Dari Penghafal Al-Qur’an hingga Diterima di ITB: Perjalanan Inspiratif Fathimah, Santri Beasiswa Yatim MA DAFI

“Tidak ada keberhasilan yang cuma-cuma. Keberhasilan adalah sedikit keberuntungan yang didapat karena cerdas dan kerja keras selebihnya merupakan Ridho Allah SWT.”— Fathimah Khairun Nisa binti Alm. Ibnu Shobir , Santri Beasiswa Yatim DAFI, Penghafal 30 Juz Al-Qur’an Lolos ITB Jalur SNBP Di balik kampus bergengsi Institut Teknologi Bandung (ITB) yang menjadi impian banyak anak muda Indonesia, kini tercatat nama Fathimah, seorang santri penerima beasiswa dari Pesantren DAFI, sebagai salah satu mahasiswi barunya. Namun, lebih dari sekadar lolos seleksi nasional, Fathimah membawa cerita tentang iman, perjuangan, dan ketulusan yang layak mengetuk hati siapa pun. Fathimah bukanlah remaja biasa. Sejak usia 3 tahun, ia sudah mulai menghafal Al-Qur’an, mengikuti jejak kedua orangtuanya yang juga penghafal Kitabullah. Di tengah segala keterbatasan, termasuk kehilangan sang ayah yang sangat dicintainya, Fathimah tetap istiqamah menjaga hafalan, menuntut ilmu, dan berprestasi. “Yang paling sulit itu menjaga niat tetap lurus karena manusia itu punya fitrah ingin diakui. Tapi saya selalu diingatkan untuk menghafal hanya demi Allah,” kenangnya, menggambarkan perjuangan batin yang tak kalah berat dibanding beban akademik. Hingga pada suatu hari yang penuh haru, Fathimah menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an, menjadi yang pertama dalam keluarganya yang menuntaskannya. Namun, bagi Fathimah, hafal 30 juz bukanlah akhir, melainkan amanah besar yang harus terus dijaga dengan murojaah dan amal nyata. Sebagai santri aktif, Fathimah juga dipercaya menjadi ketua organisasi internal pesantren (OSIDAFI), aktif di Palang Merah Remaja, serta beberapa kali menjuarai lomba-lomba akademik dan non akademik, tingkat provinsi hingga Nasional. Semua pencapaian itu ia raih di tengah hidup sebagai santri penghafal Al-Qur’an, tanpa pernah menjadikan keadaan sebagai penghalang. “Abi saya sudah wafat, dan Saya ingin terus belajar agar itu menjadi pahala jariyah untuk beliau,” tuturnya sambil menahan haru. Atas prestasinya yang gemilang, Fathimah dinyatakan lolos Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) dan resmi diterima di Fakultas Sains dan Teknologi di ITB, kampus impian jutaan pelajar Indonesia. Namun perjuangan belum selesai. “Saya sangat bersyukur dan berterima kasih. Semoga Allah membalas kebaikan Bapak dan Ibu yang telah menjadi bagian dalam jihad saya menuntut ilmu wabil khusus pak Herman dan keluarga yang membantu secara penuh kebutuhan pendidikan setiap bulannya,” ucapnya penuh rasa syukur. Koordinator Baziskaf DAFI, Ustadz Andy Setiawan, menegaskan bahwa Fathimah hanyalah satu dari sekian banyak anak yatim dan dhuafa penghafal Al-Qur’an yang sedang berjuang mewujudkan mimpi mereka di pesantren. “Kami bersyukur ada para donatur yang bersedia menjadi Orang Tua Asuh. Tanpa mereka, pendidikan seperti ini hanyalah mimpi bagi anak-anak beasiswa kami,” ungkapnya. Mari Jadi Bagian dari Perjalanan Mereka Bersama Baziskaf DAFI, Anda bisa mengambil bagian dalam mencetak generasi Qur’ani yang cerdas, berakhlak, dan berkontribusi nyata untuk negeri. Seperti Fathimah, masih banyak santri yatim dhuafa lainnya yang menanti uluran tangan Anda agar mereka tetap bisa belajar, menghafal, dan mengejar cita-cita mulia. Donasi Anda adalah cahaya dalam gelap, adalah ilmu dalam perjuangan, adalah bekal bagi masa depan bangsa. Yuk, Ambil Bagian menjadi Orang Tua Asuh.Karena satu kebaikan Anda, bisa mengubah hidup satu generasi.

Pesan Sang Ayah Jadi Obor Semangat, Hafalan Al Qur’an Aziziah Tuntas!

Sidoarjo – Di balik wajah teduh dan sikap pemalunya, siapa sangka seorang Aziziah Lauqil Izza Aqila yang merupakan santri yatim ini telah berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an pada Rabu, 30 April 2025. Perjalanan panjang penuh tantangan itu kini membuahkan hasil manis: rasa lega dan syukur mendalam, serta semangat baru untuk meraih cita-cita menjadi dokter spesialis bedah. Aziziah ini merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Sejak ayahnya wafat, sang ibu menjadi tulang punggung keluarga, bekerja di bidang properti di Banyuwangi. Kakaknya menjalani homeschooling dan menjadi salah satu sosok yang setia mendampingi serta menyemangatinya dalam menghafalkan Al Qur’an. “Pesan Ayah yang Tak Pernah Terlupa” Motivasi utama untuk menghafal Al-Qur’an berasal dari sosok sang ayah almarhum. “Ayah dulu sering berpesan untuk jangan pernah tinggalkan hafalan Al-Qur’an,” ungkapnya. Pesan itu menjadi nyala semangat yang tak padam, meski perjuangannya tidak selalu mulus. Di saat banyak santri menikmati waktu santai akhir pekan, ia justru harus melawan rasa malas karena tidak ada jadwal setor hafalan. Dengan inisiatif pribadi, ia menjadwalkan hafalan tambahan bersama ustadzah, sebuah kedewasaan yang tumbuh dari tekad dan tanggung jawab. Pernah pula semangatnya goyah ketika hafalan baru mencapai 8 juz. Rasa jenuh dan ingin menyerah sempat melanda, namun dukungan luar biasa dari sang ibu dan kakaknya kembali menguatkannya. “Bersyukur Dikelilingi Orang-Orang Baik” Dalam prosesnya, ia sangat bersyukur karena pesantren dan para asatidzah selalu membuka ruang untuk mendengarkan hafalannya, bahkan di luar jam pelajaran formal. “Saya senang ada banyak orang yang peduli dan membantu dalam pendidikan saya,” tuturnya dengan lirih. Meski memiliki sifat pemalu, ia menyadari bahwa dukungan donatur-lah yang membuat langkahnya sampai sejauh ini. Kini, setelah menyelesaikan hafalan 30 juz, ia tengah fokus menghadapi ujian sekolah. Targetnya adalah melanjutkan kuliah di Universitas Airlangga Surabaya dan meraih cita-cita sebagai dokter spesialis bedah. “Jangan Berpuas Diri, Jaga Hafalan Itu Lebih Berat” Di akhir, ia menyampaikan pesan menyentuh untuk teman-teman seperjuangannya, “Jangan mudah berpuas diri hanya karena sudah hafal 30 juz. Justru tantangan lebih besar adalah menjaganya lewat murojaah.” Mari Jadi Bagian dari Perjalanan Hebat Mereka Kisah ini hanyalah satu dari sekian banyak santri yatim yang mengukir prestasi dan menebar cahaya dari Al-Qur’an. Dukungan Anda sebagai donatur sangat berarti dalam mendampingi mereka menapaki jalan penuh harapan. Karena di balik setiap hafalan, ada doa, kerja keras, dan uluran tangan Anda yang menyelamatkan masa depan.Yuk, terus dukung perjuangan mereka. Karena dari pesantren ini insyaallah akan lahir pemimpin besar untuk umat nantinya.

Ramadan Berkah! BSI Cabang Pondok Candra Sidoarjo Salurkan Bantuan Pendidikan Santri Yatim Penghafal Al-Qur’an

Sidoarjo – Bank Syariah Indonesia (BSI) Cabang Pondok Candra, Sidoarjo, menyalurkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) sebesar Rp38 juta untuk membantu pendidikan santri yatim penghafal Al-Qur’an di DAFI Pesantren Al Qur’an Science pada 25 Maret 2025 yang didalamnya terdapat 71 santri penerima beasiswa pendidikan 100%. Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Bapak Teguh Kepala Cabang BSI Pondok Candra kepada Koordinator Penghimpunan dan Penyaluran bantuan pesantren dalam pertemuan sederhana namun penuh makna. Dana ini akan digunakan untuk mendukung kebutuhan pendidikan para santri, seperti biaya sekolah, makan santri, serta kebutuhan lainnya. “Kami berharap bantuan ini bisa memberikan manfaat nyata bagi para santri yatim yang tengah berjuang dalam menuntut ilmu dan menghafal Al-Qur’an. Ini merupakan wujud komitmen BSI untuk berkontribusi membangun generasi Qur’ani yang berdaya saing tinggi,” ujar Bapak Teguh dalam obrolannya. Andy Setiawan, sebagai Koordinator Penghimpunan dan Penyaluran bantuan pesantren, mengucapkan terima kasih atas dukungan dari BSI. Ia menyampaikan bahwa bantuan ini sangat berarti dalam memperlancar proses pendidikan para santri yatim yang menjadi tulang punggung masa depan umat. Program ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan CSR BSI yang berfokus pada bidang sosial, pendidikan, dan keagamaan, sesuai dengan visi BSI untuk menjadi bank syariah pilihan utama masyarakat.