Safari Dakwah Bersama Syaikh Palestina: Menguatkan Iman, Menumbuhkan Kepedulian

Dalam semangat Ramadan yang penuh berkah, DAFI Pesantren Al-Qur’an Science berkolaborasi dengan Baziskaf DAFI dan Dompet Al Qur’an Indonesia menggelar kegiatan Safari Dakwah Spesial Palestina, menghadirkan langsung tamu mulia dari tanah para syuhada: Syeikh Dr. Muhammad Thahir Al-Qiram, Al-Hafiz, seorang ulama dan penghafal Al-Qur’an dari Gaza, Palestina. Kegiatan ini dilaksanakan secara terpisah di dua lokasi pesantren: kampus putra di Anggaswangi dan putri di Sarirogo, dengan tetap menghadirkan semangat yang sama: memperkuat keimanan santri serta menanamkan rasa empati dan solidaritas terhadap saudara-saudara muslim yang tengah berjuang mempertahankan tanah air dan kehormatan di Palestina. Acara dibuka dengan penuh khidmat oleh KH. Syaiful Arifin, SS., M.Pd selaku Pengasuh Pesantren DAFI di pesantren putra, dan Ustadz Agus Hariadi, S.Pd.I, Al-Hafiz, Mudir DAFI Pesantren Al Qur’an Science di pesantren putri. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya mendidik generasi Qur’ani yang tidak hanya kuat dalam hafalan, namun juga peka terhadap penderitaan umat Islam di berbagai penjuru dunia. Syeikh Muhammad Thahir kemudian menyampaikan ceramah dan pemaparan kondisi terkini di Gaza, yang membuat para santri dan asatidz tertegun mendengar cerita para pejuang yang saat ini di Gaza, Palestina. Dalam penyampaiannya, Syeikh menegaskan bahwa “setiap ayat Al-Qur’an yang dihafalkan oleh anak-anak muslim di manapun, termasuk di Indonesia, adalah bagian dari kemenangan umat Islam.” Santri Bertanya, Gaza Menjawab Salah satu momen yang paling berkesan dalam kegiatan ini adalah ketika beberapa santri berkesempatan bertanya langsung kepada Syeikh menggunakan bahasa Arab, tentang bagaimana para pengungsi dan pejuang bertahan hidup di tengah blokade dan kehancuran. Syeikh menjawab dengan penuh keteguhan, menceritakan kisah para mujahid dan keluarga mereka yang bertahan hidup hanya dengan sepotong roti dan segelas air, namun tetap menjaga shalat, hafalan, dan semangat jihad. Penyerahan Simbolis Donasi untuk Palestina Acara ditutup dengan prosesi penyerahan simbolis bantuan kemanusiaan yang telah dikumpulkan melalui program donasi dari para santri, orang tua wali, serta asatidzah. Bantuan ini ditujukan untuk pejuang dan pengungsi Palestina yang saat ini tengah menghadapi situasi darurat kemanusiaan akibat agresi yang berkepanjangan.

