Kolaborasi Kebaikan untuk Penghafal Al Qur’an

Kepedulian terhadap pendidikan anak yatim kembali diwujudkan melalui kolaborasi kebaikan antara Lembaga Amil Zakat Yatim Mandiri, Dompet Al Qur’an Indonesia, dan Baziskaf DAFI dalam membantu pendidikan santri yatim penghafal Al-Qur’an di DAFI Pesantren Al Qur’an Science. Kegiatan penyaluran bantuan pendidikan tersebut dilaksanakan pada Selasa, 19 Mei 2026, yang berlangsung secara terpisah di pesantren putri kawasan Sarirogo serta pesantren putra di Anggaswangi, Kabupaten Sidoarjo. Sebanyak 43 santri yatim turut hadir dalam proses simbolis penyerahan bantuan pendidikan tersebut dengan penuh rasa syukur. Kolaborasi ini merupakan bagian dari Program BESTARI (Beasiswa Yatim Berprestasi Yatim Mandiri), sebuah program yang diinisiasi oleh Yatim Mandiri untuk membantu pendidikan anak-anak yatim dhuafa agar tetap memiliki kesempatan meraih masa depan yang lebih baik melalui pendidikan. Dalam pelaksanaannya, program ini bersinergi bersama Dompet Al Qur’an Indonesia serta Baziskaf DAFI untuk membantu memenuhi kebutuhan pendidikan santri yatim di DAFI Pesantren Al Qur’an Science yang seluruh fasilitas pendidikannya diberikan secara gratis 100 persen sejak awal masuk pesantren. Ustadz Andy selaku Koordinator Baziskaf DAFI menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas terealisasinya bantuan pendidikan tersebut. “Alhamdulillah, terima kasih telah ikut berpartisipasi dan membantu dalam pendidikan santri-santri yatim kami yang memang sepenuhnya kita berikan fasilitas gratis 100 persen dari awal masuk. Semoga Allah cukupkan dan mampukan untuk memenuhi kebutuhan santri-santri kita ini ke depannya,” ujarnya. Sementara itu, Ibu Grace selaku perwakilan Yatim Mandiri yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan bahwa bantuan yang diberikan merupakan amanah dari para donatur yang peduli terhadap masa depan pendidikan anak-anak yatim. “Apa yang kami sampaikan hari ini merupakan amanah dari para donatur. Semoga bantuan ini dapat membantu pendidikan para santri yatim dan menjadi bekal yang bermanfaat untuk masa depan mereka,” tuturnya. Alif Fathin Nufail, santri kelas 7 yang hadir dalam prosesi simbolis tersebut, menyampaikan ucapan terima kasih secara sederhana. “Alhamdulillah, terima kasih. Jazakumullahu khairan katsiran,” ucapnya malu-malu di hadapan para tamu yang hadir. Di balik senyum dan ucapan syukur para santri, terdapat perjuangan besar yang terus mereka jalani setiap hari. Dengan setiap doa dan ikhtiar, para santri yatim di DAFI Pesantren Al Qur’an Science tetap bersemangat menuntut ilmu, menghafalkan Al-Qur’an, serta membangun cita-cita demi masa depan yang lebih baik. Kesempatan untuk ikut membersamai perjuangan para santri yatim penghafal Al-Qur’an ini pun masih terbuka lebar. Setiap bantuan yang diberikan bukan hanya menjadi dukungan pendidikan, tetapi juga bagian dari ikhtiar melahirkan generasi Qur’ani yang kelak membawa manfaat luas bagi umat. Semoga Allah SWT membalas setiap kebaikan para donatur, orang tua asuh, Yatim Mandiri, Dompet Al Qur’an Indonesia, Baziskaf DAFI, serta seluruh pihak yang telah turut mengambil bagian dalam memajukan pendidikan santri beasiswa di DAFI Pesantren Al Qur’an Science. Semoga dilimpahkan keberkahan rezeki, kemudahan dalam setiap urusan, kesehatan, serta pahala jariyah yang terus mengalir dari setiap ayat Al-Qur’an yang dihafalkan dan diamalkan oleh para santri. Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.

