Merdeka Karena Bahagia

30 Shafar 1448 H – QS. At Taubah: 33 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudara sekalian, Banyak yang membayangkan bahwa kekayaan, kemewahan, popularitas, jabatan atau kekuasaan adalah kebahagiaan yang ditujunya. Seakan dengan itu semua, orang lain akan memuliakannya bahkan tunduk, sehingga dengan itu ia bahagia. Anggapan tersebut hanyalah ilusi belaka. Sebab kenyataannya, hidup manusia banyak yang bermula, dijalani dan diakhiri dalam rimba masalah, dimulai dari masalah pribadi, keluarga, pekerjaan dan sosial. Dalam pandangan agama, bahagia itu di dapatkan melalui kemampuan seorang hamba untuk mengenal, mengabdi (beriman) dan dekat dengan Allah SWT, sehingga dzikir terlantun secara otomatis dan menjadi habit (kebiasaan). Orang beriman tidak mesti selalu tertawa lepas karena bebas dari masalah dunia. Mereka memiliki ketenangan batin yang stabil karena kebahagiaannya berakar dari : Indikasi Kebahagiaan orang Beriman; Cukup Allah saja buatku. Allah ada, ada Allah. Aku bahagia dan merdeka! اللهم إني أسألك نفساً بك مطمئنة، تؤمن بلقائك، و ترضى بقضائك، و تقنع بعطائك Ya Allah, aku memohon kepada-MU jiwa yang merasa tenang kepada-MU, yang yakin akan berjumpa dengan-MU, yang ridlo dengan ketetapan-MU, dan yang merasa cukup dengan pemberian-MU.. (@msdrehem)

Pendidikan Mereka, Merdeka Kita: Tanggung Jawab Kita yang Hidup Lebih Nyaman

Memperingati HUT Ke-80 Republik Indonesia, mari wujudkan kemerdekaan yang sesungguhnya — bukan hanya dari penjajahan, tetapi dari keterbatasan dalam pendidikan. 80 Tahun Merdeka, Tapi Belum Semua Anak Merasakan Pendidikan yang Merdeka Delapan dekade sudah Indonesia merdeka. Tapi apakah semua anak-anak negeri ini benar-benar telah merdeka dalam mengenyam pendidikan? Faktanya, berdasarkan data BPS dan UNICEF: Di saat sebagian dari kita merayakan kemerdekaan dengan meriah — ada anak-anak Indonesia yang sedang berjuang menghafal Al-Qur’an dalam keterbatasan. Kemerdekaan Bukan Sekadar Upacara, Tapi Soal Akses yang Setara Kemerdekaan yang hakiki adalah ketika setiap anak negeri punya hak dan peluang yang sama untuk belajar, tumbuh, dan bermimpi. Jika kita merdeka: Maka apakah kita tidak punya tanggung jawab untuk membantu mereka yang masih belum merdeka dalam pendidikannya? Kenapa Kita Harus Turut Ambil Peran? Jangan Biarkan Kemerdekaan Ini Jadi Milik Kita Saja Anak-anak ini tidak meminta belas kasihan.Mereka hanya ingin kesempatan yang sama, dan mungkin, uluran tangan dari Anda yang sudah lebih dulu merdeka. Mari rayakan Kemerdekaan ke-80 RI dengan berbagi makna dan kebermanfaatan.Karena ketika satu anak terbantu, satu masa depan telah diselamatkan. Bayangkan, di usia ke-80 Republik ini, Anda ikut mewarnai kemerdekaan dengan cara yang mulia:Membantu pendidikan anak-anak yatim dan dhuafa yang sedang menghafal Al-Qur’an. Bank Syariah Indonesia: 6677776062Konfirmasi: 081252479470