8 Tahun Perjuangan Reva: Dari Bangkalan, Diniatkan Menghafal 30 Juz Al-Qur’an

Di tengah sunyinya waktu subuh, ketika dunia masih terlelap, Tryza Revalina Rusadi sudah duduk bersimpuh di hadapan mushaf Al-Qur’an. Wajahnya penuh tekad, mengulang ayat demi ayat yang dihafalnya, tak ingin satu pun luput dari ingatannya. Gadis yang akrab disapa Reva ini bukan hanya santri biasa — ia adalah pejuang. Seorang yatim, penerima beasiswa, yang akhirnya berhasil mengkhatamkan hafalan 30 Juz Al-Qur’an setelah 8 tahun penuh semangat dan doa. Reva adalah putri ketiga dari empat bersaudara. Sejak ayahnya meninggal dunia karena sakit asam lambung saat ia duduk di kelas 3 SD, hidup keluarganya berubah drastis. Ibunya kini menghidupi keluarga dengan berjualan gorengan di Kalimantan Timur, sering dibantu oleh sang kakak sulung. Namun dari rumah yang sederhana itu, tumbuh cita-cita besar — menjadi penghafal Al-Qur’an yang mampu mengangkat derajat keluarga. Semangat itu tak pernah padam, terutama berkat dorongan luar biasa dari sang ibu. “Nak, jadilah penghafal Al-Qur’an. Karena insyaAllah, itu yang akan mengangkat derajat kita di dunia dan akhirat,” pesan ibunya yang masih terpatri dalam hati Reva hingga kini. Reva memulai hafalan sejak kelas 5 SD, dan melanjutkannya di SMP dan MA DAFI. Perjalanan itu tidak mudah. Ia sempat stagnan selama satu semester di juz 22, terutama di masa kelas 10 ketika hafalannya baru 9 juz. Fokusnya sempat goyah, rasa malas kerap mengintai, namun motivasi dari para ustadzah — terutama Ustadzah Ulya — membuatnya bangkit dan kembali kuat. Di pesantren, hari-hari Reva diisi dengan sesi menghafal yang disiplin: selepas subuh, di jam sekolah, dan setelah maghrib. Waktu selepas subuh menjadi favoritnya, karena suasana masih tenang dan hati terasa lebih jernih. “Kalau mengingat perjuangan ibu di rumah, saya tidak punya alasan untuk menyerah,” tutur Reva dengan mata berkaca-kaca. “Alhamdulillah, beasiswa ini sangat meringankan. Tanpa itu, mungkin saya sudah berhenti di tengah jalan karena tidak ingin membebani ibu di rumah.” Tak hanya hafalan Al-Qur’an, Reva juga menunjukkan prestasi akademik. Ia pernah meraih medali perunggu dan perak dalam Olimpiade Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Fiqih — sebuah bukti bahwa keterbatasan ekonomi tak menghalangi santri untuk tetap berprestasi. Kini, setelah mengkhatamkan hafalan 30 Juz, Reva punya cita-cita yang sederhana namun mulia: menjadi guru SD di kampung halamannya, Bangkalan. “Saya ingin memajukan pendidikan di sana. Semoga bisa jadi manfaat untuk banyak orang,” ungkapnya. Kepada para donatur, Reva menyampaikan doa yang tulus, “Terima kasih telah menyisihkan sebagian rezekinya untuk kami. Semoga menjadi berkah, rezekinya lancar, dan menjadi wasilah keselamatan di dunia dan akhirat.” Reva percaya bahwa Al-Qur’an adalah sumber kekuatan hidupnya. Setiap kali ia merasa lelah atau tak tahu arah, ia membuka Al-Qur’an dan merenungi maknanya. “Al-Qur’an bukan hanya untuk dihafal, tapi menjadi pedoman dalam menghadapi hidup,” ujarnya. Program beasiswa yatim dan dhuafa penghafal Al-Qur’an seperti yang diterima Reva telah membuktikan diri sebagai investasi masa depan. Bukan hanya mencetak generasi Qur’ani, tetapi juga memberi harapan nyata bagi anak-anak yang terpinggirkan oleh keadaan. Mari Ambil Bagian dalam Perjuangan Mereka Masih banyak Reva-Reva lain di luar sana. Mereka punya semangat, mereka punya impian. Namun mereka butuh uluran tangan kita. Donasi Anda bukan hanya membantu biaya pendidikan, tetapi juga menanam pahala jariyah yang terus mengalir lewat hafalan dan amal mereka.Bersama kita bisa mencetak generasi penghafal Al-Qur’an yang kuat, cerdas, dan membawa cahaya untuk negeri ini. Salurkan donasi terbaik Anda melalui program beasiswa Yatim/Dhuafa Penghafal Al Qur’an.Karena setiap rupiah yang Anda berikan, akan mengalir bersama setiap huruf Al-Qur’an yang mereka lantunkan.

