Berkesempatan Umroh, Santri Beasiswa DAFI Diuji Hafalan di Makkah!

Perjalanan menuju Tanah Suci mungkin menjadi impian banyak orang. Namun bagi Adinda Farida Zahiyyah Al Maghfiroh binti Alm. Desta Priyonggo Kurniawan, kesempatan itu hadir sebagai hadiah tak terduga setelah bertahun-tahun menjaga hafalan Al-Qur’an dengan penuh kesungguhan. Santri binaan beasiswa Pesantren DAFI ini baru saja kembali dari ibadah umroh yang dijalaninya pada Maret 2026 lalu. Perjalanan spiritual tersebut menjadi momen yang begitu membekas dalam hidupnya, terlebih karena sebelumnya ia tidak pernah membayangkan bisa menginjakkan kaki di Tanah Suci di usia yang masih muda. Adinda telah menempuh pendidikan di Pesantren DAFI sejak tingkat SMP dan kini duduk di bangku kelas 11. Selama kurang lebih enam tahun belajar di pesantren, ia berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an dan mentasmi’kannya tanpa melihat mushaf selama tiga hari. Saat ini, Adinda juga telah memasuki tahap pengambilan sanad. Di balik pencapaian tersebut, tersimpan perjuangan panjang yang tidak mudah. Tinggal bersama bunda dan dua saudaranya, Adinda mengaku tantangan terbesar selama di pesantren adalah membagi waktu antara kegiatan sekolah, aktivitas asrama, dan murojaah hafalan. “Manajemen waktu dengan belajar dan kegiatan di asrama maupun sekolah menjadi tantangan terbesar,” ungkapnya. Namun proses itulah yang perlahan membentuk dirinya menjadi pribadi yang terus bertumbuh. Bagi Adinda, kebahagiaan sederhana justru hadir saat dirinya mampu memahami pelajaran dengan baik dan membantu teman-temannya yang belum mengerti. “Ketika bisa memahami materi dengan baik, mendapat nilai maksimal, dan membantu mengajarkan teman yang belum paham, itu rasanya bahagia sekali,” tuturnya. Di tengah kesibukannya sebagai santri penghafal Al-Qur’an, Adinda tetap menikmati hal-hal sederhana. Ia gemar membeli jajanan ringan dan saling berbagi, mencuci baju sendiri, dan memiliki hobi bersih-bersih di waktu yang luang. Kesempatan umroh yang datang kepadanya pun bermula dari sebuah kabar tak terduga. Saat itu, bunda Adinda mendapat telepon dari salah satu lembaga sosial yang sedang mencari hafidzah yatim untuk diberangkatkan umroh. Kabar tersebut pertama kali disampaikan sang bunda melalui telepon kepada wali kamar pesantren. Reaksi Adinda saat mendengarnya masih begitu membekas dalam ingatannya. “Kaget, tidak menyangka, dan langsung menangis,” kenangnya. Perjalanan umroh yang telah dijalaninya kini menjadi pengalaman spiritual yang sangat berharga. Bagi Adinda, umroh bukan sekadar perjalanan ibadah, tetapi juga menjadi jalan untuk membersihkan jiwa, menambah keimanan, dan meningkatkan kenikmatan dalam beribadah kepada Allah SWT. Salah satu momen yang paling berkesan baginya selama di Tanah Suci adalah keinginannya untuk menyetorkan hafalan 30 juz kepada syaikhah. Meski saat itu ia baru sempat menjalani tes hafalan secara acak, pengalaman tersebut tetap menjadi kenangan yang sangat berarti. Selain memperbanyak ibadah, Adinda juga merasakan kebahagiaan bisa menyaksikan langsung kota Makkah dan Madinah yang selama ini hanya ia dengar dari cerita dan pelajaran. Dalam doa-doanya di depan Ka’bah, Adinda memohon agar Allah memutqinkan hafalan 30 juznya, memberikan kesuksesan dunia akhirat, serta mengumpulkan kedua orang tua dan keluarganya di surga Firdaus. Tak lupa, ia juga menitipkan doa untuk para donatur yang telah membersamainya selama proses belajar di Pesantren DAFI. “Saya ingin mendoakan keluarga, teman-teman, dan para donatur yang sudah membantu proses belajar saya di DAFI,” ujarnya. Kisah Adinda menjadi bukti bahwa setiap dukungan yang dititipkan para donatur tidak pernah sia-sia. Dari bantuan yang diberikan, lahirlah generasi penjaga Al-Qur’an yang terus tumbuh membawa harapan dan keberkahan. Sepulang dari umroh, Adinda berharap bisa menjadi pribadi yang lebih baik, lebih sabar, dan lebih berbaik sangka kepada Allah SWT. Ia juga bercita-cita melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri jurusan Kesehatan Masyarakat. Di akhir ceritanya, Adinda menyampaikan pesan sederhana untuk siapa pun yang sedang berjuang dalam keterbatasan. “Selalu berharap hanya kepada Allah, mensyukuri nikmat-nikmat-Nya, dan selalu berprasangka baik kepada Allah SWT.” Satu kalimat yang paling menggambarkan perjalanan hidupnya hingga hari ini pun terasa begitu menenangkan: “Semua yang sudah terjadi adalah atas kehendak Allah dan itu yang terbaik.”

