Mempertahankan Dan Meningkatkan Rasa Syukur

6 Rabi’ul Akhir 1448 H – QS. Ibrahim: 7 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang”. (QS.An-Nahl : 18) Saudara sekalian,Allah SWT selalu melimpahkan nikmat-Nya setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, setiap tahun dan setiap saat selama kita masih diberikan hidup di dunia ini. Mulai dari bangun tidur di pagi hari hingga kita memejamkan mata untuk tidur kembali di malam hari, nikmat Allah, selalu membersamai hamba-NYA. Selain melakukan sujud syukur saat doanya untuk bisa memberi syafaat pada umat Islam terkabul, Nabi SAW juga mengekspresikan rasa syukurnya dengan melakukan shalat malam hingga kakinya bengkak karena dosanya dihapus Allah SWT. Nikmat Allah tidak hanya dalam bentuk materi saja. Kesehatan fikiran, fisik dan mental, waktu luang, keluarga, teman dan lingkungan yang baik, juga termasuk dalam nikmat Allah SWT yang harus disyukuri. Bahkan terkadang, sesuatu yang diawal nampak sebagai penderitaan, sebenarnya merupakan kenikmatan berupa penjagaan dan penguatan dari Allah. Karena itu bersabarlah lalu bersyukurlah. “Seorang mukmin itu sungguh menakjubkan, karena setiap perkaranya itu baik. Namun tidak akan terjadi demikian kecuali pada seorang mu’min sejati. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ia tertimpa kesulitan, ia bersabar, dan itu baik baginya. ” [HR.Muslim]. Manfaat Bersyukur Pada Allah SWT: Penyebab Hilangnya Rasa Syukur: Agar Hidup Penuh Rasa Syukur: Ekspresi rasa syukur tak cukup hanya dibenarkan di hati dan ucapan lisan saja. Selain melakukan sunnah sujud syukur, relakan diri untuk berbagi nikmat kepada sesama. Ya Rahman.., karuniakan kami nikmat hati yang selalu bersyukur dan mampu meningkatkan rasa syukur. (@msdrehem)

Mewaspadai Prasangka Buruk

8 Rabi’ul Awwal 1448 H – QS. Al Hujurat: 12 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudara sekalian, Menilai seseorang secara subyektif hingga berprasangka buruk adalah ciri dari mental dan fikiran yang tidak sehat. Seseorang yang berprasangka buruk biasanya selalu mencari-cari kesalahan dari saudara nya dan kemudian dilanjut dengan cara menggunjing kemana mana, menjatuhkan namanya, berkedok curhat dan seolah mengingatkan orang lain, agar selamat dari keburukan yang digunjingi. Imam al-Qurthubi mengatakan bahwa, tak semua prasangka buruk dilarang dengan dalil : إن بعض الظن إثم“Karena sebagian (bukan semua) dari prasangka itu dosa.” (QS al-Hujurat: 12). Namun demikian, kebanyakan prasangka buruk bersifat negatif dan membawa petaka bagi ‘pengidapnya’. Berprasangka buruk pada yang secara lahiriah baik, adalah aib dan dikecam Allah. “Dan kebanyakan mereka hanya mengikuti dugaan. Sesungguhnya dugaan itu tidak sedikit pun berguna untuk melawan kebenaran … “ (QS Yunus: 36). Imam Sufyan Ats-Tsauri membagi prasangka buruk menjadi dua jenis: Prasangka buruk dalam hati yang tak diucap, harus segera diistighfari agar tak berpotensi mendatangkan dosa karena bisa membuka jalan terjadinya penuduhan buruk, penggunjingan dan penjatuhan nama pada tersangka. Tingkat keharaman prasangka buruk berbeda-beda dan yang terberat adalah: 1. Berprasangka buruk kepada Allah SWT. (QS al-Fath : 6)Dalam hadits qudsi, Allah menyatakan bahwa diriNYA bergantung pada prasangka hambaNYA. Kalau prasangka hamba pada diriNYA baik, maka yang terjadi adalah kebaikan. Tetapi jika seorang hamba berprasangka buruk pada Allah, maka yang terjadi adalah keburukan.2. Berprasangka buruk kepada Rasulullah SAW.Apapun yang disampaikan dan dilakukan oleh rasulullah SAW, adalah atas kemauan Allah.3. Berprasangka buruk pada para sahabat Rasulullah SAW.Para sahabat adalah orang yang sangat setia membersamai Rasulullah SAW, dalam menegakkan agama pada saat lapang dan sempit.4. Berprasangka buruk pada orang yang baik pada kita atau seharusnya dihormati, seperti orang tua, guru dan lainnya, sehingga membuat seseorang terjauhkan dari akhlaqul karimah, barokah dan rahmat Allah. رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisiMU, karena sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Pemberi (karunia),” (@msdrehem)