DOA: Senjata Orang Beriman di Tengah Zaman yang Gelisah

Hari-hari ini, kita hidup dalam dunia yang serba cepat, penuh tekanan, dan sering kali terasa sempit. Masalah ekonomi, kesehatan mental, konflik sosial, hingga keresahan batin kini menjadi pemandangan sehari-hari. Banyak orang merasa seperti kehilangan pegangan hidup. Di saat seperti inilah Islam menawarkan satu kekuatan yang sering dilupakan: doa. Ya, doa bukan sekadar permintaan, tapi adalah senjata ruhani yang mampu menenangkan hati, menguatkan jiwa, bahkan mengubah takdir. Bukan Hanya Permintaan, Tapi Ibadah Dalam Islam, doa bukan hanya bentuk pengharapan. Ia adalah ibadah. Bahkan, Nabi Muhammad ﷺ bersabda: الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ “Doa adalah ibadah.”(HR. At-Tirmidzi, no. 2969, shahih) Melalui doa, kita meletakkan seluruh harapan dan beban kepada Allah SWT. Kita mengakui bahwa sebesar apa pun kekuatan dan ilmu manusia, semuanya tak berarti tanpa izin-Nya. Ketika Dunia Membingungkan, Allah Menawarkan Kedekatan Saat manusia dilanda gelisah, stres, atau kesepian karena dunia yang tak berpihak, Allah SWT memberi janji yang sangat menyentuh: وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”(QS. Al-Baqarah: 186) Allah tidak jauh. Ia tidak perlu antre atau koneksi sinyal. Ia lebih dekat dari siapapun yang pernah dekat dengan kita. Maka jangan ragu untuk bersujud dan membuka hati di hadapan-Nya. Doa yang Ditinggalkan, Kesombongan yang Tak Disadari Di era teknologi dan media sosial, banyak orang lebih percaya pada angka, tren, dan algoritma daripada pertolongan Allah. Bahkan, sebagian orang hanya berdoa saat terdesak saja. Padahal, Allah memperingatkan: وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَࣖ “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina”(QS. Ghafir: 60) Tidak mau berdoa bisa menjadi tanda kesombongan. Seakan-akan kita merasa tak butuh kepada-Nya. Padahal, semakin seseorang dekat dengan Allah, semakin sering ia berdoa. Doa Bisa Mengubah Takdir Sering kita merasa semua jalan sudah tertutup. Tapi ketahuilah, doa bisa menjadi kunci perubahan yang tidak disangka-sangka. Nabi ﷺ bersabda: “Tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa.”(HR. At-Tirmidzi no. 2139, hasan) Jadi jangan pernah anggap doa sebagai upaya terakhir. Justru, doa adalah langkah awal yang paling utama. Doa, Harapan di Tengah Fitnah Akhir Zaman Fitnah akhir zaman makin tampak: kerusakan moral, kabar bohong, kebencian, dan kejahatan menjadi hal biasa. Dalam kondisi ini, doa bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk keselamatan keluarga, umat, bahkan bangsa. وَاِلٰى رَبِّكَ فَارْغَبْࣖ “Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.”(QS. Al-Insyirah: 8) Berdoalah bukan hanya untuk meminta, tapi juga untuk menjaga—agar kita dan keluarga tetap dalam hidayah, selamat dari fitnah dunia. Istiqomahkan Berdoa! Kita bisa memiliki uang, relasi, atau kecerdasan. Tapi tanpa pertolongan Allah, semua itu tak menjamin ketenangan. Maka mari biasakan berdoa dalam setiap kegiatan dan aktivitas kita: Doa bukan solusi sementara. Ia adalah kekuatan permanen yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Maka jangan remehkan doa, karena mungkin saja seluruh perubahan besar yang kita butuhkan dimulai dari satu doa yang tulus di waktu sepi. Jika kamu merasa hidupmu terlalu berat, barangkali bukan karena masalahmu terlalu besar—tapi karena kamu lupa membawa masalahmu kepada Allah melalui doa.