15 Juz dalam 3 Tahun, Farevo Santri Beasiswa Khatamkan Hafalan 30 Juz Al Qur’an

Kebahagiaan dan rasa haru menyelimuti prosesi setoran hafalan 30 juz Al-Qur’an yang dilaksanakan pada Jum’at, 8 Mei 2026 di Masjid Nabawi Pesantren DAFI Putra. Momen istimewa tersebut menjadi penanda tuntasnya perjalanan hafalan seorang santri beasiswa yatim, Farevo Ahmaddinejad bin Alm. Ahmad Mighfari, dalam menyelesaikan hafalan Al-Qur’an 30 juz. Farevo merupakan santri kelahiran Lamongan, 17 Februari 2008. Ia adalah putra kedua dari dua bersaudara. Sang kakak saat ini menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri Bandung, sementara Farevo menempuh pendidikan dan perjuangan menghafal Al Qur’an di Pesantren DAFI. Di balik capaian tersebut, tersimpan kisah perjuangan yang tidak mudah. Ayahanda Farevo wafat pada tahun 2010 akibat sakit tumor otak yang menyebabkan penglihatannya tidak lagi dapat difungsikan. Sejak saat itu, sang bunda berjuang membesarkan dan mendidik anak-anaknya seorang diri. Ibunda Farevo sendiri diketahui merupakan seorang guru di MI Muhammadiyah 6 Brondong, Lamongan. Momen setoran hafalan 30 juz Farevo semakin mengharukan karena dihadiri langsung oleh ibunda tercinta yang selama ini menjadi sosok utama penguat perjuangannya dalam menuntut ilmu dan menjaga hafalan Al-Qur’an. Farevo mulai menghafal Al-Qur’an sejak kelas 4 SD. Ketika masuk MA DAFI pada kelas 10, ia telah memiliki hafalan 15 juz. Dengan istiqamah dan lingkungan pesantren yang mendukung, hafalan tersebut akhirnya berhasil disempurnakan menjadi 30 juz. Dalam kesehariannya di pesantren, Farevo dikenal sebagai pribadi yang memiliki semangat tinggi. Ia memanfaatkan waktu sore dan selepas Isya untuk menambah hafalan, sementara waktu bada Subuh digunakan untuk murojaah. Di tengah kesibukan sebagai santri penghafal Al-Qur’an, Farevo juga memiliki hobi workout yang biasa dilakukan saat waktu senggang di pesantren. Farevo mengungkapkan bahwa motivasi terbesarnya dalam menghafal Al-Qur’an adalah mencari ridha Allah SWT serta berharap dapat memuliakan kedua orang tuanya di dunia maupun akhirat kelak. “Senang bisa mengkhatamkan hafalan 30 juz Al-Qur’an, namun di sisi lain saya merasa ada tanggung jawab besar terhadap setiap ayat yang dihafalkan. InsyaAllah ke depan saya berkomitmen untuk bisa tasmi’ setiap bulannya,” ungkap Farevo. Ia juga menyampaikan harapannya agar selepas dari pesantren dapat terus menjaga amal ibadah, mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, dan mencari lingkungan pergaulan yang mendukung dalam kebaikan ketika melanjutkan pendidikan di jenjang perguruan tinggi. Dalam proses menghafal, Farevo mengaku pernah merasakan lelah, putus asa, bahkan sempat tertarik dengan dunia luar. Namun, mengingat perjuangan sang bunda di rumah yang terus mendukung pendidikannya menjadi penguat untuk kembali meluruskan niat dan melanjutkan perjuangan menghafal Al-Qur’an. “Saya berikhtiar dan berdoa agar bisa menjadi sukses ke depannya sebagai bentuk terima kasih kepada kedua orang tua yang sudah memfasilitasi dan membantu saya sampai di titik sekarang,” tambahnya. Saat ini, Farevo tengah berikhtiar melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi Negeri dengan jurusan Ilmu Komunikasi. Ketertarikannya terhadap dunia komunikasi membuatnya bercita-cita menjadi seorang motivator di masa depan. Sebagai penerima beasiswa yatim, Farevo juga merasakan dukungan penuh dari lingkungan pesantren. Ia menyampaikan bahwa teman-temannya justru saling mendukung dalam keseharian, pelajaran, maupun hafalan Al-Qur’an tanpa adanya perundungan. Menurutnya, hal paling berkesan selama menempuh pendidikan di Pesantren DAFI adalah kualitas pembelajaran dan guru-guru yang sangat kompeten, serta pelayanan pesantren yang memperlakukan seluruh santri secara setara tanpa perbedaan. Bahkan, Farevo memberikan penilaian 4,8 dari 5 untuk pengalaman pendidikannya di pesantren. Di akhir wawancara, Farevo menyampaikan pesan kepada para penerima beasiswa lainnya agar terus semangat dan berikhtiar memberikan yang terbaik untuk Allah SWT, orang tua, dan para donatur yang telah membantu perjuangan pendidikan mereka. Ia juga memanjatkan doa khusus untuk seluruh donatur dan orang tua asuh yang telah membersamai perjuangannya: “Semoga selalu diberikan kesehatan, diberikan kelancaran rezeki, dilancarkan segala urusan, dan menjadi jalan kebaikan fiddunya wal akhirah.” Perjalanan Farevo menjadi penghafal 30 juz bukanlah akhir, melainkan awal dari tanggung jawab besar untuk menjaga dan mengamalkan Al-Qur’an sepanjang hayat. Di DAFI, masih banyak santri yatim dan dhuafa yang sedang berjuang menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an sebagaimana perjuangan yang telah dilalui oleh Farevo. Melalui program beasiswa pendidikan santri penghafal Al-Qur’an, Baziskaf DAFI mengajak seluruh elemen masyarakat, instansi, maupun perseorangan untuk turut memfasilitasi perjuangan para santri agar kelak tumbuh menjadi generasi Qur’ani yang membawa manfaat bagi umat, agama, bangsa, dan masa depan Islam.

