.