Dari Penghafal Al-Qur’an hingga Diterima di ITB: Perjalanan Inspiratif Fathimah, Santri Beasiswa Yatim MA DAFI

“Tidak ada keberhasilan yang cuma-cuma. Keberhasilan adalah sedikit keberuntungan yang didapat karena cerdas dan kerja keras selebihnya merupakan Ridho Allah SWT.”— Fathimah Khairun Nisa binti Alm. Ibnu Shobir , Santri Beasiswa Yatim DAFI, Penghafal 30 Juz Al-Qur’an Lolos ITB Jalur SNBP Di balik kampus bergengsi Institut Teknologi Bandung (ITB) yang menjadi impian banyak anak muda Indonesia, kini tercatat nama Fathimah, seorang santri penerima beasiswa dari Pesantren DAFI, sebagai salah satu mahasiswi barunya. Namun, lebih dari sekadar lolos seleksi nasional, Fathimah membawa cerita tentang iman, perjuangan, dan ketulusan yang layak mengetuk hati siapa pun. Fathimah bukanlah remaja biasa. Sejak usia 3 tahun, ia sudah mulai menghafal Al-Qur’an, mengikuti jejak kedua orangtuanya yang juga penghafal Kitabullah. Di tengah segala keterbatasan, termasuk kehilangan sang ayah yang sangat dicintainya, Fathimah tetap istiqamah menjaga hafalan, menuntut ilmu, dan berprestasi. “Yang paling sulit itu menjaga niat tetap lurus karena manusia itu punya fitrah ingin diakui. Tapi saya selalu diingatkan untuk menghafal hanya demi Allah,” kenangnya, menggambarkan perjuangan batin yang tak kalah berat dibanding beban akademik. Hingga pada suatu hari yang penuh haru, Fathimah menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an, menjadi yang pertama dalam keluarganya yang menuntaskannya. Namun, bagi Fathimah, hafal 30 juz bukanlah akhir, melainkan amanah besar yang harus terus dijaga dengan murojaah dan amal nyata. Sebagai santri aktif, Fathimah juga dipercaya menjadi ketua organisasi internal pesantren (OSIDAFI), aktif di Palang Merah Remaja, serta beberapa kali menjuarai lomba-lomba akademik dan non akademik, tingkat provinsi hingga Nasional. Semua pencapaian itu ia raih di tengah hidup sebagai santri penghafal Al-Qur’an, tanpa pernah menjadikan keadaan sebagai penghalang. “Abi saya sudah wafat, dan Saya ingin terus belajar agar itu menjadi pahala jariyah untuk beliau,” tuturnya sambil menahan haru. Atas prestasinya yang gemilang, Fathimah dinyatakan lolos Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) dan resmi diterima di Fakultas Sains dan Teknologi di ITB, kampus impian jutaan pelajar Indonesia. Namun perjuangan belum selesai. “Saya sangat bersyukur dan berterima kasih. Semoga Allah membalas kebaikan Bapak dan Ibu yang telah menjadi bagian dalam jihad saya menuntut ilmu wabil khusus pak Herman dan keluarga yang membantu secara penuh kebutuhan pendidikan setiap bulannya,” ucapnya penuh rasa syukur. Koordinator Baziskaf DAFI, Ustadz Andy Setiawan, menegaskan bahwa Fathimah hanyalah satu dari sekian banyak anak yatim dan dhuafa penghafal Al-Qur’an yang sedang berjuang mewujudkan mimpi mereka di pesantren. “Kami bersyukur ada para donatur yang bersedia menjadi Orang Tua Asuh. Tanpa mereka, pendidikan seperti ini hanyalah mimpi bagi anak-anak beasiswa kami,” ungkapnya. Mari Jadi Bagian dari Perjalanan Mereka Bersama Baziskaf DAFI, Anda bisa mengambil bagian dalam mencetak generasi Qur’ani yang cerdas, berakhlak, dan berkontribusi nyata untuk negeri. Seperti Fathimah, masih banyak santri yatim dhuafa lainnya yang menanti uluran tangan Anda agar mereka tetap bisa belajar, menghafal, dan mengejar cita-cita mulia. Donasi Anda adalah cahaya dalam gelap, adalah ilmu dalam perjuangan, adalah bekal bagi masa depan bangsa. Yuk, Ambil Bagian menjadi Orang Tua Asuh.Karena satu kebaikan Anda, bisa mengubah hidup satu generasi.

Pesan Sang Ayah Jadi Obor Semangat, Hafalan Al Qur’an Aziziah Tuntas!

