Santri OPOP Camp 2025 Menjadi Inspirasi Santri Beasiswa DAFI!

DAFI Pesantren Al Qur’an Science mendapatkan kesempatan berharga dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, melalui partisipasi dua santrinya, Muhammad Raffka Alfarizi yang sekaligus merupakan santri beasiswa dan Mirza Luthfi Anwari, yang resmi diutus untuk mengikuti Santri OPOP Camp 2025. Kegiatan ini merupakan program pelatihan kewirausahaan berbasis Digital Technology dan Artificial Intelligence (AI), yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada Rabu–Kamis, 26–27 November 2025 di Taman Candra Wilwa Tikta Pandaan, Pasuruan. Santri OPOP Camp merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat kapasitas santri pesantren agar mampu menghadirkan ide bisnis kreatif, kompetitif, dan relevan dengan perkembangan zaman. Selama pelatihan, para peserta dibimbing untuk memahami kemajuan teknologi, digital marketing, pemanfaatan AI untuk bisnis, hingga praktik membangun toko digital serta merancang iklan produk melalui teknologi kecerdasan buatan. Sebagai santri beasiswa, Muhammad Raffka Alfarizi mengungkapkan rasa syukur dan bangganya diberi amanah untuk mewakili pesantren.“Kegiatan OPOP sangat membantu saya memahami banyak hal, mulai dari bagaimana memanfaatkan Artificial Intelligent untuk membantu bisnis kita dan hal apa yang perlu disiapkan,” ungkap Raffka. Raffka juga membagikan mimpinya untuk mengembangkan bisnis digital dengan mengangkat produk kripik khas daerah asalnya di Ciamis.“Ada, kripik jablog namanya. Enak, dan semua harus bisa mencicipi sih!” tutur Raffka penuh antusias. Pesantren DAFI menyampaikan apresiasi atas semangat dan kesiapan para santri binaannya. Terlebih lagi, Raffka sebagai santri beasiswa yang dipilih mengikuti kegiatan ini menunjukkan bahwa kepercayaan pesantren bukan diberikan berdasarkan status, tetapi murni karena kualitas, kompetensi, dan kesungguhan para santri. Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur serta seluruh pihak yang telah memberikan ruang pengembangan bagi santri. Semoga kegiatan ini menjadi wasilah lahirnya para pemimpin masa depan yang berjiwa mandiri, kreatif, dan berakhlak mulia. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk terus memberikan dukungan terbaik bagi santri Yatim Penghafal Al-Qur’an, agar mereka dapat terus berkarya, menghafal, dan menjadi generasi penerus yang membawa keberkahan bagi bangsa.

100% Lulus! Santri Beasiswa Sukses Ujian Standarisasi Hafalan Al Qur’an

DAFI Pesantren Al Qur’an Science kembali menggelar Standarisasi Hafalan Al Qur’an sebagai bagian dari komitmen menjaga kualitas hafalan para santrinya. Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis, 20 November 2025 ini berlangsung secara terpisah, dimulai di Pesantren Putri Sarirogo bada dhuhur dan dilanjutkan di Pesantren Putra Anggaswangi pada sesi berikutnya. Ujian standarisasi ini diperuntukkan bagi seluruh santri yang telah mencapai hafalan 5 juz dan kelipatannya, baik dari jenjang SMP hingga MA. Sebanyak 54 santri mengikuti ujian pada tahun ini, termasuk 8 di antaranya yang merupakan penerima manfaat Beasiswa Penghafal Al Qur’an. Sebelum memasuki hari pelaksanaan, para peserta melalui proses panjang mentasmi’kan hafalan kepada sesama santri. Hanya mereka yang mampu mempertahankan hafalan dengan maksimal 20 kesalahan yang diizinkan melanjutkan ke tahap ujian standardisasi. Proses ini menjadi bagian dari budaya belajar di DAFI, yang menekankan kesungguhan, ketekunan, dan kedisiplinan dalam murajaah. Pelaksanaan ujian dipimpin langsung oleh Penjamin Mutu Tahfidz DAFI, Dr. K.H. Mudawi Maarif, Lc., MA—ulama penghafal Al Qur’an yang memiliki sanad Qiro’ah ‘Asyrah, bagian dari Majelis Qurrā’ perwakilan Asia Tenggara, serta peraih prestasi MHQ nasional dan internasional sekaligus juri MHQ tingkat nasional. Dalam prosesnya, setiap santri mendapatkan dua pertanyaan sambung ayat sebagai tolok ukur kualitas hafalan yang mereka miliki. Ustadz Ibrahim, salah satu pengajar tahfidz DAFI, turut menyampaikan kebahagiaannya terhadap capaian para santri, termasuk mereka yang mendapatkan kesempatan belajar melalui program beasiswa. “Alhamdulillah, Mas Jabbar dan yang lainnya (santri beasiswa) berhasil menuntaskan setiap soal, meskipun di awal ada beberapa yang kesulitan.” Menurutnya, keberhasilan ini tidak hanya lahir dari kerja keras para santri, ridho Allah SWT juga dukungan para donatur yang terus memberikan kesempatan bagi anak-anak penghafal Qur’an untuk mengembangkan potensinya hingga berada pada titik seperti saat ini. Hasil akhir ujian tahun ini menggembirakan. Seluruh peserta dinyatakan lulus 100 persen. Capaian ini menjadi bukti istiqomah para santri dalam menjaga hafalan mereka sekaligus menunjukkan bahwa program pembinaan tahfidz di DAFI berjalan secara terukur dan efektif. Standardisasi ini tidak sekadar menjadi ujian, tetapi juga sarana pemantapan kualitas hafalan yang telah mereka bangun sejak awal belajar. Dukungan para donatur menjadi bagian penting dari cerita perjuangan santri—menguatkan langkah mereka dalam menjaga dan menambah hafalan, serta menjadi jariyah yang insyaAllah terus mengalir bersama lantunan ayat-ayat suci yang mereka baca setiap hari. Alhamdulillah dan selamat kepada para santri beasiswa yang telah berhasil melalui ujian Standarisasi Tahfizh Al Qur’an 5 – 30 Juz!