Sinergi YDSF dan Dompet Al Qur’an Indonesia Hadirkan Harapan untuk Santri Yatim Penghafal Al Qur’an DAFI

Dalam semangat kolaborasi kebaikan dan kepedulian terhadap masa depan generasi penghafal Al Qur’an, Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) bersinergi bersama Dompet Al Qur’an Indonesia untuk menyalurkan program beasiswa pendidikan kepada 46 santri yatim penghafal Al Qur’an di DAFI Pesantren Al Qur’an Science, yang tersebar di jenjang SMP dan MA. Penyaluran beasiswa ini dilaksanakan pada Senin, 28 Juli 2025, secara serentak namun terpisah di dua lokasi pesantren, yakni di Pesantren Putra, Jl. Putra Bangsa RT.01 RW.01, Anggaswangi, Sukodono, dan Pesantren Putri di Sarirogo, RT.14 RW.03, Sidoarjo. Dengan total nilai bantuan sebesar 46 juta rupiah, program beasiswa ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antar lembaga kebaikan mampu membuka akses pendidikan dan pengasuhan yang layak bagi anak-anak yatim yang tengah berjuang menjadi para penjaga Kalamullah. Beasiswa yang diberikan akan langsung disalurkan kepada pihak pesantren untuk membiayai kebutuhan santri selama menempuh pendidikan di DAFI, meliputi makan harian, pendidikan sekolah formal, program tahfidz, kepengasuhan, hingga kebutuhan penunjang lainnya. “Kami sangat bersyukur atas bantuan dari Dompet Al Qur’an Indonesia dan YDSF. Bantuan ini benar-benar meringankan pesantren dalam memberikan pendidikan terbaik bagi para santri yatim. Kami doakan semoga para donatur dan muhsinin yang menyisihkan hartanya mendapat pahala jariyah yang terus mengalir hingga Yaumil Hisab,” tutur Ustadz Andy Setiawan, perwakilan pihak DAFI saat menerima bantuan tersebut. Di sisi lain, Ustadz Baihaqi, perwakilan YDSF untuk wilayah Kabupaten Sidoarjo, menyampaikan harapan kepada para santri agar tetap teguh dalam perjuangannya sebagai penjaga Al Qur’an. “Kami berharap, adik-adik santri yang menerima beasiswa ini senantiasa semangat dalam belajar, menghafal, dan meraih cita-cita. Kelak, kalian akan menjadi penerus bangsa yang bukan hanya cerdas, tapi juga membawa cahaya Qur’an dalam hidup dan masyarakat,” ujarnya. Program ini menjadi pengingat bahwa berbagi tak harus menunggu cukup, dan mendukung pendidikan santri yatim penghafal Al Qur’an adalah investasi terbaik yang tak lekang oleh waktu. Sinergi Dompet Al Qur’an Indonesia dan YDSF adalah contoh bahwa kerja sama antar lembaga sosial mampu menjangkau lebih banyak penerima manfaat dengan lebih tepat sasaran.

Quinn Jabbar Maulana, Santri Beasiswa Pimpin Tim dalam International Culture Exchange bersama Pelajar Jepang

Semangat kolaborasi lintas budaya dan peningkatan kapasitas diri ditunjukkan oleh para santri SMP DAFI Pesantren Al-Qur’an Science dalam kegiatan International Culture Exchange Program yang digelar secara daring bersama para pelajar dari Ishimine Junior High School, Okinawa, Jepang. Kegiatan ini menjadi bagian dari program bilingual SMP DAFI yang bertujuan mengasah kemampuan berbahasa Inggris sekaligus memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia internasional. Dengan menggandeng Miss Minori, perwakilan resmi World Classroom dari Jepang, kegiatan ini berlangsung interaktif dan penuh antusiasme pada hari Rabu, 18 Juni 2025. Yang menjadi sorotan inspiratif dalam kegiatan ini adalah peran Quinn Al Jabbar, santri kelas 8 sekaligus penerima beasiswa di DAFI Pesantren Al Qur’an Science, yang ditunjuk sebagai Koordinator Tim World Classroom dari santri putra. Penunjukan ini bukan tanpa alasan. Sosok yang akrab disapa Mas Jabbar ini dikenal sebagai figur muda yang disiplin, komunikatif, dan mampu memimpin dengan teladan. Sebagai Ketua OSIS SMP DAFI Putra, Mas Jabbar telah menunjukkan kepemimpinan yang matang di usia remaja. Dalam kegiatan International Culture Exchange ini, ia memimpin rekan-rekannya sejak masa persiapan, pembekalan, hingga hari pelaksanaan dengan penuh tanggung jawab dan profesionalisme. “Alhamdulillah seluruh tim di bawah kepemimpinan Mas Jabbar dapat dikondisikan dengan baik dan sesuai instruksi yang telah diberikan oleh para guru Bahasa Inggris,” ungkap Ustadz Rukhan, guru Bahasa Inggris sekaligus pembina kegiatan ini. Program ini juga menjadi salah satu pencapaian nyata dari goal pengembangan program bilingual DAFI. Para santri tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi mampu mempraktikkan langsung kemampuan bahasa Inggris mereka dalam forum internasional. “Alhamdulillah, ini adalah langkah awal yang membanggakan dalam mengenalkan para santri SMP DAFI pada forum pertukaran budaya internasional,” tutur Ustadz Lukman Setiawan, guru pembimbing. Kegiatan ini membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah halangan untuk berprestasi. Melalui dukungan beasiswa dan lingkungan pendidikan yang kondusif di DAFI, santri seperti Quinn Al Jabbar mampu tumbuh menjadi sosok yang unggul, baik secara akademik, spiritual, maupun kepemimpinan. DAFI Pesantren Al Qur’an Science terus berkomitmen mencetak generasi penghafal Al-Qur’an yang berwawasan global. Dengan mengintegrasikan program tahfidz, kepemimpinan, dan penguasaan bahasa asing, DAFI membuka peluang lebih luas bagi para santri untuk menjadi agen perubahan umat yang berkualitas, beradab, dan mendunia.