Sidoarjo – Di balik wajah teduh dan sikap pemalunya, siapa sangka seorang Aziziah Lauqil Izza Aqila yang merupakan santri yatim ini telah berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an pada Rabu, 30 April 2025. Perjalanan panjang penuh tantangan itu kini membuahkan hasil manis: rasa lega dan syukur mendalam, serta semangat baru untuk meraih cita-cita menjadi dokter spesialis bedah. Aziziah ini merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Sejak ayahnya wafat, sang ibu menjadi tulang punggung keluarga, bekerja di bidang properti di Banyuwangi. Kakaknya menjalani homeschooling dan menjadi salah satu sosok yang setia mendampingi serta menyemangatinya dalam menghafalkan Al Qur’an. “Pesan Ayah yang Tak Pernah Terlupa” Motivasi utama untuk menghafal Al-Qur’an berasal dari sosok sang ayah almarhum. “Ayah dulu sering berpesan untuk jangan pernah tinggalkan hafalan Al-Qur’an,” ungkapnya. Pesan itu menjadi nyala semangat yang tak padam, meski perjuangannya tidak selalu mulus. Di saat banyak santri menikmati waktu santai akhir pekan, ia justru harus melawan rasa malas karena tidak ada jadwal setor hafalan. Dengan inisiatif pribadi, ia menjadwalkan hafalan tambahan bersama ustadzah, sebuah kedewasaan yang tumbuh dari tekad dan tanggung jawab. Pernah pula semangatnya goyah ketika hafalan baru mencapai 8 juz. Rasa jenuh dan ingin menyerah sempat melanda, namun dukungan luar biasa dari sang ibu dan kakaknya kembali menguatkannya. “Bersyukur Dikelilingi Orang-Orang Baik” Dalam prosesnya, ia sangat bersyukur karena pesantren dan para asatidzah selalu membuka ruang untuk mendengarkan hafalannya, bahkan di luar jam pelajaran formal. “Saya senang ada banyak orang yang peduli dan membantu dalam pendidikan saya,” tuturnya dengan lirih. Meski memiliki sifat pemalu, ia menyadari bahwa dukungan donatur-lah yang membuat langkahnya sampai sejauh ini. Kini, setelah menyelesaikan hafalan 30 juz, ia tengah fokus menghadapi ujian sekolah. Targetnya adalah melanjutkan kuliah di Universitas Airlangga Surabaya dan meraih cita-cita sebagai dokter spesialis bedah. “Jangan Berpuas Diri, Jaga Hafalan Itu Lebih Berat” Di akhir, ia menyampaikan pesan menyentuh untuk teman-teman seperjuangannya, “Jangan mudah berpuas diri hanya karena sudah hafal 30 juz. Justru tantangan lebih besar adalah menjaganya lewat murojaah.” Mari Jadi Bagian dari Perjalanan Hebat Mereka Kisah ini hanyalah satu dari sekian banyak santri yatim yang mengukir prestasi dan menebar cahaya dari Al-Qur’an. Dukungan Anda sebagai donatur sangat berarti dalam mendampingi mereka menapaki jalan penuh harapan. Karena di balik setiap hafalan, ada doa, kerja keras, dan uluran tangan Anda yang menyelamatkan masa depan.Yuk, terus dukung perjuangan mereka. Karena dari pesantren ini insyaallah akan lahir pemimpin besar untuk umat nantinya.

Sudah Siap Berkurban?