Dari Telkom untuk Generasi Qur’ani: Bantuan Pendidikan untuk Santri Yatim Penghafal Al Qur’an Telah Tersalurkan

Senin, 27 April 2026, PT Telkom Indonesia Cabang Sidoarjo hadir di DAFI Pesantren Al Qur’an Science dalam rangka menyalurkan bantuan pendidikan bagi santri yatim penghafal Al-Qur’an. Kehadiran rombongan Telkom disambut hangat oleh keluarga besar pesantren, termasuk para santri yatim penerima beasiswa yang penuh antusias dan haru. Rangkaian kegiatan serah terima berlangsung khidmat dan penuh makna. Acara diawali dengan tasmi’ oleh Robi’atul Adawiyah Ramadhani santri yatim kelas 7 yang melantunkan beberapa potongan ayat dari Surat Al-Hasyr, menghadirkan suasana yang syahdu dan menyentuh hati. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari pihak pesantren dan PT Telkom Indonesia, sebelum ditutup dengan prosesi simbolis penyerahan bantuan. Dalam sambutannya, Ibu Annif Kustiyaningsih menyampaikan, “PT Telkom tahun ini hadir kembali untuk memberikan bantuan pendidikan untuk para anak-anak yatim. Meski tidak banyak, semoga bermanfaat.” Tidak sendirian, beliau hadir bersama rekan-rekannya, Bapak Bambang Pujo Laksono dan Bapak Fadli Afandi Putra, sebagai bentuk komitmen bersama dalam mendukung pendidikan generasi Qur’ani penerus Bangsa. Perwakilan pesantren, Ustadz Agus Supriyanto, turut menyampaikan apresiasi atas kepedulian yang diberikan. “Alhamdulillah, semoga ini menjadi wasilah PT Telkom semakin maju dan berkembang ke depannya,” ungkap beliau. Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis oleh pihak PT Telkom Indonesia dan diterima oleh Baziskaf DAFI sebagai Mitra Pengelola Zakat (MPZ) pesantren yang berikhtiar dalam mendukung pemenuhan beasiswa santri yatim dan dhuafa, serta berbagai program pendidikan di lingkungan pesantren. Di akhir kegiatan, Ustadz Andy selaku Koordinator Baziskaf DAFI menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas kontribusi yang diberikan. Bantuan ini dinilai sangat berarti dalam membantu memenuhi kebutuhan beasiswa pendidikan bagi para santri yatim. Sebagai penutup, doa terbaik dipanjatkan untuk PT Telkom Indonesia agar senantiasa diberikan keberkahan dalam setiap langkahnya, dilapangkan usahanya, dimudahkan dalam memberikan manfaat yang lebih luas, serta terus tumbuh menjadi perusahaan yang maju, kuat, dan membawa dampak kebaikan bagi masyarakat Indonesia. Melalui Baziskaf DAFI, pesantren juga membuka kesempatan seluas-luasnya bagi instansi maupun perseorangan yang ingin turut berkontribusi dalam mendukung pendidikan santri yatim dan dhuafa penghafal Al-Qur’an. Saat ini, terdapat 58 santri penerima beasiswa yang tengah berjuang menghafalkan Al-Qur’an dan meraih masa depan yang lebih baik. Dukungan yang diberikan tidak hanya menjadi bantuan materi, namun juga menjadi penyemangat bagi mereka untuk terus istiqamah dalam menjaga dan mengamalkan Al-Qur’an.

Penuh Berkah! Milad 26 Tahun DWP Provinsi Jawa Timur Berbagi dengan Penghafal Al Qur’an

