Mengapa Ucapan Baik Bisa Berakhir Menjadi Pertengkaran? Waspadai Jebakan Setan Ini!

19 Jumadil Awwal 1448 H – QS. Qaf : 18, Al Hujurat : 12 | K.H. Muhammad Sholeh Drehem, Lc (Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science)

Saudara sekalian,
Lisan (tulisan) diibaratkan seperti pisau bermata dua. Disatu sisi, dapat digunakan untuk menyebarkan kebaikan, seperti : menyampaikan ilmu, nasehat, dan menghibur orang lain. Disisi lain, juga bisa melukai hati orang lain melalui lisan atau tulisan buruk, seperti : fitnah, gosip, dan ujaran kebencian. Ingatlah bahwa salah satu tipu daya setan yang sangat halus adalah memanfaatkan celah komunikasi untuk merusak hubungan, baik antar pasangan, keluarga, maupun teman, dengan membisikkan kesalahpahaman, prasangka buruk (su’udzon), hingga adu domba (namimah) di antara manusia.

Terkadang, ada yang sudah menyampaikan paparan benar dengan cara yang baik, tetapi diterima sebagai sesuatu yang salah oleh pendengar (yang sedang emosional, sensitif hingga tak mampu logis), kemudian direspon dengan cara negatif bahkan defensif. Jika itu terjadi, tak ada pilihan kecuali bersabar.

Nabi Muhammad SAW, yang secara aklamasi telah digelari Al Amin oleh kaumnya, justru kemudian dianggap tidak waras bahkan terancam secara fisik setelah menyampaikan kebenaran (kerasulan dan Alqur’an), yang disampaikan dengan cara yang baik. Nabi Nuh AS, juga diejek bahkan dimaki oleh kaumnya karena pernyataan kebenaran. Beliau juga ditertawakan saat membuat bahtera yang sangat besar dengan maksud penyelamatan umat dari banjir besar dan pelestarian makhluk hidup.

Gambar ilustrasi: seseorang yang berprasangka dan ragu dari setiap kebaikan yang dilakukan sesama saudara muslim lainnya

Yang harus kita ikhtiarkan agar selamat dari godaan setan berwujud Prasangka dan Salah Faham :

  1. Tentramkan hati dan jauhkan prasangka buruk untuk bisa menjadi pendengar yang baik, hingga mampu memahami paparan informasi secara utuh. (QS. Ar Ra’ad : 28)
  2. Selalu paham bahwa kita tidak akan bisa mengontrol apapun yang keluar dari mulut orang lain, tetapi kita tetap punya kendali penuh dalam menanggapinya, untuk menghindari sengketa. Ingatlah, saat hati kita mulai panas mendengar ucapan yang memicu rasa amarah dan curiga, maka saat itulah tanda setan sedang bekerja.
    “Orang yang kuat itu bukanlah yang jago bergulat. Pemimpin yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya sendiri ketika sedang marah.” (HR.Bukhari & Muslim)
  3. Jika memang terbukti perkataan orang lain tersebut bertujuan merendahkan harga diri kita, maka ingatlah bahwa penilaian negatif dari orang lain sering kali lebih mencerminkan kepribadian atau masalahnya sendiri, bukan nilai diri kita yang sebenarnya.
  4. Ingat selalu bahwa ujian lisan (tulisan) adalah bagian tak terelakkan dari sebuah hubungan sosial. Islam tidak meminta kita mengisolasi diri dari masyarakat demi menghindari komentar negatif. Berinteraksi adalah ladang pahala selama kita mampu menahan diri.
    “Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar terhadap gangguan (perkataan/perbuatan buruk) mereka, pahalanya lebih besar daripada seorang mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka.” (HSR. Ibnu Majah)
  5. Fokus pada penilaian Allah, bukan manusia yang subjektif. Komentar manusia tidak akan mengubah takdir atau kedudukan kita di hadapan Allah. Menghabiskan energi untuk menyenangkan semua telinga adalah hal yang mustahil.
  6. Klarifikasi (Tabayyun) langsung sambil berta’awudz jika yang disampaikan orang lain terdengar menyakitkan atau meragukan, sebelum kita mengambil kesimpulan dari kesalahan persepsi. Ingatlah bahwa setan akan selalu membuat manusia tergesa-gesa dalam merespons apapun.
  7. Karena setan selalu membisikkan niat buruk di balik ucapan (tulisan) orang lain, maka lawan bisikan itu dengan husnudzon dan mencari alasan baik untuk mentabiri/menutupi “kekeliruan” orang lain. Katakan pada diri sendiri, “Mungkin dia sedang lelah, atau sedang bercanda ala budayanya. Jadi niatnya bukan ingin menyakiti”.

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
“Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.”

(@msdrehem)

Leave a Comment