Mewaspadai Prasangka Buruk

8 Rabi’ul Awwal 1448 H – QS. Al Hujurat: 12 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science)

Saudara sekalian,

Menilai seseorang secara subyektif hingga berprasangka buruk adalah ciri dari mental dan fikiran yang tidak sehat. Seseorang yang berprasangka buruk biasanya selalu mencari-cari kesalahan dari saudara nya dan kemudian dilanjut dengan cara menggunjing kemana mana, menjatuhkan namanya, berkedok curhat dan seolah mengingatkan orang lain, agar selamat dari keburukan yang digunjingi.

Imam al-Qurthubi mengatakan bahwa, tak semua prasangka buruk dilarang dengan dalil : إن بعض الظن إثم
“Karena sebagian (bukan semua) dari prasangka itu dosa.” (QS al-Hujurat: 12).

Namun demikian, kebanyakan prasangka buruk bersifat negatif dan membawa petaka bagi ‘pengidapnya’. Berprasangka buruk pada yang secara lahiriah baik, adalah aib dan dikecam Allah. “Dan kebanyakan mereka hanya mengikuti dugaan. Sesungguhnya dugaan itu tidak sedikit pun berguna untuk melawan kebenaran … “ (QS Yunus: 36).

Imam Sufyan Ats-Tsauri membagi prasangka buruk menjadi dua jenis:

  1. Prasangka buruk yang mendatangkan dosa, jika dilakukan oleh orang yang berprasangka dengan menampakkannya melalui ucapan.
  2. Yang tak mendatangkan dosa jika dilakukan oleh orang yang hanya berprasangka dalam hati.
Ilustrasi AI; Orang yang berprasangka buruk terhadap saudara muslim yang lainnya

Prasangka buruk dalam hati yang tak diucap, harus segera diistighfari agar tak berpotensi mendatangkan dosa karena bisa membuka jalan terjadinya penuduhan buruk, penggunjingan dan penjatuhan nama pada tersangka. Tingkat keharaman prasangka buruk berbeda-beda dan yang terberat adalah:

1. Berprasangka buruk kepada Allah SWT. (QS al-Fath : 6)
Dalam hadits qudsi, Allah menyatakan bahwa diriNYA bergantung pada prasangka hambaNYA. Kalau prasangka hamba pada diriNYA baik, maka yang terjadi adalah kebaikan. Tetapi jika seorang hamba berprasangka buruk pada Allah, maka yang terjadi adalah keburukan.
2. Berprasangka buruk kepada Rasulullah SAW.
Apapun yang disampaikan dan dilakukan oleh rasulullah SAW, adalah atas kemauan Allah.
3. Berprasangka buruk pada para sahabat Rasulullah SAW.
Para sahabat adalah orang yang sangat setia membersamai Rasulullah SAW, dalam menegakkan agama pada saat lapang dan sempit.
4. Berprasangka buruk pada orang yang baik pada kita atau seharusnya dihormati, seperti orang tua, guru dan lainnya, sehingga membuat seseorang terjauhkan dari akhlaqul karimah, barokah dan rahmat Allah.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisiMU, karena sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Pemberi (karunia),”

(@msdrehem)

Leave a Comment