Dalam rangka Milad ke-26, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Jawa Timur kembali menghadirkan program yang membawa kemaslahatan dan keberkahan bagi masyarakat luas. Pada Jumat penuh berkah, 5 Desember 2025, Keluarga Besar DWP Provinsi Jawa Timur yang dipimpin langsung oleh Ketua, Ibu Isye Sri Rahayu Adhi Karyono, A.Ks., M.Si, hadir di tengah-tengah santri Penghafal Al-Qur’an di DAFI Pesantren Al Qur’an Science. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Bakti Sosial Milad ke-26 yang menekankan nilai kepedulian, kebermanfaatan, serta dukungan nyata bagi pendidikan. Dalam kesempatan tersebut, santri yatim, dhuafa, dan santri berprestasi menerima bantuan paket sembako yang disiapkan melalui program sosial DWP. Ustadz Agus Hariadi, S.Pd.I Alhafiz selaku Mudir DAFI Pesantren Al Qur’an Science menyambut langsung kehadiran rombongan. Dalam sambutan singkatnya, beliau menceritakan sejarah berdirinya pesantren serta perkembangan program pesantren, termasuk penerima beasiswa yatim, dhuafa, dan santri berprestasi penghafal Al Qur’an.“Alhamdulillah, DAFI sampai sekarang masih berkontribusi dalam dunia pendidikan dengan memberikan kuota khusus 20% bahkan lebih untuk santri yatim atau dhuafa yang terkendala biaya namun memiliki tekad kuat menghafalkan Al-Qur’an,” ungkapnya. Pada kesempatan yang sama, Ibu Isye mewakili Pengurus Dharma Wanita Persatuan Provinsi Jawa Timur menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat yang diberikan pihak pesantren.“Terima kasih ustadz, sudah diterima dan disambut dengan baik. Semoga sedikit dari kami ini bisa membantu dan bermanfaat untuk para santri penghafal Al Qur’an, terutama yang yatim, dhuafa, dan berprestasi,” ujarnya memberi motivasi kepada seluruh santri yang hadir. Pertemuan singkat yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 09.00 WIB tersebut meninggalkan kesan mendalam, khususnya bagi keluarga besar DAFI Pesantren Al Qur’an Science. Ini menjadi pengalaman pertama bertemu langsung dengan para anggota DWP Provinsi Jawa Timur, sebuah perjumpaan yang membuka ruang silaturrahim sekaligus memperluas jejaring kebaikan antarlembaga. Kegembiraan juga dirasakan para santri penerima 70 paket bantuan. Fiorenza, salah satu santri yatim tingkat SMP, mengungkapkan rasa syukurnya.“Alhamdulillah ustadz, bisa membantu untuk memenuhi kebutuhan serta berbagi dengan teman-teman yang lain,” ucapnya penuh ceria. Hal serupa disampaikan Ihsan Ayyasy, santri yatim-piatu asal Surabaya, yang turut mendoakan keberkahan bagi seluruh keluarga besar DWP Provinsi Jawa Timur.“Semoga sehat selalu untuk seluruh Keluarga Besar Dharma Wanita Jawa Timur, khususnya para jajaran pengurus. Apa yang diberikan ini sangat bermanfaat dan sudah saya terima,” tuturnya. Ustadz Andy Setiawan, yang juga sebagai Koordinator Baziskaf DAFI yang membantu memfasilitasi kegiatan ini menutup dengan harapan dan doa terbaik, “Semoga Milad ke-26 Dharma Wanita Persatuan Provinsi Jawa Timur menjadi awal bagi semakin luasnya kiprah dan kebermanfaatan yang dihadirkan. Kami mendoakan seluruh pengurus dan keluarga besar DWP diberi kesehatan, kelancaran dalam setiap kegiatan, serta keberkahan dalam pengabdian,” demikian pungkasnya.

Tasmi’ 30 Juz Al Qur’an, Allah SWT Lancarkan Perjuangan Adinda Farida

Selama tiga hari penuh, dari tanggal 6 hingga 8 November 2025, suasana haru menyelimuti Pesantren DAFI Al Qur’an Science. Lantunan ayat suci bergema dari suara lembut Adinda Farida Zahiyyah Al Maghfiroh binti Alm. Desta Priyonggo Kurniawan, seorang santri beasiswa yatim yang berhasil menuntaskan tasmi’ 30 juz Al-Qur’an tanpa jeda berarti — sebuah pencapaian luar biasa yang tidak hanya menunjukkan kemampuan, tapi juga keteguhan hati dan cinta yang dalam kepada Al-Qur’an. Adinda adalah putri kedua dari tiga bersaudara, dibesarkan oleh ibunda yang berprofesi sebagai guru TK. Sejak kepergian ayahanda, kehidupan keluarganya dijalani dengan kesederhanaan dan penuh perjuangan. Namun di tengah keterbatasan itu, tumbuh tekad kuat dalam dirinya untuk menjadi hafizah. Ia mulai menekuni hafalan Al-Qur’an sejak pertama kali bergabung di DAFI pada jenjang SMP, dengan semangat untuk membahagiakan ibunda dan menjadi cahaya bagi keluarganya. Tasmi’ 30 juz dalam waktu tiga hari tentu bukan perjalanan mudah. Beberapa bagian hafalan, terutama di juz pertengahan (juz 16–25), menjadi tantangan tersendiri bagi Adinda. Ia sering membutuhkan waktu lebih lama untuk murojaah dan mengingat kembali ayat-ayat yang sempat terasa sulit. Namun setiap kali semangatnya mulai turun, ia selalu mengingat niat awalnya — untuk menuntaskan target tahfizh sebagai bentuk cinta kepada Al-Qur’an. Salah satu momen yang paling berkesan baginya adalah ketika banyak teman-teman dari kelas 10 dan 11 ikut hadir menyimak bacaan tasmi’-nya. Dukungan mereka menambah kekuatan dan menghadirkan suasana syahdu di tengah proses yang melelahkan. “Alhamdulillah, Allah mudahkan bisa menuntaskan tasmi’ 30 juz dalam waktu tiga hari. Rasanya senang sekali dan sangat bersyukur,” tutur Adinda lirih. Setelah menyelesaikan tasmi’, wajahnya tampak bersinar. Bagi Adinda, menjadi hafizah bukanlah tentang seberapa cepat menghafal, tetapi seberapa dalam bisa hidup bersama Al-Qur’an dalam keseharian. “Hafizah itu bukan hanya yang hafal, tapi yang tidak pernah lelah bersama Al-Qur’an. Yang penting bukan cuma hafal, tapi juga memahami dan mengamalkan,” ujarnya dengan mantap. Keberhasilan Adinda tidak lepas dari dukungan program beasiswa DAFI, yang menanggung penuh kebutuhan pendidikan dan pembinaannya. Melalui bantuan seorang Hamba Allah yang tergabung dalam program orang tua asuh, Adinda dapat fokus belajar, menghafal, dan menuntaskan hafalannya tanpa terbebani masalah biaya. Kini, setelah menyelesaikan tasmi’ 30 juz, Adinda bertekad untuk terus menjaga hafalan dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga menyampaikan pesan kepada para santri lain agar tidak menyerah dalam perjalanan mereka bersama Al-Qur’an — karena istiqamah selalu membutuhkan perjuangan, dan setiap huruf yang dijaga adalah jalan menuju keberkahan. Kisah Adinda menjadi cermin bahwa dari kesederhanaan, lahir keteguhan. Dari doa seorang ibu, tumbuh cahaya yang menerangi. Dan dari tangan-tangan para dermawan, lahir generasi Qur’ani yang akan terus menyalakan cahaya kebaikan di masa depan.

