Tak Berhenti di 30 Juz, Alumni Beasiswa DAFI Ini Terus Melangkah hingga Raih Wisudawan Al Qur’an Terbaik!

Perjalanan seorang penghafal Al-Qur’an tidak berhenti ketika 30 juz berhasil diselesaikan. Justru, di sanalah perjuangan sesungguhnya dimulai: menjaga hafalan, memperdalam ilmu, dan terus menghadirkan Al-Qur’an dalam setiap langkah kehidupan. Perjalanan itulah yang tercermin dari sosok Muchammad Ali Wafa bin Mohammad Fa’in Asfiya, alumni santri beasiswa SMP DAFI yang kini berhasil menorehkan prestasi sebagai Wisudawan Terbaik Tahfidz Al-Qur’an di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah dan Komunikasi Islam (STIDKI) Ar-Rahmah Surabaya. Pada Ahad, 8 November 2026, Ali Wafa mengikuti Wisuda Al-Qur’an yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi tempatnya menempuh pendidikan. Pencapaian ini menjadi kabar membahagiakan, bukan hanya bagi dirinya dan keluarga, tetapi juga bagi keluarga besar DAFI serta para Orang Tua Asuh dan donatur yang pernah mengambil bagian dalam perjalanan pendidikannya. Perjalanan Ali bersama Al-Qur’an telah dimulai sejak bergabung dengan SMP DAFI pada tahun 2019. Berasal dari Malang, Jawa Timur, dan merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, Ali tumbuh dalam keluarga sederhana dengan orang tua yang berprofesi sebagai guru. Saat pertama kali masuk SMP DAFI, ia telah memiliki bekal hafalan sebanyak 4 juz. Dengan kesungguhan dan bimbingan para asatidz, Allah mudahkan langkahnya hingga berhasil menuntaskan ziyadah hafalan 30 juz Al-Qur’an ketika duduk di kelas 8 SMP. Salah satu pengalaman yang paling membekas selama menempuh pendidikan di DAFI adalah kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) ketika kelas 7. Melalui kegiatan tersebut, Ali belajar tentang tanggung jawab, kedisiplinan, ketangguhan, serta pentingnya membangun rasa simpati dan empati terhadap sesama, baik kepada kakak kelas maupun adik kelas. Pengalaman lainnya adalah program Super Tahfizh saat kelas 9, yang menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan menghafalkan Al-Qur’an. Dari program tersebut, Ali semakin memahami bahwa perjuangan seorang penghafal Al-Qur’an tidak selesai hanya dengan menyetorkan hafalan hingga khatam dan mengikuti wisuda. Lebih dari itu, hafalan harus terus dijaga melalui murajaah sepanjang hayat. Bahkan, perjalanan pendidikannya di DAFI juga diwarnai tantangan pandemi Covid-19 yang membuat angkatannya sempat menjalani pembelajaran daring selama kurang lebih satu setengah tahun. Namun, berbagai keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk terus belajar dan menjaga hafalan. Setelah menyelesaikan pendidikan SMP, Ali melanjutkan perjalanan akademiknya hingga kini menempuh studi semester 3 jurusan Manajemen Dakwah di STIDKI Ar-Rahmah Surabaya. Selama berkuliah, ia juga aktif mengembangkan kemampuan kepemimpinan dan organisasinya. Ia pernah mengemban amanah sebagai Ketua Komisi 1 Badan Legislatif Mahasiswa (BLM) STIDKI Ar-Rahmah serta menjadi Ketua Panitia Q’FEST (Islamic Quran Festival) se-Surabaya. Keberhasilannya meraih predikat Wisudawan Terbaik Tahfidz Al-Qur’an tentu bukan sesuatu yang hadir secara instan. Ali menyadari bahwa semua pencapaian tersebut tidak lepas dari izin Allah, usaha yang sungguh-sungguh, serta doa dan ridha kedua orang tua dan para guru. “Semua tentunya atas izin Allah. Intinya tidak lepas dari usaha yang sungguh-sungguh. Jangan malu memohon doa