Tasmi’ 30 Juz Al Qur’an, Allah SWT Lancarkan Perjuangan Adinda Farida

Selama tiga hari penuh, dari tanggal 6 hingga 8 November 2025, suasana haru menyelimuti Pesantren DAFI Al Qur’an Science. Lantunan ayat suci bergema dari suara lembut Adinda Farida Zahiyyah Al Maghfiroh binti Alm. Desta Priyonggo Kurniawan, seorang santri beasiswa yatim yang berhasil menuntaskan tasmi’ 30 juz Al-Qur’an tanpa jeda berarti — sebuah pencapaian luar biasa yang tidak hanya menunjukkan kemampuan, tapi juga keteguhan hati dan cinta yang dalam kepada Al-Qur’an. Adinda adalah putri kedua dari tiga bersaudara, dibesarkan oleh ibunda yang berprofesi sebagai guru TK. Sejak kepergian ayahanda, kehidupan keluarganya dijalani dengan kesederhanaan dan penuh perjuangan. Namun di tengah keterbatasan itu, tumbuh tekad kuat dalam dirinya untuk menjadi hafizah. Ia mulai menekuni hafalan Al-Qur’an sejak pertama kali bergabung di DAFI pada jenjang SMP, dengan semangat untuk membahagiakan ibunda dan menjadi cahaya bagi keluarganya. Tasmi’ 30 juz dalam waktu tiga hari tentu bukan perjalanan mudah. Beberapa bagian hafalan, terutama di juz pertengahan (juz 16–25), menjadi tantangan tersendiri bagi Adinda. Ia sering membutuhkan waktu lebih lama untuk murojaah dan mengingat kembali ayat-ayat yang sempat terasa sulit. Namun setiap kali semangatnya mulai turun, ia selalu mengingat niat awalnya — untuk menuntaskan target tahfizh sebagai bentuk cinta kepada Al-Qur’an. Salah satu momen yang paling berkesan baginya adalah ketika banyak teman-teman dari kelas 10 dan 11 ikut hadir menyimak bacaan tasmi’-nya. Dukungan mereka menambah kekuatan dan menghadirkan suasana syahdu di tengah proses yang melelahkan. “Alhamdulillah, Allah mudahkan bisa menuntaskan tasmi’ 30 juz dalam waktu tiga hari. Rasanya senang sekali dan sangat bersyukur,” tutur Adinda lirih. Setelah menyelesaikan tasmi’, wajahnya tampak bersinar. Bagi Adinda, menjadi hafizah bukanlah tentang seberapa cepat menghafal, tetapi seberapa dalam bisa hidup bersama Al-Qur’an dalam keseharian. “Hafizah itu bukan hanya yang hafal, tapi yang tidak pernah lelah bersama Al-Qur’an. Yang penting bukan cuma hafal, tapi juga memahami dan mengamalkan,” ujarnya dengan mantap. Keberhasilan Adinda tidak lepas dari dukungan program beasiswa DAFI, yang menanggung penuh kebutuhan pendidikan dan pembinaannya. Melalui bantuan seorang Hamba Allah yang tergabung dalam program orang tua asuh, Adinda dapat fokus belajar, menghafal, dan menuntaskan hafalannya tanpa terbebani masalah biaya. Kini, setelah menyelesaikan tasmi’ 30 juz, Adinda bertekad untuk terus menjaga hafalan dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga menyampaikan pesan kepada para santri lain agar tidak menyerah dalam perjalanan mereka bersama Al-Qur’an — karena istiqamah selalu membutuhkan perjuangan, dan setiap huruf yang dijaga adalah jalan menuju keberkahan. Kisah Adinda menjadi cermin bahwa dari kesederhanaan, lahir keteguhan. Dari doa seorang ibu, tumbuh cahaya yang menerangi. Dan dari tangan-tangan para dermawan, lahir generasi Qur’ani yang akan terus menyalakan cahaya kebaikan di masa depan.

SPMB Beasiswa Penghafal Al Qur’an Jalur Yatim-Dhuafa Dibuka November ini! Simak Langkah-langkahnya!

Alhamdulillah, sebagai bentuk syukur dan komitmen dari para pengasuh serta pengurus Yayasan Pondok Pesantren Darul Fikri Sidoarjo, kembali membuka Pendaftaran Beasiswa Santri Baru Penghafal Al Qur’an khusus Yatim-Dhuafa untuk Tahun Ajaran 2026/2027 pada jenjang SMP dan MA. Proses seleksi ini dibuka pada periode bulan November 2025, berikut tata cara mendaftar untuk Beasiswa Santri SMP dan MA DAFI; Kesempatan mendaftar dibuka pada: 1 – 21 November 2025 Seleksi administrasi (pemberkasan): 22 – 25 November 2025 Tes & wawancara: 29 November 2025 Pengumuman hasil seleksi: 6 Desember 2025 Secara rinci, pelaksanaan tes dan wawancara akan dibagi menjadi beberapa sesi, antara lain: Untuk calon Santri; Psikotes, Tes Akademik (Numerasi & Literasi), Tes Bacaan dan Hafalan Al Qur’an, Wawancara Kesiapan Santri, Wawancara Komitmen Beasiswa. Untuk calon Walisantri; Wawancara Kesiapan Walisantri, Wawancara Komitmen Beasiswa. Jika ada hal lain yang perlu ditanyakan lebih jelas, bisa menghubungi kontak Whatsapp di 087820222025. Semoga Allah SWT memudahkan dan melancarkan segala prosesnya, dan kelak menjadi Generasi Pemimpin Indonesia yang Hafal Al Qur’an, dan Berkompetensi Global. Barakallahufiikum.

Alumni Penerima Beasiswa DAFI Raih Juara 2 MHQ 30 Juz Putra pada MTQ XXXI Jawa Timur

Ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Tingkat Provinsi Jawa Timur yang berlangsung di Kabupaten Jember pada 11–20 September 2025 menjadi momen berharga bagi keluarga besar DAFI Pesantren Al Qur’an Science. Salah satu alumni terbaiknya, M. Faqih Al Zuhdi bin Siswanto, berhasil meraih Juara 2 kategori Musabaqah Hifdzil Qur’an (MHQ) 30 Juz Putra, mewakili Kabupaten Sidoarjo. Dalam cabang MHQ 30 Juz Putra, Faqih bersaing dengan 50 peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur. Kompetisi digelar dalam dua babak, yakni penyisihan (14–18 September) dan final (19 September 2025), yang mempertemukan tiga peserta terbaik untuk memperebutkan juara. Alhamdulillah, Faqih berhasil menunjukkan kemampuan terbaiknya hingga masuk final dan meraih peringkat kedua. Faqih mengungkapkan rasa syukur dan harunya atas capaian ini. “Alhamdulillah senang, apalagi ini pertama kali saya mengikuti MHQ mewakili Kabupaten Sidoarjo dan saingannya sangat luar biasa. Ada beberapa yang bahkan pernah menjuarai MHQ tingkat Internasional di Arab Saudi dan Yordania. Pengalaman ini sangat berharga bagi saya bisa bertemu dan bersaing dengan para hafidz terbaik se-Jawa Timur,” ungkapnya. Faqih termasuk tiga terbaik yang insya Allah akan mendapatkan pembinaan dan berkesempatan mengikuti MTQ Tingkat Nasional di Semarang tahun depan, bersamaan dengan dimulainya masa studi jenjang lanjutannya di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Ustadz Agus Hariadi, Mudir DAFI Pesantren Al Qur’an Science, turut menyampaikan rasa bangga atas capaian alumninya. “Alhamdulillah, selamat untuk Mas Faqih, baarakallahu fiik Semoga Allah mengistiqomahkanmu dalam mempelajari, menghafalkan dan mengamalkan Al Qur’an. Niat semua ini untuk akhirat in syaa Allah dunia mengikuti. Semoga santri-santri yang lain semakin bersemangat dalam menghafal dan mempelajari Al-Qur’an” ujarnya. Sebagai penutup, Faqih menyampaikan pesan penuh motivasi kepada adik-adik santri di DAFI: “Semangat dalam menghafal dan menjaga Al Qur’an, niatkan lillahi ta’ala. Insya Allah Allah akan memberikan kemudahan di setiap urusan dan cita-cita kalian.” Perjalanan Faqih adalah inspirasi nyata tentang bagaimana kesungguhan, doa, dan dukungan dapat melahirkan prestasi yang gemilang. Berawal dari kesempatan mendapatkan beasiswa pendidikan di DAFI, ia tumbuh dalam lingkungan yang menanamkan kedisiplinan, akhlak, dan kecintaan mendalam kepada Al Qur’an. Capaian Juara 2 MHQ 30 Juz Tingkat Provinsi Jawa Timur menjadi bukti nyata keberkahan perjuangannya, sekaligus langkah awal menuju mimpi besarnya. Tidak hanya itu, Faqih yang telah menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an dan mendapatkan sanad riwayat Hafs dari Imam Ashim dari gurunya tercinta, Ustadz Muhammad Taufiq, S.Pd.I., Al-Hafizh, serta beberapa kali menjuarai kompetisi MHQ berkeinginan kuat untuk istiqomah bersama Al Qur’an. Kini, dengan izin Allah, Faqih melanjutkan perjalanannya ke Universitas Al Azhar Kairo, Mesir, untuk memperdalam ilmu agama dan Al Qur’an. Capaian ini diharapkan menjadi penyemangat bagi seluruh santri, alumni, dan umat Islam, bahwa menjaga Al Qur’an adalah jalan mulia yang akan menghantarkan pada kemuliaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.