Berkontribusi! DAFI Raih Juara 2 Lomba Video PHBS Dinas Kesehatan Jawa Timur, Santri Beasiswa Turut Berpartisipasi

Bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional, keluarga besar DAFI Pesantren Al Qur’an Science menerima kabar bahagia. Dua santri beasiswa DAFI berhasil turut mengharumkan nama Kabupaten Sidoarjo dengan meraih Juara 2 dalam Lomba Video Iklan Layanan Masyarakat PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. Yang membuat pencapaian ini semakin istimewa, video tersebut melibatkan dua santri binaan penerima beasiswa DAFI di dalam tim intinya, yakni M. Raffka Alfarizi bin Alm. Dadang Herawan (asal Ciamis) dan Adinda Farida binti Alm. Desta Priyonggo (asal Sidoarjo). Raffka berperan sebagai talent utama, sementara Adinda turut menjadi bagian dari tim briefing talent putri. Keduanya mengaku bangga dan bersyukur atas hasil yang diumumkan pada momen spesial Hari Santri Nasional ini. “Alhamdulillah, mendapat kado spesial di Hari Santri Nasional,” tutur Raffka dengan penuh rasa syukur. Adinda pun mengungkapkan hal senada. Baginya, pengalaman ikut dalam produksi video berdurasi singkat namun sarat makna ini merupakan tantangan berharga. “Masyaallah ustadz, ini tantangan baru bagi kami dan alhamdulillah bisa memberikan yang terbaik,” ujar Adinda dengan senyum bangga. Menariknya, di tengah padatnya proses produksi yang berlangsung selama sepekan, kedua santri ini tetap istiqomah menjaga hafalan Al Qur’an. Baik Raffka maupun Adinda merupakan hafidz dan hafidzah 30 juz Al Qur’an yang terus rutin menyetorkan hafalan (setoran) dan melakukan murojaah setiap hari. “Bismillah ustadz, inginnya bisa tasmi’ hafalan 30 juz Al Qur’an sekali duduk di tahun ini,” tambah Adinda penuh semangat. Amanah dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dalam pembuatan video ini dijalankan secara optimal oleh tim pesantren, yang turut melibatkan para santri berprestasi dan penerima beasiswa. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa santri beasiswa DAFI tidak hanya unggul dalam hafalan Al Qur’an, tetapi juga memiliki kompetensi dan potensi di berbagai bidang. “Alhamdulillah, selamat dan terima kasih kepada Mas Raffka dan Mbak Adinda yang telah turut berkontribusi membawa nama baik pesantren dan Kabupaten Sidoarjo,” tutur Ustadz Andy Setiawan, Koordinator Baziskaf DAFI. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa mendukung pendidikan santri yatim dan penghafal Al Qur’an bukan hanya menghadirkan keberkahan bagi mereka, tetapi juga menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir bagi para donatur dan orang tua asuh. Melalui program beasiswa pendidikan penghafal Al Qur’an, banyak santri seperti Raffka dan Adinda yang dapat melanjutkan pendidikan, mengembangkan potensi, serta memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat. Mari menjadi bagian dari kebaikan ini — dukung pendidikan santri yatim penghafal Al Qur’an agar lebih banyak generasi berprestasi lahir dari DAFI Pesantren Al Qur’an Science.