Ibadah qurban adalah salah satu amalan mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam, terutama pada hari raya Iduladha dan hari-hari tasyriq. Qurban bukan hanya sekadar menyembelih hewan, tetapi juga bentuk nyata ketundukan seorang hamba kepada Allah SWT, wujud rasa syukur, dan kepedulian terhadap sesama. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ “Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”(QS. Al-Kautsar: 2) Ayat ini menunjukkan perintah langsung dari Allah kepada umat Islam untuk beribadah dan berkurban. Sehingga, berkurban bukan hanya tradisi tahunan, melainkan ibadah yang memiliki nilai keimanan dan ketaqwaan yang tinggi. Meneladani Nabi Ibrahim dan Ismail Ibadah qurban berakar dari kisah agung Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Ketaatan keduanya — Nabi Ibrahim sebagai ayah yang mencintai anaknya, dan Nabi Ismail sebagai anak yang patuh — menjadi teladan luar biasa tentang keikhlasan dan pengorbanan dalam beribadah kepada Allah. Allah menggambarkan peristiwa ini dalam Al-Qur’an: فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُۙ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَاۚ اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ “Maka ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), Kami panggillah dia: ‘Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.’ Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”(QS. Ash-Shaffat: 103-105) Allah kemudian mengganti Ismail dengan seekor hewan sembelihan besar, yang menjadi simbol bahwa ketaatan dan keikhlasan lebih utama dibanding bentuk fisik pengorbanan itu sendiri. Qurban sebagai Bukti Ketakwaan Berkurban bukan tentang darah atau daging hewan yang sampai kepada Allah, melainkan tentang ketakwaan hati kita. Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an: لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang dapat mencapainya.”(QS. Al-Hajj: 37) Ibadah qurban mendidik hati untuk lebih bertakwa, mengingatkan bahwa segala amal harus dilakukan ikhlas hanya untuk Allah, bukan untuk pujian manusia. Rasulullah SAW sangat menekankan pentingnya berkurban. Dalam sebuah hadits shahih, beliau bersabda: “Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah daripada menyembelih hewan kurban. Sesungguhnya hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, bulu, dan kuku-kukunya. Dan sesungguhnya darah hewan itu akan jatuh di sisi Allah di suatu tempat sebelum jatuh ke tanah. Maka, perbaguslah jiwa kalian (saat berkurban).”(HR. Tirmidzi, no. 1493, hasan shahih) Hadits ini menunjukkan bahwa berkurban memiliki keutamaan besar di sisi Allah. Hewan qurban akan menjadi saksi bagi orang yang menyembelihnya kelak di hari kiamat. Membagikan Kebahagiaan Ibadah qurban juga berfungsi sosial: mendistribusikan kebahagiaan kepada mereka yang membutuhkan. Daging qurban dibagikan kepada fakir miskin, tetangga, dan kerabat, mempererat silaturahmi, serta menumbuhkan rasa empati dan solidaritas antarumat Islam. Allah berfirman: “… Maka makanlah sebagiannya (daging qurban) dan berikanlah makan kepada orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya dan kepada orang yang meminta.”(QS. Al-Hajj: 36) Qurban mengajarkan bahwa rezeki yang kita miliki bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga ada hak orang lain di dalamnya. Berkurban adalah amalan mulia yang memadukan nilai ibadah, ketakwaan, keikhlasan, dan kepedulian sosial. Melalui qurban, kita menghidupkan kembali nilai-nilai keteladanan Nabi Ibrahim dan Ismail AS, meningkatkan keimanan, dan mempererat hubungan antar sesama manusia. Mari kita jadikan momen Iduladha ke depan ini sebagai kesempatan untuk memperkuat keimanan kita dengan berkurban, semata-mata untuk mencari keridaan Allah SWT. Wallāhu a’lam bish-shawāb

Ramadan Berkah! BSI Cabang Pondok Candra Sidoarjo Salurkan Bantuan Pendidikan Santri Yatim Penghafal Al-Qur’an