Membanggakan! Zaky Ikuti Global Youth Forum 2025

Delapan santri SMP DAFI Pesantren Al Qur’an Science terpilih untuk mengikuti ajang bergengsi Global Youth Forum 2025 yang diselenggarakan oleh Asialink Education – University of Melbourne secara virtual. Forum ini diadakan pada beberapa hari yakni 1, 2, 9 dan akan ditutup pada 11 September 2025. Kegiatan internasional ini mempertemukan pelajar dari berbagai negara di kawasan Asia Pasifik, termasuk China, Vietnam, India, Australia, Indonesia, Korea Selatan, dan Kamboja. Forum ini hadir sebagai wadah bagi para pelajar untuk menanggapi isu-isu global terkini sekaligus membentuk jiwa kepemimpinan, mengasah kemampuan kolaborasi, serta merumuskan solusi atas beragam permasalahan dunia. Menariknya, dari delapan santri yang mewakili SMP DAFI, salah satunya merupakan santri binaan penerima beasiswa, yakni Ahmad Zaky Murtadho, yang kini duduk di bangku kelas 8 SMP. Keikutsertaan Zaky menjadi bukti nyata bahwa para santri penerima beasiswa pun mampu bersaing di tingkat internasional. Pemilihan delegasi dilakukan melalui proses seleksi ketat oleh para pengajar Bahasa Inggris DAFI dalam program Language Booster Program, yang fokus membina kemampuan berbahasa Inggris para santri. “Dzaky memiliki pronunciation yang baik dan insyaallah siap berkontribusi bersama tim,” ujar Ustadz Rukhan, salah satu pengajar yang turut menyeleksi peserta. Kebanggaan ini turut dirasakan oleh tim Baziskaf DAFI. “Ini kabar yang membanggakan. Para donatur dan orang tua asuh perlu mengetahui prestasi santri binaan kita agar semakin kuat dukungan dan doa mereka. Harapan kami, prestasi ini menjadi langkah awal untuk masa depan yang lebih cerah bagi mereka,” ungkap Ustadz Andy mewakili Baziskaf DAFI. Prestasi ini merupakan keikutsertaan internasional kedua bagi jenjang SMP DAFI. Sebelumnya, DAFI juga mengirimkan delegasi santri dalam forum bersama pelajar Jepang secara virtual, yang diikuti oleh santri binaan lainnya, Quinn Jabbar. Konsistensi ini menguatkan visi DAFI dalam mencetak santri berkompetensi global melalui beragam program internasional. Dengan penuh rasa syukur, DAFI mendoakan yang terbaik bagi seluruh santri, wali santri, pengajar, dan tak terlupa para donatur yang telah turut andil dalam mendukung kemajuan pendidikan para penghafal Al Qur’an. Semoga langkah-langkah kecil ini menjadi bagian dari jalan besar menuju generasi Qur’ani yang berdaya saing global dan berakhlak mulia.

Pendidikan Mereka, Merdeka Kita: Tanggung Jawab Kita yang Hidup Lebih Nyaman

Memperingati HUT Ke-80 Republik Indonesia, mari wujudkan kemerdekaan yang sesungguhnya — bukan hanya dari penjajahan, tetapi dari keterbatasan dalam pendidikan. 80 Tahun Merdeka, Tapi Belum Semua Anak Merasakan Pendidikan yang Merdeka Delapan dekade sudah Indonesia merdeka. Tapi apakah semua anak-anak negeri ini benar-benar telah merdeka dalam mengenyam pendidikan? Faktanya, berdasarkan data BPS dan UNICEF: Di saat sebagian dari kita merayakan kemerdekaan dengan meriah — ada anak-anak Indonesia yang sedang berjuang menghafal Al-Qur’an dalam keterbatasan. Kemerdekaan Bukan Sekadar Upacara, Tapi Soal Akses yang Setara Kemerdekaan yang hakiki adalah ketika setiap anak negeri punya hak dan peluang yang sama untuk belajar, tumbuh, dan bermimpi. Jika kita merdeka: Maka apakah kita tidak punya tanggung jawab untuk membantu mereka yang masih belum merdeka dalam pendidikannya? Kenapa Kita Harus Turut Ambil Peran? Jangan Biarkan Kemerdekaan Ini Jadi Milik Kita Saja Anak-anak ini tidak meminta belas kasihan.Mereka hanya ingin kesempatan yang sama, dan mungkin, uluran tangan dari Anda yang sudah lebih dulu merdeka. Mari rayakan Kemerdekaan ke-80 RI dengan berbagi makna dan kebermanfaatan.Karena ketika satu anak terbantu, satu masa depan telah diselamatkan. Bayangkan, di usia ke-80 Republik ini, Anda ikut mewarnai kemerdekaan dengan cara yang mulia:Membantu pendidikan anak-anak yatim dan dhuafa yang sedang menghafal Al-Qur’an. Bank Syariah Indonesia: 6677776062Konfirmasi: 081252479470

Sinergi YDSF dan Dompet Al Qur’an Indonesia Hadirkan Harapan untuk Santri Yatim Penghafal Al Qur’an DAFI

Dalam semangat kolaborasi kebaikan dan kepedulian terhadap masa depan generasi penghafal Al Qur’an, Yayasan Dana Sosial Al Falah (YDSF) bersinergi bersama Dompet Al Qur’an Indonesia untuk menyalurkan program beasiswa pendidikan kepada 46 santri yatim penghafal Al Qur’an di DAFI Pesantren Al Qur’an Science, yang tersebar di jenjang SMP dan MA. Penyaluran beasiswa ini dilaksanakan pada Senin, 28 Juli 2025, secara serentak namun terpisah di dua lokasi pesantren, yakni di Pesantren Putra, Jl. Putra Bangsa RT.01 RW.01, Anggaswangi, Sukodono, dan Pesantren Putri di Sarirogo, RT.14 RW.03, Sidoarjo. Dengan total nilai bantuan sebesar 46 juta rupiah, program beasiswa ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antar lembaga kebaikan mampu membuka akses pendidikan dan pengasuhan yang layak bagi anak-anak yatim yang tengah berjuang menjadi para penjaga Kalamullah. Beasiswa yang diberikan akan langsung disalurkan kepada pihak pesantren untuk membiayai kebutuhan santri selama menempuh pendidikan di DAFI, meliputi makan harian, pendidikan sekolah formal, program tahfidz, kepengasuhan, hingga kebutuhan penunjang lainnya. “Kami sangat bersyukur atas bantuan dari Dompet Al Qur’an Indonesia dan YDSF. Bantuan ini benar-benar meringankan pesantren dalam memberikan pendidikan terbaik bagi para santri yatim. Kami doakan semoga para donatur dan muhsinin yang menyisihkan hartanya mendapat pahala jariyah yang terus mengalir hingga Yaumil Hisab,” tutur Ustadz Andy Setiawan, perwakilan pihak DAFI saat menerima bantuan tersebut. Di sisi lain, Ustadz Baihaqi, perwakilan YDSF untuk wilayah Kabupaten Sidoarjo, menyampaikan harapan kepada para santri agar tetap teguh dalam perjuangannya sebagai penjaga Al Qur’an. “Kami berharap, adik-adik santri yang menerima beasiswa ini senantiasa semangat dalam belajar, menghafal, dan meraih cita-cita. Kelak, kalian akan menjadi penerus bangsa yang bukan hanya cerdas, tapi juga membawa cahaya Qur’an dalam hidup dan masyarakat,” ujarnya. Program ini menjadi pengingat bahwa berbagi tak harus menunggu cukup, dan mendukung pendidikan santri yatim penghafal Al Qur’an adalah investasi terbaik yang tak lekang oleh waktu. Sinergi Dompet Al Qur’an Indonesia dan YDSF adalah contoh bahwa kerja sama antar lembaga sosial mampu menjangkau lebih banyak penerima manfaat dengan lebih tepat sasaran.