Pendidikan Mereka, Merdeka Kita: Tanggung Jawab Kita yang Hidup Lebih Nyaman

Memperingati HUT Ke-80 Republik Indonesia, mari wujudkan kemerdekaan yang sesungguhnya — bukan hanya dari penjajahan, tetapi dari keterbatasan dalam pendidikan. 80 Tahun Merdeka, Tapi Belum Semua Anak Merasakan Pendidikan yang Merdeka Delapan dekade sudah Indonesia merdeka. Tapi apakah semua anak-anak negeri ini benar-benar telah merdeka dalam mengenyam pendidikan? Faktanya, berdasarkan data BPS dan UNICEF: Di saat sebagian dari kita merayakan kemerdekaan dengan meriah — ada anak-anak Indonesia yang sedang berjuang menghafal Al-Qur’an dalam keterbatasan. Kemerdekaan Bukan Sekadar Upacara, Tapi Soal Akses yang Setara Kemerdekaan yang hakiki adalah ketika setiap anak negeri punya hak dan peluang yang sama untuk belajar, tumbuh, dan bermimpi. Jika kita merdeka: Maka apakah kita tidak punya tanggung jawab untuk membantu mereka yang masih belum merdeka dalam pendidikannya? Kenapa Kita Harus Turut Ambil Peran? Jangan Biarkan Kemerdekaan Ini Jadi Milik Kita Saja Anak-anak ini tidak meminta belas kasihan.Mereka hanya ingin kesempatan yang sama, dan mungkin, uluran tangan dari Anda yang sudah lebih dulu merdeka. Mari rayakan Kemerdekaan ke-80 RI dengan berbagi makna dan kebermanfaatan.Karena ketika satu anak terbantu, satu masa depan telah diselamatkan. Bayangkan, di usia ke-80 Republik ini, Anda ikut mewarnai kemerdekaan dengan cara yang mulia:Membantu pendidikan anak-anak yatim dan dhuafa yang sedang menghafal Al-Qur’an. Bank Syariah Indonesia: 6677776062Konfirmasi: 081252479470

Bantuan Buku dan Pendidikan untuk Muhtadi, Kebaikan yang Mengalir Sepanjang Hari! Insyaallah

Di balik wajah tenangnya, Muhtadi Arif Dzakirah menyimpan tekad yang luar biasa. Santri penerima beasiswa yatim di DAFI Pesantren Al Qur’an Science ini tak hanya bercita-cita menjadi masinis, tapi juga ingin menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an. Saat ini, Muhtadi telah menyelesaikan 12 juz hafalannya dan tengah melanjutkan pendidikannya di jenjang MA DAFI, program Azhary (Timur Tengah), dengan tetap menerima beasiswa yatim dari DAFI. Muhtadi adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Ayahnya, almarhum Agus Riyadi, wafat ketika Muhtadi baru berusia dua tahun akibat tumor lambung. Sang ibu, Ibu Khusnul Khotimah, mengenang masa-masa sulit itu, ketika suaminya lebih sering dirawat di rumah sakit daripada berada di rumah. Saat itu, Muhtadi kecil bersama kakaknya bahkan sempat dititipkan ke saudara karena beratnya kondisi keluarga. Kini, Ibu Khusnul tinggal bersama Muhtadi dan satu kakaknya di sebuah kos sederhana di kawasan Petemon Kali, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya. Ia mengajar di sebuah TPQ dengan penghasilan Rp150.000, ditambah bantuan dari Kementerian Agama sebesar Rp700.000 per bulan. Jumlah itu harus cukup untuk memenuhi kebutuhan tiga orang dalam rumah tangga mereka. Meski ketiga anaknya yang lain telah menikah, mereka hanya bisa membantu sedikit karena juga masih berjuang secara ekonomi. “Semoga Muhtadi kelak bisa memperbaiki keadaan keluarga ini lewat Al-Qur’an dan pendidikan,” harap Ibu Khusnul. Tahun ajaran baru ini, kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi adalah buku pelajaran senilai Rp488.000. Namun di balik itu, terbuka pula kesempatan bagi para muhsinin untuk menjadi Orang Tua Asuh yang bersedia mendukung biaya pendidikan Muhtadi secara rutin tiap bulan. Ustadz Andy Setiawan, Koordinator Baziskaf DAFI, menyampaikan bahwa tahun ajaran depan DAFI menerima lebih dari 70 santri beasiswa yatim dan dhuafa. “Kami sangat terbuka untuk kolaborasi. Bantuan dari donatur individu maupun lembaga akan sangat berarti bagi keberlangsungan pendidikan dan penghafalan Al-Qur’an para santri seperti Muhtadi,” ungkapnya. Semoga semakin banyak tangan-tangan baik yang tergerak untuk membersamai perjuangan Muhtadi dan para santri lainnya dalam menapaki jalan cahaya Al-Qur’an. Karena satu kebaikan yang ditanam hari ini, bisa menjadi aliran pahala abadi hingga akhir hayat. Mari bantu pendidikan Muhtadi. Jadilah bagian dari kisah indah perjuangan santri yatim yang ingin menghafal Al-Qur’an dan mengubah masa depan keluarganya.