Sidoarjo – Bank Syariah Indonesia (BSI) Cabang Pondok Candra, Sidoarjo, menyalurkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) sebesar Rp38 juta untuk membantu pendidikan santri yatim penghafal Al-Qur’an di DAFI Pesantren Al Qur’an Science pada 25 Maret 2025 yang didalamnya terdapat 71 santri penerima beasiswa pendidikan 100%. Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Bapak Teguh Kepala Cabang BSI Pondok Candra kepada Koordinator Penghimpunan dan Penyaluran bantuan pesantren dalam pertemuan sederhana namun penuh makna. Dana ini akan digunakan untuk mendukung kebutuhan pendidikan para santri, seperti biaya sekolah, makan santri, serta kebutuhan lainnya. “Kami berharap bantuan ini bisa memberikan manfaat nyata bagi para santri yatim yang tengah berjuang dalam menuntut ilmu dan menghafal Al-Qur’an. Ini merupakan wujud komitmen BSI untuk berkontribusi membangun generasi Qur’ani yang berdaya saing tinggi,” ujar Bapak Teguh dalam obrolannya. Andy Setiawan, sebagai Koordinator Penghimpunan dan Penyaluran bantuan pesantren, mengucapkan terima kasih atas dukungan dari BSI. Ia menyampaikan bahwa bantuan ini sangat berarti dalam memperlancar proses pendidikan para santri yatim yang menjadi tulang punggung masa depan umat. Program ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan CSR BSI yang berfokus pada bidang sosial, pendidikan, dan keagamaan, sesuai dengan visi BSI untuk menjadi bank syariah pilihan utama masyarakat.

Hangatkan dan Bahagiakan Santri, Kebab Baba Rafi Berbagi Takjil Gratis untuk Para Santri Yatim Penghafal Al Qur’an!

Sidoarjo – Menyemarakkan bulan suci Ramadan, Kebab Baba Rafi menyalurkan paket takjil gratis kepada para santri yatim penghafal Al-Qur’an di DAFI Pesantren Al Qur’an Science secara terpisah di pesantren putra (Anggaswangi) dan putri (Sarirogo) pada 17 Maret 2025. Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian sosial Kebab Baba Rafi terhadap pendidikan dan kesejahteraan anak-anak yatim, khususnya para santri yang tengah berjuang menghafal Al-Qur’an. Beberapa relawan Baba Rafi terjun langsung untuk membagikan takjil berupa makanan bergizi dan minuman segar sekaligus buah-buahan menjelang waktu berbuka puasa di bulan Ramadan.“Kami ingin berbagi kebahagiaan di bulan penuh berkah ini, terutama kepada para santri yatim yang luar biasa dalam perjuangannya menuntut ilmu dan menghafal Al-Qur’an,” ujar Kak Nadir yang mewakili Kebab Baba Rafi. Selain membagikan takjil, acara juga diisi dengan doa bersama serta tausiyah singkat tentang keutamaan berbagi di bulan Ramadan. Suasana berlangsung hangat dan penuh rasa syukur, sekaligus tes sambung ayat Al Qur’an yang dijawab langsung dengan benar oleh para santri dengan tepat. Andy Setiawan, selaku koordinator penghimpunan dan penyaluran yang membantu para santri yatim di pesantren mengapresiasi inisiatif ini dan berharap kegiatan serupa bisa terus berlanjut di masa mendatang. “Takjil yang dibagikan sangat membantu para santri kami. Semoga Allah membalas semua kebaikan tim Kebab Baba Rafi,” ujarnya. Penyaluran takjil ini merupakan bagian dari program Ramadan berbagi Kebab Baba Rafi yang setiap tahunnya rutin dilakukan di berbagai lokasi, sebagai bentuk kontribusi sosial perusahaan kepada masyarakat.

Bermanfaat! PT. Telkom Indonesia Salurkan Santunan Pendidikan Santri Yatim Penghafal Al Qur’an

Sidoarjo, 20 Maret 2025 – Sebagai bentuk kepedulian sosial dan dukungan terhadap pendidikan generasi muda, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk menyalurkan santunan kepada para santri yatim penghafal Al-Qur’an. Santunan ini diberikan untuk membantu meringankan biaya pendidikan para santri, sekaligus mendorong semangat mereka dalam menuntut ilmu dan menghafal Al-Qur’an. Acara penyerahan santunan berlangsung di DAFI Pesantren Al Qur’an Science, Anggaswangi, Sukodono – Sidoarjo dan dihadiri oleh jajaran manajemen PT Telkom serta pengajar. Dalam sambutannya, Manager penyaluran PT. Telkom menyampaikan bahwa pendidikan adalah salah satu kunci penting untuk masa depan bangsa, dan para santri ini adalah aset berharga yang harus terus didukung. “Kami di PT Telkom percaya bahwa investasi terbaik adalah investasi untuk pendidikan. Memberikan dukungan kepada santri yatim penghafal Al-Qur’an tidak hanya membantu masa depan mereka, tetapi juga membangun generasi yang berakhlak mulia dan berilmu,” ujarnya. Santunan yang disalurkan berupa bantuan biaya pendidikan, yang mana para santri yatim di pesantren telah mendapatkan beasiswa pendidikan 100% baik untuk sekolah, diniyah, dan juga makan sehari-harinya. Koordinator penghimpunan dan penyaluran bantuan pesantren, Andy Setiawan, menyampaikan rasa terima kasih kepada PT Telkom atas perhatian dan dukungannya. “Bantuan ini sangat berarti bagi para santri kami. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya bagi seluruh keluarga besar PT Telkom,” ungkapnya.