dan ridha dari kedua orang tua serta para guru. Harus punya keinginan yang kuat dan perbanyak husnuzan kepada Allah dalam kondisi apa pun,” ungkap Ali ketika menceritakan perjalanan hingga meraih pencapaian tersebut. Di balik prestasi ini, Ali juga menyimpan pesan khusus bagi adik-adik santri yatim dan dhuafa penerima beasiswa DAFI yang sedang berjuang menghafalkan Al-Qur’an. Ia berpesan agar mereka tidak mudah menyerah meskipun perjalanan yang ditempuh terasa melelahkan. “Berusahalah terus. Capek itu manusiawi, wajar. Ingat apa tujuan atau mimpi kalian di awal. Kalau sudah punya tujuan dan impian, jaga betul dan tinggalkan hal-hal menyenangkan yang membuat kita lalai. Karena kalau tidak berani meninggalkan itu, jangan salahkan kalau nanti pada akhirnya harus kehilangan apa yang sudah menjadi tujuan atau impian awal kalian,” pesannya. Saat ini, Ali masih berfokus pada setoran sanad dan mempelajari berbagai fan ilmu di kampus. Ia juga mulai mempersiapkan diri untuk mengikuti program magang ke luar negeri apabila Allah memberikan kesempatan. Perjalanan belajarnya masih panjang, dan pencapaian hari ini menjadi salah satu pijakan untuk terus bertumbuh bersama Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan. Kisah Ali Wafa menjadi gambaran nyata bahwa dukungan pendidikan bagi santri yatim dan dhuafa penghafal Al-Qur’an memiliki dampak yang jauh melampaui masa sekolah. Dari seorang anak yang datang dengan bekal hafalan 4 juz, tumbuh menjadi santri yang menuntaskan 30 juz, melanjutkan pendidikan tinggi, aktif berorganisasi, hingga meraih penghargaan sebagai Wisudawan Terbaik Tahfidz Al-Qur’an. Inilah salah satu buah dari kepedulian para Orang Tua Asuh dan donatur yang telah membersamai pendidikan santri beasiswa DAFI. Bantuan yang diberikan bukan sekadar memenuhi kebutuhan pendidikan setiap bulannya, melainkan turut membuka jalan bagi seorang anak untuk mengembangkan potensi, memperdalam ilmu, dan menjaga Kalamullah. Apa yang ditanam melalui kepedulian hari ini, insyaallah dapat tumbuh menjadi prestasi dan kebermanfaatan pada masa mendatang. Baziskaf DAFI menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh Orang Tua Asuh, Sahabat Qur’ani, dan donatur yang telah mengambil bagian dalam perjalanan pendidikan Ali Wafa, baik sejak menempuh pendidikan di SMP DAFI maupun melalui dukungan yang terus diberikan kepada program pendidikan santri yatim dan dhuafa penghafal Al-Qur’an. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas setiap kebaikan dengan pahala terbaik, melimpahkan keberkahan rezeki, memberikan kesehatan, menjaga keluarga, serta menjadikan setiap amanah yang diberikan sebagai amal jariyah yang terus mengalir. Semoga Allah meridhai setiap ikhtiar para Orang Tua Asuh dan donatur, sebagaimana mereka telah menjadi jalan kebaikan bagi tumbuhnya generasi penjaga Al-Qur’an. Semoga Ali Wafa senantiasa diberikan keistiqamahan dalam menjaga hafalan, dimudahkan dalam menuntut ilmu, serta kelak menjadi pendakwah dan insan yang membawa manfaat luas bagi umat. Dan semoga semakin banyak santri yatim dan dhuafa yang mendapatkan kesempatan serupa untuk tumbuh bersama Al-Qur’an, meraih pendidikan terbaik, dan mengukir prestasi dengan dukungan kepedulian kita bersama. Sebab, ketika kita membantu seorang santri menghafalkan Al-Qur’an, sesungguhnya kita sedang mengambil bagian dalam menyiapkan generasi yang kelak akan membawa cahaya Al-Qur’an bagi kehidupan.