Peduli Tapi Sopan

15 Rabi’ul Awwal 1448 H – QS. Fushshilat : 34-35 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science)

Saudara sekalian, Dari Abu Hurairah, Nabi SAW, bersabda :
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاق

“Aku diutus hanya untuk mengutamakan kemuliaan akhlaq (kesopanan) manusia” (HR. Ahmad)

Agama Islam adalah Agama Akhlak karena sangat menjunjung tinggi budaya kesopanan dalam kebijakan, dalam berkata dan bertindak, bahkan dalam berfikir dan merasakan. Kesopanan wajib ditujukan pada Allah SWT, Rasulullah SAW, diri sendiri, orang tua, guru (ulama), penguasa, suami-istri (keluarga), masyarakat, hingga pada hewan, dan lingkungan.

Di kekinian, perilaku sopan santun semakin tergerus dan tidak memiliki tempat dalam kepribadian banyak orang muslim, hingga hanya seringkali terlihat sebagai basa basi belaka. Sopan santun sebagai idealisme yang semestinya dipegang teguh oleh manusia beriman, justru digunakan dengan sempurna oleh para munafik sebagai pembungkus atau kamuflase untuk menyukseskan niat atau ikhtiar buruknya.

Sebaliknya, yang membuat sedih adalah sikap dan gambaran ketidak sopanan acapkali dilakukan oleh penyeru kebaikan bahkan agamawan dan pemilik otoritas kesopanan lainnya, dengan alasan :

  1. Sedang mendidik dan membiasakan kesopanan.
  2. Sedang membela hak-hak diri dan orang lain (masyarakat)
  3. Sedang menegakkan kebenaran
  4. Pemaknahan dari definisi sopan yang rancu dan relatif

Akibat yang timbul dari hal tersebut adalah:

  1. normalisasi perilaku buruk karena masyarakat kehilangan teladan kesopanan (akhlaqul karimah).
  2. Sikap egois atau fokus berlebihan pada diri sendiri hingga kurang peka terhadap perasaan orang lain.
  3. Kurang bisa mengendalikan diri dan merasa nyaman jika harus menyelesaikan masalah dengan amarah.
  4. Para penyabar diidentikkan dengan kebodohan dan layak ditindas.
Ilustrasi gambar: Menasihati dan memberikan masukan untuk seseorang secara langsung

Rasul selalu dengan sopan menyerukan kebaikan dan sukses menyerukan kebaikannya karena kesopanannya. Menjadikan umat berakhlak mulia adalah tujuan dari semua bentuk ibadah pada Allah. Artinya, pasti ada yang salah dari ibadah seorang hamba, jika hamba tersebut bertindak tak sopan. Sopan santun dalam ucapan dan tindakan saat menyuarakan kebenaran tetap diwajibkan sekalipun dengan alasan menolak kezhaliman yang paling besar, sebagaimana diteladankan oleh Rasulullah SAW.

اللَّهُمَّ اهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ، لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّى سَيِّئَهَا، لاَ يَصْرِفُ عَنِّى سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ

Ya Allah, bimbinglah aku menuju akhlak yang paling baik, tidak ada yang dapat membimbing kepadanya kecuali Engkau. Dan palingkanlah dariku akhlak yang buruk, tidak ada yang dapat memalingkan keburukannya dariku kecuali Engkau.

(@msdrehem)

Leave a Comment