Sudah Siap Berkurban?

Ibadah qurban adalah salah satu amalan mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam, terutama pada hari raya Iduladha dan hari-hari tasyriq. Qurban bukan hanya sekadar menyembelih hewan, tetapi juga bentuk nyata ketundukan seorang hamba kepada Allah SWT, wujud rasa syukur, dan kepedulian terhadap sesama. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ “Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”(QS. Al-Kautsar: 2) Ayat ini menunjukkan perintah langsung dari Allah kepada umat Islam untuk beribadah dan berkurban. Sehingga, berkurban bukan hanya tradisi tahunan, melainkan ibadah yang memiliki nilai keimanan dan ketaqwaan yang tinggi. Meneladani Nabi Ibrahim dan Ismail Ibadah qurban berakar dari kisah agung Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Ketaatan keduanya — Nabi Ibrahim sebagai ayah yang mencintai anaknya, dan Nabi Ismail sebagai anak yang patuh — menjadi teladan luar biasa tentang keikhlasan dan pengorbanan dalam beribadah kepada Allah. Allah menggambarkan peristiwa ini dalam Al-Qur’an: فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُۙ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَاۚ اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ “Maka ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), Kami panggillah dia: ‘Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.’ Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”(QS. Ash-Shaffat: 103-105) Allah kemudian mengganti Ismail dengan seekor hewan sembelihan besar, yang menjadi simbol bahwa ketaatan dan keikhlasan lebih utama dibanding bentuk fisik pengorbanan itu sendiri. Qurban sebagai Bukti Ketakwaan Berkurban bukan tentang darah atau daging hewan yang sampai kepada Allah, melainkan tentang ketakwaan hati kita. Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an: لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang dapat mencapainya.”(QS. Al-Hajj: 37) Ibadah qurban mendidik hati untuk lebih bertakwa, mengingatkan bahwa segala amal harus dilakukan ikhlas hanya untuk Allah, bukan untuk pujian manusia. Rasulullah SAW sangat menekankan pentingnya berkurban. Dalam sebuah hadits shahih, beliau bersabda: “Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah daripada menyembelih hewan kurban. Sesungguhnya hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, bulu, dan kuku-kukunya. Dan sesungguhnya darah hewan itu akan jatuh di sisi Allah di suatu tempat sebelum jatuh ke tanah. Maka, perbaguslah jiwa kalian (saat berkurban).”(HR. Tirmidzi, no. 1493, hasan shahih) Hadits ini menunjukkan bahwa berkurban memiliki keutamaan besar di sisi Allah. Hewan qurban akan menjadi saksi bagi orang yang menyembelihnya kelak di hari kiamat. Membagikan Kebahagiaan Ibadah qurban juga berfungsi sosial: mendistribusikan kebahagiaan kepada mereka yang membutuhkan. Daging qurban dibagikan kepada fakir miskin, tetangga, dan kerabat, mempererat silaturahmi, serta menumbuhkan rasa empati dan solidaritas antarumat Islam. Allah berfirman: “… Maka makanlah sebagiannya (daging qurban) dan berikanlah makan kepada orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya dan kepada orang yang meminta.”(QS. Al-Hajj: 36) Qurban mengajarkan bahwa rezeki yang kita miliki bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga ada hak orang lain di dalamnya. Berkurban adalah amalan mulia yang memadukan nilai ibadah, ketakwaan, keikhlasan, dan kepedulian sosial. Melalui qurban, kita menghidupkan kembali nilai-nilai keteladanan Nabi Ibrahim dan Ismail AS, meningkatkan keimanan, dan mempererat hubungan antar sesama manusia. Mari kita jadikan momen Iduladha ke depan ini sebagai kesempatan untuk memperkuat keimanan kita dengan berkurban, semata-mata untuk mencari keridaan Allah SWT. Wallāhu a’lam bish-shawāb

Ramadan Berkah! BSI Cabang Pondok Candra Sidoarjo Salurkan Bantuan Pendidikan Santri Yatim Penghafal Al-Qur’an

