Daftar Isi V
Kata pengantar IX
Bab 1 : Wakaf
a. Sejarah Wakaf 1
b.Pengertian Wakaf 6
c.Perbedaan Wakaf, Zakat, Infak dan
Sedekah10
d.Unsur-unsur Wakaf10
e.Hukum /Landasan Wakaf13
f. Macam-macam Wakaf15
g.Tata Cara Berwakaf17
h.Tata Cara Wakaf Uang20
i. Jangka Waktu Wakaf22
Bab II : Wakif
a. Pengertian Wakif23
b. Syarat Wakif23
c. Hak Wakif24
Bab III : Nazhir
a. Pengetian Nazhir29
b. Syarat Nazhir29
c.Fungsi dan Tugas Nazhir30
d. Hak Nazhir31
e. Pendaftaran Nazhir31
f. Penggantian Nazhir34
g. Pelaporan Nazhir35
h. Masa Bakti Nazhir39
i. Sengketa Nazhir41
Bab IV : Harta Benda Wakaf
a. Pengetian45
b. Jenis Harta Benda Wakaf46
c.Tukar Menukar Harta benda Wakaf62
d.Ikrar dan Sertifikasi
Harta Benda Wakaf64
e. Informasi Data Wakaf66
f.Pengelolalan Harta Benda Wakaf67
Bab V : Maukuf Alaih
a. Pengertian68
b. Tujuan Wakaf68
Bab VI : Badan Wakaf Indonesia
a.Dasar Pembentukan BWI61
b. Visi, Misi dan Tujuan62
c. Tugas dan Wewenang62
d.Struktur Organisasi
dan Keanggotaan BWI64
e. Perwakilan BWI64
f.Lembaga Kenaziran BWI68
g.Harta Benda Wakaf
yang Dikelola BWI68
Lampiran 73


KATA PENGANTAR
�حرلا نحمرلا لهلا سمب
هتكا�و لهلا ةحمرو كميلع ملاسلا
Segala puji bagi Allah SWT yang telah mengutus
Nabi Muhammad Saw sebagai rahmat bagi alam semesta.
Shalawat dan salam kita sanjungkan kepada Nabi Saw,
semua keluarga, sahabat, dan pengikutnya sampai akhir
zaman.
Alhamdulillah, saya menyambut baik kehadiran
buku Buku Pintar Wakaf yang diterbitkan oleh Badan
Wakaf Indonesia (BWI). Buku ini bertujuan untuk
lebih meningkatkan literasi wakaf kepada masyarakat
secara lebih massif dan terstruktur. Buku ini menjelaskan
tentang wakaf secara menyeluruh dan dapat digunakan
semua lapisan masyarakat ter utamanya bagi yang baru
mengenal wakaf.
Buku ini diharapkan dapat menarik minat ma syarakat
untuk turut berpartisipasi dalam program wakaf nasional
baik yang diinisiasi oleh BWI atau lembaga pengelola
wakaf lainnya. Sehingga muncul wakif-wakif baru
yang turut dalam memajukan dan mengembangkan
perwakafan untuk mencapai kemartabatan dan
kesejahteraan umat di Indonesia
Selain itu, dengan buku ini para pengeloala wakaf/nazhir
juga dapat memahami lebih baik lagi tentang wakaf untuk
membantu mensosialisasikan wakaf pengembangan yang
lebih baik lagi perwakafan di Indonesia.
Diharapkan dukungan penuh semua pihak agar proses
sosialisasi wakaf yang salah satunya melalui buku ini
bisa terlaksana dengan baik, sehingga semakin banyak
orang yang memahami konsep wakaf. Untuk itu, saya
mengajak semua pihak dan semua kalangan untuk
menjadikan wakaf sebagai gaya hidup (gemar berwakaf).
Saat ini, berwakaf itu mudah tidak harus berupa tanah
dan bangunan, tetapi dapat berupa uang, saham, dan lain
sebagainya. Selain itu, cara berwakaf pun juga mudah,
bisa memanfaatkan teknologi digital.
Semoga yang telah dilakukan oleh kita semua baik
yang menyusun buku, yang turut menyebarkannya dan
turut berwakaf baik secara langsung atau tidak langsung
ditulis sebagai amal jariyah yang dapat membantu kita
kelak di hari akhir.
هتكا�و لهلا ةحمرو كميلع ملاسلاو
Jakarta, 5 Desember 2019
Ketua Badan Wakaf Indonesia
Mohammad Nuh