Haflah Akhir As-Sanah 2025: 45 Santri Beasiswa Buktikan Al-Qur’an Membuka Jalan Masa Depan

SMP dan MA DAFI Pesantren Al-Qur’an Science Sidoarjo kembali menggelar Haflah Akhir As-Sanah sebagai penanda selesainya masa pendidikan para santri sekaligus momentum istimewa untuk melepas mereka kembali ke pangkuan orang tua penuh rasa syukur dengan hadirnya 45 santri penerima beasiswa yang turut diwisuda—terdiri dari 28 santri jenjang MA dan 17 santri jenjang SMP. Ketua Dewan Pembina Yayasan Pondok Pesantren Darul Fikri Sidoarjo, K.H. Muhammad Sirot, S.Ag., M.M., dalam sambutannya menyampaikan bahwa DAFI adalah lembaga pendidikan yang terus mencetak prestasi dalam berbagai bidang, baik akademik, non-akademik, terlebih lagi di bidang Al-Qur’an. “Tenaga pendidik kami adalah orang-orang yang bekerja keras, cerdas, dan ikhlas dalam membimbing para santri menuju keberhasilan dunia dan akhirat,” ujarnya. K.H. Rofi’ Munawar, Lc., anggota Dewan Pengasuh, juga menegaskan bahwa ilmu pengetahuan tidak akan pernah bertentangan dengan Al-Qur’an. “Keduanya bersumber dari Allah SWT. Karena itu, santri DAFI tak hanya unggul dalam tahfidz, tetapi juga memiliki prestasi akademik yang membanggakan,” jelasnya. Salah satu momen yang paling menginspirasi dalam Haflah tahun ini datang dari para santri beasiswa. Andy Setiawan, S.Pd., Koordinator Baziskaf DAFI, menyampaikan rasa syukurnya menyaksikan keberhasilan mereka. “Alhamdulillah, senang, bangga, dan terharu memperhatikan mereka saat ini dan mengingat perjuangan mereka selama menempuh pendidikan serta menghafalkan Al Qur’an. Mereka bukan hanya berhasil secara akademik, tapi juga spiritual,” ungkapnya. Tak lupa, ia menyampaikan doa terbaik dan apresiasi setinggi-tingginya kepada para orang tua asuh, donatur, serta muhsinin yang telah istiqomah membantu perjuangan para santri yatim dan dhuafa melalui program beasiswa pendidikan di DAFI. Salah satu yang mencuri perhatian adalah Muhammad Faqih Al Zuhdi, santri kelas 12 MA dan juga penerima beasiswa. Dalam Haflah ini, Faqih mendapatkan challenge langsung dari para tamu undangan untuk menguji hafalan 30 juz-nya secara publik. Dengan penuh keyakinan dan izin Allah, Faqih mampu menjawab semua pertanyaan dengan lancar. “Alhamdulillah, dilancarkan dan dimudahkan oleh Allah SWT,” ucapnya dengan penuh syukur. Tak hanya hafal 30 juz, Faqih juga berhasil meraih sanad riwayat Imam Hafs dari Imam ‘Ashim yang ia peroleh dari ustadz Muhammad Taufiq, salah satu penjamin mutu hafalan Al-Qur’an di DAFI. Faqih juga telah menorehkan banyak prestasi, di antaranya menjadi juara tahfidz tingkat provinsi dan nasional, bahkan mendapat hadiah umroh serta kesempatan menyetorkan hafalan di Masjidil Haram. “Selama di tanah suci, Faqih tidak tertarik mengambil program city tour. Ia memilih fokus menyetorkan hafalan kepada Syeikh Al-Qur’an. Ini bentuk cinta yang tulus terhadap Al-Qur’an,” ungkap Kepala MA Darul Fikri, Angga Wahyu Wardana. Tahun ini, MA Darul Fikri meluluskan 103 santri, 45 di antaranya hafal 30 juz. Angka ini meningkat 37 persen dari tahun sebelumnya. Sementara itu, 76 lulusan sudah diterima di berbagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN), dan lima lainnya bersiap melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar, Kairo. Kepala SMP DAFI, Uswatun Aisah, S.Pi., S.Pd., menambahkan bahwa Haflah ini bukan hanya seremoni, tetapi penanda akhir dari fase pendidikan yang membentuk karakter dan kecintaan terhadap Al-Qur’an. “Kami ingin lulusan siap melanjutkan ke jenjang berikutnya, dengan bekal Al-Qur’an, ilmu, dan semangat nasionalisme,” tegasnya. Haflah Akhir As-Sanah tahun ini bukan hanya ajang pelepasan, tetapi juga bukti nyata bahwa dengan kerja keras, ketulusan, dan dukungan para muhsinin, generasi Qur’ani yang unggul dan berdaya saing global benar-benar bisa diwujudkan.

8 Tahun Perjuangan Reva: Dari Bangkalan, Diniatkan Menghafal 30 Juz Al-Qur’an

Di tengah sunyinya waktu subuh, ketika dunia masih terlelap, Tryza Revalina Rusadi sudah duduk bersimpuh di hadapan mushaf Al-Qur’an. Wajahnya penuh tekad, mengulang ayat demi ayat yang dihafalnya, tak ingin satu pun luput dari ingatannya. Gadis yang akrab disapa Reva ini bukan hanya santri biasa — ia adalah pejuang. Seorang yatim, penerima beasiswa, yang akhirnya berhasil mengkhatamkan hafalan 30 Juz Al-Qur’an setelah 8 tahun penuh semangat dan doa. Reva adalah putri ketiga dari empat bersaudara. Sejak ayahnya meninggal dunia karena sakit asam lambung saat ia duduk di kelas 3 SD, hidup keluarganya berubah drastis. Ibunya kini menghidupi keluarga dengan berjualan gorengan di Kalimantan Timur, sering dibantu oleh sang kakak sulung. Namun dari rumah yang sederhana itu, tumbuh cita-cita besar — menjadi penghafal Al-Qur’an yang mampu mengangkat derajat keluarga. Semangat itu tak pernah padam, terutama berkat dorongan luar biasa dari sang ibu. “Nak, jadilah penghafal Al-Qur’an. Karena insyaAllah, itu yang akan mengangkat derajat kita di dunia dan akhirat,” pesan ibunya yang masih terpatri dalam hati Reva hingga kini. Reva memulai hafalan sejak kelas 5 SD, dan melanjutkannya di SMP dan MA DAFI. Perjalanan itu tidak mudah. Ia sempat stagnan selama satu semester di juz 22, terutama di masa kelas 10 ketika hafalannya baru 9 juz. Fokusnya sempat goyah, rasa malas kerap mengintai, namun motivasi dari para ustadzah — terutama Ustadzah Ulya — membuatnya bangkit dan kembali kuat. Di pesantren, hari-hari Reva diisi dengan sesi menghafal yang disiplin: selepas subuh, di jam sekolah, dan setelah maghrib. Waktu selepas subuh menjadi favoritnya, karena suasana masih tenang dan hati terasa lebih jernih. “Kalau mengingat perjuangan ibu di rumah, saya tidak punya alasan untuk menyerah,” tutur Reva dengan mata berkaca-kaca. “Alhamdulillah, beasiswa ini sangat meringankan. Tanpa itu, mungkin saya sudah berhenti di tengah jalan karena tidak ingin membebani ibu di rumah.” Tak hanya hafalan Al-Qur’an, Reva juga menunjukkan prestasi akademik. Ia pernah meraih medali perunggu dan perak dalam Olimpiade Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Fiqih — sebuah bukti bahwa keterbatasan ekonomi tak menghalangi santri untuk tetap berprestasi. Kini, setelah mengkhatamkan hafalan 30 Juz, Reva punya cita-cita yang sederhana namun mulia: menjadi guru SD di kampung halamannya, Bangkalan. “Saya ingin memajukan pendidikan di sana. Semoga bisa jadi manfaat untuk banyak orang,” ungkapnya. Kepada para donatur, Reva menyampaikan doa yang tulus, “Terima kasih telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk kami. Semoga menjadi berkah, rezekinya lancar, dan menjadi wasilah keselamatan di dunia dan akhirat.” Reva percaya bahwa Al-Qur’an adalah sumber kekuatan hidupnya. Setiap kali ia merasa lelah atau tak tahu arah, ia membuka Al-Qur’an dan merenungi maknanya. “Al-Qur’an bukan hanya untuk dihafal, tapi menjadi pedoman dalam menghadapi hidup,” ujarnya. Program beasiswa yatim dan dhuafa penghafal Al-Qur’an seperti yang diterima Reva telah membuktikan diri sebagai investasi masa depan. Bukan hanya mencetak generasi Qur’ani, tetapi juga memberi harapan nyata bagi anak-anak yang terpinggirkan oleh keadaan. Mari Ambil Bagian dalam Perjuangan Mereka Masih banyak Reva-Reva lain di luar sana. Mereka punya semangat, mereka punya impian. Namun mereka butuh uluran tangan kita. Donasi Anda bukan hanya membantu biaya pendidikan, tetapi juga menanam pahala jariyah yang terus mengalir lewat hafalan dan amal mereka.Bersama kita bisa mencetak generasi penghafal Al-Qur’an yang kuat, cerdas, dan membawa cahaya untuk negeri ini. Salurkan donasi terbaik Anda melalui program beasiswa Yatim/Dhuafa Penghafal Al Qur’an.Karena setiap rupiah yang Anda berikan, akan mengalir bersama setiap huruf Al-Qur’an yang mereka lantunkan.