Bantuan Buku dan Pendidikan untuk Muhtadi, Kebaikan yang Mengalir Sepanjang Hari! Insyaallah

Di balik wajah tenangnya, Muhtadi Arif Dzakirah menyimpan tekad yang luar biasa. Santri penerima beasiswa yatim di DAFI Pesantren Al Qur’an Science ini tak hanya bercita-cita menjadi masinis, tapi juga ingin menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an. Saat ini, Muhtadi telah menyelesaikan 12 juz hafalannya dan tengah melanjutkan pendidikannya di jenjang MA DAFI, program Azhary (Timur Tengah), dengan tetap menerima beasiswa yatim dari DAFI. Muhtadi adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Ayahnya, almarhum Agus Riyadi, wafat ketika Muhtadi baru berusia dua tahun akibat tumor lambung. Sang ibu, Ibu Khusnul Khotimah, mengenang masa-masa sulit itu, ketika suaminya lebih sering dirawat di rumah sakit daripada berada di rumah. Saat itu, Muhtadi kecil bersama kakaknya bahkan sempat dititipkan ke saudara karena beratnya kondisi keluarga. Kini, Ibu Khusnul tinggal bersama Muhtadi dan satu kakaknya di sebuah kos sederhana di kawasan Petemon Kali, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya. Ia mengajar di sebuah TPQ dengan penghasilan Rp150.000, ditambah bantuan dari Kementerian Agama sebesar Rp700.000 per bulan. Jumlah itu harus cukup untuk memenuhi kebutuhan tiga orang dalam rumah tangga mereka. Meski ketiga anaknya yang lain telah menikah, mereka hanya bisa membantu sedikit karena juga masih berjuang secara ekonomi. “Semoga Muhtadi kelak bisa memperbaiki keadaan keluarga ini lewat Al-Qur’an dan pendidikan,” harap Ibu Khusnul. Tahun ajaran baru ini, kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi adalah buku pelajaran senilai Rp488.000. Namun di balik itu, terbuka pula kesempatan bagi para muhsinin untuk menjadi Orang Tua Asuh yang bersedia mendukung biaya pendidikan Muhtadi secara rutin tiap bulan. Ustadz Andy Setiawan, Koordinator Baziskaf DAFI, menyampaikan bahwa tahun ajaran depan DAFI menerima lebih dari 70 santri beasiswa yatim dan dhuafa. “Kami sangat terbuka untuk kolaborasi. Bantuan dari donatur individu maupun lembaga akan sangat berarti bagi keberlangsungan pendidikan dan penghafalan Al-Qur’an para santri seperti Muhtadi,” ungkapnya. Semoga semakin banyak tangan-tangan baik yang tergerak untuk membersamai perjuangan Muhtadi dan para santri lainnya dalam menapaki jalan cahaya Al-Qur’an. Karena satu kebaikan yang ditanam hari ini, bisa menjadi aliran pahala abadi hingga akhir hayat. Mari bantu pendidikan Muhtadi. Jadilah bagian dari kisah indah perjuangan santri yatim yang ingin menghafal Al-Qur’an dan mengubah masa depan keluarganya.

Quinn Jabbar Maulana, Santri Beasiswa Pimpin Tim dalam International Culture Exchange bersama Pelajar Jepang

Semangat kolaborasi lintas budaya dan peningkatan kapasitas diri ditunjukkan oleh para santri SMP DAFI Pesantren Al-Qur’an Science dalam kegiatan International Culture Exchange Program yang digelar secara daring bersama para pelajar dari Ishimine Junior High School, Okinawa, Jepang. Kegiatan ini menjadi bagian dari program bilingual SMP DAFI yang bertujuan mengasah kemampuan berbahasa Inggris sekaligus memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia internasional. Dengan menggandeng Miss Minori, perwakilan resmi World Classroom dari Jepang, kegiatan ini berlangsung interaktif dan penuh antusiasme pada hari Rabu, 18 Juni 2025. Yang menjadi sorotan inspiratif dalam kegiatan ini adalah peran Quinn Al Jabbar, santri kelas 8 sekaligus penerima beasiswa di DAFI Pesantren Al Qur’an Science, yang ditunjuk sebagai Koordinator Tim World Classroom dari santri putra. Penunjukan ini bukan tanpa alasan. Sosok yang akrab disapa Mas Jabbar ini dikenal sebagai figur muda yang disiplin, komunikatif, dan mampu memimpin dengan teladan. Sebagai Ketua OSIS SMP DAFI Putra, Mas Jabbar telah menunjukkan kepemimpinan yang matang di usia remaja. Dalam kegiatan International Culture Exchange ini, ia memimpin rekan-rekannya sejak masa persiapan, pembekalan, hingga hari pelaksanaan dengan penuh tanggung jawab dan profesionalisme. “Alhamdulillah seluruh tim di bawah kepemimpinan Mas Jabbar dapat dikondisikan dengan baik dan sesuai instruksi yang telah diberikan oleh para guru Bahasa Inggris,” ungkap Ustadz Rukhan, guru Bahasa Inggris sekaligus pembina kegiatan ini. Program ini juga menjadi salah satu pencapaian nyata dari goal pengembangan program bilingual DAFI. Para santri tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi mampu mempraktikkan langsung kemampuan bahasa Inggris mereka dalam forum internasional. “Alhamdulillah, ini adalah langkah awal yang membanggakan dalam mengenalkan para santri SMP DAFI pada forum pertukaran budaya internasional,” tutur Ustadz Lukman Setiawan, guru pembimbing. Kegiatan ini membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah halangan untuk berprestasi. Melalui dukungan beasiswa dan lingkungan pendidikan yang kondusif di DAFI, santri seperti Quinn Al Jabbar mampu tumbuh menjadi sosok yang unggul, baik secara akademik, spiritual, maupun kepemimpinan. DAFI Pesantren Al Qur’an Science terus berkomitmen mencetak generasi penghafal Al-Qur’an yang berwawasan global. Dengan mengintegrasikan program tahfidz, kepemimpinan, dan penguasaan bahasa asing, DAFI membuka peluang lebih luas bagi para santri untuk menjadi agen perubahan umat yang berkualitas, beradab, dan mendunia.

Haflah Akhir As-Sanah 2025: 45 Santri Beasiswa Buktikan Al-Qur’an Membuka Jalan Masa Depan