BAGIAN I
WAKAF
a. Sejarah Wakaf
Q: Bagaimana sejarah singkat wakaf pada masa Rasulullah
dan sahabat?
A: Wakaf sudah dipraktikkan sejak masa Rasulullah Saw,
seperti wakaf tanah untuk masjid Quba, wakaf kebun
Bairoha oleh Abu Thalhah, wakaf kebun Khaibar oleh
Sayidina Umar, wakaf sumur Ruumah oleh Sayyidina
Utsman.
Jabir bin Abdillah meriwayatkan, setelah Sa yidina
Umar bin Khaththab mengikrarkan wa kafnya di
depan para sahabat, para sahabat lain turut berwakaf,
sehingga semua sahabat yang memiliki kemampuan,
mereka berwakaf. 1
X
Q: Bagaimana sejarah singkat wakaf setelah masa Rasulullah
dan sahabat?
A: Pada masa Dinasti Umayyah, Abbasiyah, hing ga Turki
Utsmani, praktik wakaf menjadi sa lah satu amaliah
umat Islam. Bahkan wakaf menjadi instrumen penting
untuk membangun kesejahteraan umat.
Seiring dengan masuknya Islam ke Indonesia, wakaf
juga berkembang di kalangan umat Islam Indonesia.
Pada awalnya praktik wakaf di Indonesia lebih banyak
untuk masjid, kuburan, dan pesantren. Belakangan,
praktik wakaf berkembang dalam bentuk yang lebih
variatif, seperti rumah sakit, pertokoan, pertanian,
perkebunan, rumah susun, penginapan, uang, dan
saham.
b. Pengertian Wakaf
Q: Apa yang dimaksud dengan wakaf?
A:
Secara bahasa, wakaf berasal dari kata waqafa
yaqifu-waqfan, yang berarti berhenti atau menahan.
Menurut istilah (fikih), wakaf ada lah menahan pokok
harta benda wakaf dan me nya lurkan manfaat atau
hasilnya. 2
Kumowani: Blunder Nazir Menjadi Startup
Posted on 3 Februari 2022 | Tinggalkan komentar
3 Votes

Kumowani adalah bahasa jawa. Artinya adalah keberanian yang salah tempat. Mestinya tidak berani tetapi menjadi berani. Keberanian yang konyol.

Nazir wakaf adalah lembaga yang menerima amanah harta dari para wakif. Amanahnya ada empat. Amanah pertama adalah mengelola harta dengan aman. Amanah kedua adalah mengelola harta dengan aman. Amanah ketiga adalah mengelola harta dengan aman. Amanah keempat adalah mengelola harta untuk mendapatkan hasil.

Keempat amanah harus ditunaikan sejak awal sampai kapanpun. Tidak bisa ditinggalkan salah satupun. Aman aman aman hasil menjadi satu paket. Nah, atas amanah ini sebuah lembaga amil bisa melakukan tindakan kumowani. Keberanian konyol. Ini adalah kesalahan fatal.

Disebut kesalahan fatal karena keberadaan nazir di masyarakat kita masih pada tahap awal. Artinya, nazir belum bisa “menjual” bukti. Yang bisa “dijual” baru janji. Bukti adalah investasi yang aman aman aman dengan return on Investment (ROI) yang tinggi ratusan persen. Tentu ini tidak bisa dilakukan sejak awal. Butuh waktu panjang dengan langkat tepat untuk mencapainya. Fatal sekali jika pada masa awal sudah melakukan kesalahan. Akan menghabiskan kepercayaan masyarakat.

&&&

Apa tindakan kumowani itu? Nazir menjadi startup. Startup adalah perusahaan rintisan. Perusahaan yang masih berada di step pertama, kedua, atau ketiga dari delapan step dalam corporate life cycle (CLC). Delapan step itu adalah: berdiri, rugi, BEP, laba, RPD, scale up, sistem manejemen dan fully corporatized company.

Step pertama sampai ketiga adalah lembah kematian perusahaan startup. Dari ribuan bahkan jutaan startup, hanya segelintir yang sukses menjadi perusahaan sejati (fully corporatized company). Baca detailnya pada tulisan ini jika ingin detail dead valey ini. Tentang risiko pailit bagi sebuah perusahaan start up.

&&&

Paling tidak ada empat penjelasan mengapa nazir yang menjadi perusahaan start up adalah sebuah tindakan kumowani. Penjelasan pertama, mejadi start up artinya adalah menjadi operating company. Harusnya wakaf hanya menjadi investing company. Hanya investing company yang bisa mengelola dengan prinsip aman aman aman hasil. Baca penjelasan detail di link ini.

Penjelasan kedua, untuk bertahan hidup sampai mencapai laba, sebuah start up butuh waktu yang panjang. Tesla misalnya butuh waktu 16 tahun untuk sampai laba sebagai step keempat dalam CLC. Sepanjang waktu rugi itu sebuah start up butuh gelontoran dana agar tidak mati. Para pendirinya perlu puasa. Puasanya senin kamis jumat sabtu minggu selasa dan rabu. Tidak cukup puasa senin kamis.

Siapa yang menggelontor dana? Tidak lain adalah perusahaan-perusahaan investasi raksasa. Mereka menganggarkan tidak sampai 1% dari aset kelolaanya untuk start up. Tap ingat, 1% dari aset BlackRock investment misalnya nilainya tidak kurang dari 1300 triliun. Andai uang itu hilang semua pun, mereka akan tetap aman karena 99% aset lainnya bekerja di perusahaan-perusahaan yang sudah berada pada step ke enam, tujuh atau delapan dalam CLC.