Sidoarjo – Bank Syariah Indonesia (BSI) Cabang Pondok Candra, Sidoarjo, menyalurkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) sebesar Rp38 juta untuk membantu pendidikan santri yatim penghafal Al-Qur’an di DAFI Pesantren Al Qur’an Science pada 25 Maret 2025 yang didalamnya terdapat 71 santri penerima beasiswa pendidikan 100%. Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Bapak Teguh Kepala Cabang BSI Pondok Candra kepada Koordinator Penghimpunan dan Penyaluran bantuan pesantren dalam pertemuan sederhana namun penuh makna. Dana ini akan digunakan untuk mendukung kebutuhan pendidikan para santri, seperti biaya sekolah, makan santri, serta kebutuhan lainnya. “Kami berharap bantuan ini bisa memberikan manfaat nyata bagi para santri yatim yang tengah berjuang dalam menuntut ilmu dan menghafal Al-Qur’an. Ini merupakan wujud komitmen BSI untuk berkontribusi membangun generasi Qur’ani yang berdaya saing tinggi,” ujar Bapak Teguh dalam obrolannya. Andy Setiawan, sebagai Koordinator Penghimpunan dan Penyaluran bantuan pesantren, mengucapkan terima kasih atas dukungan dari BSI. Ia menyampaikan bahwa bantuan ini sangat berarti dalam memperlancar proses pendidikan para santri yatim yang menjadi tulang punggung masa depan umat. Program ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan CSR BSI yang berfokus pada bidang sosial, pendidikan, dan keagamaan, sesuai dengan visi BSI untuk menjadi bank syariah pilihan utama masyarakat.

Hangatkan dan Bahagiakan Santri, Kebab Baba Rafi Berbagi Takjil Gratis untuk Para Santri Yatim Penghafal Al Qur’an!

Sidoarjo – Menyemarakkan bulan suci Ramadan, Kebab Baba Rafi menyalurkan paket takjil gratis kepada para santri yatim penghafal Al-Qur’an di DAFI Pesantren Al Qur’an Science secara terpisah di pesantren putra (Anggaswangi) dan putri (Sarirogo) pada 17 Maret 2025. Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian sosial Kebab Baba Rafi terhadap pendidikan dan kesejahteraan anak-anak yatim, khususnya para santri yang tengah berjuang menghafal Al-Qur’an. Beberapa relawan Baba Rafi terjun langsung untuk membagikan takjil berupa makanan bergizi dan minuman segar sekaligus buah-buahan menjelang waktu berbuka puasa di bulan Ramadan.“Kami ingin berbagi kebahagiaan di bulan penuh berkah ini, terutama kepada para santri yatim yang luar biasa dalam perjuangannya menuntut ilmu dan menghafal Al-Qur’an,” ujar Kak Nadir yang mewakili Kebab Baba Rafi. Selain membagikan takjil, acara juga diisi dengan doa bersama serta tausiyah singkat tentang keutamaan berbagi di bulan Ramadan. Suasana berlangsung hangat dan penuh rasa syukur, sekaligus tes sambung ayat Al Qur’an yang dijawab langsung dengan benar oleh para santri dengan tepat. Andy Setiawan, selaku koordinator penghimpunan dan penyaluran yang membantu para santri yatim di pesantren mengapresiasi inisiatif ini dan berharap kegiatan serupa bisa terus berlanjut di masa mendatang. “Takjil yang dibagikan sangat membantu para santri kami. Semoga Allah membalas semua kebaikan tim Kebab Baba Rafi,” ujarnya. Penyaluran takjil ini merupakan bagian dari program Ramadan berbagi Kebab Baba Rafi yang setiap tahunnya rutin dilakukan di berbagai lokasi, sebagai bentuk kontribusi sosial perusahaan kepada masyarakat.

Bermanfaat! PT. Telkom Indonesia Salurkan Santunan Pendidikan Santri Yatim Penghafal Al Qur’an

Sidoarjo, 20 Maret 2025 – Sebagai bentuk kepedulian sosial dan dukungan terhadap pendidikan generasi muda, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menyalurkan santunan kepada para santri yatim penghafal Al-Qur’an. Santunan ini diberikan untuk membantu meringankan biaya pendidikan para santri, sekaligus mendorong semangat mereka dalam menuntut ilmu dan menghafal Al-Qur’an. Acara penyerahan santunan berlangsung di DAFI Pesantren Al Qur’an Science, Anggaswangi, Sukodono – Sidoarjo dan dihadiri oleh jajaran manajemen PT Telkom serta pengajar. Dalam sambutannya, Manager penyaluran PT. Telkom menyampaikan bahwa pendidikan adalah salah satu kunci penting untuk masa depan bangsa, dan para santri ini adalah aset berharga yang harus terus didukung. “Kami di PT Telkom percaya bahwa investasi terbaik adalah investasi untuk pendidikan. Memberikan dukungan kepada santri yatim penghafal Al-Qur’an tidak hanya membantu masa depan mereka, tetapi juga membangun generasi yang berakhlak mulia dan berilmu,” ujarnya. Santunan yang disalurkan berupa bantuan biaya pendidikan, yang mana para santri yatim di pesantren telah mendapatkan beasiswa pendidikan 100% baik untuk sekolah, diniyah, dan juga makan sehari-harinya. Koordinator penghimpunan dan penyaluran bantuan pesantren, Andy Setiawan, menyampaikan rasa terima kasih kepada PT Telkom atas perhatian dan dukungannya. “Bantuan ini sangat berarti bagi para santri kami. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya bagi seluruh keluarga besar PT Telkom,” ungkapnya.