SMP dan MA DAFI Pesantren Al-Qur’an Science Sidoarjo kembali menggelar Haflah Akhir As-Sanah sebagai penanda selesainya masa pendidikan para santri sekaligus momentum istimewa untuk melepas mereka kembali ke pangkuan orang tua penuh rasa syukur dengan hadirnya 45 santri penerima beasiswa yang turut diwisuda—terdiri dari 28 santri jenjang MA dan 17 santri jenjang SMP. Ketua Dewan Pembina Yayasan Pondok Pesantren Darul Fikri Sidoarjo, K.H. Muhammad Sirot, S.Ag., M.M., dalam sambutannya menyampaikan bahwa DAFI adalah lembaga pendidikan yang terus mencetak prestasi dalam berbagai bidang, baik akademik, non-akademik, terlebih lagi di bidang Al-Qur’an. “Tenaga pendidik kami adalah orang-orang yang bekerja keras, cerdas, dan ikhlas dalam membimbing para santri menuju keberhasilan dunia dan akhirat,” ujarnya. K.H. Rofi’ Munawar, Lc., anggota Dewan Pengasuh, juga menegaskan bahwa ilmu pengetahuan tidak akan pernah bertentangan dengan Al-Qur’an. “Keduanya bersumber dari Allah SWT. Karena itu, santri DAFI tak hanya unggul dalam tahfidz, tetapi juga memiliki prestasi akademik yang membanggakan,” jelasnya. Salah satu momen yang paling menginspirasi dalam Haflah tahun ini datang dari para santri beasiswa. Andy Setiawan, S.Pd., Koordinator Baziskaf DAFI, menyampaikan rasa syukurnya menyaksikan keberhasilan mereka. “Alhamdulillah, senang, bangga, dan terharu memperhatikan mereka saat ini dan mengingat perjuangan mereka selama menempuh pendidikan serta menghafalkan Al Qur’an. Mereka bukan hanya berhasil secara akademik, tapi juga spiritual,” ungkapnya. Tak lupa, ia menyampaikan doa terbaik dan apresiasi setinggi-tingginya kepada para orang tua asuh, donatur, serta muhsinin yang telah istiqomah membantu perjuangan para santri yatim dan dhuafa melalui program beasiswa pendidikan di DAFI. Salah satu yang mencuri perhatian adalah Muhammad Faqih Al Zuhdi, santri kelas 12 MA dan juga penerima beasiswa. Dalam Haflah ini, Faqih mendapatkan challenge langsung dari para tamu undangan untuk menguji hafalan 30 juz-nya secara publik. Dengan penuh keyakinan dan izin Allah, Faqih mampu menjawab semua pertanyaan dengan lancar. “Alhamdulillah, dilancarkan dan dimudahkan oleh Allah SWT,” ucapnya dengan penuh syukur. Tak hanya hafal 30 juz, Faqih juga berhasil meraih sanad riwayat Imam Hafs dari Imam ‘Ashim yang ia peroleh dari ustadz Muhammad Taufiq, salah satu penjamin mutu hafalan Al-Qur’an di DAFI. Faqih juga telah menorehkan banyak prestasi, di antaranya menjadi juara tahfidz tingkat provinsi dan nasional, bahkan mendapat hadiah umroh serta kesempatan menyetorkan hafalan di Masjidil Haram. “Selama di tanah suci, Faqih tidak tertarik mengambil program city tour. Ia memilih fokus menyetorkan hafalan kepada Syeikh Al-Qur’an. Ini bentuk cinta yang tulus terhadap Al-Qur’an,” ungkap Kepala MA Darul Fikri, Angga Wahyu Wardana. Tahun ini, MA Darul Fikri meluluskan 103 santri, 45 di antaranya hafal 30 juz. Angka ini meningkat 37 persen dari tahun sebelumnya. Sementara itu, 76 lulusan sudah diterima di berbagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN), dan lima lainnya bersiap melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar, Kairo. Kepala SMP DAFI, Uswatun Aisah, S.Pi., S.Pd., menambahkan bahwa Haflah ini bukan hanya seremoni, tetapi penanda akhir dari fase pendidikan yang membentuk karakter dan kecintaan terhadap Al-Qur’an. “Kami ingin lulusan siap melanjutkan ke jenjang berikutnya, dengan bekal Al-Qur’an, ilmu, dan semangat nasionalisme,” tegasnya. Haflah Akhir As-Sanah tahun ini bukan hanya ajang pelepasan, tetapi juga bukti nyata bahwa dengan kerja keras, ketulusan, dan dukungan para muhsinin, generasi Qur’ani yang unggul dan berdaya saing global benar-benar bisa diwujudkan.

Santri Beasiswa Raih Juara Harapan 2 MHQ Nasional di Makassar: Menghafal untuk Menjaga, Bukan Sekadar Berlomba

Al-Qur’an bukan sekadar untuk dilombakan, tetapi untuk dijaga dan diamalkan. Itulah pesan mendalam yang disampaikan oleh Muhammad Faqih Al Zuhdi, santri berprestasi asal Ngawi, Jawa Timur, yang berhasil meraih Juara Harapan 2 Musabaqoh Hifdzil Qur’an (MHQ) 30 Juz Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Islam dan Bahasa Arab (STIBA) Makassar. Faqih—begitu ia akrab disapa—merupakan putra dari Bapak Siswanto, seorang penyuluh KUA, dan Ibu Sri Suryani, seorang ASN di Kabupaten Ngawi. Santri penerima beasiswa ini telah menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an dan mendapatkan sanad riwayat Hafs dari Imam Ashim dari gurunya tercinta, Ustadz Muhammad Taufiq, S.Pd.I., Al-Hafizh. MHQ Nasional yang digelar pada 31 Mei 2025 itu diikuti oleh 302 peserta dari berbagai penjuru Indonesia, dengan proses seleksi ketat dimulai dari tahap kualifikasi video tasmi’ Al-Qur’an. Dari ratusan peserta, hanya 30 terbaik yang kemudian diundang ke Makassar untuk diuji secara langsung oleh para dewan juri ahli. “Saya menaikkan target murojaah harian dari 5 juz menjadi 10 juz per hari saat persiapan musabaqoh. Itu adalah bagian dari ikhtiar saya untuk memberikan yang terbaik dalam lomba ini,” ungkap Faqih. Namun bukan kemenangan yang menjadi titik paling berkesan dalam perjalanannya, melainkan kesempatan untuk bertemu para huffazh terbaik dari seluruh Indonesia, mulai dari Aceh, Bandung, Jawa Tengah, hingga daerah lainnya. Bahkan, salah satu penguji lomba ini adalah Ahmad Gozali, Juara 1 Hafidz Indonesia tahun 2018—momen yang membuat Faqih merasa sangat terinspirasi dan semakin termotivasi. Faqih menuturkan bahwa keberhasilannya tak lepas dari pendampingan, arahan, dan semangat yang terus diberikan oleh para ustadz di DAFI Pesantren Al-Qur’an Science. Dukungan penuh dari lingkungan yang mencintai Al-Qur’an membuatnya optimis untuk terus berjuang menjaga hafalan dan membumikan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan. Di akhir wawancaranya, Faqih menyampaikan pesan untuk adik-adik santri:“Jangan jadikan lomba tujuan utama. Jadikan musabaqoh sebagai cara kita mensyiarkan Al-Qur’an. Hafalan harus dijaga setiap saat, bukan hanya ketika akan berlomba.” Prestasi yang diraih oleh Faqih bukan hanya kebanggaan pribadi, tapi juga menjadi inspirasi bagi seluruh generasi muda Qur’ani di Indonesia khususnya para santri DAFI Pesantren Al Qur’an Science bahwa dengan kesungguhan, ketekunan, dan niat karena Allah, Al-Qur’an akan memuliakan siapa pun yang menjaganya. DAFI turut bersyukur atas prestasi ini, dan terus berkomitmen untuk mencetak generasi penghafal Al-Qur’an yang tak hanya cemerlang dalam prestasi, tetapi juga kokoh dalam adab, akidah, dan cinta terhadap Al-Qur’an.

Hasan Nashrulloh: Mimpi Itu Ada, Doa dan Usaha yang Menjadikannya Nyata.

Hasan Nashrulloh bukan berasal dari keluarga berada. Ia tumbuh dalam kesederhanaan, dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Namun, justru dari ruang sempit itulah tumbuh harapan-harapan besar yang ditanamkan orang tuanya sejak dini. “Saya lahir dari keluarga sederhana, tapi mereka ingin saya tumbuh dengan mimpi yang luar biasa,” ujar Hasan pelan namun penuh keyakinan. Sejak kecil, orang tuanya telah mengenalkannya pada Al-Qur’an dengan mengikutkannya ke Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ). Di sanalah benih kecintaan terhadap Kalamullah mulai tumbuh, dipelihara oleh lingkungan yang mendukung, dan menjadi arah hidup yang ia yakini hingga kini. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Pesantren DAFI sebagai penerima beasiswa dari Baziskaf, Hasan mengaku mengalami kegamangan. Lingkungan baru, aturan baru, hingga budaya dan ritme kehidupan pesantren yang sangat berbeda dengan kesehariannya, membuatnya harus berjuang keras untuk beradaptasi. “Rasanya campur aduk, antara tertantang dan takut. Saya harus melewati shock culture itu dengan banyak belajar dan menyesuaikan diri,” kenangnya. Namun perlahan, DAFI menjadi rumah kedua bagi Hasan. Pesantren itu bukan hanya tempat menghafal Al-Qur’an, tetapi juga medan untuk menempa karakter, membentuk ketahanan mental, dan memperluas wawasan melalui berbagai peran dan pengalaman yang ia emban: dari ketua pelaksana acara, wakil ketua OSIS, duta bahasa, hingga peserta berbagai perlombaan. Hasan tak menutupi bahwa jalannya sebagai penghafal Al-Qur’an tak selalu mulus. Pernah, di suatu malam menjelang ujian, ia menangis dalam diam karena merasa hafalannya belum sempurna. Bukan karena takut gagal semata, tetapi karena ia tahu betapa berat amanah ini, dan betapa besar pengorbanan orang tua yang ia bawa dalam setiap doa dan usahanya. Tapi air mata itu bukan titik akhir. Hasan bangkit, belajar lebih keras, dan memanfaatkan setiap waktu luang yang ia punya untuk menyeimbangkan hafalan, pelajaran umum, serta persiapan masuk kampus impian: LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab). Dengan ridho Allah SWT disertai tekad dan kerja keras yang konsisten, Hasan akhirnya berhasil. Ia menjadi salah satu dari sedikit pelajar di Indonesia yang diterima di LIPIA, kampus bergengsi di dunia Islam yang menjadi idaman banyak pencari ilmu. Ketika pengumuman diterima itu datang, Hasan langsung mengabari kedua orang tuanya. “Saya sangat bersyukur bisa menjadi salah satu yang terpilih. Ini bukan hanya mimpi yang terwujud, tapi juga amanah besar yang harus saya jaga,” katanya. Ia menyadari, nama orang tua dan pesantrennya melekat erat dalam perjalanan ini. Apa pun yang akan ia capai di masa depan, akan selalu membawa jejak mereka yang telah membersamainya sejak awal. Bagi Hasan, diterima di LIPIA bukanlah akhir perjalanan. Justru itu adalah awal dari tanggung jawab baru—untuk menjadi insan yang lebih bermanfaat, menyebarkan nilai-nilai kebaikan, dan memberi kontribusi nyata bagi bangsa. Ia ingin kelak menjadi sosok yang tidak hanya paham ilmu agama, tapi juga mampu menjawab tantangan zaman dengan bekal spiritual dan intelektual yang matang. Di hadapan para donatur dan orang-orang yang telah peduli terhadap pendidikan Qur’ani, Hasan hanya bisa menunduk dan berkata lirih, “Terima kasih sebesar-besarnya. Dukungan Anda sangat berarti, tidak hanya bagi saya, tetapi juga bagi para pejuang Al-Qur’an lain yang sedang berjuang dalam diam. Semoga Allah membalas setiap kebaikan Anda dengan pahala yang tak terputus.” Hasan juga menyampaikan pesan penuh harapan kepada anak-anak dhuafa lainnya yang mungkin masih ragu untuk bermimpi besar. “Jangan pernah merasa tidak mampu. Niat baik akan menemukan jalannya, bahkan melalui jalan yang tidak disangka-sangka. Tetaplah berusaha dan bertawakal.” Perjalanan Hasan adalah kisah tentang harapan yang tidak menyerah pada keterbatasan, tentang keyakinan yang tidak goyah di tengah tantangan, dan tentang Al-Qur’an yang tak hanya membentuk hafalan, tapi juga membentuk arah hidup. Dari mushaf yang ia peluk setiap hari, lahirlah mimpi-mimpi besar yang kini mulai terwujud satu per satu. Dan semoga dari kisahnya, lahir pula semangat bagi ribuan Hasan lainnya di seluruh pelosok negeri.

8 Tahun Perjuangan Reva: Dari Bangkalan, Diniatkan Menghafal 30 Juz Al-Qur’an

Di tengah sunyinya waktu subuh, ketika dunia masih terlelap, Tryza Revalina Rusadi sudah duduk bersimpuh di hadapan mushaf Al-Qur’an. Wajahnya penuh tekad, mengulang ayat demi ayat yang dihafalnya, tak ingin satu pun luput dari ingatannya. Gadis yang akrab disapa Reva ini bukan hanya santri biasa — ia adalah pejuang. Seorang yatim, penerima beasiswa, yang akhirnya berhasil mengkhatamkan hafalan 30 Juz Al-Qur’an setelah 8 tahun penuh semangat dan doa. Reva adalah putri ketiga dari empat bersaudara. Sejak ayahnya meninggal dunia karena sakit asam lambung saat ia duduk di kelas 3 SD, hidup keluarganya berubah drastis. Ibunya kini menghidupi keluarga dengan berjualan gorengan di Kalimantan Timur, sering dibantu oleh sang kakak sulung. Namun dari rumah yang sederhana itu, tumbuh cita-cita besar — menjadi penghafal Al-Qur’an yang mampu mengangkat derajat keluarga. Semangat itu tak pernah padam, terutama berkat dorongan luar biasa dari sang ibu. “Nak, jadilah penghafal Al-Qur’an. Karena insyaAllah, itu yang akan mengangkat derajat kita di dunia dan akhirat,” pesan ibunya yang masih terpatri dalam hati Reva hingga kini. Reva memulai hafalan sejak kelas 5 SD, dan melanjutkannya di SMP dan MA DAFI. Perjalanan itu tidak mudah. Ia sempat stagnan selama satu semester di juz 22, terutama di masa kelas 10 ketika hafalannya baru 9 juz. Fokusnya sempat goyah, rasa malas kerap mengintai, namun motivasi dari para ustadzah — terutama Ustadzah Ulya — membuatnya bangkit dan kembali kuat. Di pesantren, hari-hari Reva diisi dengan sesi menghafal yang disiplin: selepas subuh, di jam sekolah, dan setelah maghrib. Waktu selepas subuh menjadi favoritnya, karena suasana masih tenang dan hati terasa lebih jernih. “Kalau mengingat perjuangan ibu di rumah, saya tidak punya alasan untuk menyerah,” tutur Reva dengan mata berkaca-kaca. “Alhamdulillah, beasiswa ini sangat meringankan. Tanpa itu, mungkin saya sudah berhenti di tengah jalan karena tidak ingin membebani ibu di rumah.” Tak hanya hafalan Al-Qur’an, Reva juga menunjukkan prestasi akademik. Ia pernah meraih medali perunggu dan perak dalam Olimpiade Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Fiqih — sebuah bukti bahwa keterbatasan ekonomi tak menghalangi santri untuk tetap berprestasi. Kini, setelah mengkhatamkan hafalan 30 Juz, Reva punya cita-cita yang sederhana namun mulia: menjadi guru SD di kampung halamannya, Bangkalan. “Saya ingin memajukan pendidikan di sana. Semoga bisa jadi manfaat untuk banyak orang,” ungkapnya. Kepada para donatur, Reva menyampaikan doa yang tulus, “Terima kasih telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk kami. Semoga menjadi berkah, rezekinya lancar, dan menjadi wasilah keselamatan di dunia dan akhirat.” Reva percaya bahwa Al-Qur’an adalah sumber kekuatan hidupnya. Setiap kali ia merasa lelah atau tak tahu arah, ia membuka Al-Qur’an dan merenungi maknanya. “Al-Qur’an bukan hanya untuk dihafal, tapi menjadi pedoman dalam menghadapi hidup,” ujarnya. Program beasiswa yatim dan dhuafa penghafal Al-Qur’an seperti yang diterima Reva telah membuktikan diri sebagai investasi masa depan. Bukan hanya mencetak generasi Qur’ani, tetapi juga memberi harapan nyata bagi anak-anak yang terpinggirkan oleh keadaan. Mari Ambil Bagian dalam Perjuangan Mereka Masih banyak Reva-Reva lain di luar sana. Mereka punya semangat, mereka punya impian. Namun mereka butuh uluran tangan kita. Donasi Anda bukan hanya membantu biaya pendidikan, tetapi juga menanam pahala jariyah yang terus mengalir lewat hafalan dan amal mereka.Bersama kita bisa mencetak generasi penghafal Al-Qur’an yang kuat, cerdas, dan membawa cahaya untuk negeri ini. Salurkan donasi terbaik Anda melalui program beasiswa Yatim/Dhuafa Penghafal Al Qur’an.Karena setiap rupiah yang Anda berikan, akan mengalir bersama setiap huruf Al-Qur’an yang mereka lantunkan.