Kita Hanya Butuh Perlindungan-Nya (Bagian 1)

16 Shafar 1448 H – QS. Al Hajj: 78, QS. Al Falaq & An Nas | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudara sekalian, Kegagalan, ancaman, penolakan, kehilangan dan semacamnya, memunculkan rasa takut, sedih, terpuruk hingga kehancuran. Tapi itu semua merupakan keniscayaan dalam hidup. Kebahagiaan yang tiada berhenti hanyalah di surga. Tanpa pertolongan dan perlindungan dari Allah, kita tidak bisa berbuat apa-apa, sebab hanya Allah yang bisa membuat kita mudah dalam menjalani kehidupan, terutama untuk menjadi taqwa dan selalu ringan dalam menjalankan perintah dan menjauhi setiap larangan-Nya. Bermodal timbunan ilmu dan memahami konsekwensi dari perbuatan dosa, juga bukan jaminan seorang hamba akan selamat dari kehancuran dunia dan akhirat. Sebab tidak sedikit dari orang berilmu bahkan mengerti syariat , tetapi terjebak dan tak bisa keluar dari kubangan maksiyat dan penyesalan. Ternyata yang menyelamatkan manusia dari kegagalan, kehancuran, kesedihan, dan keterpurukan hanyalah cover berwujud PERLINDUNGAN dari Allah SWT saja. وكفى بالله وليا وكفى بالله نصيرا “Cukuplah Allah menjadi Penolong bagimu, dan Dia sebaik-baik Pelindung.” (Q.S. An-Nisa: 45). Nabi Yusuf AS, selamat dari syahwat atau makar wanita, bukan karena banyak ilmunya, faham syariat atau faham konsekwensi dari maksiyat. Beliau selamat dari perzinahan karena selalu memulai setiap langkahnya dengan mengandalkan perlindungan hanya dari Allah SWT melalui doa perlindungan (QS.Yusuf : 23). Begitu pentingnya perlindungan Allah, maka saat akan membaca Kitabullah, kita juga diingatkan untuk beristi’adzah (berdoa meminta perlindungan Allah) terlebih dahulu agar benar-benar terkoneksi secara hati dan fikiran dengan Al Qur’an, lalu selamat dari salah baca, salah memaknai, dan salah adab saat tilawah, hingga tak termotivasi untuk mengamalkan isi dari Al Qur’an bahkan nekat menyalahkan Al Qur’an. (QS. An-Nahl : 98). Minimal ada lima kebaikan yang didapat saat perlindungan Allah SWT menyertai kita : بِسْمِ اللهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ “Dengan menyebut nama Allah yang dengan nama-Nya segala sesuatu di bumi dan di langit tidak akan membahayakan. Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (@msdrehem)

Memurnikan Tauhid Dengan Berhaji (bag. 1)

28 DZULQAIDAH 1447 H | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudara sekalian, Rasulullah SAW bersabda: أيُّهَا النَّاسُ، قَدْ فَرَضَ اللهُ عَلَيْكُم الحَجَّ فَحُجُّوا Artinya, “Wahai manusia! Sungguh Allah telah mewajibkan haji atas kamu sekalian, maka kerjakanlah haji” (HR Muslim). Haji berasal dari kata bahasa arab, “Al Hajj”. Secara bahasa artinya ; menyengaja melakukan sesuatu dan bepergian atau menujuSecara terminologi artinya ; menuju Baitullah Al-Haram (Ka’bah) di bulan Haji (Dzulhijjah) untuk melakukan amalan-amalan haji seperti : ihram, thawaf, sa’i, dan wukuf di Padang Arafah, dengan niat melakukan ibadah tertentu (Haji) Syariat haji adalah syariat yang sudah ada sebelum Islam (syar’u man qoblana), mengikuti ibadah dari millah Nabi Ibrahim AS. Umat Islam diwajibkan berhaji ke Baitullah, manakala berkemampuan secara fisik, finansial dan keamanan, sebagai wujud ketaatan total pada perintah Allah SWT dan untuk menyempurnakan rukun Islam. Secara terperinci, hukum haji adalah sebagai berikut : Menolak haji sama seperti menolak sholat, zakat, puasa bahkan syahadat dan mengapa Allah SWT menetapkan ibadah haji harus di Mekkah? Ya Rahman..,Limpahkan rahmat yang bisa menyampaikan kami untuk berkunjung ke rumah-MU yang mulia dan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Aamiin (@msdrehem)