Qurban, Kolaborasi Iman dan Ilmu: Idul Adha Penuh Makna di DAFI

Suasana bahagia dan penuh semangat menyelimuti halaman DAFI Pesantren Al Qur’an Science, khususnya di komplek pesantren putra yang berlokasi di Jl. Putra Bangsa RT.01 RW.01, Sukodono – Sidoarjo. Dalam rangka memperingati Hari Raya Idul Adha 1446 H, DAFI melaksanakan acara puncak penyembelihan hewan qurban, sebuah momen sakral yang bukan hanya sarat ibadah, tetapi juga edukasi dan pembentukan karakter bagi para santri. Sebelum prosesi penyembelihan dimulai, KH. Syaiful Arifin, SS., M.Pd, selaku Pengasuh DAFI Pesantren Al Qur’an Science, menyampaikan pesan penting kepada seluruh panitia dan peserta. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa qurban adalah amanah suci dari para mudhohhi yang harus dijalankan dengan niat ikhlas dan penuh kehati-hatian. “Laksanakanlah amanah ini dengan hati yang bersih, niat yang lurus, dan tangan yang penuh kehati-hatian. Jangan sekadar menyembelih, tetapi pahami bahwa ini adalah bagian dari ibadah besar yang diamanahkan kepada kita,” pesan beliau mengawali briefing kepanitiaan. Tahun ini, DAFI menerima amanah qurban berupa 4 ekor sapi dan 49 ekor kambing dari para mudhohhi. Hewan-hewan tersebut disembelih dengan penuh kesungguhan dan sesuai dengan tuntunan syariat. Daging qurban kemudian didistribusikan kepada para santri penghafal Al-Qur’an, masyarakat sekitar, serta mitra pesantren yang tersebar di wilayah Sidoarjo, Mojokerto, Lamongan, Malang, Probolinggo, Magetan, dan Pamekasan. Yang istimewa dari pelaksanaan qurban di DAFI adalah semangat gotong royong dan keterlibatan penuh seluruh unsur pesantren—mulai dari santri, ustadz/ustadzah, tim keamanan, hingga tim kebersihan. Semua bersatu dalam pelaksanaan ibadah ini, mencerminkan kebersamaan dan kebahagiaan dalam menunaikan ibadah. Para santri sendiri sangat antusias dalam mengikuti setiap tahapan proses qurban. Bagi mereka, ini bukan sekadar ritual tahunan, tetapi bagian dari praktik ilmu yang telah mereka pelajari. “Para santri sangat antusias karena setiap tahapan dalam proses qurban—dari niat, penyembelihan, hingga pendistribusian—mengandung nilai edukatif yang kuat. Kami berharap pengalaman ini akan menjadi bekal bagi mereka saat nanti terjun ke tengah masyarakat,” ujar Ustadz Yusuf, ketua panitia Qurban tahun ini. Beliau juga menyampaikan rasa syukurnya kepada seluruh mudhohhi yang telah mempercayakan hewan qurbannya kepada DAFI. “Semoga Allah SWT meridhai amal ibadah yang telah diniatkan dan menjadikannya syafa’at kelak di hari akhir,” ungkapnya. Qurban: Ibadah Sosial yang Mendidik dan Menguatkan Jiwa Qurban bukanlah sekadar penyembelihan hewan, tapi juga bentuk ibadah yang penuh makna. Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang menjadi dasar perintah qurban adalah pelajaran besar tentang keikhlasan, ketundukan, dan cinta kepada Allah SWT. Di DAFI, nilai-nilai itu terus ditanamkan dalam hati para santri, agar setiap ibadah memiliki pemaknaan yang mendalam. Qurban juga menjadi sarana pendidikan sosial. Daging qurban yang dibagikan bukan hanya memberi manfaat fisik, tetapi juga menjadi jembatan kasih sayang antara mereka yang mampu dengan mereka yang membutuhkan. Amanah qurban yang dititipkan kepada DAFI menjadi media syiar, pendidikan karakter, dan penguatan solidaritas umat. Melalui pelaksanaan Idul Adha ini, DAFI berharap dapat terus menumbuhkan pribadi-pribadi Qur’ani yang tak hanya cerdas dalam hafalan, tapi juga tangguh dalam pengabdian dan keikhlasan. DAFI Pesantren Al Qur’an Science menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah mendukung dan mempercayakan amanah qurban. Semoga semangat Idul Adha ini terus hidup dalam diri setiap santri, dan menjadi bekal mulia untuk menebar manfaat dan kebaikan bagi umat dan bangsa.

