Menjaga Kehormatan Diri

21 DZULQAIDAH 1447 H | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science) Saudara sekalian, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa berusaha menjaga kehormatannya maka Allah akan menjaga kehormatannya, dan barangsiapa yang merasa cukup maka Allah akan memberinya kecukupan.” (HR. Bukhari) Mengapa harus menjaga kehormatan diri : 1. Membantu untuk meningkatkan kedekatan dirinya dengan Allah SWT dan mendapat rahmat serta ridloNYA. 2. Nilai seseorang ditentukan oleh kehormatan dirinya, bukan ditentukan oleh kekayaan atau jabatannya, apalagi oleh bentuk rupanya. 3. Membangun integritas hingga mendapat kepercayaan dan penghormatan orang lain. 4. Mencegah atau membentengi diri dari perbuatan maksiat. 5. Memberikan contoh baik hingga menjadi teladan bagi orang lain, terutama generasi muda. Ada 3 istilah yang secara makna saling melengkapi dan saling berkait dalam mewujudkan kehormatan seseorang, 3 tersebut adalah : 1. Izzah (kemuliaan atau keagungan yang tak bisa dikalahkan kejahatan). 2. Muru’ah (menjaga kehormatan diri, sehingga terhindar dari pandangan negativ dari orang lain). 3. Iffah (kemampuan mengendalikan diri agar selalu berpijak pada akhlak mulia). Dalam konteks ini, seseorang harus mampu mengendalikan nafsunya, yang tidak saja dari yang haram, tetapi kadang harus juga dari yang halal, manakala bertentangan dengan kehormatan dirinya. Ada 3 perilaku yang merusak kehormatan diri : 1. Tidak menjaga kehormatan diri dalam masalah seksual (QS. An-Nur : 30-33) 2. Tidak menjaga kehormatan diri dalam masalah harta (QS. Al-Baqarah : 273) 3. Tidak menjaga kehormatan diri dalam dalam masalah kepercayaan orang lain atau tidak amanah. (QS.An-Nisaa’ : 6) Cara Menjaga Kehormatan Diri : 1. Meningkatkan Keimanan dan Ketakwaan dengan rajin beribadah, tilawah, dan mendalami ilmu agama agar selalu berada di jalan yang benar. 2. Memperbaiki akhlak dengan selalu berusaha untuk selalu bersikap jujur, sabar, tidak iri hati dan tidak sombong agar tak rusak hubungan dengan orang lain. 3. Menghindari lingkungan yang buruk yang berpotensi merusak perilaku. Pilihlah teman dan komunitas yang mendukung nilai-nilai Islami. 4. Memohon pertolongan kepada Allah SWT, agar diberi kekuatan untuk menjaga kehormatan diri. Menjaga kehormatan diri sebagai Muslim adalah bagian dari ibadah yang harus terus diperjuangkan, karena kehormatan diri bukan hanya tentang citra di mata manusia, tetapi juga bagaimana kita menjaga amanah sebagai hamba Allah SWT. اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى “Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat penuh ‘iffah dan ghina” (HR. Muslim)

DOA: Senjata Orang Beriman di Tengah Zaman yang Gelisah

Hari-hari ini, kita hidup dalam dunia yang serba cepat, penuh tekanan, dan sering kali terasa sempit. Masalah ekonomi, kesehatan mental, konflik sosial, hingga keresahan batin kini menjadi pemandangan sehari-hari. Banyak orang merasa seperti kehilangan pegangan hidup. Di saat seperti inilah Islam menawarkan satu kekuatan yang sering dilupakan: doa. Ya, doa bukan sekadar permintaan, tapi adalah senjata ruhani yang mampu menenangkan hati, menguatkan jiwa, bahkan mengubah takdir. Bukan Hanya Permintaan, Tapi Ibadah Dalam Islam, doa bukan hanya bentuk pengharapan. Ia adalah ibadah. Bahkan, Nabi Muhammad ﷺ bersabda: الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ “Doa adalah ibadah.”(HR. At-Tirmidzi, no. 2969, shahih) Melalui doa, kita meletakkan seluruh harapan dan beban kepada Allah SWT. Kita mengakui bahwa sebesar apa pun kekuatan dan ilmu manusia, semuanya tak berarti tanpa izin-Nya. Ketika Dunia Membingungkan, Allah Menawarkan Kedekatan Saat manusia dilanda gelisah, stres, atau kesepian karena dunia yang tak berpihak, Allah SWT memberi janji yang sangat menyentuh: وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”(QS. Al-Baqarah: 186) Allah tidak jauh. Ia tidak perlu antre atau koneksi sinyal. Ia lebih dekat dari siapapun yang pernah dekat dengan kita. Maka jangan ragu untuk bersujud dan membuka hati di hadapan-Nya. Doa yang Ditinggalkan, Kesombongan yang Tak Disadari Di era teknologi dan media sosial, banyak orang lebih percaya pada angka, tren, dan algoritma daripada pertolongan Allah. Bahkan, sebagian orang hanya berdoa saat terdesak saja. Padahal, Allah memperingatkan: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَࣖ “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina”(QS. Ghafir: 60) Tidak mau berdoa bisa menjadi tanda kesombongan. Seakan-akan kita merasa tak butuh kepada-Nya. Padahal, semakin seseorang dekat dengan Allah, semakin sering ia berdoa. Doa Bisa Mengubah Takdir Sering kita merasa semua jalan sudah tertutup. Tapi ketahuilah, doa bisa menjadi kunci perubahan yang tidak disangka-sangka. Nabi ﷺ bersabda: “Tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa.”(HR. At-Tirmidzi no. 2139, hasan) Jadi jangan pernah anggap doa sebagai upaya terakhir. Justru, doa adalah langkah awal yang paling utama. Doa, Harapan di Tengah Fitnah Akhir Zaman Fitnah akhir zaman makin tampak: kerusakan moral, kabar bohong, kebencian, dan kejahatan menjadi hal biasa. Dalam kondisi ini, doa bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk keselamatan keluarga, umat, bahkan bangsa. وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْࣖ “Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”(QS. Al-Insyirah: 8) Berdoalah bukan hanya untuk meminta, tapi juga untuk menjaga—agar kita dan keluarga tetap dalam hidayah, selamat dari fitnah dunia. Istiqomahkan Berdoa! Kita bisa memiliki uang, relasi, atau kecerdasan. Tapi tanpa pertolongan Allah, semua itu tak menjamin ketenangan. Maka mari biasakan berdoa dalam setiap kegiatan dan aktivitas kita: Doa bukan solusi sementara. Ia adalah kekuatan permanen yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Maka jangan remehkan doa, karena mungkin saja seluruh perubahan besar yang kita butuhkan dimulai dari satu doa yang tulus di waktu sepi. Jika kamu merasa hidupmu terlalu berat, barangkali bukan karena masalahmu terlalu besar—tapi karena kamu lupa membawa masalahmu kepada Allah melalui doa.