Dahsyatnya Ramadan!

22 SYA’BAN 1446 H QS. AL BAQARAH : 183-187 Bismillah, Alhamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa aalihi wa shohbihi wa man waalaahu. Saudaraku sekalian, Ramadan adalah kado istimewa dari Allah SWT untuk umat Islam. Tentu orang yang sangat berbahagia dengan kehadirannya adalah yang paling siap membuka atau memanfaatkan kado itu dengan memaksimalkan ibadah & taat. Yang beribadah dengan sempurna sejalan dengan tuntutan Ramadan adalah mereka yang berpeluang sukses mencapai tujuan Ramadan. Tujuan ibadah Ramadan adalah mencapai taqwa/ketaqwaan sebagai jalan menuju taqwa, maka di bulan Ramadan Allah Swt,  menyertakan sarana pencapaiannya berupa : Kewajiban berpuasa, yang disandingkan dengan sunnah shalat Tarawih. penghapusan dosa pelipat gandaan pahala pembelengguan setan peluang menjumpai Lailatul Qadar. Merujuk QS. Al Baqarah 183 – 187, minimal ada dapat 4 proyek yang harus kita realisasikan dengan serius di bulan Ramadan : Puasa Bulan Ramadan dikenal dengan sebutan “Bulan Puasa” atau Syahrus Shiyaam, karena puasa adalah inti dari ibadah Ramadan. Puasa menjadikan kita sehat secara jiwa, raga serta fikiran, sehingga ketaqwaan lebih mudah teraih. Tilawah  Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Karena itu, tilawah semaksimal mungkin adalah ibadah yang sangat singkron dalam rangka memperindah puasa kita. Dengan banyak tilawah, insyaAllah peluang untuk dijumpai oleh Lailatul Qadar akan terealisasi. Banyak Berdoa Allah berjanji akan mengabulkan semua permohonan kita di bulan Ramadan. Karena itu manfaatkan untuk beristighfar minta ampun atas seluruh dosa, minta untuk tidak dimampukan lagi melakukan dosa, dan menyetor semua keinginan kita dari yang paling “sulit” hingga yang paling “ringan”. Lalu, biarkan Allah memilih mana diantara semua keinginan yang cocok untuk terwujud pada diri kita. Mesra Terhadap Pasangan. Saat setan dibelenggu, neraka ditutup dan surga sebagai bakal rumah kelak sedang mengakrabi kita dengan menghiasi dirinya di bulan Ramadan, maka manfaatkan peluang itu  untuk menjalin komunikasi yang baik dengan pasangan. Jadikan rumah kita adalah surga yang sedang  dihias. Sebab sesempurna apapun keadaan atau kedudukan kita, tetapi bermasalah dengan pasangan, maka kita hanyalah manusia yang tak utuh lagi. Allah mengatakan akan menyampaikan pahala puasa secara langsung pada yang berpuasa. Karena itu, berpuasalah dengan sempurna sesuai rukun dan syaratnya, agar kita malu padaNya, saat pahala dibagikan. Ya Rahman…, Jadikan kami orang yang Engkau pilih untuk serius menjalani ibadah Ramadan agar kelak kami bahagia dengan gelar “TAQWA” . KH. Muhammad Shaleh Drehem, LcPengasuh DAFI Pesantren Al-Qur’an Science

Jadikan Ananda Sebagai “Manusia Surga” (Part 2)

BismillahAlhamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa aalihi wa shohbihi wa man waalaahu. Saudara sekalian, Mengasuh anak adalah amanah besar yang diberikan Allah SWT kepada setiap orang tua. Berikut ini adalah tipe tipe anak yang terbentuk melalui berbagai pola asuh : Pengasuhan anak secara Islam harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk membangun generasi Qurrotu A’yun yang berakhlak mulia dan taat kepada agama, Abdullah Nasich Ulwan dalam kitab “Tarbiyatul Aulad” menyampaikan bahwa selain memberikan keteladan, penyampaian kata secara hikmah dan doa khusyu’, dari orang tua (pendidik) pada anak, maka hendaknya pendidikan anak diarahkan untuk memaksimalkan : Ya Rahman,Jadikan putra putri kami sebagai Qurrata A’yun bagi kedua orang tuanya. K.H. Muhammad Shaleh Drehem, Lc Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science

Jadikan Ananda sebagai Manusia Surga

Bismillah,Alhamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa aalihi wa shohbihi wa man waalaahu. Saudara sekalian, Orang tua yang beriman tak pernah bosan dan lelah memohon kepada Allah agar dikaruniai anak yang shalih – shalihah dan kelak masuk surga bersama keluarganya. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا “Ya Rabb kami, jadikanlah istri-istri dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. al-Furqan : 74) Orang tua, tak boleh tersesat dan kehilangan kendali pendidikan, sehingga tak bisa menjadi penunjuk jalan bagi putra putrinya menuju surga. Dengan cara apa orang tua menjadikan putra putrinya sebagai Manusia Surga? Dengan Ilmu Agama Islam Tidak cukup hanya dengan bercita-cita dan berdoa agar putra putri menjadi Manusia Surga, tapi harus disertai ikhtiar yang maksimal dengan mengajari ilmu agama Islam. وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ بِهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ “Barangsiapa merintis jalan mencari ilmu (agama) maka Allah akan memudahkannya jalan menuju surga.” (HR. Bukhari) Dengan Amal Shalih Surga harus ditempuh dengan amal shalih. وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ “Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang terlebih dahulu kamu kerjakan”. (QS. Az-Zukhruf : 72) Amal shalih yang paling penting untuk dijalankannya adalah pembiasaan melakukan shalat lima waktu. “Perintahkan anak agar menjalankan shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka bila enggan menjalankan shalat pada usia sepuluh tahun, dan pisahkan dia dari tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud) Mendidik dengan penuh kesabaran Bersabar mendidik anak, merupakan ikhtiar yang sangat menentukan dalam mencetak Manusia Surga. Saat ini putra putri kita dihadapkan dengan berbagai fitnah, seperti pergaulan bebas, ponsel dan perangkat lainnya yang melalaikan. Berharap putra putri menjadi Manusia Surga, tentu orang tua harus memperhatikan gerak-gerik anaknya, dan selalu menasihati dengan sabar agar meninggalkan perbuatan yang menyebabkan dirinya masuk neraka. “(Jalan menuju) surga itu dipenuhi dengan hal-hal yang tidak disukai, sedangkan (jalan menuju) neraka dipenuhi dengan berbagai kenikmatan yang disenangi oleh syahwat.” (HR. Muslim) Mengingatkan pada kehidupan sesudah kematian Beriman kepada hari akhir adalah bagian dari rukun iman yang harus di-imani oleh setiap kaum muslimin termasuk putra putri kita. Sangat penting menjelaskan tentang surga dan neraka, agar putra putri kita bersemangat dan termotivasi untuk mendekat pada kenikmatan abadi di surga dan berlari jauh dari siksa neraka. Orang tua yang sukses sebagai pendidik adalah mereka yang tak jemu memikirkan kesuksesan putra putrinya di dunia untuk meraih kesuksesan di akhirat (surga). Ya Rahman,Jadikan putra putri kami sebagai qurrota a’in bagi kedua orang tuanya. Yuk dukung bersama pendidikan santri yatim/dhuafa penghafal Al Qur’an!

Pembinaan dan Doa Bersama Santri Yatim-Dhuafa: “Terima Kasih, Doa Terbaik Kami Untuk Para Muhsinin”