Sudah Siap Berkurban?

Ibadah qurban adalah salah satu amalan mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam, terutama pada hari raya Iduladha dan hari-hari tasyriq. Qurban bukan hanya sekadar menyembelih hewan, tetapi juga bentuk nyata ketundukan seorang hamba kepada Allah SWT, wujud rasa syukur, dan kepedulian terhadap sesama. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an: فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ “Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”(QS. Al-Kautsar: 2) Ayat ini menunjukkan perintah langsung dari Allah kepada umat Islam untuk beribadah dan berkurban. Sehingga, berkurban bukan hanya tradisi tahunan, melainkan ibadah yang memiliki nilai keimanan dan ketaqwaan yang tinggi. Meneladani Nabi Ibrahim dan Ismail Ibadah qurban berakar dari kisah agung Nabi Ibrahim AS yang diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Ketaatan keduanya — Nabi Ibrahim sebagai ayah yang mencintai anaknya, dan Nabi Ismail sebagai anak yang patuh — menjadi teladan luar biasa tentang keikhlasan dan pengorbanan dalam beribadah kepada Allah. Allah menggambarkan peristiwa ini dalam Al-Qur’an: فَلَمَّآ اَسْلَمَا وَتَلَّهٗ لِلْجَبِيْنِۚ وَنَادَيْنٰهُ اَنْ يّٰٓاِبْرٰهِيْمُۙ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَاۚ اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ “Maka ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis (nya), Kami panggillah dia: ‘Wahai Ibrahim! Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.’ Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”(QS. Ash-Shaffat: 103-105) Allah kemudian mengganti Ismail dengan seekor hewan sembelihan besar, yang menjadi simbol bahwa ketaatan dan keikhlasan lebih utama dibanding bentuk fisik pengorbanan itu sendiri. Qurban sebagai Bukti Ketakwaan Berkurban bukan tentang darah atau daging hewan yang sampai kepada Allah, melainkan tentang ketakwaan hati kita. Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an: لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kalianlah yang dapat mencapainya.”(QS. Al-Hajj: 37) Ibadah qurban mendidik hati untuk lebih bertakwa, mengingatkan bahwa segala amal harus dilakukan ikhlas hanya untuk Allah, bukan untuk pujian manusia. Rasulullah SAW sangat menekankan pentingnya berkurban. Dalam sebuah hadits shahih, beliau bersabda: “Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah daripada menyembelih hewan kurban. Sesungguhnya hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, bulu, dan kuku-kukunya. Dan sesungguhnya darah hewan itu akan jatuh di sisi Allah di suatu tempat sebelum jatuh ke tanah. Maka, perbaguslah jiwa kalian (saat berkurban).”(HR. Tirmidzi, no. 1493, hasan shahih) Hadits ini menunjukkan bahwa berkurban memiliki keutamaan besar di sisi Allah. Hewan qurban akan menjadi saksi bagi orang yang menyembelihnya kelak di hari kiamat. Membagikan Kebahagiaan Ibadah qurban juga berfungsi sosial: mendistribusikan kebahagiaan kepada mereka yang membutuhkan. Daging qurban dibagikan kepada fakir miskin, tetangga, dan kerabat, mempererat silaturahmi, serta menumbuhkan rasa empati dan solidaritas antarumat Islam. Allah berfirman: “… Maka makanlah sebagiannya (daging qurban) dan berikanlah makan kepada orang yang merasa cukup dengan apa yang ada padanya dan kepada orang yang meminta.”(QS. Al-Hajj: 36) Qurban mengajarkan bahwa rezeki yang kita miliki bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga ada hak orang lain di dalamnya. Berkurban adalah amalan mulia yang memadukan nilai ibadah, ketakwaan, keikhlasan, dan kepedulian sosial. Melalui qurban, kita menghidupkan kembali nilai-nilai keteladanan Nabi Ibrahim dan Ismail AS, meningkatkan keimanan, dan mempererat hubungan antar sesama manusia. Mari kita jadikan momen Iduladha ke depan ini sebagai kesempatan untuk memperkuat keimanan kita dengan berkurban, semata-mata untuk mencari keridaan Allah SWT. Wallāhu a’lam bish-shawāb