Dari Penghafal Al-Qur’an hingga Diterima di ITB: Perjalanan Inspiratif Fathimah, Santri Beasiswa Yatim MA DAFI

“Tidak ada keberhasilan yang cuma-cuma. Keberhasilan adalah sedikit keberuntungan yang didapat karena cerdas dan kerja keras selebihnya merupakan Ridho Allah SWT.”— Fathimah Khairun Nisa binti Alm. Ibnu Shobir , Santri Beasiswa Yatim DAFI, Penghafal 30 Juz Al-Qur’an Lolos ITB Jalur SNBP Di balik kampus bergengsi Institut Teknologi Bandung (ITB) yang menjadi impian banyak anak muda Indonesia, kini tercatat nama Fathimah, seorang santri penerima beasiswa dari Pesantren DAFI, sebagai salah satu mahasiswi barunya. Namun, lebih dari sekadar lolos seleksi nasional, Fathimah membawa cerita tentang iman, perjuangan, dan ketulusan yang layak mengetuk hati siapa pun. Fathimah bukanlah remaja biasa. Sejak usia 3 tahun, ia sudah mulai menghafal Al-Qur’an, mengikuti jejak kedua orangtuanya yang juga penghafal Kitabullah. Di tengah segala keterbatasan, termasuk kehilangan sang ayah yang sangat dicintainya, Fathimah tetap istiqamah menjaga hafalan, menuntut ilmu, dan berprestasi. “Yang paling sulit itu menjaga niat tetap lurus karena manusia itu punya fitrah ingin diakui. Tapi saya selalu diingatkan untuk menghafal hanya demi Allah,” kenangnya, menggambarkan perjuangan batin yang tak kalah berat dibanding beban akademik. Hingga pada suatu hari yang penuh haru, Fathimah menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an, menjadi yang pertama dalam keluarganya yang menuntaskannya. Namun, bagi Fathimah, hafal 30 juz bukanlah akhir, melainkan amanah besar yang harus terus dijaga dengan murojaah dan amal nyata. Sebagai santri aktif, Fathimah juga dipercaya menjadi ketua organisasi internal pesantren (OSIDAFI), aktif di Palang Merah Remaja, serta beberapa kali menjuarai lomba-lomba akademik dan non akademik, tingkat provinsi hingga Nasional. Semua pencapaian itu ia raih di tengah hidup sebagai santri penghafal Al-Qur’an, tanpa pernah menjadikan keadaan sebagai penghalang. “Abi saya sudah wafat, dan Saya ingin terus belajar agar itu menjadi pahala jariyah untuk beliau,” tuturnya sambil menahan haru. Atas prestasinya yang gemilang, Fathimah dinyatakan lolos Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) dan resmi diterima di Fakultas Sains dan Teknologi di ITB, kampus impian jutaan pelajar Indonesia. Namun perjuangan belum selesai. “Saya sangat bersyukur dan berterima kasih. Semoga Allah membalas kebaikan Bapak dan Ibu yang telah menjadi bagian dalam jihad saya menuntut ilmu wabil khusus pak Herman dan keluarga yang membantu secara penuh kebutuhan pendidikan setiap bulannya,” ucapnya penuh rasa syukur. Koordinator Baziskaf DAFI, Ustadz Andy Setiawan, menegaskan bahwa Fathimah hanyalah satu dari sekian banyak anak yatim dan dhuafa penghafal Al-Qur’an yang sedang berjuang mewujudkan mimpi mereka di pesantren. “Kami bersyukur ada para donatur yang bersedia menjadi Orang Tua Asuh. Tanpa mereka, pendidikan seperti ini hanyalah mimpi bagi anak-anak beasiswa kami,” ungkapnya. Mari Jadi Bagian dari Perjalanan Mereka Bersama Baziskaf DAFI, Anda bisa mengambil bagian dalam mencetak generasi Qur’ani yang cerdas, berakhlak, dan berkontribusi nyata untuk negeri. Seperti Fathimah, masih banyak santri yatim dhuafa lainnya yang menanti uluran tangan Anda agar mereka tetap bisa belajar, menghafal, dan mengejar cita-cita mulia. Donasi Anda adalah cahaya dalam gelap, adalah ilmu dalam perjuangan, adalah bekal bagi masa depan bangsa. Yuk, Ambil Bagian menjadi Orang Tua Asuh.Karena satu kebaikan Anda, bisa mengubah hidup satu generasi.

Ramadan Berkah! BSI Cabang Pondok Candra Sidoarjo Salurkan Bantuan Pendidikan Santri Yatim Penghafal Al-Qur’an

Sidoarjo – Bank Syariah Indonesia (BSI) Cabang Pondok Candra, Sidoarjo, menyalurkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) sebesar Rp38 juta untuk membantu pendidikan santri yatim penghafal Al-Qur’an di DAFI Pesantren Al Qur’an Science pada 25 Maret 2025 yang didalamnya terdapat 71 santri penerima beasiswa pendidikan 100%. Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Bapak Teguh Kepala Cabang BSI Pondok Candra kepada Koordinator Penghimpunan dan Penyaluran bantuan pesantren dalam pertemuan sederhana namun penuh makna. Dana ini akan digunakan untuk mendukung kebutuhan pendidikan para santri, seperti biaya sekolah, makan santri, serta kebutuhan lainnya. “Kami berharap bantuan ini bisa memberikan manfaat nyata bagi para santri yatim yang tengah berjuang dalam menuntut ilmu dan menghafal Al-Qur’an. Ini merupakan wujud komitmen BSI untuk berkontribusi membangun generasi Qur’ani yang berdaya saing tinggi,” ujar Bapak Teguh dalam obrolannya. Andy Setiawan, sebagai Koordinator Penghimpunan dan Penyaluran bantuan pesantren, mengucapkan terima kasih atas dukungan dari BSI. Ia menyampaikan bahwa bantuan ini sangat berarti dalam memperlancar proses pendidikan para santri yatim yang menjadi tulang punggung masa depan umat. Program ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan CSR BSI yang berfokus pada bidang sosial, pendidikan, dan keagamaan, sesuai dengan visi BSI untuk menjadi bank syariah pilihan utama masyarakat.

