12 Jumadil Awwal 1448 H – QS. Qaf : 18 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science)
المسلم من سلم المسلمون من لسانه و يده
“Seorang Muslim sejati adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR.Bukhari dan Muslim)
Saudara sekalian,
Menjaga lisan (tulisan) adalah bagian penting dari akhlak mulia dalam Islam. Lisan (tulisan) bisa memasukkan manusia ke surga atau menjerumuskan selama puluhan tahun ke neraka, karena setiap ucapan manusia tidak pernah luput dari pengawasan Allah SWT dan akan dipertanggungjawabkan kelak. Perintah menjaga lisan agar selamat, selaras dengan keharusan menjaga tangan (tulisan) agar tidak mengundang celaka bagi diri dan orang lain, di dunia dan di akhirat.
Bahaya Lisan dan tulisan yang Harus Dihindari:
- Ghibah (menggunjing): Diawali dengan prasangka buruk, kemudian mencari kesalahan orang untuk membenarkan diri hingga dilanjutkan dengan menceritakan keburukan orang lain, dalam Alqur’an diibaratkan memakan daging saudaranya sendiri (49 : 12)
- Fitnah dan Dusta: Menyebarkan berita bohong (tuduhan palsu tanpa tabayyun) karena kebodohan atau karena sengaja, yang dampaknya lebih kejam daripada pembunuhan fisik, karena terbunuhnya karakter seringkali lebih menyiksa dari pada pembunuhan secara fisik (49 : 6 dan 2 : 191).
- Perkataan (tulisan) sia-sia: Berbicara (menulis) hal yang tidak bermanfaat, menghina, atau berbantah-bantahan yang tidak perlu (4 : 114).
- Fenomena Muflis (orang bangkrut): Seseorang yang membawa pahala sholat, puasa, dan zakat, tetapi di akhirat pahalanya habis untuk membayar dosa lisan (tulisan) yang mengandung caci maki atau mencela dan suka menuduh atau menfitnah orang lain (HR.Muslim).
Cara menjaga lisan (tulisan):
- Berpikir Sebelum Berbicara (menulis): Tanyakan pada diri sendiri: apakah perkataan atau tulisan ini benar, penting, dan tidak menyakiti orang lain?
سَلَامَةُ الْإِنْسَانِ فِي حِفْظِ اللِّسَانِ
“Keselamatan manusia terletak pada kemampuannya menjaga lisannya.” (Pepatah Arab) - Memilih Diam: Jika tidak mampu berkata-kata (menulis) yang baik, lebih baik diam agar selamat dari dosa.
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR.Bukhari dan Muslim). - Memperbanyak Dzikir: Mengisi waktu dengan membaca Al-Qur’an, beristighfar, dan memuji Allah SWT, sebagai pencegah dari mudahnya lisan untuk berkata dan pencegah tangan menulis yang sia sia juga salah.
Marilah kita jadikan lisan dan tulisan sebagai wasilah penyebaran kebaikan, menghindari keburukan, dan selalu berusaha benar sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan hadits.
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.”
(@msdrehem)