Santri OPOP Camp 2025 Menjadi Inspirasi Santri Beasiswa DAFI!

DAFI Pesantren Al Qur’an Science mendapatkan kesempatan berharga dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, melalui partisipasi dua santrinya, Muhammad Raffka Alfarizi yang sekaligus merupakan santri beasiswa dan Mirza Luthfi Anwari, yang resmi diutus untuk mengikuti Santri OPOP Camp 2025. Kegiatan ini merupakan program pelatihan kewirausahaan berbasis Digital Technology dan Artificial Intelligence (AI), yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada Rabu–Kamis, 26–27 November 2025 di Taman Candra Wilwa Tikta Pandaan, Pasuruan. Santri OPOP Camp merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat kapasitas santri pesantren agar mampu menghadirkan ide bisnis kreatif, kompetitif, dan relevan dengan perkembangan zaman. Selama pelatihan, para peserta dibimbing untuk memahami kemajuan teknologi, digital marketing, pemanfaatan AI untuk bisnis, hingga praktik membangun toko digital serta merancang iklan produk melalui teknologi kecerdasan buatan. Sebagai santri beasiswa, Muhammad Raffka Alfarizi mengungkapkan rasa syukur dan bangganya diberi amanah untuk mewakili pesantren.“Kegiatan OPOP sangat membantu saya memahami banyak hal, mulai dari bagaimana memanfaatkan Artificial Intelligent untuk membantu bisnis kita dan hal apa yang perlu disiapkan,” ungkap Raffka. Raffka juga membagikan mimpinya untuk mengembangkan bisnis digital dengan mengangkat produk kripik khas daerah asalnya di Ciamis.“Ada, kripik jablog namanya. Enak, dan semua harus bisa mencicipi sih!” tutur Raffka penuh antusias. Pesantren DAFI menyampaikan apresiasi atas semangat dan kesiapan para santri binaannya. Terlebih lagi, Raffka sebagai santri beasiswa yang dipilih mengikuti kegiatan ini menunjukkan bahwa kepercayaan pesantren bukan diberikan berdasarkan status, tetapi murni karena kualitas, kompetensi, dan kesungguhan para santri. Kami mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur serta seluruh pihak yang telah memberikan ruang pengembangan bagi santri. Semoga kegiatan ini menjadi wasilah lahirnya para pemimpin masa depan yang berjiwa mandiri, kreatif, dan berakhlak mulia. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk terus memberikan dukungan terbaik bagi santri Yatim Penghafal Al-Qur’an, agar mereka dapat terus berkarya, menghafal, dan menjadi generasi penerus yang membawa keberkahan bagi bangsa.

Pesan Sang Ayah Jadi Obor Semangat, Hafalan Al Qur’an Aziziah Tuntas!

Sidoarjo – Di balik wajah teduh dan sikap pemalunya, siapa sangka seorang Aziziah Lauqil Izza Aqila yang merupakan santri yatim ini telah berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an pada Rabu, 30 April 2025. Perjalanan panjang penuh tantangan itu kini membuahkan hasil manis: rasa lega dan syukur mendalam, serta semangat baru untuk meraih cita-cita menjadi dokter spesialis bedah. Aziziah ini merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Sejak ayahnya wafat, sang ibu menjadi tulang punggung keluarga, bekerja di bidang properti di Banyuwangi. Kakaknya menjalani homeschooling dan menjadi salah satu sosok yang setia mendampingi serta menyemangatinya dalam menghafalkan Al Qur’an. “Pesan Ayah yang Tak Pernah Terlupa” Motivasi utama untuk menghafal Al-Qur’an berasal dari sosok sang ayah almarhum. “Ayah dulu sering berpesan untuk jangan pernah tinggalkan hafalan Al-Qur’an,” ungkapnya. Pesan itu menjadi nyala semangat yang tak padam, meski perjuangannya tidak selalu mulus. Di saat banyak santri menikmati waktu santai akhir pekan, ia justru harus melawan rasa malas karena tidak ada jadwal setor hafalan. Dengan inisiatif pribadi, ia menjadwalkan hafalan tambahan bersama ustadzah, sebuah kedewasaan yang tumbuh dari tekad dan tanggung jawab. Pernah pula semangatnya goyah ketika hafalan baru mencapai 8 juz. Rasa jenuh dan ingin menyerah sempat melanda, namun dukungan luar biasa dari sang ibu dan kakaknya kembali menguatkannya. “Bersyukur Dikelilingi Orang-Orang Baik” Dalam prosesnya, ia sangat bersyukur karena pesantren dan para asatidzah selalu membuka ruang untuk mendengarkan hafalannya, bahkan di luar jam pelajaran formal. “Saya senang ada banyak orang yang peduli dan membantu dalam pendidikan saya,” tuturnya dengan lirih. Meski memiliki sifat pemalu, ia menyadari bahwa dukungan donatur-lah yang membuat langkahnya sampai sejauh ini. Kini, setelah menyelesaikan hafalan 30 juz, ia tengah fokus menghadapi ujian sekolah. Targetnya adalah melanjutkan kuliah di Universitas Airlangga Surabaya dan meraih cita-cita sebagai dokter spesialis bedah. “Jangan Berpuas Diri, Jaga Hafalan Itu Lebih Berat” Di akhir, ia menyampaikan pesan menyentuh untuk teman-teman seperjuangannya, “Jangan mudah berpuas diri hanya karena sudah hafal 30 juz. Justru tantangan lebih besar adalah menjaganya lewat murojaah.” Mari Jadi Bagian dari Perjalanan Hebat Mereka Kisah ini hanyalah satu dari sekian banyak santri yatim yang mengukir prestasi dan menebar cahaya dari Al-Qur’an. Dukungan Anda sebagai donatur sangat berarti dalam mendampingi mereka menapaki jalan penuh harapan. Karena di balik setiap hafalan, ada doa, kerja keras, dan uluran tangan Anda yang menyelamatkan masa depan.Yuk, terus dukung perjuangan mereka. Karena dari pesantren ini insyaallah akan lahir pemimpin besar untuk umat nantinya.