Bermanfaat! PT. Telkom Indonesia Salurkan Santunan Pendidikan Santri Yatim Penghafal Al Qur’an

Sidoarjo, 20 Maret 2025 – Sebagai bentuk kepedulian sosial dan dukungan terhadap pendidikan generasi muda, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menyalurkan santunan kepada para santri yatim penghafal Al-Qur’an. Santunan ini diberikan untuk membantu meringankan biaya pendidikan para santri, sekaligus mendorong semangat mereka dalam menuntut ilmu dan menghafal Al-Qur’an. Acara penyerahan santunan berlangsung di DAFI Pesantren Al Qur’an Science, Anggaswangi, Sukodono – Sidoarjo dan dihadiri oleh jajaran manajemen PT Telkom serta pengajar. Dalam sambutannya, Manager penyaluran PT. Telkom menyampaikan bahwa pendidikan adalah salah satu kunci penting untuk masa depan bangsa, dan para santri ini adalah aset berharga yang harus terus didukung. “Kami di PT Telkom percaya bahwa investasi terbaik adalah investasi untuk pendidikan. Memberikan dukungan kepada santri yatim penghafal Al-Qur’an tidak hanya membantu masa depan mereka, tetapi juga membangun generasi yang berakhlak mulia dan berilmu,” ujarnya. Santunan yang disalurkan berupa bantuan biaya pendidikan, yang mana para santri yatim di pesantren telah mendapatkan beasiswa pendidikan 100% baik untuk sekolah, diniyah, dan juga makan sehari-harinya. Koordinator penghimpunan dan penyaluran bantuan pesantren, Andy Setiawan, menyampaikan rasa terima kasih kepada PT Telkom atas perhatian dan dukungannya. “Bantuan ini sangat berarti bagi para santri kami. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya bagi seluruh keluarga besar PT Telkom,” ungkapnya.

Pembinaan dan Doa Bersama Santri Yatim-Dhuafa: “Terima Kasih, Doa Terbaik Kami Untuk Para Muhsinin”

Akhir pekan yang lalu, Sabtu 18 Januari 2025 seluruh santri binaan yang menerima Beasiswa Yatim/Dhuafa dan prestasi dikumpulkan dalam kegiatan Pembinaan Santri yang menjadi program rutin kolaborasi antara BAZISKAF DAFI bersama Dompet Al Qur’an Indonesia sebagai lembaga yang mendukung dan memenuhi segala kebutuhan pendidikan para santri beasiswa di SMP dan MA, DAFI Pesantren Al Qur’an Science. Sebanyak 71 santri beasiswa secara terpisah antara pesantren putra dan putri menerima materi berkaitan tentang pentingnya menjadi teladan untuk para santri yang lain, karena mereka adalah contoh profil santri DAFI. “Kalian adalah anak-anak yang istimewa yang berkesempatan mendapatkan beasiswa di DAFI, menjadi penghafal Al Qur’an serta memberikan teladan bagi sesama santri yang lain.”, pesan Ustadz Andy sebagai pemateri sekaligus Koordinator BAZISKAF DAFI. Bagaimana tidak, mereka adalah santri-santri pilihan dari banyak pendaftar yang mengikuti seleksi untuk berkesempatan menerima beasiswa pendidikan di pesantren penghafal Al Qur’an. Penanaman rasa percaya diri dan amanah juga di kuatkan oleh pemateri yang turut menyempatkan hadir dari Dompet Al Qur’an Indonesia. Tidak hanya pembinaan, dalam kegiatan ini juga dilangsungkan doa bersama dari para santri yatim/dhuafa penghafal Al Qur’an untuk kemudahan belajar dan masa depan santri, segala urusan pesantren dimudahkan, khususnya para muhsinin/donatur agar setiap langkah dan hajat baiknya disegerakan oleh Allah SWT. “Terima kasih para donatur, semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan serta selalu dalam rahmat dan ridho-Nya. Hanya doa terbaik yang bisa kami berikan”, pungkas salah satu santriwati penerima beasiswa. Yuk, dukung perjuangan santri yatim/dhuafa penghafal Al Qur’an dalam program beasiswa pendidikan melalui rekening; Bank Syariah Indonesia 66 7777 6062 An. YPP Darul Fikri Sidoarjo

YBM PLN – DQ Bersinergi Mencerahkan Generasi Masa Depan Penghafal Al Qur’an

Pendidikan merupakan fondasi utama untuk membangun masa depan yang lebih baik, dan hal ini berlaku untuk semua anak tanpa terkecuali, termasuk anak yatim dan dhuafa. Membantu pendidikan mereka bukan hanya soal memberikan akses ke sekolah atau materi pendidikan, tetapi juga memberi mereka kesempatan untuk meraih potensi terbaik mereka. Anak-anak yatim dan dhuafa sering kali menghadapi tantangan yang lebih berat dalam hidup, seperti keterbatasan ekonomi dan kurangnya dukungan emosional, yang dapat menghalangi mereka untuk berkembang secara optimal. Dengan memberikan perhatian khusus pada pendidikan mereka, kita membuka jalan bagi mereka untuk mengatasi kesulitan yang mereka hadapi, serta memberikan harapan bahwa mereka bisa mencapai kesuksesan meskipun dalam kondisi yang serba kekurangan. Pendidikan yang layak bagi anak yatim dan dhuafa juga berperan penting dalam mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi. Tanpa dukungan pendidikan yang memadai, mereka berisiko terjebak dalam lingkaran kemiskinan yang sulit diputus. Dengan membantu mereka mendapatkan pendidikan yang berkualitas, kita turut serta dalam membekali mereka dengan keterampilan dan pengetahuan yang dapat meningkatkan peluang hidup mereka. Ini juga menjadi langkah konkret untuk mengurangi ketidaksetaraan sosial yang ada, sekaligus mendorong terciptanya masyarakat yang lebih adil dan merata, di mana setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang. Lebih dari sekadar investasi untuk masa depan mereka, membantu pendidikan anak yatim dan dhuafa juga berkontribusi pada terciptanya generasi masa depan yang lebih baik untuk bangsa. Anak-anak ini adalah calon pemimpin, ulama, ilmuwan, pendidik, dan profesional di masa depan, yang bisa memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Dengan memastikan mereka mendapatkan pendidikan yang layak, kita tidak hanya membentuk individu yang kompeten dan berdaya, tetapi juga menciptakan perubahan sosial yang lebih luas. Oleh karena itu, mendukung pendidikan anak yatim dan dhuafa adalah langkah strategis dalam mewujudkan visi besar kita untuk masa depan yang lebih cerah dan berkeadilan. Berangkat dari hal di atas, Yayasan Baitul Maal PLN (YBM PLN) pada Jum’at, 8 November 2024 menyalurkan bantuan melalui Dompet Al Qur’an Indonesia untuk membantu beasiswa pendidikan santri penghafal Al Qur’an di DAFI. Total 30 lebih santri jenjang SMP mendapatkan bantuan beasiswa yang akan dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan pendidikan selama di DAFI yang sampai saat ini masih belum terpenuhi. Ustadz Koko Setialan yang merupakan Waka Kesiswaan dari SMP DAFI merasa senang dengan bantuan tersebut, “Alhamdulillah, terima kasih YBM PLN dan Dompet Al Qur’an atas bantuannya. Dengan ini bisa membantu meringankan pesantren dalam memenuhi kebutuhan santri penerima beasiswa pendidikan gratis di DAFI”. Tidak semua santri penerima bisa hadir dalam simbolis penyerahan bantuan dikarenakan sedang dalam program Camp Tahfidz untuk menambah hafalan Al Qur’an para santri. “Tidak apa-apa, yang penting ada yang mewakili dari pihak ustadz/ustadzah yang menerima. Dan yang paling penting para santri ini ke depan lebih semangat lagi dalam belajar dan menghafalkan Al Qur’an”, pungkas Pak Ryan dari Dompet Al Qur’an yang dipercaya YBM PLN dalam menyalurkan bantuan. Masih banyak santri yatim/dhuafa dan berprestasi yang membutuhkan dukungan kita semuanya untuk mewujudkan cita-cita mulia mereka. Mari bergabung menjadi bagian yang turut andil dalam program mewujudkan generasi masa depan Indonesia dengan akhlak Qur’ani dengan sedikit menyisihkan dari rezeki kita untuk mereka. Salurkan infak terbaik untuk generasi masa depan yang Qur’ani melalui:BSI 6677776062An. YPP Darul Fikri Sidoarjo