Dahsyatnya Ramadan!

22 SYA’BAN 1446 H QS. AL BAQARAH : 183-187 Bismillah, Alhamdulillah was sholaatu was salaamu ‘ala Rasulillah wa aalihi wa shohbihi wa man waalaahu. Saudaraku sekalian, Ramadan adalah kado istimewa dari Allah SWT untuk umat Islam. Tentu orang yang sangat berbahagia dengan kehadirannya adalah yang paling siap membuka atau memanfaatkan kado itu dengan memaksimalkan ibadah & taat. Yang beribadah dengan sempurna sejalan dengan tuntutan Ramadan adalah mereka yang berpeluang sukses mencapai tujuan Ramadan. Tujuan ibadah Ramadan adalah mencapai taqwa/ketaqwaan sebagai jalan menuju taqwa, maka di bulan Ramadan Allah Swt,  menyertakan sarana pencapaiannya berupa : Kewajiban berpuasa, yang disandingkan dengan sunnah shalat Tarawih. penghapusan dosa pelipat gandaan pahala pembelengguan setan peluang menjumpai Lailatul Qadar. Merujuk QS. Al Baqarah 183 – 187, minimal ada dapat 4 proyek yang harus kita realisasikan dengan serius di bulan Ramadan : Puasa Bulan Ramadan dikenal dengan sebutan “Bulan Puasa” atau Syahrus Shiyaam, karena puasa adalah inti dari ibadah Ramadan. Puasa menjadikan kita sehat secara jiwa, raga serta fikiran, sehingga ketaqwaan lebih mudah teraih. Tilawah  Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Karena itu, tilawah semaksimal mungkin adalah ibadah yang sangat singkron dalam rangka memperindah puasa kita. Dengan banyak tilawah, insyaAllah peluang untuk dijumpai oleh Lailatul Qadar akan terealisasi. Banyak Berdoa Allah berjanji akan mengabulkan semua permohonan kita di bulan Ramadan. Karena itu manfaatkan untuk beristighfar minta ampun atas seluruh dosa, minta untuk tidak dimampukan lagi melakukan dosa, dan menyetor semua keinginan kita dari yang paling “sulit” hingga yang paling “ringan”. Lalu, biarkan Allah memilih mana diantara semua keinginan yang cocok untuk terwujud pada diri kita. Mesra Terhadap Pasangan. Saat setan dibelenggu, neraka ditutup dan surga sebagai bakal rumah kelak sedang mengakrabi kita dengan menghiasi dirinya di bulan Ramadan, maka manfaatkan peluang itu  untuk menjalin komunikasi yang baik dengan pasangan. Jadikan rumah kita adalah surga yang sedang  dihias. Sebab sesempurna apapun keadaan atau kedudukan kita, tetapi bermasalah dengan pasangan, maka kita hanyalah manusia yang tak utuh lagi. Allah mengatakan akan menyampaikan pahala puasa secara langsung pada yang berpuasa. Karena itu, berpuasalah dengan sempurna sesuai rukun dan syaratnya, agar kita malu padaNya, saat pahala dibagikan. Ya Rahman…, Jadikan kami orang yang Engkau pilih untuk serius menjalani ibadah Ramadan agar kelak kami bahagia dengan gelar “TAQWA” . KH. Muhammad Shaleh Drehem, LcPengasuh DAFI Pesantren Al-Qur’an Science