Akhir pekan yang lalu, Sabtu 18 Januari 2025 seluruh santri binaan yang menerima Beasiswa Yatim/Dhuafa dan prestasi dikumpulkan dalam kegiatan Pembinaan Santri yang menjadi program rutin kolaborasi antara BAZISKAF DAFI bersama Dompet Al Qur’an Indonesia sebagai lembaga yang mendukung dan memenuhi segala kebutuhan pendidikan para santri beasiswa di SMP dan MA, DAFI Pesantren Al Qur’an Science. Sebanyak 71 santri beasiswa secara terpisah antara pesantren putra dan putri menerima materi berkaitan tentang pentingnya menjadi teladan untuk para santri yang lain, karena mereka adalah contoh profil santri DAFI. “Kalian adalah anak-anak yang istimewa yang berkesempatan mendapatkan beasiswa di DAFI, menjadi penghafal Al Qur’an serta memberikan teladan bagi sesama santri yang lain.”, pesan Ustadz Andy sebagai pemateri sekaligus Koordinator BAZISKAF DAFI. Bagaimana tidak, mereka adalah santri-santri pilihan dari banyak pendaftar yang mengikuti seleksi untuk berkesempatan menerima beasiswa pendidikan di pesantren penghafal Al Qur’an. Penanaman rasa percaya diri dan amanah juga di kuatkan oleh pemateri yang turut menyempatkan hadir dari Dompet Al Qur’an Indonesia. Tidak hanya pembinaan, dalam kegiatan ini juga dilangsungkan doa bersama dari para santri yatim/dhuafa penghafal Al Qur’an untuk kemudahan belajar dan masa depan santri, segala urusan pesantren dimudahkan, khususnya para muhsinin/donatur agar setiap langkah dan hajat baiknya disegerakan oleh Allah SWT. “Terima kasih para donatur, semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kesehatan serta selalu dalam rahmat dan ridho-Nya. Hanya doa terbaik yang bisa kami berikan”, pungkas salah satu santriwati penerima beasiswa. Yuk, dukung perjuangan santri yatim/dhuafa penghafal Al Qur’an dalam program beasiswa pendidikan melalui rekening; Bank Syariah Indonesia 66 7777 6062 An. YPP Darul Fikri Sidoarjo

Hal-Hal yang Dimakruhkan Dalam Sholat (Part 2)

Sholat Berjamaah

Termasuk juga perkara-perkara yang dimakruhkan dalam shalat adalah sebagai berikut: 3. Mengikat atau mengumpulkan rambut dan menyingsingkan ujung pakaian ditengah-tengah sholat. Berdasarkan keterangan dari Abi Rofi’, ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alai wa sallam melarang seorang laki-laki sholat dalam keadaan rambutnya terikat.” (HR. Ibnu Majah). Para ulama menjelaskan, bahwa larangan ini dikhususkan bagi laki-laki saja. Hendaknya ia meninggalkan atau membiarkan rambutnya sujud bersamanya. Larangan ini juga berlaku untuk orang yang disibukkan dengan rambutnya ketika sholat, yaitu mengumpulkan atau menyingkapnya. Kemudian juga disebutkan dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alai wa sallam bersabda: أمرت أن أسجد على سبعة أعظم ولا أكف ثوباً ولا شعراً “Aku diperintahkan bersujud diatas tujuh bagian anggota badan, dan aku tidak mengumpulkan (menyingkap, menyingsingkan) pakaian dan rambut.” (HR. Bukhori dan Muslim) Namun yang disunnahlkan adalah meninggalkan pakaian terjulur dengan sendirinya. Hikmah dari larangan ini adalah agar kita tidak tersibukkan dengan hal-hal tersebut ketika sholat. Dan menyingkap pakaian serta mengumpulkan rambut ketika sholat menunjukkan gestur kesombongan. 4. Shalat bersamaan dengan telah tersajinya makanan dan sangat ingin menyantapnya. Tentunya hal ini dapat membuat diri tersibukan dengan memikirkan hal tersebut dan kehilangan konsentrasi dalam shalat. Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu ma ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alai wa sallam bersabda: إذا وضع عشاء أحدكم وأقيمت الصلاة، فابدؤوا بالعشاء ولا يعجل حتى يفرغ منه “Apabila makan malam salah seorang di antara kalian telah tersaji, sedangkan sholat telah ditegakkan, maka mulailah (dahulukan) makan malam tersebut. Dan janganlah ia tergesa-gesa sampai selesai menyantap makanan tersebut.” (HR. Bukhori dan Muslim). 5. Shalat dalam keadaan mengantuk berat, menahan kencing dan buang air besar. Karena dalam keadaan ini, tidak mungkin seseorang bisa maksimal dalam memberikan hak shalat yaitu khusyu’ dan menghadirkan hati. Rasulullah shallallahu ‘alai wa sallam bersabda, لا صلاة بحضرة طعام، ولا هو يدافعه الأخبثان”. أي البول والغائط “Tidak ada shalat ketika makanan telah dihidangkan, tidak pula bagi orang yang menahan dua hal yang kotor (kencing dan buang air besar).” (HR. Muslim: 560) Kemudian keterangan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alai wa sallam bersabda: إذا نعس أحدكم – وهو يصلي – فليرقد حتى يذهب عنه النوم، فإن أحدكم إذا صلى وهو ناعس،لا يدري لعله يستغفر فيسب نفسه “Apabila salah seorang di antara kalian mengantuk dan ia dalam keadaan shalat, maka hendaknya ia tidur terlebih dahulu sampai hilang rasa kantuknya. Karena apabila salah seorang di antara kalian tetap shalat, sedangkan ia dalam keadaan mengantuk, ia tidak tahu, mungkin ia bermaksud meminta ampun, namun ternyata malah mencela dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim) Alhamdulillah demikianlah beberapa perkara yang dimakruhkan dalam shalat, walaupun tidak semuanya bisa kita sebutkan. semoga bermanfaat. Madinah, 16 Rajab 1446 H / 16 Januari 2025 Ustadz Muhamad Pino Bahari – Pengajar DAFI Pesantren Al Qur’an Science / Mahasiswa Universitas Islam Madinah Referensi:

Hal-Hal Yang Dimakruhkan Dalam Sholat (Part 1)

Kaidah: Segala sesuatu yang menyelisihi perkara sunnah dalam sholat, maka masuk dalam cakupan makruh. Sedangkan pengertian makruh dalam hal ini adalah: segala sesuatu yang berpahala apabila ditinggalkan oleh orang yang sholat, namun tidak ada hukumannya jika dilakukan. Contohnya meninggalkan takbir intiqol adalah perkara yang makruh, karena melakukannya termasuk sunnah dalam sholat. Contoh lainnya adalah tidak membaca do’a iftitah. Namun ada perkara lain yang disunnahkan untuk dijauhi, dan makruh apabila dilakukan oleh orang yang sholat, diantaranya adalah: 1. Menoleh saat sholat dengan memalingkan leher dan wajah tanpa adanya keperluan. Abu dawud meriwayatkan, bahwa Nabi shallallahu ‘alai wa sallam bersabda: لا يزال الله عز وجل مقبلاً على العبد في صلاته ما لم يلتفت، فإذا التفت انصرف عنه “Allah akan senantiasa menghadap hambanya ketika sholat selama dia (hamba) tidak memalingkan wajahnya, apabila dia berpaling, maka Allah akan berpaling darinya”. (HR. Abu Dawud. 909). Kemudian Nabi shallallahu ‘alai wa sallam ketika ditanya oleh ‘Aisyah mengenai berpaling, lantas beliau menjelaskan: هو اختلاس يختلسه الشيطان من صلاة العيد “Itu adalah pencurian yang dilakukan oleh syaitan dari sholat seorang hamba”. (HR. Bukhari. 718). Selain itu, menoleh ketika sholat juga bertentangan dengan  sifat khusyu dalam sholat. Adapun jika ada keperluan untuk menoleh seperti mengawasi musuh dalam sebuah peperangan, maka tidak dihukumi sebagai hal yang makruh. Hal ini sebutkan dalam sebuah hadits yang diriwatkan oleh Abu Dawud. Namun ini dikhususkan apabila seseorang menoleh dengan hanya memalingkan wajah atau leher, apabila menoleh dengan memalingkan dada sehingga berpaling dari arah kiblat, maka sholatnya batal karena meninggalkan rukun sholat, yaitu menghadap arah kiblat. Adapun mencuri pandangan dengan mata tanpa menoleh, maka tidaklah mengapa. Hal ini disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban. 2. Memandang ke arah langit. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Nabi shallallahu ‘alai wa sallam bersabda: ما بال أقوام يرفعون أبصارهم إلى السماء في صلاتهم؟ ثم قال: لينتهن عن ذلك أو لتخطفن أبصارهم “Mengapa orang-orang mengangkat pandangan mereka ke langit ketika mereka sholat?” Kemudian beliau berkata: “Hendaklah mereka benar-benar berhenti melakukan hal itu (memandang ke langit), atau pandangan mereka akan dicabut selamanya” (HR. Bukhari. 717). Bersambung in sya Allah. Semoga Allah merahmati kita semuanya. Madinah, 10 Rajab 1446 H / 10 Januari 2025 Ustadz Muhamad Pino Bahari – Pengajar DAFI Pesantren Al Qur’an Science / Mahasiswa Universitas Islam Madinah Referensi: