9 Shafar 1448 H – QS. Al Fajr: 15 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science)
Saudara sekalian, Beriman pada takdir Allah adalah rukun iman keenam. Ini berarti meyakini sepenuh hati dan sepenuh fikiran bahwa segala sesuatu yang terjadi baik atau buruk, nikmat atau ujian, telah ditetapkan oleh Allah sejak zaman azali. Meski telah tertulis di Lauh Mahfuz, manusia tetap wajib berikhtiar, bertawakkal dan bersangka baik.
Mengimani takdir secara benar bukanlah sikap pasrah yang membuat manusia malas (fatalistik). Sebaliknya, hal tersebut akan melahirkan sikap optimis, karena seorang Muslim sadar Allah tidak menyiakan setiap usaha dan selalu menyerahkan hasil usahanya pada Allah.
Saat mendapatkan nikmat, jalani dengan rasa syukur, lalu sempurnakanlah hak hak dari kesyukuran. Hindari sifat sombong karena setiap kesuksesan datangnya dari Allah. Saat menghadapi musibah, jalani dan motivasi mental dengan kesabaran serta keikhlasan, karena di setiap musibah yang kita dapat, ada musibah lebih berat yang sedang menimpa orang lain.

Seringkali kita salah saat membaca takdir, padahal setiap takdir adalah tanda pertolongan Allah. Sewajibnya kita harus membaca takdir dengan Bashiroh Rabbaniyah, agar tak terjebak nafsu lalu menjadi Salah Baca, hingga memaknainya dengan cara sebagai berikut :
- Ketika mendapat kesenangan tidak menghubungkan pada Allah, dan lupa pada prinsip “Hadza min fadhli Rabbi“. Tetapi hati hatilah, karena dengan prinsip tersebut, terkadang kita juga suka terbawa kesombongan dan merasa Allah sedang memuliakan kita, padahal bisa jadi itu jebakan ujian kesenangan.
- Ketika mendapat kesulitan langsung menghubungkannya pada Allah dan berkata : “Fa ainallah”, padahal seharusnya “Fa aina nahnu?” Kita menuduh Allah menghukum kita, padahal bisa jadi itu bentuk kasih sayang dan penjagaan Allah pada kita.
Mintalah pada Allah untuk mengangkat musibah, dan mintalah pula agar kuat menanggung anugrah, maka Allah akan meresponnya. Jangan merasa mampu menyelesaikan masalah kita sendiri hingga kita kehilangan nikmatnya merasakan pertolongan Allah SWT dan hendaknya selalu yakin bahwa setiap ketetapan Allah pasti mengandung hikmah terbaik.
اللَّهُمَّ رَضِّنِي بِقَضَائِكَ وَصَبِّرْنِي عَلَى بَلَائِكَ وَأَوْزِعْنِي شُكْرَ نِعَمَائِ
“Ya Allah, jadikanlah aku ridha dalam menerima qadha (ketentuan)-Mu, dan berikanlah kesabaran kepadaku atas bala (ujian)-Mu, serta berilah aku kemampuan untuk mensyukuri nikmat-nikmat-Mu.”
(@msdrehem)