Investment company mau melakukan penggelontoran ini karena memang start up benar-benar baik untuk masa depan. Kriteria sederhananya adalah start tersebut sudah diasuh oleh venture capitalist sejati seperti Sequoia. Jika belum diasuh Sequoia atau sejanisnya, risikonya masih terlalu besar. Gambling.

Nah, ketika sebuah nazir wakaf menjadi start up company, siapa yang akan melakukan penggelontoran dana itu? ini masalahnya. Nazir yang berangkat dari sebuah amil (pengelola dana zakat dan infaq) akan terpaksa menutup kesalahan tersebut dengan melakukan kesalahan yang lain. Apa itu? menggunakan dana infaq atau zakat untuk keperluan menghidupi start up. Ini adalah kesalahan fatal. Sekaligus kesalahan syar’i. Masuk blunder.

Penjelasan ketiga, mejadi start up yang artinya menjadi operating company berarti “mencari musuh”. Memasuki persaingan bisnis yang super ketat dan brutal. Sebuah lembaga sosial keagamaan seperti nazir harusnya tidak bersaing dengan siapa pun. Merangkul siapa pun. Dan posisi itu hanya mungkin jika nazir menjadi investing company.

Misalnya. Beberapa nazir menjadi start up dengan mendirikan rumah sakit. Rumah sakit adalah dunia bisnis yang penuh persaingan. Persaingan yang paling terasa adalah dalam mencari dokter terbaik. Antar rumah sakit bisa jor-joran dan bahkan saling bajak dalam memperoleh dokter terbaik. Bahkan sesama rumah sakit yang memosisikan diri sebagai rumah sakit Islam pun. Persaingan memperoleh dokter yang bagus tidak terelakkan.

Dengan rumah sakit lain yang tidak berlabel Islam pun persaingan ini akan berefek negatif. Misal, selama ini ada banyak karyawan rumah sakit XYZ menjadi donatur amil atau nazir ABC. Begitu ABC masuk bisnis rumah sakit dan rebutan dokter bagus dengan XYZ, maka tentu saja manajemen XYZ akan melarang karyawannya menjadi donatur ABC. Dan sesungguhnya tanpa dilarang oleh manejemen pun, karyawan XYZ yang menjadi donatur ABC sama dengan menusuk diri sendiri. Berat kaan?

Nazir jangan mencari musuh
Penjelasan keempat, bagi nazir, menjadi start up berarti adalah langkah awal menjadi konglomerasi. Konglomerasi adalah perusahaan atau organisasi yang bisnisnya macam-macam. Teknisnya adalah dengan menjadi pemegang saham pengendali pada berbagai perusahaan dengan berbagai bidang. Ini membayankan umat dan bangsa.

Interaksi antara umat atau bangsa di dunia modern ini adalah seperti interaksi antar kesebelasan dalam sebuah pertandingan sepak bola. Umat atau bangsa yang para pelaku bisnisnya konglomerasi ibarat kesebelasan yang semua pemainnya bebas bergerak kemana saja. Tidak ada keeper, tidak ada back kiri, tidak ada stricker kanan. Tidak ada posisi spesifik. Semua pemain mengejar bola yang sama dimana pun bola berada.

Umat atau bangsa seperti ini akan sangat rapuh. Ekonominya akan dikuasai bangsa lain. Karena para konglomerat kerjanya cenderung mendatangkan kekuatan asing untuk mengalahkan pesaing lokalnya. Misal, ada konglomerat besar yang untuk bersaing dengan gerai kopi modern karya anak bangsa seperti Coffee Toffee, Excelso, atau Kopi Kenangan harus mendatangkan jaringan kedai kopi modern dari negeri adidaya. Ini ibarat sebuah kerajaan yang menggandeng Belanda untuk berperang dengan kerajaan lain sebelum era NKRI. Malangnya, sudah begitu masih suka bicara nasionalisme hehehehe.

Harusnya, ibarat kesebelasan, umat atau bangsa ini berbagi peran. Ada stricker kiri, stricker kanan, back kiri, back kanan, keeper dan sebagainya. Masing-masing memiliki peran spesifik. Lalu antara mereka saling lempar umpan bola. Tujuan akhirnya adalah kemenangan kesebelasan. Bukan keberhasilan si back kanan untuk mencetak gol.

Demikian empat penjelasan kesalahan fatal nazir wakaf yang menjadi start up. Anda nazir wakaf? Mari pelajari ilmunya dengan baik. Iqro. Memahami dunia bisnis. Memahami CLC. Memahami Revenue and Profit Driver (RPD), memahami ROI dan ROE, memahami korporatisasi, memahami korporasi. Iqro! Agar bisa menjaga amanah besar dari para wakif. Agar umat dan bangsa ini kokoh secara ekonomi. Menjadi umat dan bangsa produsen. Bukan konsumen. Aamin.
-
@2024 BAZISKAFDAFI Inc.